▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Ruang Temu
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
"OIT."
Merupakan sapaan pertama Beryl begitu Gerhan meneleponnya. Bel pulang baru saja berdering, teman-temannya berhamburan keluar kelas. "Cabut ke mana lo nggak balik lagi ke kelas? Kagak ngajak-ngajak," sambungnya.
"Lo belum balik 'kan? Bisa ke UKS? Sekalian ke kelas XI IPA 1 dulu, ambilin tas cewek yang namanya Simfoni." Mengabaikan pertanyaan Beryl, Gerhan justru berkata seenaknya.
"Weits, apaan, nih? Enak aja maen nyuruh-nyuruh."
"Nggak usah bacot. Cepetan. Gue tunggu." Lantas begitu saja telepon dimatikan.
Beryl menatap layar ponselnya yang kini sudah menggelap. "Ye, si kunyuk!" umpatnya kemudian.
"Ngapa lo?" Dari arah belakang, Xylo bertanya. Laki-laki itu sudah bersiap pulang, tas telah dicangklokan di pundak, dan ia tengah meraih kruk yang disandarkan pada dinding.
"Ini, nih, temen lo. Seenaknya aja nyuruh-nyuruh."
"Gerhan?"
"Siapa lagi emangnya?"
"Dia ngomong apaan?"
"Tau. Disuruh ke IPA 1, ngambil tas cewek yang namanya Sim ... Sim ... Sim apa, ya, tadi? Simsimi apa Simsalabim, gue lupa."
"Sambalado kali!" Xylo ngakak lagi.
"Ye, si tolol!" Beryl ikut ngakak. Laki-laki itu lantas mengaitkan satu tali tasnya ke pundak. Keduanya lantas berjalan meninggalkan kelas.
Beryl dan Xylo berjalan melewati teras yang menghubungkan gedung IPA dengan gedung IPS. Beryl yakin jika saat ini telah terjadi sesuatu. Pasalnya tidak mungkin seorang Lantang Gerhana mau bersusah payah peduli pada orang lain jika tidak ada sebabnya. Apalagi sampai harus mengambilkan tas. Mana seorang perempuan lagi. Kalau Cyrin tahu, bisa-bisa perempuan itu mengamuk.
Eh, benar kan tadi nama yang disebutkan Gerhan merupakan nama perempuan?
Begitu sampai di depan kelas XI IPA 1, Beryl langsung mengetukkan jari sebanyak dua kali ke permukaan pintu. Tentu saja hal itu ia lakukan bukan untuk bersikap sopan, melainkan hanya karena sifat isengnya.
Suasana di dalam kelas tidak ramai, cenderung lengang malah. Hanya ada beberapa siswa yang Beryl asumsikan tengah piket pulang sekolah, dilihat dari kegiatan mereka yang sibuk dengan beragam alat kebersihan.
Saat Beryl mengetuk pintu, seluruh kepala yang berjumlah tidak lebih dari enam orang itu langsung menoleh ke arahnya. Hampir seluruh wajah di sana menyambut Beryl dengan keterkejutan. Mungkin mereka bingung kenapa bisa seorang Beryl Moissani menyambangi kelasnya. Karena seperti Gerhan, Beryl pun terkenal sama tak acuhnya pada sekitar.
Kegiatan mereka terhenti sepenuhnya. Xylo yang baru sampai di belakang Beryl langsung melongokkan kepala dari balik bahu Beryl.
"Gue mau ngambil tas cewek yang namanya ...," Beryl menoleh pada Xylo, "siapa, Xyl? Gue lupa."
"Sambalado!" Xylo menjawab asal.
"Si tolol." Beryl tertawa. "Bukan, Bego!"
"Lha, terus siapa? Gue kan nggak tau, yang ngobrol sama Gerhan elo."
Beryl menggaruk kepala menggunakan telunjuk. Dia jadi bingung. Tadi dia tidak betul-betul mendengar dengan jelas siapa nama yang disebutkan Gerhan. “Gue tanyain Gerhan dulu, deh,” putusnya karena tidak berhasil mengingat siapa nama yang disebutkan Gerhan tadi.
Sementara Beryl sibuk dengan ponselnya, Xylo justru tebar pesona pada perempuan yang berbicara dengan mereka. Sifat buaya laki-laki itu benar-benar keluar beriringan dengan modus-modus yang mulai ia lontarkan.
“Simfoni,” tukas Beryl seusai mendapat balasan dari Gerhan, sekaligus memutus aksi Xylo. “Tas Simfoni. Gue mau ngambil tas Simfoni.”
♫
"Kalo lo nggak ngasih gue kompensasi apa pun atas jasa yang udah gue lakukan buat ngambil tas ini, gue benar-benar akan bikin perhitungan."
Adalah kalimat pertama yang dilontarkan Beryl begitu ia membuka pintu UKS. Kaki laki-laki itu baru menginjak lantas UKS ketika dua kepala di sana menoleh serentak. Sebetulnya ada tiga orang di ruangan ini, hanya saja, seseorang yang duduk di atas brankar tampak tidak tertarik menoleh pada Beryl. Ia hanya menunduk, membiarkan rambutnya tergerai hingga memblokade pandangan Beryl dari wajahnya.
"Bisa nggak lo kalo dateng ngucap salam dulu?!" Cyrin melotot galak.
Iya, Cyrin. Ternyata di sini ada perempuan cerewet itu juga. Beryl kira dia hanya akan menemukan Gerhan dan perempuan yang tasnya ia ambil, berduaan. Rupanya tidak.
Tidak heran juga sebenarnya, karena di mana ada bulldog, di sana pasti ada pawang bulldog.
Beryl memutar mata. Laki-laki itu lantas berjalan mundur dan mengetuk pintu dengan tampang tidak berminat. "Udah?"
Giliran Cyrin yang merotasikan mata. Tak menghiraukan Beryl, Cyrin kembali memberi atensi pada perempuan yang masih menunduk di atas brankar itu. Ia mengatakan sesuatu yang tidak terlalu Beryl perhatikan. Laki-laki itu justru berjalan mendekati Gerhan yang kini bertampang kusut di brankar lain.
Mengabaikan raut kusut Gerhan, Beryl melempar tas hijau toska di tangannya ke pangkuan Gerhan. "Bayar."
Gerhan hanya melirik Beryl sekilas sebelum memberikan tas di pangkuannya pada perempuan yang tengah menunduk itu. "Tas lo."
"Ma—makasih," balas perempuan itu tanpa mengangkat kepala. Tangannya terulur guna mengambil tas yang disodorkan Gerhan.
Beryl mulai penasaran sekarang. Apalagi saat perempuan itu sama sekali tidak mengangkat kepala. Ia hanya menunduk, mengundang ingatan Beryl terarah pada sosok perempuan yang sudah menjatuhkan sepatu ke atas kepalanya beberapa hari lalu.
"Eh, lo kenapa nunduk mulu? Nggak pegel tuh leher?" Mengikis rasa penasaran, Beryl mencoba peruntungan dengan memancing perempuan itu agar mau mendongak. Namun, bukannya mendapat balasan dari perempuan itu, justru Cyrin yang menanggapi ucapannya.
"Shhh, diem!"
Beryl berdecak. Laki-laki itu lantas menyingkirkan Gerhan dari brankar yang sebelumnya ia tempati dan berbaring terlentang di sana, membuat Gerhan kontan mendelik jengkel. Beryl juga tidak tahu kenapa ia justru merebahkan diri di sini. Harusnya Beryl hanya mengantarkan tas lalu pulang. Xylo bahkan memutuskan untuk menunggu di mobilnya daripada harus mengikuti Beryl ke UKS karena berpikir jika Beryl tidak akan lama. Namun, entahlah, Beryl tiba-tiba memiliki keinginan untuk sedikit lebih lama di sini. Ada sesuatu yang terasa menahannya.
Memejam dengan lengan menutupi mata, Beryl membiarkaan suara Cyrin dan perempuan itu mengisi sunyi di ruang UKS.
"Lo baliknya gimana? Kaki lo pasti masih sakit."
"Nggak apa-apa, kaki aku udah baikan. Dan juga, ini bukan salah kamu."
"Bukan salah gue gimana?" Suara Cyrin meninggi. "Jelas-jelas gara-gara gue nginjek kaki lo, kaki lo jadi berdarah gitu! Bagian mananya yang bukan salah gue?!"
Dasar ratu drama!
"Ini benar-benar bukan salah kamu. Sebelum keinjak kamu kaki aku emang udah luka, jadi jangan merasa bersalah."
"Tapi tetap aja kan gara-gara gue kaki lo jadi luka lagi."
Beryl membalikkan tubuh hingga kini membelakangi ketiga orang itu. Lama-lama ia bosan juga mendengar perdebatan kedua perempuan tersebut, tetapi entah kenapa ia masih saja enggan beranjak. Lalu, tidak tahu apa lagi yang mereka bicarakan selanjutnya hingga tiba-tiba saja Gerhan berkata, "Beryl, lo abis ini nggak ke mana-mana lagi kan? Bisa lo anterin Simfoni pulang?"
Bertepatan dengan Beryl yang kembali membalikkan tubuh guna menyuarakan protesannya, perempuan bernama Simfoni-Simfoni itu sudah terlebih dahulu menyela.
"Enggak usah! Aku bisa pulang sendiri, nggak perlu dianterin."
Sekarang perhatian Beryl justru tertuju pada Simfoni. Mungkin karena Simfoni terlalu panik, sampai ia refleks mengangkat kepala hingga membuat Beryl bisa melihat wajah perempuan itu dengan leluasa. Rupanya perkiraan Beryl memang benar. Simfoni adalah perempuan yang sudah menjatuhkan sepatu ke atas kepalanya.
"Lo cewek yang udah jatuhin gue sepatu itu 'kan?"
Yang pertama kali Beryl lihat begitu Simfoni menoleh padanya adalah melebarnya mata perempuan itu. Keterkejutan sudah jelas terlihat di raut wajahnya, membuat Beryl kontan menyeringai.
"Lo berdua udah saling kenal?"
"Aku serius bisa pulang sendiri!" Simfoni menyela dengan suara kian panik. Hal yang justru membuat seringaian Beryl kian melebar. Laki-laki itu lantas turun dari brankar.
"Nah, karena ceweknya elo, gue jadi nggak keberatan buat nganterin lo pulang," tukas Beryl tanpa beban.
"Enggak, enggak! Beneran aku bisa sendiri!"
"Sayangnya gue nggak bisa ditolak." Beryl berujar. Sejenak raut wajahnya dibuat menyesal, tetapi di detik berikutnya sebuah seringaian kembali terlihat.
"Beryl, lo jangan aneh-aneh!" seru Cyrin, agak panik. Bagaimana tidak panik kalau Beryl sudah bersikap seperti itu? Nanti kalau Simfoni diapa-apakan bagaimana? Cyrin sebagai pihak yang memaksa Simfoni untuk diantar pulang tentu akan menjadi orang paling bersalah jika terjadi sesuatu pada Simfoni. Walaupun Cyrin sangsi juga kalau Beryl akan berbuat macam-macam. Tapi, namanya juga laki-laki! Apalagi itu Beryl, bukan tidak mungkin jika dia akan melakukan hal aneh-aneh.
"Aneh-aneh gimana? Gue cuma mau nganterin dia pulang. Apanya yang aneh coba?"
"Gerhan." Cyrin menarik seragam Gerhan, berusaha meminta bantuan pacarnya untuk menegur Beryl. Sayangnya yang ia dapatkan tak sesuai keinginan.
"Lo mau gue yang nganterin Simfoni?"
Tanpa berpikir dua kali Cyrin langsung menjawab, "Enggak! Enak aja!" dengan mata memelotot. Walau bagaimanapun, Cyrin tidak akan pernah rela pacarnya membonceng perempuan lain yang tidak ada hubungan darah dengan laki-laki itu. Tidak! Sama sekali tidak akan!
Gerhan mengangguk ringan. "Nah, yaudah. Toh Beryl cuma mau nganterin Simfoni. Dia nggak akan macem-macem."
Jawaban itu membuat seringaian Beryl kembali tampak.
Raut ragu sempat melintas di wajah Cyrin. "Tapi kan—"
"Udahlah, dia aman kok sama gue. Tenang aja." Beryl tersenyum tengil lantas menoleh pada Simfoni. "Iya 'kan, Simfoni?" lanjutnya sok manis.
Simfoni justru kembali menunduk.
"Bener lho, ya, jangan aneh-aneh. Awas aja kalo sampai Simfoni kenapa-kenapa!"
"Iya. Santai aja, Tuan Putri."
Setelah puas mengatakan berbagai macam pesan yang berisi ancaman hingga membuat Beryl muak sendiri, akhirnya Cyrin berhasil ditarik Gerhan. Beryl sempat mengajak Gerhan tos seraya melempar senyum yang hanya mereka berdua ketahui artinya sebelum Gerhan dan Cyrin benar-benar meninggalkan ruangan.
Sepeninggal keduanya, Beryl berbalik pada Simfoni. Senyum manisnya terkembang.
"Jadi, mau naik kereta kencana sekarang, Cinderella?"
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ to be continued





