My Mysterious Husband

Huuuuhhh....

Elsa membuang nafas panjang saat sudah berdiri di hadapan gedung tinggi yang mencakar langit. Di tangan Elsa masih ada selembar kartu nama dari pemilik gedung tinggi ini.

Elsa memastikan bahwa dirinya tidak salah tempat. Ia melihat nama perusahaan yang terpampang nyata di hadapannya lalu menyamakan dengan yang ada di kartu nama tersebut.

“Kayaknya bener deh ini perusahaannya,” gumam Elsa.

Sudah sampai di depan perusahaan Alvaro hati Elsa merasa sedikit ragu, tapi bayangan bundanya langsung menepis keraguan yang ada di hati Elsa.

“Permisi, apa Anda Nona Elsa?” tanya seseorang pada Elsa ketika Elsa sudah memasuki gedung yang menjulang tinggi itu.

“Iya benar saya Elsa,” jawab Elsa.

“Kalau begitu mari ikut dengan saya, Nona. Saya akan mengantarkan Anda ke ruangan Pak Alvaro.”

Elsa semakin yakin kalau ia berada di tempat yang benar. Saat nama pria yang kemarin menawarkan kerja sama padanya di sebut.

Elsa lalu mengikuti langkah si pria yang katanya akan membawa Elsa ke ruangan Alvaro.

Elsa masih belum bisa membuang rasa takjubnya saat ia sudah semakin dalam masuk ke gedung itu. Bukan hanya dari luar saja gedungnya terlihat mewah, tapi bagian dalamnya ternyata jauh lebih mewah lagi.

Elsa sudah di bawa naik hingga ke lantai 5 dan saat pintu lift sudah terbuka orang yang mengantarkan Elsa itu langsung mempersilakan Elsa untuk ke luar karena memang sudah ada Gio yang menyambut Elsa.

“Silakan Nona Elsa. Itu Pak Gio sudah menunggu,” ucapnya sebelum pintu lift kembali tertutup.

“Baik, terima kasih ya Pak!” ucap Elsa sungkan.

“Sama-sama, Nona.”

Elsa kini sudah ada di hadapan Gio. Sebelum masuk Gio memastikan jika Elsa memang sudah menerima tawaran yang diberikan kepadanya.

“Saya harap Anda tahu kalau Anda sudah masuk ke gedung ini, itu artinya Anda memang sudah setuju untuk bekerja sama dengan tuan saya.”

“Iya saya setuju,” jawab Elsa.

“Baik kalau begitu mari kita bicarakan kelanjutannya.”

Elsa di bawa masuk ke ruangan Alvaro. Sepintas ruangan itu terlihat sangat sepi seperti tak ada orang di dalamnya.

Namun saat kursi yang diduduki oleh Al berputar, Elsa langsung terkesiap melihat Al tanpa topi yang menutupi wajahnya. Sehingga dengan sangat jelas wajah Alvaro yang cacat, terlihat oleh manik kecoklatan milik Elsa.

“Kenapa kamu terlihat kaget seperti itu?” tanya Alvaro.

“Eng-enggak kenapa-kenapa. Sa-saya enggak kaget kok!” jawab Elsa.

“Enggak kaget kok gugup!” gerutu Alvaro. “Kamu datang hari ini ke kantor saya, itu artinya kamu setuju untuk menikah dengan saya kan?”

Kemarin saat Elsa tidak sengaja bertemu dengan Al di sebuah restoran, Al menawarkan sebuah kerja sama pada Elsa. Al mengajak Elsa untuk menikah dengan mahar 1 miliar yang akan Al berikan pada Elsa.

Elsa di beri waktu untuk berpikir satu malam. Padahal tanpa harus berpikir lagi pun Elsa sudah pasti akan menerimanya. Karena Elsa memang sangat membutuhkan uangya. Elsa bertekad akan melakukan apa saja demi bisa mendapatkan uang 500 juta termasuk menjual dirinya jika memang ada yang mau membeli.

Al memberikan kartu namanya dan meminta Elsa untuk datang ke perusahaannya jika dia menerima tawaran dari Al.

Tapi jika Elsa menolak maka Elsa tidak perlu menemuinya, apalagi jika itu hanya untuk mengembalikan uang Al yang sudah membayari biaya makan Elsa di restoran kemarin.

Hari ini Elsa hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban. Lidahnya terlalu kelu untuk bisa bicara. Rasa kagetnya melihat wajah asli Al membuat Elsa tak mampu membuka mulutnya.

Elsa ingin berpaling dari wajah Al yang tampak buruk, tapi hatinya tidak mengizinkan. Elsa masih terus menatap wajah Al, tapi bukan tatapan jijik yang Elsa berikan melainkan tatapan penasaran.

Elsa yakin sekali wajah Al itu tadinya tidak seperti itu, pasti ada kejadian di masa lalu yang membuat wajah Al cacat seperti itu.

“Kenapa kamu melihat saya seperti itu?” tanya Al pada Elsa.

“Ti-tidak apa-apa,” jawab Elsa gugup.

“Gio, cepat jelaskan padanya. Jelaskan sama wanita ini apa yang harus di lakukannya, dan kalau dia sudah mengerti suruh dia untuk menandatangani surat kontraknya.”

Perintah dari Alvaro membuat Gio langsung mematikan lampu di ruangan Al. Gio lalu menyalakan proyektor berisi apa saja yang harus di lakukan dan tidak boleh di lakukan oleh Elsa selama kerja sama dengan Al masih berlangsung.

Dari layar proyektor itu, Elsa bisa melihat point-point yang harus bisa ia mengerti.

Dengan sangat jelas dan telaten Gio menjelaskan semuanya pada Elsa. Dan saat penjelasannya telah selesai Elsa pun dipersilakan untuk bertanya.

“Silakan, apa ada yang mau Anda tanyakan?” ucap Gio.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin Elsa tanyakan, tapi Elsa merasa segan untuk bertanya. Elsa berpikir lebih baik ia menanyakan hal yang penting-penting saja.

“Pak Gio, apa saya tidak harus melayani Pak Al sebagaimana seorang istri melayaninya?” tanya Elsa sedikit ragu.

“Kenapa? Kamu takut saya ngapa-ngapain kamu?” pungkas Al. “Tenang saja, saya tidak tertarik dengan wanita,” ucap Al yang terdengar membingungkan.

“Jadi memang benar gosip yang beredar, kalau Pak Al itu adalah seorang penyuka sesama jenis?” tanya Elsa keceplosan.

“Kamu jangan melewati batasan kamu ya?!” seru Gio.

“Enggak apa-apa Gio, biarkan saja dia bicara. Biarkan dia menanyakan apa pun yang ingin di tanyakan ya.”

Elsa, merasa kalau dia memang sudah sangat keterlaluan. Seharusnya pertanyaan tidak penting itu tak perlu ia tanyakan. Tapi sayangnya itu sudah terlanjur ia ucapkan.

“Anggap saja itu benar,” ucap Alvaro.

'Jadi memang benar kalau CEO hebat ini memiliki kekurangan. Memang seperti itu, tidak ada kesempurnaan bagi makhluk karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan,' gumam Elsa sambil senyum-senyum.

Elsa merasa sangat senang mengetahui kalau pria yang akan dinikahinya ini adalah pria yang tidak akan mungkin tertarik padanya. Dengan begitu Elsa tidak perlu memikirkan bagaimana caranya dia akan bisa melayani Al saat di ranjang nanti.

Sejujurnya setelah gagal menikah untuk pertama kalinya, Elsa merasa gairah dalam hidupnya itu telah mati. Ia tak bisa merasa nafsu lagi. Nafsunya telah mati bersama dengan hatinya yang juga telah mati karena rasa sakit di tinggalkan ketika ada di pelaminan.

“Semuanya sudah jelas, saya hanya harus tinggal di rumah pak Al, saya hanya harus tampil mesra dengan Pak Al saat sedang di depan orang lain dan saya tidak harus melayani kebutuhan seksualnya Pak Al, karena Pak Al itu tidak menyukai wan.... Oops Pak Al tidak menyukai saya. Begitu kan?”

Gio sudah hampir menyemburkan bisanya yang mematikan, jika saja Elsa tidak keburu meralat ucapannya.

“Kalau begitu sekarang kamu bisa menanda tangani surat kontraknya.”

Gio menyodorkan selembar surat kontrak pada Elsa yang harus Elsa baca dengan teliti. Dan jika ada hal yang membuat Elsa keberatan, Elsa bisa langsung menolaknya.

Dari tempat duduknya, Al terus saja menatap Elsa yang sedang membaca surat kontrak itu. Ada sesuatu yang sangat menarik dari diri Elsa. Bukan hanya kecantikan Elsa, tapi hal lain. Hingga Alvaro merasa Elsa itu sangat cocok untuk ia jadikan partner.

“Saya setuju,” ucap Elsa saat sudah selesai membaca kontraknya.

“Kamu yakin? Kamu sekarang sudah bertemu dengan Tuan saya, dan kamu sudah melihatnya secara langsung bagaimana fisik dari tuan saya itu.”

“Saya yakin, saya tidak peduli dengan siapa saya akan menikah yang terpenting bagi saya adalah saya akan bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan bunda saya. Dan untuk masalah wajah Pak Al, yang seperti itu. A-apa sa-saya boleh tahu penyebabnya?” pada akhirnya Elsa tak bisa untuk tidak menanyakannya.

Gio menoleh ke arah Al, ia ingin tahu apa Al memberinya izin untuk cerita atau tidak.

Bersambung....

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.