"Ayo habiskan, Bu. Setelah ini minum obatnya." Marra masih berlutut di depan kursi roda yang diduduki Lauren, ibunya. Gadis itu setia memegang piring serta sendok, ia sibuk menyuapkan pengisi perut agar sang ibu lekas mengonsumsi obat hariannya dan beristirahat.
Marra beranjak meletakan alat makan di sebuah ember berisi tumpukan pakaian yang akan ia jemur, lantas berganti mengambil segelas air serta beberapa butir obat untuk Lauren. "Ibu pintar, Ibu yang terhebat," puji Marra setelah Lauren menelan semua obat beserta air minumnya. "Sekarang Ibu harus beristirahat di kamar, mari kita pergi ke sana." Ia mendorong kursi roda masuk ke rumah sewa sederhana yang sudah mereka tinggali hampir dua tahun ini, hanya ada satu kamar, sebuah dapur sempit, kamar mandi, ruang tengah serta halaman. Marra seringkali beristirahat di ruang tengah pada sebuah sofa, karena sudah terbiasa—hal itu bukan masalah lagi untuknya.
Lauren mengidap skizofrenia sejak bertahun-tahun lalu dan sang suami kabur melepas tanggung jawab, akhirnya hanya Marra sendirian mengurus sang ibu penuh kesabaran. Jika Marra bekerja, ia akan menitipkan Lauren pada Bibi Romel yang tinggal di samping rumah mereka, lagipula Lauren tak banyak melakukan aktivitas selain hanya duduk di kursi roda atau merebahkan tubuh di ranjang, wanita itu tak pernah bersuara, ia sibuk menatap kosong tanpa berfokus pada suatu hal.
Setelah menarik selimut, Marra bergerak keluar dan membereskan alat makan Lauren yang kotor sebelum menjemur pakaian basahnya di halaman, baru saja ia meletakan ember di kamar mandi, sebuah dering ponsel memanggil dari ruang tengah, Marra meletakannya di dekat televisi.
"Luke? Apa aku harus bekerja hari ini?" Marra bertanya-tanya, ia mengangkat teleponnya. "Hallo, apa aku harus berangkat di hari liburku?" Ia duduk di sofa.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku menghubungimu karena ingin menawarkan sesuatu, kau menyukai uang, jadi seharusnya kau menerima tawaran ini, Marra."
"Tawaran apa?"
"Bukankah kau pernah menjadi seorang DJ?"
"Ya, lalu?"
"Temanku, pemilik kelab 24Night membutuhkanmu. Bisakah kau datang ke sana? Aku yakin dia akan membayar mahal pekerjaanmu, Marra."
"24Night?" Marra mengingat sesuatu, ia cukup familier mendengar nama diskotek tersebut.
"Ya, bagaimana? Kau pasti bisa kan? Lagipula aku sudah merekomendasikan namamu padanya sebelum menelepon, jadi kau harus datang malam ini."
"Baiklah, akan aku coba."
"Semoga beruntung." Sambungan telepon berakhir, Marra merebahkan tubuhnya di sofa.
***
"Luke berkata, jika aku harus langsung naik ke lantai tiga saja karena di sana ruang kerja Matthew berada," gumam Marra selepas turun dari jeepney dan berdesakan dengan penumpang lain, ini seringkali membosankan, tapi apa daya ia tak memiliki kendaraan sendiri.
Gadis itu menggendong ransel sembari menyusuri trotoar, dari kejauhan sebuah marquee berukuran besar dengan gemerlap lampu di sekelilingnya menonjolkan nama kelab 24Night, Marra hanya perlu menyebrang jalan dan sampai. Ini bukan pertama kali Marra mendatangi sebuah tempat kerja baru, jadi ia terbiasa percaya diri meski entah apa yang dihadapinya di dalam sana.
Gadis itu menemukan banyak kendaraan di halaman parkir yang cukup luas, pengunjung rupa-rupa manusia dengan penampilan malam mereka nan cukup membangkitkan hasrat lawan jenis, ini bukan hal asing lagi untuk dunia malam. Marra terus bergerak tanpa menggubris beberapa pria yang bersiul menggodanya, ia mengeluarkan kartu identitas untuk ditunjukan pada dua orang penjaga di depan.
"Gadis kecil, kau yakin mendatangi tempat ini?" tanya pria berkumis tipis di depan Marra, usai melirik kartu identitas si tamu, ia menatap langsung gadis mungil itu.
"Iya." Marra mulai menerka-nerka tentang isi pikiran pria itu. "Bukankah usiaku sudah legal untuk masuk ke dalam?"
"Iya, cukup umur." Pria itu mengembalikan kartu identitas Marra. "Hanya saja aku rasa gadis sepertimu lebih baik mendatangi bioskop untuk menonton film."
Marra tersenyum. "Malam ini pekerjaanku ada di dalam gedung, aku harus menemui Matthew."
"Tuan Matt?"
Marra mengangguk. "Ya, aku dengar dia membutuhkan disk jockey pengganti, aku akan melakukannya."
"Kau mampu?"
"Tentu saja, bisakah aku masuk sekarang?"
Si penjaga menyingkir. "Semoga beruntung, perhatikan jalanmu, di dalam banyak kerumunan."
Marra mengangguk, ia menjejakan kakinya masuk ke 24Night untuk pertama kali, baru melewati pintu utama saja aroma pekat alkohol sudah menyapa pernapasan, penampilannya tentu tak sexy seperti wanita malam kebanyakan, ia hanya mengenakan celana jeans serta sebuah hoodie pelangi, gadis yang selalu terlihat manis dan seringkali dianggap anak kecil.
"Lantai tiga, lantai tiga, mari menuju lantai tiga." Hanya kalimat itu nan terus mencuat dari bibir Marra saat melewati banyak orang, meja barista yang panjang dan diisi beberapa manusia. Ternyata altar untuk disk jockey memang kosong, jadi area dance floor terpantau sepi.
Marra bergegas menghampiri tangga menuju lantai tiga usai bertanya pada seorang barista, ia bergerak cukup cepat seraya menunduk hingga tak sengaja bersinggungan dengan lengan kekar seseorang dan tersungkur ke lantai di antara pengunjung lain, tapi mereka melewatinya begitu saja.
Marra menengadah menemukan sebuah tangan terulur, ia tetap berdiri tanpa menerima uluran tangan tersebut. Saat ia mendongak, ditemukannya wajah seseorang yang dirasa tak asing sampai Marra terdiam beberapa saat.
"Kau baik-baik saja?" Suara berat dan serak mengusik telinga Marra.
"Ah, aku tak apa. Maaf menyenggolmu, aku buru-buru." Marra menyingkir, tapi sejenak ia terhenti dan menoleh memperhatikan punggung berkaus hitam yang cukup lapang untuk didekap, lengan serta lehernya dipenuhi tatto mulai menjauh, menghilang di antara kerumunan pengunjung. "Aku merasa pernah melihatnya, apa ini deja vu?" Marra mengedik, ia lanjut melangkah menghampiri anak tangga lain.
***
Meski hanya hoodie serta celana jeans, Marra tetap percaya diri beraksi di altar khusus untuk disk jockey, suara musik yang menggema dari speaker membuat banyak pengunjung 24Night menggila di area dance floor. Aksi Marra terlihat enerjik, ia juga tersenyum lebar dan berjoget cukup lincah, headphone terpasang di kepala, beberapa kali tangannya menyentuh turntable saat mempercepat tempo musik serta mengganti pitch agar terdengar lebih selaras. Ia mampu membagi fokusnya saat ini, tak masalah orang lain menganggap gadis itu seperti bocah karena tubuh mungil serta wajah menggemaskannya, mereka tak tahu jika Marra bisa melakukan banyak hal seperti sekarang.
Lampu bulat penuh gemerlap cahaya berputar di langit-langit ruangan, suasana redup semakin menghanyutkan banyak orang untuk aktivitas mereka. Matthew baru saja turun seraya menyesap batang rokok, ia menghampiri beberapa teman dekat yang menjadi pelanggan kelab malamnya, mereka duduk berjejer di sebuah sofa panjang di antara sofa-sofa lain yang tertata rapi.
"Matt, sejak kapan kau memperkerjakan anak kecil. Apa itu legal?" tanya Jamie saat Matthew baru saja duduk di sampingnya, beberapa gelas sloki, botol alkohol, sebungkus rokok lengkap dengan pemantik serta sebuah asbak tergeletak di permukaan meja.
"Siapa?" Dahi Matthew berkerut. "Kau tahu sendiri tempat usahaku bisa tutup jika aku memperkerjakan anak di bawah umur, jadi siapa yang kalian maksud?" Ia kebingungan.
"Dia." Menggunakan gerak dagu, Jamie menunjuk seorang disk jockey yang beraksi. "Dia anak-anak bukan? Apa kau tak menemukan pengganti Leah yang lain? Tempat usahamu akan segera ditutup." Ia mendengkus, lalu meneguk isi gelas sloki hingga habis.
Matthew melihat Marra, lalu tertawa. "Kau serius?"
"Apa yang Matt tertawakan?" Jose serta Denis baru bergabung.
"Sepertinya cepat atau lambat kita tak bisa lagi datang kemari," sahut Jamie.
"Benarkah? Kenapa?" Jose menatap Jamie serta Matthew bergantian. "Ada masalah apa, Matt?" Ia menyenggol bahunya.
"Jamie menuduhku memperkerjakan anak kecil." Matthew masih tertawa.
"Jose, kau lihat siapa pengganti Leah."
"Leah?" Jose melihat ke altar DJ, ia langsung terpaku begitu menemukan Marra di sana, Denis melakukan hal yang sama, dan ekspresi mereka sama.
"Aku benar, bukan? Matt seharusnya tak seperti ini, kalaupun dia membutuhkan pekerjaan, tidak di tempat seperti ini." Jamie menasihati.
"Tunggu sebentar." Matthew menekan puntung rokoknya ke asbak, tawa pria itu sudah lenyap tak berbekas seperti asap rokoknya yang lesap. "Usia gadis itu di atas 21 tahun, apa yang kau khawatirkan? Dia memang mungil, dia—"
"Menggemaskan," komentar Jose, ia masih terus memperhatikan Marra tanpa jeda.
"Benar, dia menggemaskan. Jamie, apa kau mengingat Luke?" tanya Matthew.
"Si tukang pizza itu?"
"Benar, gadis itu bernama Marra. Dia adalah pengantar pizza di tempat Luke, dan Luke sendiri yang merekomendasikannya padaku. Dia bukan anak-anak, dia seorang pekerja keras." Matthew berusaha mematahkan semua keraguan Jamie.
"Matt benar, dia adalah pengantar pizza. Dia pernah menunggu hujan reda di Racher Art tempo hari," ungkap Jose, ia menyenggol Denis. "Aku benar, kan?"
Denis mengangguk, tatapannya sejenak beralih dari Marra untuk Jamie, lalu kembali lagi.
"Jadi, gadis itu seorang pengantar pizza dan menjadi DJ?" Jamie manggut-manggut, kini tatapannya berganti kekaguman pada Marra. "Apa dia memiliki kehidupan yang keras di luar sana?"
"Mungkin saja." Matthew beranjak. "Aku harus mengurus sesuatu, jangan ganggu anak kecilku itu agar dia bertahan hingga Leah kembali." Ia menyingkir.
"Tingkah Matt seperti seorang ayah yang posesif."
"Benar," sahut Jose, "tapi, aku suka aksi gadis itu." Ia tersenyum mengingat kesan pertama bertemu Marra di Racher Art, lalu beranjak. "Sepertinya aku akan turun ke dance floor demi menghargai kegigihannya berjoget dan menyalakan musik di sana." Ia menyingkir penuh semangat.
"Apa itu tadi? Apa Jose menyukainya?"
"Entah." Denis bersandar, menarik ponselnya dari saku celana, sembari membalas beberapa chat, arah mata pria itu berulang kali melirik Marra seperti ikut terhipnotis.
"Malam ini kau tak memiliki kencan?" tanya Jamie.
"Martha akan segera datang."
Jamie berdecak kagum, ia menepuk bahu Denis. "Sepertinya wajah tampanmu benar-benar menjadi primadona sampai semua wanita mendekat dengan mudah, jujur saja aku masih sangat iri denganmu. Bisakah kau membaginya satu atau ... dua mungkin." Smirk muncul, ia yakin Denis memahami perkataannya.
"Itu mudah, aku akan bicara dengan mereka setelah selesai." Ia tersenyum dan beranjak, Denis sudah terkenal sebagai womanizer di kalangan teman-temannya, siapa yang meragukan pesona pria itu—jika setiap wanita sangat mudah melemparkan diri ke ranjang Denis dan rela menghabiskan uang mereka untuknya. Sumber uang Denis Arthur Racher benar-benar mengalir deras.
***





