Occidens

Melarikan diri

_★_

"Ayolah, kau, kan, memiliki simbol sang Demon. Tidak bisakah kau menebaknya?"

Edgar membatu di tempat. Kata-kata yang baru saja Bellatrix lontarkan membuat saraf otaknya membeku seketika.

Yang dimaksud simbol adalah tanda lahir di dahinya, bukan? Tapi, Justin selalu berkata bahwa saat lahir dahinya di ukir semacam simbol oleh para tetua untuk kehidupan panjang.

"Apa maksud mu?" tanya Edgar tak suka. Matanya memicing tajam pada sosok mungil Bellatrix yang tengah tersenyum menatapnya. "Kau tidak tahu? Di dahimu itu ada simbol sang Demon, simbolnya akan menyala sampai kutukan itu dibayar."

Brak!

"Katakan sekali lagi maka kepalamu akan terlepas!" ancam Edgar tak main-main. Cengkraman di leher wanita itu mengerat.

Bukannya merasa takut dan kesulitan bernafas, Bellatrix justru merasa ini hal yang menyenangkan. Dia semakin tersenyum penuh arti.

"Kau. Bukanlah. Penerus. Raja. Justin," ejanya penuh penekanan.

Menghembuskan nafas kasar, Edgar memilih mendinginkan kepala. Ia melepas cengkraman tangannya secara kasar dan berlari masuk ke dalam kastel.

Dalam batinnya ia sudah berteriak, memohon bahwa fakta yang Bellatrix beritahukan tadi hanya tipuan semata. Tetapi di halaman berada, Bellatrix tersenyum penuh arti dengan aura negatifnya yang menguar tanpa ditutup-tutupi.

Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam kamarnya, suara seruan dari para penjaga dan ibunya terdengar nyaring di sepanjang koridor.

Edgar tak bisa memendam rasa keingintahuan nya. Maka setelah kembali menutup pintu kamarnya, Edgar berjalan menuju sisi kanan koridor yang langsung mengarahkan nya pada ruangan besar sang ayah.

Tok! Tok!

Tak ada respon, namun suara ibunya semakin menjerit kesakitan. Edgar bisa merasakan ada rasa panas di sekitar lehernya setiap kali mendengar jeritan itu.

Ceklek. Pintu dibukanya tanpa permisi. Ruangan gelap langsung menyambut indra penglihatan nya. Edgar berdecak.

"Apa aku berhalusinasi?" gumamnya tak habis pikir.

Karena Edgar terlanjur ada di sini. Pria itu memilih mengitari ruang kerja Justin sendirian.

Menilik dan mengamati setiap jengkal benda-benda di sana ternyata membuat Edgar cukup merasa tenang. Terutama pada sebuah benda kuno yang tergeletak di atas buku besar bersampul lusuh.

"Apa ini? Bentuknya mirip dengan simbol di dahi ku." Tangannya meraba dan meraih benda itu. "Apa benar ... aku dikutuk oleh sang Demon?" gumamnya bernada datar.

Melirik buku di atas meja. Jemarinya dengan lentik membolak-balikan halaman utama dan membaca setiap kata yang tertuang dalam hitungan detik.

"Bulan berdarah? Occidens? Apa arti semua kata-kata ini—"

"Bunuh saja dia!"

"Ya, turunkan dia dari takhta kerajaan!"

"Hukum gantung, dia harus di hukum!"

Teriakan dari luar kastel berdengung di telinga Edgar. Matanya menangkap atensi para rakyatnya tengah beramai-ramai mendemo halaman kerajaan untuk sesosok familiar.

"Ibu?"

Edgar segera berteleport mendekat kerumunan. Sosok pertama yang dicarinya adalah Justin, sang ayah.

"Ayah, apa yang terjadi?" tanyanya pada sosok tegas Justin yang sudah berada di hadapannya. "Ibumu berkhianat."

"A-apa?"

.

.

Edgar berdiri mematung. Nafasnya terdengar tersengal. Pikirannya mendadak kacau semenjak percakapan terakhirnya bersama Bellatrix siang tadi.

Kini ada banyak yang dia sesali. Ada perasaan yang janggal dalam benaknya hingga membuat dirinya terpaksa melarikan diri dari Kerajaan Vampir.

Sosok hitam besar di tengah rimbunnya hutan tadi menambah rasa khawatir Edgar. Terlebih sosok Estelyn berusaha membunuhnya secara terang-terangan saat para pengawal hendak membawanya ke halaman kerajaan.

Setelah peristiwa hukuman sang ibu gagal. Edgar melihat dengan mata kepala sendiri bahwa sosok-sosok yang selama ini ada di dekatnya, berusaha keras untuk menyingkirkan dirinya.

Sekarang hari sudah malam. Kakinya yang tak beralaskan apa-apa tergores banyak ranting juga batu hingga menimbulkan rembesan darah segar.

Kepala Edgar terasa berdenyut. Bayangan bulan purnama kini menyinari tubuhnya. Lolongan para werewolf menemani kegelisahan nya. Laki-laki itu mendesah pelan.

Memilih beristirahat di dekat batu besar, Edgar duduk dengan perasaan waswas. Indra pendengaran nya menajam, menangkap atensi dari sosok lain yang perlahan mendekati.

Kembali bangkit, gigi-gigi Edgar mengeluarkan taring tajamnya. "Siapa kau?" cetusnya tak suka.

Semakin merasakan sosok lain telah dekat. Edgar menajamkan pengelihatan nya. "Hoho anak muda, tenanglah ...," ujar seorang wanita.

Melihat Edgar bersiap menyerang, wanita itu keluar dari bayangan gelap hutan tropis. Bellatrix.

Sosok yang selama ini Edgar acuhkan padahal ia tahu fakta bahwa Bellatrix adalah penyusup. Pria itu berdesis, "Mau apa lagi kau?"

"Tenang, Tuan ku. Aku datang untuk menjemput mu pulang ke istana Raja Demon." Bellatrix berjalan mendekat.

Dari situlah, Edgar menangkap sosok muda Bellatrix perlahan berubah menjadi wanita baya yang anggun dengan gaun mewah khas seorang bangsawan.

Edgar berdecih, "Aku bukan Demon!" tekannya penuh amarah. Namun, Bellatrix memberi tanggapan remeh sehingga Edgar mau tak mau melayangkan serangkaian serangan tak kasat mata yang membuat Bellatrix tersungkur tanpa perlawanan.

"Sepertinya kau hanya pesuruh? Apa Raja Demon memberimu kekuatan atau semacamnya?" cetus Edgar.

Bellatrix tersenyum, nampak tak terusik dengan kata-kata cetusan Edgar. "Memang, aku hanya utusan Raja ku."

Mendengar hal itu, simbol kutukan di dahinya menyala terang. Seakan ada sebuah panggilan yang mengharuskan Edgar mengikuti jejak Bellatrix yang perlahan pergi menjauh.

"Aku tidak akan ikut!" tegasnya lagi.

"Simbol itu akan terus menyala sampai kutukannya terpenuhi," ujar Bellatrix memberi tahu. Seolah tak peduli, Edgar berteleportasi guna melarikan diri dari kejaran pasukan vampir dan utusan sang demon.

"Oho, seolah selama ini kau telah mengawasi kami dari pertama kali?"

"Kau benar, itu juga yang menjadi latar belakang mu lahir."

"Sialan. Apa kau tidak—"

"Ibumu dikurung di penjara, itu semua karena ulahmu, Edgar."

"JAGA UCAPAN MU, BELLATRIX!"

Sepasang netra kelamnya malah menangkap sosok bayangan hitam itu, lagi. Dia berdiri menjulang di antara padatnya pohon yang tumbuh merimbun.

Edgar bergidik ketakutan, ketika sosok itu merubah wujudnya menjadi bentuk manusia. Apalagi sosok Bellatrix menundukkan kepala di hadapan sosok itu.

"Mundur. Ku peringatkan kau untuk mundur!" perintah Edgar bergetar. Apa sosok ini adalah sang Demon? batinnya bertanya-tanya.

Tiba-tiba saja dahinya terasa terbakar. Bahkan simbol Edgar sampai berdarah karena rasa panas itu. "Menjauhlah!" pekik pemuda itu ketakutan.

Menyunggingkan senyum seringaian, makhluk paling ditakuti banyak kalangan immortal itu berjalan mendekati, dia berbicara pada Edgar tentang sesuatu. "Meus es es , symbolum mansurus es , dum fatum tuum non imples."

Edgar tak bisa mengerti apa-apa selain kata, symbolum, fatum dan imples. Arti dari kata itu adalah simbol, takdir, dan memenuhi.

Apa maksudnya, aku harus memenuhi takdir ku? batinnya histeris.

"Successor meus, maledictionem tunc non sustinebis," peringat James.

Menatap kosong ke arah sosok di hadapannya, Edgar masih mencoba mencerna perkataan yang memasuki kepalanya.

"Fatum nego, non me cogis. Habeo invenire soror mea!" Kemudian tubuhnya terasa dihisap oleh lingkaran hitam besar. Sihir ungu terus menyelimuti tubuhnya dan ia sampai di rumah ini. Rumah seorang gadis—

Tunggu, seorang gadis?

"Kau baik-baik saja? Sudah merasa baikan?"

"A-apa yang ter-jadi?"

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.