Mafia In The Night

Seorang polisi wanita datang lebih dahulu menghentikan aksi penyerangan ke dua genk yang selalu membuat onar itu. Willi datang kalah cepat. Dia menyaksikan bagaimana polisi wanita itu mampu menghentikan serangan demi serangan orang-orang yang baku hantam dengan tangan kosong itu.

Ada sekitar sepuluh orang polisi di sana. Namun komandannya itu seorang wanita, yang tidak tanggung-tanggung menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. Rasa takut terluka itu mungkin sudah hilang dari dalam dirinya.

Willi harus mengakui kalau wanita itu sungguh sangat berani. Dia cukup kagum, baginya ini lawan yang tepat. Berbeda dengan posili pria yang hanya bisanya bermain senjata. Menembakkan senjata agar semua diam.

(Dorr)

“Hentikan atau peluru ini akan bersarang di salah satu kepala kalian!”

Tiga orang anak buah Willi tertangkap. Dan sebagiannya berhasil kabur. Ini saatnya dia memunculkan diri untuk membebaskan ke tiga anak buahnya. Topeng yang hanya setengah wajah itu langsung dipakai.

Dengan menggunakan motor tanpa berplat nomor, Willi menghadang mobil polisi itu tepat di depannya.

Mobil secara tiba-tiba di rem begitu kuat agar tidak sampai menabrak orang dan motor yang ada di hadapannya. Polisi wanita itu segera keluar dia sudah bersiap mengankat pistol dan mengarahkan pada Willi.

“Siapa kamu? Komplotan genk juga?” tanya polisi pria berkumis tipis.

Willi tidak menjawab sama sekali. Malam itu embusan angin begitu kencang, seakan-akan membantu Willi untuk membebaskan tiga anak buahnya yang tadi tertangkap. Dia amat yakin isi peluru dari pistol mereka hanya beberapa tembakan lagi. Tidak ada waktu untuk mengisi.

Dua mobil yang lain sudah hilang dari jalan yang berbelok itu. hanya ada dua polisi yang akan Willi hadapi.

Willi melempar smoke bomb yang membuat penglihatan mereka agak kabur. Saat itu dia segera melakukan aksinya untuk membebaskan mereka. Kunci borgol bahkan berhasil di curi. Dengan gerakan yang sangat cepat dia melakukannya.

“Pergilah! Di sana ada mobil yang menunggu...”

“Terima kasih Bos!”

(Dor)

Satu tembakan terdengar tapi tidak jelas dari pistol milik siapa. Asap itu mulai memudar, polisi pria menyadari kalau tawananya menghilang. Namun posisi Willi sudah berada kembali di posisinya tadi, tidak terlihat bergerak atau rasa cape. Deru napasnya normal tidak ada tanda-tanda orang yang telah bergerak atau berlari dengan cepat. Dia nampak tenang.

“Kita kehilangan ketiganya,”

“Mustasil!”

“Kamu kan yang melakukannya?”

“Kalaupun iya saya tidak akan mengaku. Perlu kalian tahu jangan ikut campur. Atau masalah akan selalu menghadang kalian,”

Willi dengan cepat menaiki kembali motornya. Dia melempar kembali smoke bombs agar menutupi lagi pandangan mereka. Suara mesin motor terdengar bersamaan dengan suara tembakan yang kedua.

(Dor)

Tembakan itu berhasil mengenai ban belakang motornya. Willi hampir saja terjatuh kalau dia tidak menyeimbangkan tubuhnya. Motor itu tidak berguna, dia tinggal begitu saja lalu berlari pergi.

Polisi wanita itu sama sekali tidak bisa di remehkan. Entah itu kebetulan atau memang polisi wanita itu ahli dalam yang namanya tembak menembak. Mustahil seseorang bisa dengan tepat menembak pada bagian bannya saja. Jika nasib tak mujur mungkin nyawa Willi telah melayang karena peluru itu.

“Itu motornya? Kamu sungguh luar biasa Adeline!” puji rekannya.

“Dia sudah kabur. Siapa dia? Kenapa memakai topeng?”

“Mungkin ketua genknya. Setidaknya kita bisa membawa motor ini sebagai barang bukti. Pasti ada sebuah petunjuk!”

“Tidak! Ini motor curian,”

“Apa? Kenapa kamu bisa seyakin itu?”

“Lihat!”

Tunjuknya pada sebuah stiker berlogo kepolisian Jerman.

“Kamu benar, mana mungkin dia anggota polisi...”

Dari kejauhan Willi masih mengamati kedua polisi itu, polisi wanita itu memang begitu terampil dan juga cakap dalam bekerja, dia cepat memahami kondisi yang sedang terjadi saat itu.

Mengangumkan!

Dia akan menjadi lawan sepadan untukku, gumamnya.

Dia kemudian berlari dengan jalan sedikit tertatih, meski tak sempat jatuh dari atas motor, tapi karena menahan tubuh agar tidak terjatuh kakinya sedikit terkilir.

Saat sampai gerbang rumah Willi melepas topengnya dengan sangat hati-hati. Dia segera menyembunyikan di balik kemeja sebelum bel rumah ditekan.

Setelah menunggu beberapa saat kemudian seorang wanita dengan rambut yang hampir memutih membukakan pintu. Malam itu Willi lupa membawa kunci cadangan. Terdengar suara kunci diputar, dorongan perlahan pada pintu berbahan kayu paling bagus di sana memerlukan tenaga ekstra karena cukup berat.

Pintu terbuka, seluas badan bisa masuk.

“Kenapa baru pulang jam segini? Apa kamu lembur?” tanya Rosemary.

“Ya seperti itulah Bu, sudah ya Willi masuk dulu. Sangat lelah untuk hari ini,”

“’Tunggu!” seru Rosemary.

Willi menoleh, dia takut jika di curigai dan dai tanya yang macam-macam.

“Iya ada apa Bu?” tanyanya ramah.

“Ada apa dengan cara berjalanmu?”

“Anu Bu! Tadi Willi terkilir saat menaiki tangga di kantor,”

“Ya sudah sini biar Ibu pijat agar tidak terasa sakit lagi,” tawarnya, segera Willi menolak, dalam pakaiannya pasti tercium bekas boom tadi itu hanya akan membuat Rosemary semakin banyak mengajukan pertanyaan nantinya. “Tidak usah Bu, tidurlah. Biar Willi memijatnya sendiri,”

“Tapi di mana motormu? Ibu tidak mendengar suara motor sama sekali tadi?”

Motor yang di bawa Willi saat bertemu dengan Flo tadi di tinggal di club mereka janjian, sedangkan motor tadi benar motor curian. Willi membawanya dari tempat parkir. Salah sendiri kuncinya dibiarkan tergantung begitu saja.

Siapa sebenarnya polisi wanita tadi? Baru melihatnya tapi dia tidak bisa di remehkan. Aku harus membuat Gon berhati-hati dari wanita itu dia berbahaya demi ukuran seorang polisi wanita, tekadnya.

“Bos apa kamu sudah sampai rumah dengan selamat?” Gon menghubunginya.

Willi sedang mengobati luka karena terjatuh dari motor tadi.

“Tenanglah, aku lolos tapi kalian hati-hati. Sebisa mungkin hindari poliai wanita itu!”

“Baik, selamat beristirahat,”

Rasa perih bercampur penasaran, tatapan polisi wanita itu mengingatkannya pada masa lalu. Tapi tidak mungkin dia menepisnya buru-buru. Anak kecil sangat penakut dan cengeng tidak mungkin dia jadi seorang polisi.

Willi membuka lembar buku lama sewaktu sekolah dulu, dia selalu menyimpannya dengan sangat rapi dan terjaga, termasuk secarik kertas di hari Ayahnya wafat. Masih dia simpan dan jaga sebagai bukti bagi pelaku sebenarnya.

Yang kini mungkin dia sedang bersenang-senang dan hidup mewah dengan apa yang bukan merupakan haknya.

Dia membuka lembar demi lembar buku bersampul warna biru itu secara perlahan dan sangat hati-hati karena kertasnya mulai rapuh… Penuh debu dan using, dia memandangi semua potret gambar diri dan rekan-rekannya waktu di sekolah dulu.

Pikirannya melayang, mengingat bagaimana dia dulu bertemu dengan anak cengeng itu, pikirannya tentang polisi yang diduga anak kecil itu langsung di hempaskan begitu saja.

“Tidak mungkin!” dia mengacak-acak rambutnya, melupakan rasa sakit pada sikutnya.

Fortsetzung...

***

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.