Pagi masih gelap. Namun cahaya biru sudah terlihat di langit. Senja mencari suara seseorang yang sepertinya sedang menangis.
Senja keluar dari shelter yang dibuatnya. Lalu berjalan menuju arah suara. Awalnya terdengar jauh, hingga ahirnya ia merasa suaranya begitu dekat dengannya. Kini, ia sampai di sekitar sungai. Sambil melihat dengan jeli, Senja terus mencoba mencari sumber suara itu. Ia kemudian terkejut melihat sosok perempuan ada disana.
Hari sudah pagi. Jelas itu bukan hantu atau semacamnya. Pikirannya lebih kepada korban selamat dari banjir sungai seperti dirinya. Ia memberanikan diri mendekati perempuan itu. Perlahan ia berjongkok agar tidak mengagetkannya.
"Bu, apakah ibu butuh bantuan?" Tanya Senja
Ibu itu menjawab. Namun, Senja tidak tahu apa yang dikatakan ibu itu. Ia semacam menggunakan bahasa yang tidak Senja mengerti. Tiba-tiba Ella mengejutkannya dengan berada tepat didepan wajah Senja.
"Sen, apa yang terjadi?" Tanya Ella
"Aku pikir ibu ini adalah korban banjir yang selamat. Aku bertanya padanya, apakah ia butuh bantuan? Namun, aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Aku tidak tahu maksud perkataanya," kata Senja
"Hihihihi. Sulitkah bagimu, Sen? Itu sangat mudah untukku," kata Ella dengan nada bangga
"Apa yang bisa kau lakukan untuk membantu?" Tanya Senja
"Itu sama seperti yang kulakukan padamu," jawabnya singkat
kemudian Ella mengetuk kaki ringannya diatas kening ibu itu. Kini ibu itu dapat berbicara dengan Ella dan dapat melihatnya dengan jelas. Ia tahu apa yang dikatakannya.
"Ibu ini sedang hamil. Ia khawatir ia akan melahirkan, sedangkan tempat ini sangat jauh dari tempat tinggalnya," kata Ella mengartikan apa yang dikatakan ibu itu
"Apa! Hamil?" Senja terkejut dengan apa yang dikatakan Ella.
Senja kemudian memeriksa dan memperhatikan perut ibu itu. Tapi ia tak tahu apa yang harus dilakukannya jika ibu itu melahirkan bersamanya. Ia kemudian membawa ibu itu menuju ke perkemahannya. Ia kemudian memberikan makanan yang ia miliki. Persediaan makan terakhir yang ia punya.
"Ella, kini aku tak punya makanan lagi. Aku harus mencari makanan disekitar sini. Bisakah kau menjaga ibu itu?" Pinta Senja
"Baiklah, Sen. Akan kupastikan dia aman dari binatang liar." Kata Ella yakin
Senja berkeliling melihat-lihat adakah yang bisa ia jadikan makanan. Masih di dataran rendah, tak jauh dari sungai. Ada banyak selada air, ia memungutnya dan mengumpulkan lebih banyak. Karena kini ia juga harus menjaga dua nyawa lainnya.
Tiba-tiba pikirannya mengawang. Ia teringat bagaimana ia dibentak dan tidak dipercaya oleh atasanya. Hatinya mendadak sakit kala mengingat hal itu. Tentu jika dibandingan apa yang sedang dialaminya kini, ia merasa di hutan dengan mahluk aneh dan orang asing jauh lebih baik.
Senja mengambil air. Mengisi penuh botolnya dengan air lalu meletakannya diatas api. Hal itu ia pelajari saat sekolah. Ternyata hal itu kini menjadi berguna.
Ia menggunakan mangkuk alumunium sebagai panci. Ia beri lubang lalu menggantungnya diatas api. Senja merebus daun selada air yang ia dapat. Ia membawa persediaan makanan lain seperti batang Begonia. Batang yang terasa asam seperti memakan buah pencuci mulut.
Senja tak mengajak bicara ibu itu. Ia hanya menggunakan bahasa isyarat saat berkomunikasi dengannya.
"Ella, tak bisakah kau membuatku mengerti juga apa yang dikatakan ibu itu? Semacam penerjemah otomatis di otakku?" Kata Senja yang berharap ia tahu apa yang di inginkan ibu itu
"Hihihi. Maaf, Sen. Aku tak bisa melakukan hal semacam itu," kata Ella
"Sayang sekali. Aku kira kau bisa lakukan apapun sesuai permintaan seperti jin yang dimiliki aladin," kata Senja kecewa
Dari obrolannya dengan Ella. Ia tahu nama ibu itu adalah Upe. Ella banyak berbincang dengan ibu Upe, sehingga ia tahu kemana perkampungan terdekat yang bisa mereka datangi.
Sehari di hutan terasa begitu cepat. Mereka membuat satu shelter lagi untuk Ibu Upe dan bekerjasama membuat perapian. Meski sesekali Ibu Upe berhenti karena merasa kesakitan yang terasa dari dalam perutnya.
Senja mengamati ibu Upe. Rasa sakit yang berangsur hilang dan datang itu bisa jadi kontraksi. Hal itu membuat Senja makin takut saat membayangkan harus membantu kelahiran anak pertama Ibu Upe.
Sore telah berganti malam. Seperti hari sebelumnya, ia melihat mahluk-mahluk seperti Ella disekitarnya. Ia melihat ke arah batu besar lagi. Sosok arwah pendaki yang melihat ke langit masih ada disana.
"Apa dia tak lelah terus memandang langit," kata Senja yang sudah mulai tak takut melihat mahluk-mahluk aneh disekitarnya
"Hihihi. Apa rencanamu kali ini, Sen?" Tanya Ella
"Mencari perkampungan. Aku harap bisa membawa Ibu Upe ke rumahnya dalam keadaan selamat," kata Senja
"Hihihi. Aku tak bermaksud menakutimu. Kau saat ini baru berada di bibir hutan. Hutan ini masih cukup dalam dan banyak manusia yang tak bisa kembali. Seperti pendaki itu yang mati di dalam hutan," kata Ella
"Bukankah alam bekerja sesuai apa yang kita pikirkan? Aku tidak akan berpikir hal baik, jadi hal semacam itu tidak akan terjadi." Kata Senja mencoba meyakinkan diri
Senja membuka tas nya. Ia melihat barang-barang miliknya. Baru tersadar jika arlojinya hilang. Lalu, ia mengeluarkan barang yang memang tak ia perlukan. Lalu meninggalkannya di hutan. Esok ia berencana mencari perkampungan terdekat dan mengantarkan Ibu Upe kerumahnya.
Aaaaa!!
Tiba-tiba Ibu Upe Menjerit kesakitan. Sontak membuat senja bangkit dari duduk bersandarnya. Ia langsung mendekati Ibu Upe. Dia pikir itu adalah saatnya ia harus melahirkan.
'Oh tidak. Apa yang harus aku lakukan. Aku belum pernah melahirkan dan bagaimana aku harus membantu orang lain?' Kata Senja dalam hati
Panik membuatnya. Sering menggaruk kepalanya. Ella dan beberapa peri hutan mengitari Ibu Upe. Cahaya dari mereka membuatnya terlihat lebih jelas. Senja mencoba menenangkan diri, bagaimanapun ia tidak bisa lari atau memilih tidak membantunya. Pilihanya kini adalah membantu persalinan Ibu Upe.
Aaaaaa!
Teriakan Ibu Upe memecah keheningan hutan. Senja mengambil beberapa lembar baju miliknya. Lalu menaruhnya di dekat Ibu Upe. Cairan terlihat mengalir dikaki Ibu Upe.
"Tarik nafas , Bu. Gigit kainnya jangan keluarkan suara atau tenagamu bisa habis karenanya," kata Senja yang kemudian ditirukan Ella agar Ibu Upe mengerti
Kurang lebih satu jam. Kepala bayi sudah terlihat. Senja segera mengambil kain untuk diletakan didekatnya. Bu Upe mengejan kuat dan
Owaaaaaaaa!
Bayi Ibu Upe lahir. Bayi perempuan yang kemudian disambut oleh penghuni hutan. Tak hanya peri dan teman-temannya, binatang hutan yang biasanya bersuara tak terdengar seperti malam sebelumnya.
Ibu Upe memeluk Senja. Ia terharu melihat anak yang sudah ada digendongannya.
Melihat tali pusar yang panjang, membuat Senja mengambil sikap. Ia segera mencelupkan pisau lipatnya kedalam air panas. Mengikat tali pusat dengan serat pohon. Lalu mengikat bagian lain tidak terlalu kencang. Kemudian ia memotongnya dengan pisau. Tangis bayi itu memecah keheningan. Para Peri terlihat senang melihatnya.
Senja terduduk lemas setelah memutus tali pusar bayi itu. Ia teringat jika dulu ia pernah masuk sekolah perawat namun berhenti karena menurutnya tak sesuai hati nurani. Ia terkekeh sendiri mengingat apa yang dilakukannya barusan.
"Selamat, Sen. Kau seperti dokter kali ini," kata Ella
"Terimakasih, Ella. Ini keberuntungan. Bayi itu lahir karena keberuntungan dan jika aku boleh menamainya Kalyani, ia perempuan yang akan selalu beruntung," kata Senja sembari mengelus kepala bayi dengan rambut hitam yang cantik. Ibu Upe terlihat senang mendengarnya, putri cantiknya kini memiliki nama Kalyani.
Tiba- tiba sesuatu terdengar mendekat. Senja kembali waspada. Apapun bisa menyerangnya. Ia segera mengambil pisau ditangan kanannya dan mengambil kayu dengan api menyala di tangan kiri nya. Ella pun tidak tahu apa yang akan datang mendekati mereka.





