Menjadi Tahanan Mafia

Pada saat ini, awan pergi dan hujan berhenti, cahaya bulan yang cerah jatuh di pegunungan tandus ini, memotong bayangan atap, menerangi Xifu Begonia yang sangat mempesona di akar dinding.

Kucing datang dari balik tanaman di taman. Demora tersenyum dan mendekati kucing itu.

“Kucing cantik, aku akan membawamu masuk ke dalam kamar.” Demora meraih tubuh kucing itu dan membawanya pergi dari sana. Bulu di tubuh kucing itu basah oleh hujan, dan menempel di tubuhnya dengan berantakan, kepalanya terkulai sedih, terlihat sangat menyedihkan.

Sebuah ingatan entah bagaimana melayang di benak Demora, dengan jelas menunjukkan asal usul kucing itu. Demora menyuruh pelayan untuk membuat susu hangat, dan memberikannya pada si kucing. Sedangkan dirinya kini masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa noda darah.

Setelah orang tua aslinya meninggal, Demora merasa ada yang menghilang dari kehidupan sebelumnya. Kalimat terakhir sang ayah, membuat Demora merasa tidak percaya.

Demora tidak bisa menahan perasaan sedih dari kepergian orang tuanya, dan dengan lembut memanggil. "Papa … Mama, aku sendirian sekarang."

Berjongkok sambil berbicara, merentangkan tangannya untuk memeluk tubuhnya sendiri.

Demora telah selesai dengan kegiatan di dalam kamar mandi, dia terlihat sedang mengeringkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian. Usai mengenakan penutup tubuh, Demora berjalan keluar dari sana dan menghampiri kucing bernama Shisan.

Shisan menjulurkan kedua cakar depannya dan mencondongkan tubuh ke arah demora, tetapi bagian belakang tubuhnya seperti terperangkap oleh selimut, tidak peduli seberapa keras ia berjuang, dia tidak dapat menyingkirkannya.

Demora tertawa, dia membantu Shisan untuk melepaskan diri dari selimut tebal itu. Shisan kini berada dalam pelukan Demora, tubuhnya terasa terayun hingga Demora kembali menurunkannya di atas ranjang.

Demora mendengar namanya dipanggil, dia berjalan ke luar dari kamar dan menemui Wood yang kini tersenyum lebar pada Demora.

“Jangan tersenyum! Kau terlihat jauh menakutkan saat tersenyum, Wood.”

“Kenapa kau berkata hal yang menyakitkan?” ujar Wood sembari memanyunkan bibirnya.

Demora tersenyum dan mencubit pipi pria itu. Kini mereka berjalan menuju ke Mansion utama dan menemui beberapa orang penting di ruang pertemuan.

“Nona, kami akan mengumumkan peralihan kepemimpinan Salvatrucha,” ujar Wood.

Dengan jantung yang berdetak tidak beraturan, Demora melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan melihat ada banyak sekali orang yang duduk dan menantikan kehadirannya.

“Nona Demora, selamat datang,” sapa seorang pria paruh baya yang selama ini menjadi orang kepercayaan Mara.

“Paman Hendri, senang melihat kau baik-baik saja.”

“Nona, maafkan aku.”

“Tidak, terima kasih karena sudah berusaha dengan keras.”

Yuka menyentuh bahu Demora, dan dia kembali melangkah menuju kursi yang ada di bagian ujung ruangan. Duduk di tempat sang ayah biasa memimpin rapat, kini Demora terlihat jauh lebih sedih untuk menggantikan posisi besar itu.

“Wilayah ini akan menjadi tanggung jawabku, dan aku sudah membagi semua pekerjaan sesuai keinginan Papa sebelum tiada. Aku sudah pernah berbicara mengenai posisi ini dengan Papa, semua telah dirancang dengan baik oleh Wood. Dan dia akan memberikan laporannya pada kalian dalam sekarang!”

Sebuah hologram muncul di tengah meja rapat itu, Demora menunjukkan posisi mereka yang harus ditempatkan dengan baik. Bahkan ada beberapa ruang kosong yang harusnya memiliki seseorang, tetapi Demora tidak memberikan posisi pada siapapun di sana.

Wanita itu kini menengok ke belakang dan memberikan Yuka sebuah selebaran untuk dibagikan kepada mereka yang hadir di sana.

"Siapa saja yang akan bekerja sama dengan Salvador, bisa memberitahukannya padaku sekarang. Karena aku ingin tahu, bagaimana perkembangan perusahaan itu hingga bisa menjatuhkan Salvatrucha?" tanya Demora sembari memainkan bulpoin di tangannya.

"Kalau begitu Nona Demora, anda mungkin kecewa, tetapi Salvador tidak ada hubungannya dengan semua ini, dan bukan wewenang kami untuk memberikan informasi mengenai mereka."

Seorang laki-laki berparas tegas dengan tatapan mata yang tajam mengeluarkan kata-kata kasar dengan bercanda.

Mendengar suara itu, Demora mengangkat alisnya dan melihat seorang laki-laki duduk menyamping di dinding dengan kaki kanannya menggantung ke bawah, kaki kirinya ditekuk, tangan kirinya bertumpu pada lututnya, tangan kanannya memegang sebuah bulpoin yang dimainkan, tangannya lengan tergantung bebas di sisinya. Postur duduk terlihat sangat santai dan sulit diatur.

Pria muda itu sedikit memiringkan kepalanya, matanya beralih dari Demora, dan jatuh pada jam tangan di lengannya.

"Perusahaan ini sangat aku percaya, hingga kau menyinggung rekan lama, aku sungguh kecewa dengan rapat kali ini."

  Mendengar kata-kata itu, Demora tiba-tiba mengendurkan tangannya yang akan meraih baretta yang ada di pinggang Yuka, menyipitkan matanya yang ramping, dan dengan marah dalam suaranya.

"Tuan Brake, lancang sekali anda berkata seperti itu di depanku. Bahkan anda sudah mempermalukan diri di depan para pemegang saham. Apakah tidak ada rasa takut akan kehilangan nyawa jika terus bersikap seperti ini ?"

Pria itu menggelengkan kepalanya dua kali, dan tiba-tiba melompat, tubuhnya seperti sangat ringan dan dia mengarahkan sebuah baretta pada Demora.

Dor!

Dengan cepat Wood yang berada di salah satu kursi dalam ruangan itu menarik pelatuknya. Pria yang terlihat ramah itu justru tidak akan segan dalam melepaskan amunisi untuk melindungi sang Tuan Putri.

Demora memandang tangannya yang kosong dengan tidak percaya, wajahnya berubah menjadi marah, dia melepaskan kakinya, memegang Baretta di masing-masing tangan, dan melepaskan dua amunisi tepat di kepala pria itu.

Tubuhnya tergeletak dengan darah yang mengambang di sekitarnya. Semua orang yang ada di sana terkejut hingga tidak bisa berkata lagi. Demora berdiri dengan arahan dari Yuka. Pria itu selalu berada di samping Demora untuk menahan amarah yang berlebihan.

“Nona, kembalikan Baretta milikku,” ucap Yuka dengan meraihnya secara perlahan.

Setelah mendapatkan baretta milik Yuka, Wood berdiri dan mengakhiri pertemuan hari ini. Mereka yang masih bernapas terlihat bergetar dan tidak bisa lagi mengucapkan salam pada Demora.

***

“Berikan aku informasi mengenai Salvador secepatnya! Aku tidak akan melepaskan siapapun yang bekerja sama dengan pria angkuh itu!” ujar Demora.

“Tidak ada yang pernah bertemu dengan Salvador sebelumnya. Hanya Tuan Mara yang mengenali wajah dari pemimpin mafia wilayah Kanada itu,” ujar Wood.

Setiap kali Demora melangkah, Wood menarik Yuka ke belakang. Pada akhirnya, kedua pria itu mundur ke pintu dengan punggung bersandar pada dinding. Berjalan di sepanjang tangga, selangkah demi selangkah, berhenti saat sudah berada di lantai yang diinginkan.

Semua memberikan waktu untuk Demora menyendiri di dalam kamarnya. Wanita itu duduk di balkon dan menatap ke langit gelap penuh awan mendung. Tidak ada bintang di atas sana, hingga dia merasa jenuh dan kedinginan.

Tiba-tiba saja terlihat ada kilatan cahaya merah di area pegunungan, sebuah lahan terbakar dengan lambing dari mafia Salvador. Bagi Demora, hal itu adalah sebuah tantangan yang harus dia terima.

“Aku akan mendapatkanmu dan aku sendiri yang akan membunuhmu, Salvador!” gerutu Demora dengan tangan yang mengepal.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.