"Kau tak tahan apa, Sayang?" pancing Richard, yang berlagak bodoh.
"Sudah, kita langsung saja ke room-mu atau aku pulang sendiri!” tegas Aleina, yang tidak mau mengakui di hadapan pria tampan nan licik tersebut.
"Ah, oke. Padahal saat diajak, kau sudah lebih dulu menolak." Pria bermata emerald itu berkata, seraya mengangkat kedua tangan sedikit ke atas, pertanda tidak tahu.
"Ish, kau sangat berisik!" gerutu Aleina.
Ada apa ini? Kenapa hasrat malah bangkit di saat tak tepat? Sejak putus, aku sering melampiaskan pada dildo. Tapi, sekarang ingin melakukan hubungan seks dengan mantan, padahal sebelumnya baik-baik saja. Apakah dia telah melakukan sesuatu, sehingga membuat tubuh terasa aneh? Sejak tadi, tak ada yang aneh pada Richard, pikir Aleina.
Richard tertawa pelan. Ia senang melihat wanita incaran, kini mengiba untuk ditiduri. "As you wish, Honey. Wait, I will close the bill first.” Pria bertubuh tegap itu berucap, sembari mengangkat tangan kanan ke atas.
Seorang waiter yang tak jauh dari sana, melihat hal tersebut, dan dengan sigap ke table Aleina. “May I assist you, Mr. Richard?" tanyanya.
"Closed the bill, please," jawab sang General Manager.
"Yes, Sir.” Waiter itu menyahut sopan, kemudian dia pergi dari sana.
Aku sungguh tak tahan. Tubuh seperti bukan milik sendiri, karena gejolak hasrat yang tak bisa ditahan. Sigh, inilah kekurangan menjadi wanita single, bila mendadak horny, harus bermain solo. Kenapa libido naik di saat ada mantan, sih? Ini sama juga dengan sex after broke up, pleasure only, but we do not have an official relationship, gumam Aleina di dalam hati. Ia merasa resah luar biasa.
Pria yang memiliki jabatan tinggi di hotel tidak berkata apa pun. Sepasang mata emerald nan memesona, hanya memerhatikan raut wanita yang masih dikasihi sepenuh hati. Aleina tampak gelisah, bahkan mengipas area wajah dengan tangan kanan, meskipun di restoran terdapat pendingin ruangan, dan tidak panas sama sekali.
Oh, yes baby. Akhirnya kau mengajak naik ke kamar. Kita harus segera bercinta, agar perasaan cinta yang hilang akan kembali. Should I make her pregnant? No, that is bad decision. Aku ingin kami sama-sama menikmati dan memiliki anak di saat yang tepat, batin Richard.
Waiter pun kembali dengan membawa benda berwarna hitam persegi panjang dan sebuah pena. "Maaf, Tuan, ini bill-nya,” ucap lelaki berseragam, dengan nada sopan.
Richard mengalihkan pandangan, sehingga terlihat lelaki muda sekitar dua puluh tahunan berdiri di samping kiri. "Ya.”
Waiter yang memakai name tag Fred, menyerahkan benda yang dibawa, dan diterima dengan baik oleh pria berusia tiga puluh lima tahun itu. Richard membuka map tersebut, kemudian menandatangani kertas hasil print, setelah selesai langsung menyerahkan kembali kepada si pembawa.
"Thank you,” ucap Richard singkat.
"You are welcome, Sir,”sahut Fred.
Pria muda itu langsung pergi dari hadapan mereka. Sementara, Aleina sudah merasakan ketidaknyamanan di sekujur tubuh. Ia merasa tak mampu mengendalikan diri, namun sekuat tenaga berusaha menjaga kewarasan.
"Ayo kita pergi, Sayang,” ajak Richard, seraya berdiri dari tempat duduk.
"Oke.” Aleina ikut beranjak dari tempat semula, lalu mengambil hand bag-nya.
Mereka berdua keluar dari restoran, lalu menuju ke elevator. Aleina berinisiatif menggenggam jemari tangan kiri Richard, sehingga membuat hati pria tampan nan licik itu menghangat, karena bahagia.
Tanpa pikir panjang, lelaki bermata emerald itu mengeratkan genggaman, sehingga membuat lawan jenisnya menjadi terkejut, tapi tidak menolak perlakuan tersebut, karena sudah tak tahan.
Saat sudah tiba di tempat tujuan, jari telunjuk Richard menekan tombol dua puluh. Pintu pun terbuka, kemudian mereka pun masuk ke dalam. Saat pintu telah tertutup, Aleina menarik tangan si lelaki, sehingga membuat tubuh tinggi itu berpindah posisi ke si gadis.
Ketika wajah keduanya bertemu, Aleina langsung mencium bibir sang mantan kekasih dengan panas. Richard terkejut, akan tetapi menikmati. Karena tinggi mereka berbeda, maka spontan ia menggendong sang wanita, layaknya pengantin.
Sepasang insan masih berpagutan panas, seolah tak mengenal lelah. Akal sehat Aleina telah menghilang, sebab pengaruh obat perangsang sudah menguasai tubuh. Sementara, pria bertubuh tegap itu tak melepaskan ciuman, bahkan semakin dipererat.
Ting!
Elevator telah berhenti di lantai tujuan. Richard menghentikan kegiatan panas, sehingga membuat peremuan bermata biru menjadi bingung. Sebelum ada protes, si lelaki berbisik, “Kita lanjutkan di room, Honey. Do not worry, I am yours,”
Perempuan bertubuh langsing tersebut hanya bisa mengangguk. Perhatian Richard kini teralih ke elevator yang telah stop, lalu menekan tombol, dan tak lama kemudian terbuka lebar.
Pria mature yang memiliki tinggi seratus sembilan puluh centimeter itu tetap menggendong Aleina. Ia melangkah keluar dari sana, kemudian menuju kamar khusus untuk General Manager.
Gila! Aku mencium bibir lelaki posesif ini dan malah disambut dengan baik! Hais, Tubuh sudah tak bisa dikendalikan lagi, dan harus segera mendapat pelepasan, supaya lega. Apakah Richard masih sama seperti dulu kuat, serta tahan lama? Shit! I cannot control my dirty mind! jerit Aleina dalam hati.
Di depan pintu kamar, Richard menekan kotak hitam, di mana terdapat finger print untuk masuk. Setelah menggunakan sidik jari telunjuk kanan, maka si empunya pun bisa masuk, lalu menutup pintu dengan kaki kiri.
Tuhan, kenapa aku begitu mendambakan mantan? Dia memang semakin macho, berotot, dan gagah saja. Dulu, saat masih bersama, setiap hari kewalahan melayani di atas ranjang, apalagi bila Richard sedang libur bekerja. Ugh, ingin merasakan nikmat seperti dulu. What happen to me? batin wanita berambut pirang itu.
Pria bertubuh kekar itu berjalan ke arah sofa, kemudian meletakkan tubuh langsing ke sana. Tanpa banyak kata, ia membantu Aleina untuk melepas sepatu, lalu menaruh di rak sepatu, yang mana terletak di sebelah kanan pintu. Tak lupa kasut sendiri pun ditempatkan di sana.
"Tubuhku bergetar ... panas ... sudah ingin bercinta dan benar-benar tak tahan," ceplos Aleina, tapi suaranya pelan.
Richard berjalan ke arah sofa. Sesampai di sana, ia langsung mengangkat tubuh langsing sang mantan, kemudian menggendong Aleina. Perempuan cantik itu spontan mengalungkan kedua tangan di leher si lelaki, supaya tidak terjatuh. Mereka bertatapan, kemudian mulai berciuman panas.
Sang lelaki melangkah perlahan menuju ke ranjang. Ia berusaha menjaga keseimbangan, walaupun tengah melakukan foreplay yang sudah menggelorakan hasrat terdalam. Beberapa saat, Richard mengakhiri kegiatan tersebut, kemudian membaringkan Aleina di ranjang.
Richard naik ke atas tubuh Aleina, sehingga ia berada di atas. Kedua tangan menumpu di sisi telinga kanan dan kiri perempuan yang sukses mencuri hati semenjak dulu. Mereka saling menatap, lalu telunjuk kanan si lelaki menyentuh bibir tipis lawan jenis yang sudah horny.
Aleina langsung menghisap tanpa berpikir dua kali. Tindakan tak terduga, membuat hati pria mature semakin girang, karena obat perangsang bekerja dengan sangat baik, sehingga si wanita lepas kendali.
I got you, Baby! I know that you are ready and I will make you want me! Makanya, jangan jual mahal, jika diajak untuk menjalin hubungan! pikir Richard puas.
"What do you want to do with me, Honey?”tanya pria bertubuh kekar itu.
"Fuck me,” jawab Aleina, tanpa malu-malu.
***





