"Ini kan ...."
Mataku cukup lebar untuk melihat gambar yang kini sudah berhasil aku unduh. Bukan ... bukan foto bugil ataupun foto tidak senonoh seperti yang ada di dalam bayangan kalian saat ini, bukan foto itu yang berhasil aku zoom beberapa kali dari ponsel keluaran Apple terbaru dengan harga yang begitu fantastis dalam genggamanku kali ini. Foto itu hanya berupa kedua tangan yang saling bertautan dan menggenggam dengan mesra. Jika saja tidak ada hal yang mencurigakan di dalam tangan kekar itu, tentu aku sudah menilai dan berpikiran bahwa foto itu mungkin bisa saja diambil dari Google atau aplikasi gambar lainnya yang saat ini sedang marak untuk diedit.
Tapi, gelang yang melingkar di pergelangan tangan milik lelaki itu berhasil membuat mataku nyaris meloncat keluar dari tempatnya. Ya, gelang tali model bracelet berwarna hitam legam itu mempunyai liontin dengan lambang jala dan huruf KA. Yang berarti inisial namaku. Keysa Anindita. Itu sudah pasti milik Mas Rengga. Jelas saja aku mengenalnya, karena kita membeli sesuai request waktu liburan ke Jogja setahun yang lalu. Dan yang membuatku sangat yakin, cincin kawin di jari manis tangan lelaki itu pun sama persis dengan cincin yang tersemat dalam jariku saat ini. Ada hubungan apa sosok XX ini dengan suamiku?
Aku berusaha untuk menghirup napas dalam-dalam, agar oksigen lebih banyak masuk ke dalam rongga dada dan sedikit melegakan perasaanku. Baru saja hendak ku ketikkan rangkaian kalimat untuk membalas kiriman foto tersebut. Terlihat si kontak XX ini sedang mengetik. Aku berniat untuk menunggunya saja. Aku juga ingin tahu, apa lagi yang akan dia kirimkan setelah ini.
Cukup lama aku menunggu, mungkin sekitar satu menit, tulisan di bawah foto profil wanita cantik dengan rambut berwarna keemasan itu masih menampilkan 'mengetik' seteah sekian detik hilang, lalu muncul lagi dengan kata 'mengetik' begitu terus hingga dua menit lamanya. Aku jadi curiga, apa sebenarnya yang ingin dia katakan sehingga dirinya harus menghapus dan menuliskan ulang? Begitu terus dari tadi.
Hampir saja aku keluar dari aplikasi dengan lambang ponsel berwarna hijau tersebut, ketika kemudian aku mendapatkan notifikasi di atas layar yang menunjukkan bahwa si pengirim XX telah mengirimkan sesuatu.
[See? Indah sekali bukan? Tangan yang saling menggenggam begitu erat, tak ingin melepaskan. Itu berarti tandanya? Cinta dan takut kehilangan!] begitulah pesan yang aku dapatkan.
Tak lupa, dia juga mengirimkan satu emoji sedang tertawa terbahak-bahak seolah meremehkan.
Aku pun berusaha untuk tidak tersulut emosi. Menghadapi dirinya yang kurang waras hanya akan membuat diriku ikut sakit jiwa.
[Apa kamu halu dan tidak percaya diri? Sehingga memasang foto profil orang lain di balik topeng mu!] Aku memutuskan untuk membalas pesannya setelah kucoba telepon beberapa kali, namun malah ditolak olehnya.
[Temui aku di roof top Jalan Tunjungan nanti jam 7 malam. Mari, kita bersaing secara terang-terangan!] balasan yang kurasa cukup berani itu kembali ku terima.
Aku hanya menghela napas, sebenarnya aku tidak ingin meladeni wanita ini. Namun, jiwa kewanitaan ku ini terasa terhempas begitu saja. Harga diriku sebagai seorang istri dengan status Jalasenastri merasa dipertaruhkan. Maka, aku berniat untuk mengiyakan ajakannya. Hanya sekedar penasaran saja, sejauh mana dia dan Mas Rengga menjalin hubungan?
Bukan menjadi rahasia lagi, jika seorang abdi negara yang sedang berlayar di berbagai kota maupun pulau menikmati keindahan wanita lain, meskipun hanya untuk berkencan atau mencicipi gundukan daging tebal. Bahkan, tak jarang juga, sering kali mendapati selingan yang dinikahi secara siri. Namun, aku rasa ... jika melihat gaya bicara dari pesan yang disampaikan oleh wanita itu. Terkesan, sudah terlampau jauh dan aku harus memastikannya. Aku tidak mau kecolongan lebih dalam lagi, akan ku pastikan mereka menyesal jika menjadikanku sebagai lawan.
[With pleasure, Bestie! Jangan lupa untuk dandan secantik mungkin, karena aku ingin tahu, secantik apa dirimu sehingga berniat menyaingi diriku!] Begitu lah isi pesan yang aku kirim padanya. Tak lupa, aku juga membubuhkan tiga emoticon tertawa lebar sebagai penutup.
Hanya centang dua berwarna biru, rupanya dia hanya membaca pesanku tanpa berniat membalasnya. Oke, aku pun bersiap untuk menemuinya. Jika mungkin kalian berpikir aku akan marah, tersulut emosi, mencak-mencak atau bahkan memaki-maki suamiku saat di rumah nanti, maka kalian salah. Aku tidak suka keramaian, atau keributan. Karena aku rasa itu bukan cara hormat yang diberikan oleh wanita elegan.
*
Mas Rengga yang sedang menonton Televisi di ruang tengah, tiba-tiba terpaku menatapku dengan pandangan tak berkedip. Entahlah, seperti takjub, kagum ... atau mungkin ingin? Karena setelah kepulangannya tadi malam, kami belum 'melakukannya' selama hampir empat bulan lamanya. Aku juga malas untuk menawarinya, karena insiden pesan misterius itu rupanya mampu membuatku tak bergairah.
Aku mengenakan outer dipadu dengan kulot berwarna pastel, pakaian ini ku beli dari butik ternama dengan harga yang lumayan, bukan hasil endorse. Hijab pun aku mengenakan bahan premium seharga ratusan ribu, anti lepek dan mudah diatur dengan bahan anti gerah dan tidak menerawang. Ah, jadi promosi. Untuk tas, tentunya bertengger secara elegan di lenganku dengan logo H. Heels pun senada, make up ku poles tipis dalam wajah dengan bingkai natural. Tentunya dengan memakai lipstik Dior yang baru launching beberapa hari yang lalu. Aku rasa, penampilanku saat ini sudah cukup sempurna.
"Mau ke mana, Key?" tanya Mas Rengga yang kini mulai mengalihkan pandangannya ke layar Televisi, mungkin dia gengsi karena terpergok olehku.
"Ada acara sebentar, ketemu temen di Jalan Tunjungan," jawabku singkat. Yang penting, aku tidak bohong kan?
"Malam-malam begini? Bukannya kamu terbiasa menyudahi kegiatan off air setiap pukul 5 sore? Kenapa malah keluar jam segini?" tanya Mas Rengga seraya memperhatikan jam dinding yang bertengger dengan manis di atas Televisi.
"Dadakan, honornya lumayan. Lagi pula, aku nggak ada kegiatan di rumah kan? Sebentar saja. Tak sampai jam 9 aku usahakan sudah berada di rumah!" ujarku seraya menyunggingkan senyum terbaik.
"Ya sudah. Hati-hati. Jangan pulang malam-malam! Kamu ini, ya, suami lagi cuti. Bukannya diam di rumah menemani, malah sibuk sendiri!" omel Mas Rengga yang hanya kudengar di telinga.
Aku tidak berniat untuk berdebat dengannya, karena tenaga ini akan ku simpan untuk nanti. Mana tahu aku butuh, nggak ada yang tau ya, kan?
"Assalamualaikum!" ucapku seraya menghambur ke pelukannya. Ku raih tangan Mas Rengga dan kucium dengan takzim. Berhasil kan? Dia sudah tidak mengomel lagi, malah mengusap keningku dengan lembut, lalu tersenyum.
Aku bersiap meluncur membelah jalanan di jantung kota. Mobil tipe sport keluaran enam bulan lalu, menjadi pilihanku malam ini. Ternyata, gaji menjadi influencer lebih fantastis jika dibandingkan dengan gaji dosen. Aku selalu bersyukur, dengan kehidupanku yang sekarang.
Aku memastikan bahwa tak salah tempat. Karena roof top di atas Mall yang disulap menjadi konsep Restoran ini begitu sepi.
Seorang pramusaji yang berdiri di depan ruang bertuliskan VIP menghampiriku seraya mengangguk sopan.
"Maaf, dengan Nyonya Keysa? Ibu sudah ditunggu Nona Risa di dalam!" ujar lelaki berseragam hitam putih dengan celemek khas merah bertajuk nama Restoran pun menyambut ku dengan ramah.
Aku hanya mengangguk, cukup membuat ku berdecak kagum juga. Apa benar seseorang yang akan aku temui ini Risa Andromeda? Crazy Rich Kalimantan yang memiliki tambang batu bara dan segudang perusahaan lainnya?
Aku berjalan dengan anggun, melangkahkan kakiku dengan perlahan seraya membusungkan dada. Kekuatanku seakan terbentuk sempurna, yakin dan tekad di dalam hatiku begitu kuat. Siapa pun dia, tetap aku lah yang lebih berhak dan pantas menang untuk hal ini, karena aku lah Ratu yang sesungguhnya.
Langkahku semakin dekat. Bisa kulihat dari belakang. Seorang wanita sedang duduk memunggungi ku.
***





