Sejak menerima telepon dari Bastian, semangat Ghena seperti tidak ada habisnya. Jari-jarinya berpindah-pindah dengan lancar, mengimbangi setiap kata yang keluar dari kepalanya. Tanpa disadari, seharian ini Ghena sudah menulis puluhan halaman, berkali lipat dari target hariannya. Mata Ghena sempat membelalak saat melihat hasil pekerjaannya.
“Pantesan jari-jari gue mulai keram. Tiga puluh halaman, Cuy! Besok nggak nulis juga aman ini.” Ghena bicara pada dirinya sendiri.
Gadis itu memutuskan menyudahi pekerjaannya. Setelah mematikan laptop dan mencabut semua kabel yang menempel, Ghena melakukan peregangan sebentar. Meski tinggal di apartemem studio, masih cukup ada ruang untuknya bergerak bebas. Dia memang sengaja tidak mengisi banyak perabotan di dalamnya. Bagi Ghena, yang terpenting adalah fungsi dan kenyamanannya.
Ponsel Ghena berbunyi. Dia melihat nama Gheo tertera di layar, lalu melihat jam di dinding. Ghena buru-buru menerima panggilan itu.
“Kenapa, Yo?” tanyanya bernada cemas.
“Kok suaranya begitu, Kak? Enggak senang di telepon adik kesayangannya?”
“Kamu lihatlah ini sudah berapa? Beneran nggak ada apa-apa? Ibu sama Bapak sehat, kan?”
“Ya, Tuhan! Semuanya sehat dan nggak kekurangan apa-apa.”
“Syukurlah. Terus kamu menelepon jam segini ada apa? Kamu bikin masalah?”
“HEY! Bagaimana aku bisa cerita kalau Kakak terus tanya ini-itu? Aku cuma bilang, kalau aku dipromosikan menjadi asisten manajer yang menangani wilayah Jabodetabek. Maaf baru sempat mengabari, tadi habis makan-makan sama teman kantor. Soalnya minggu depan aku sudah pindah ke kantor pusat di Jakarta.”
Ghena menjerit di telepon, membuat Gheo menjauhkan benda itu dari telinganya.
“Kakak ikut senang. Selamat, ya. Jangan lupa jaga amanah orang ke kamu. Jangan kecewakan mereka. Jaga nama baik keluarga.”
“Aku juga mau bilang, Kakak nggak perlu terlalu ngotot ngerjain proyek GW. Kakak nggak perlu membiayai kuliahku lagi. Apalagi gajiku lebih dari cukup untuk menanggung kebutuhan Ibu dan Bapak. Sekarang giliran aku yang berjuang untuk keluarga. Kakak bisa fokus untuk diri Kakak sendiri.”
Hati Ghena menghangat dan matanya jadi basah mendengar kata-kata Gheo. Dia terharu sekaligus bangga pada adik sematawayangnya itu.
“Kak? Kakak masih di situ?”
Ghena buru-buru menyeka matanya. “I-iya, Yo. Sekali lagi selamat, ya. Titip salam buat Ibu dan Bapak.”
Usai bicara dengan adiknya, Ghena baru menyadari tubuhnya sangat lelah. Bahkan dia sampai menyeret kakinya ke kamar mandir untuk melakukan rutinitas sebelum tidur. Mengosongkan kandung kemih, cuci kaki, sikat gigi, dan serangkaian perawatan wajah mandiri. Sejak lima tahun terakhir, dia rajin merawat kulitnya. Itu pun setelah didesak dan dipaksa Rosi. Awalnya Ghena menurut karena bosan dikuliahi, tapi belakangan ini dia melakukannya karena kesadaran.
Ranjang empuk berukuran queen size bergoyan pelan ketika Ghena melempar tubuhnya di atas kasur per itu. Dia merentangkan tangan dan kakinya, seraya menatap plafon kamar. Dia membayangkan peristiwa paling membahagiakan dalam hidupnya. Dia mulai repot memikirkan bagaimana akan menjawab pertanyaan Bastian nanti.
“Yes, I do!” adalah kata-kata yang sering ditulis Ghena dalam novel, ketika sang wanita menjawab lamaran kekasihnya. Ghena berpikir, apakah dia pun untuk mengatakan hal yang sama?
Ghena berguling ke sisi lain ranjang, membuka laci dalam posisi telungkup, lalu mengambil sebuah buku berwarna hijau daun muda, kemudian mulai menuliskan rangkaian kejadian hari ini. Dia menggambar bentuk hati besar di tengah halaman, kemudian menuliskan namanya dan Bastian di tengah-tengah gambar tersebut. Tidak lupa dia pun mencantumkan tanggal jadian mereka.
Sulung dari dua bersaudara itu tergelitik untuk mengintip tulisan lamanya di buku tersebut. Kebanyak berisi curhatannya tentang Bastian. Tentang kekecewaannya setiap kali lelaki itu menunda membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
Ghena dan Bastian kenal di kampus saat acara penerimaan mahasiswa baru. Bastian merupakan salah satu panitia penyambutan kala itu. Hanya butuh tiga bulan bagi mereka untuk memutuskan menjalin kasih. Meskipun tidak ada pernyataan cinta, tetapi sikap keduanya cukup menggambarkan hubungan mereka dengan jelas. Keduanya sepakat untuk menjadikan tanggal ciuman pertama mereka sebagai tanggal istimewa untuk diperingati di kemudian hari.
Hubungan Ghena dan Bastian cukup lancar. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Banyak mahasiswa di kampus yang menjadikan hubungan mereka sebagai couple goal. Bastian juga berjanji akan segera menikahi Ghena begitu mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, janji tinggallah janji. Hubungan Ghena dan Bastian tetap berjalan, seperti biasa.
“Kamu sabar, ya! Aku sedang berusaha biar kamu nggak susah hidup bareng aku,” kata Bastian suatu hari, saat Ghena bertanya kapan akan meresmikan hubungan mereka.
“Aku lagi memantaskan diri sebelum menemui orang tua kamu, Sayang. Kamu mau menunggu aku, kan? Aku berharap kamu mau mendukung aku. Ini semua demi kita.”
Bastian mengucapkan kata-kata serupa itu terus setiap kali ada yang menyinggung soal hubungan mereka. Sekali-dua kali, Ghena masih bisa ternyum menanggapi ucapan Bastian. Namun, setelah mendengarnya selama bertahun-tahun dia mulai mempertanyakan keseriusan kekasihnya itu.
Ghena mulai bosan pada Bastian yang selalu berlindung di balik kata “Belum siap”. Ketika didesak, kata selanjutnya yang keluar adalah “Kamu, sabar sedikit lagi.”
Selama belasan tahun kebersamaan mereka, tidak pernah sekalipun Bastian mengenalkan Ghena dengan keluarganya. Lelaki itu berdalih takut dipaksa buru-buru menikah saat tahu dia memiliki pasangan. Bastian pun selalu menolak diajak bertemu keluarga Ghena dengan alasan yang sama.
Ghena kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia selalu luluh dengan rayuan Bastian setiap kali dia merajuk. Bastian bukan hanya cinta pertama Ghena. Bastian adalah dunianya. Kehidupan Ghena berpusat pada lelaki itu. Dia hanya bisa menumpahkan keluh-kesahnya pada Rosi.
Rosalia Anggraeni, adalah orang yang dikenalnya saat duduk di bangku SMA. Mereka langsung cocok satu sama lain. Persahabatan keduanya makin erat saat berkuliah di kampus yang sama. Namun, percintaan Rosi lebih beruntung. Setidaknya itu yang dipikirkan Ghena. Reza melamar Rosi dua tahun setelah kelulusannya. Dan yang membuat Ghena miris, Reza masih bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah bank swasta. Sangat berbeda dengan Bastian.
Di saat Ghena sudah tak lagi berharap, karena tidak mau menelan pil pahit kekecewaan lagi, Bastian malah memberikan angin surga. Orang yang biasanya harus diingatkan jauh-jauh hari tentang tanggal bersejarah baginya dan Ghena, sekarang malah mengingatnya. Bahkan dia mengajak Ghena lebih dulu untuk bertemu dan makan malam.
Kekecewaan selama bertahun-tahun akan terbayar. Penantian Ghena akhirnya akan berujung dan berakhir bahagia. Bastian akhirnya akan melamar Ghena dan mengakhiri penantiannya selama 15 tahun. Ghena bisa pulang dan bertemu keluarganya dengan dagu terangkat. Dia tidak perlu pergi dan bersembunyi setiap kali ada kerabat yang bertanya kapan dia akan menikah.
Ghena memasang pengingat untuk acaranya besok dengan Rosi. Sebelum mematikan lampu, dia pun mengirimkan pesan singkat pada Bastian. “Aku nggak sabar mau ketemu kamu Sabtu nanti. Miss you so badly.” Dia pun mengirimkan banyak emotikon hati dan cium di akhir pesannya.
**





