Sebuah motor masuk ke pekarangan rumah Ataya. Ega dan Raha berjalan ke depan pintu rumah. Ega mengetuk pintu itu dan terdengar suara dari dalam seraya membukakan pintu.
“Eh, udah nyampe.” Arki keluar dari balik pintu.
“Yuk masuk.”
Mereka berdua masuk mengikuti Arki.
“Bentar ya gue ke belakang dulu.”
“Iya, Ki,” jawan Ega sembari duduk sofa diikuti oleh Raha.
Dua hari yang lalu Ega dan Raha pergi ke tempat nongkrong yang biasa Ega datangi dengan teman-temannya. Setelah diperkenalkan oleh Ega, tak lama Raha langsung bisa berbaur dengan cepat bersama teman-teman yang lain. Arki juga ada disana dan berakhirlah mereka berdua diundang ke rumahnya hari ini—jalan-jalan tentu saja.
Arki mengetuk kamar Ataya. “Dek.”
“Iya?” tanya Ataya sambil membuka pintu.
“Tolong buatin minuman buat temen Aa, boleh gak?”
“Boleh, diantar kemana nanti?”
“Ke ruang tamu. Makasih ya, Dek,” ucap Arki tulus.
“Santai.”
Ataya pergi menuju dapur untuk menyiapkan minuman sedangkan Arki kembali ke ruang tamu dimana kedua temannya sekarang sedang berbincang.
“Lagi ngomongin apa?” tanya Arki nimbrung.
“Ini, Raha rencananya pengen muncak ke Gunung Ciremai,” kata Ega
“Rencananya kapan, Ha?”
“Kayaknya hari-hari terakhir pulang.”
Ataya datang membawa nampan berisi minuman dan camilan lalu menaruhnya di atas meja.
“Kalau gak sibuk nanti gue ikut deh,” kata Arki.
Raha menganggukkan kepalanya. “Oke. Sekarang kita mau jalan kemana?”
“Ke Paralayang aja, mau gak? Sekalian liat sunset,” jawab Arki.
Ataya menoleh ke arah kakaknya. “Paralayang?”
“Hm.”
“Aku ikut boleh gak, A?” tanya Ataya meminta izin.
Arki melirik ke arah Ega dan Raha meminta persetujuan yang diangguki oleh Ega.
“Boleh. Siap-siap sana, Dek.”
Ataya mengangguk lalu pergi ke dapur untuk menyimpan nampan setelah itu pergi ke kamarnya siap-siap.
“Itu adik lo yang kemarin diceritain?” tanya Raha.
“Iya.”
Tak lama kemudian Ataya datang, ia mengenakan celana skinny jeans, kaus oversized serta sepatu converse-nya. Rambutnya ia ikat dan hanya tersisa helaian rambut yang keluar dari ikatannya.
“Yuk, berangkat,” ajak Ega seraya berdiri diikuti Arki dan Raha.
Mereka berempat menaiki motor dengan Ataya yang dibonceng oleh Arki dan Ega yang dibonceng Raha. Butuh waktu kurang lebih dua puluh menit dari rumah yang terletak di daerah kota. Paralayang berada di Desa Sidamukti, Munjul, dari Bundaran Munjul atau lebih tepatnya Jalan K.H. Abdul Halim bisa langsung ambil jalan ke arah selatan bundaran.
“Tumben kamu pengen ikut, Dek?” tanya Arki.
“Iya, lagi cari inspirasi buat nanti semester depan ikut sayembara.”
“Wah, udah persiapan aja nih.”
“Iya lah.” Ataya tertawa begitu juga denga Arki yang mendengar jawabannya.
Raha dan Ega sampai lebih dulu di susul oleh Arki dan Ataya. Mereka membeli tiket masuk seharga tujuh ribu serta tiket masuk ke paraland resort sebesar lima belas ribu rupiah.
Ketika sampai di atas, semilir angin menyambut mereka, memberikan kesan yang damai. Langkah mereka terhenti di puncak Gunung Panten bertepatan dengan matahari yang mulai menggelincir ke arah barat, menyuguhkan hamparan sawah yang hijau dengan lanskap yang indah dipadu dengan sunset yang berwarna merah kekuning-kuningan. Sejenak mereka terdiam, menikmati pemandangan yang berada di depan mata. Tak ingin melewatkan pemandangan ini, Ataya dan Raha mengeluarkan handphone-nya lalu memotretnya.
Ataya memejamkan mata, pikirannya berkecamuk berharap angin yang menerpanya dapat sedikit menghilangkan kekhawatirannya.
“Dek, Aa kesana dulu ya, ada temen.” ucap Arki seraya menunjuk seseorang yang juga melambai ke arah Arki.
Ataya mengangguk mengiyakan.
“Bro, gue kesana bentar ya.”
Setelah mendapat persetujuan dari Ega dan Raha, Arki pergi menuju temannya.
“Duduk yuk,” ajak Ega.
Raha dan Ataya menuruti ajakan Ega.
“Lagi libur kuliah, Dek?” tanya Ega kepada Ataya setelah mereka duduk nyaman dengan Ataya yanng duduk di tengah.
Ataya menoleh. “Iya, A. Aa gimana kuliahnya?”
“Gak gimana-gimana sih, cuma sekarang lagi stress ngerjain skripsi--eh bentar, gue ke belakang dulu ya, kebelet banget ini.” Ega berdiri lalu berlari ke WC umum.
Setelah kepergian Ega, keheningan mulai menyeliuti mereka, karena Raha tidak menyukai suasana hening seperti ini, maka ia pun memulai pembicaraan.
“Lo suka astronomi ya?”
“Iya, lo tau darimana?” Ataya menjawab tanpa menatap Raha, ia masih asyik memandangi sunset hari ini.
“Dari Aa lo. Kemarin dia cerita tentang lo,” jawab Raha yang juga menatap sunset.
Ataya melirik. “Bukan cerita yang jelek-jelek, kan?”
“Nggak, kenapa memang?”
“Ya nggak apa-apa juga sih. Aa mau cerita kaya gimana juga terserah, toh mereka gak kenal gue,” jawab Ataya santai.
“Hm.”
“Mereka ko lama banget?” dumel Ataya.
Raha melihat jam yang ada ditangannya. “Udah mau maghrib nih, ke mushola yuk. Kita tunggu aja mereka disana.”
Ataya mengangguk.
Mereka berdua berjalan ke arah mushola lalu mengambil wudhu di tempat masing-masing. Tak lama kemudian adzan berkumandang, mereka pun sholat dengan khidmat.
“Kalian darimana aja?” tanya Raha ketika ia bertemu dengan Ega dan Arki yag hendak memasuki mushola.
“Ngobrol bentar tadi. Kalian tunggu sini dulu ya, kita mau sholat,” jawab Ega.
“Oke,” jawab Ataya.
Raha berjalan ke arah warung dan membeli dua botol minum.
“Nih. Baragkali lo haus,” kata Raha sambil menyodorkan minuman yang satunya ke arah Ataya.
“Thanks ya.” Ataya mengambil minuman itu dan segera meminumnya.
“Haus ya?”
Ataya masih meminum minumannya jadi ia hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Raha.
Raha menengadahkan kepalanya melihat langit. “Cantik.”
“Huh?”
Raha menoleh. “Eh, maksudnya langitnya cantik.”
“Oh, iya langitnya cantik,” jawab Ataya. “Coba aja gue secantik itu.” Ataya menggumam.
“Apa?”
Ataya gelagapan takut kalau Raha mendengar gumamannya tadi. “Oh, nggak.”
Raha tersenyum tipis lalu memalingkan wajahnya.
Beberapa menit kemudian Ega dan Arki menghampiri mereka berdua.
“Yuk, sekarang mau kemana? Langsung balik atau makan dulu?” tanya Arki.
“Langsung balik aja, gimana?” tanya Raha lalu menatap Ataya.
“Ngikut aja,” jawab Ataya.
“Ya udah yuk.” Ega berjalan disusul oleh mereka bertiga.
Suasana parkiran sudah sedikit sepi. Mereka berempat mulai menaiki motornya lalu segera melaju meninggalkan parkiran. Selama di perjalanan mereka asyik mengobrol, tetapi tiba-tiba motor Arki oleng. Ia pun memilih berhenti di pinggir jalan untuk mengecek apa yang terjadi dengan motornya. Raha dan Ega pun ikut berhenti.
“Yah, bannya bocor,” keluh Arki sembari meremas rambutnya.
“Mau cari tambal ban dulu?” tanya Ataya ikut melihat bannya.
“Iya kayaknya, tapi nanti kamu pulang kemaleman, Dek.”
Ataya ikut berpikir.
“Kalau gitu biar gue aja yang nemenin Arki buat nyari tambal ban, lo pulang sama Raha aja, Dek,” usul Ega.
“Nah, iya, gak apa-apa kan, Ha?” tanya Arki.
“Boleh.”
“Gimana, Dek?” Arki menatap Ataya.
Ataya menghela napas pelan. “Iya.”
“Oke, lo hati-hati ya, Ha.”
“Siap.”
Ataya pun dibonceng oleh Raha dan meninggalkan Arki dan Ega. Lagi-lagi hening, mereka fokus dengan apa yang ada di pikiran mereka masing-masing. Ataya memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang menggunakan kendaraannya sedangkan Arki, ia fokus menyetir motornya.
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di depan rumah. Ataya turun dari motor dan berniat membuka helmnya tetapi pengaitnya susah dibuka. Raha yang melihat itu menyuruh Ataya untuk mendekat ke arahnya.
“Sini.”
Ataya menurut.
Bunyi klik terdengar ketika pengait helm itu lepas.
“Nah, udah.”
Ataya mundur beberapa langkah. “Makasih ya.”
“My pleasure,” jawab Raha sembari tersenyum.





