KIRANI SI WANITA MALAM

"Vin, mungkin nggak istrimu itu masuk dalam bak sampah ini?" tanya Bu Uli sambil menendang bak sampah besar yang terbuat dari besi itu dengan kaki kanannya.

Mendengar pertanyaan Bu Uli, jantung Kirani berdegup kencang, keringat dingin mengalir tanpa diminta. Dalam hatinya tak putus berdoa agar terbebas dari kejaran suami dan ibu mertuanya.

"Nggak mungkin lah Bu, bak ini tinggi, nggak mungkin istri sialan itu bisa naik, apalagi tadi kelihatan lembek gitu, mana mungkin ada tenaganya," jawab Davin sambil melongokkan kepalanya ke dalam kontainer besar tersebut, lalu dengan cepat ditariknya kembali, keadaannya gelap dan tak tahan dengan bau sampah yang menyengat.

"Mungkin dia sembunyi di belakang perumahan Bu!" ucap Davin lagi sambil mengibas-ibaskan telapak tangannya yang tak sengaja memegang sampah basah.

"Tunggu apa lagi, cepat ke sana! Cari sampai ketemu!" hardik Bu Uli keras, sambil mendorong tubuh Davin hingga hampir jatuh tersungkur.

"Duuuh, kenapa malah ibu yang marah sih? Coba kalau ibu nggak ceroboh, nggak mungkin ..."

"Sudah ... sudah, cepat cari lagi, ibu nggak mau besok malu karena nggak ada uang buat bayar arisan!" Bu Uli memangkas kalimat Davin dengan kasar, tak sedikitpun dia merasa bersalah.

Davin mendengus kesal, dengan langkah malas dia beranjak meninggalkan tempat itu dan Bu Uli mengikutinya, mulutnya tak berhenti mengumpat dan mengomel.

Kirani menghela nafas lega saat suara Davin dan Bu Uli tak terdengar lagi. Dengan hati-hati wanita berwajah teduh itu melihat keadaan di sekitarnya.

"Sudah aman, aku harus keluar dari sini, secepatnya, sebelum ada orang datang," gumam Kirani lirih.

Dengan segenap tenaga yang ada, Kirani keluar dari kontainer besar itu. Rasa sakit dan lapar ditahannya, bau sampah yang menempel di badan diabaikannya. Yang dia pikir hanyalah cepat pergi dan selamat dari kejaran keluarga suaminya.

Di depan sebuah rumah bercat kuning gading, dengan ragu Kirani mengetuk pintu rumah itu.

Tok tok tok!

"Kirani!" seru Mawar terkejut, bola matanya membulat saat melihat kondisi Kirani yang memprihatinkan.

Mawar adalah sahabat terbaik bagi Kirani. Dengan Mawarlah Kirani selalu berkeluh kesah tentang hidupnya, dan Mawar selalu menolong setiap Kirani mengeluh masalah keuangan.

Dengan wajah penuh lebam dan sedikit darah kering tersisa di ujung bibirnya, serta pakaian yang kotor dengan bau menyengat, membuat Mawar terkejut dan hampir tak percaya.

"Kamu kenapa Ran? Siapa yang membuatmu begini?" Mawar memberondong Kirani dengan banyak pertanyaan.

"Aku ... aku ..."

Brugh!

"Raniii!" Mawar menjerit histeris saat tubuh Kirani roboh dan dia tak sempat menopangnya.

"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Galih dengan suara parau, matanya tampak sembab karena mengantuk, Galih adalah suami Mawar yang memang tak suka diganggu kalau sedang tidur.

"To-tolong Bang!" ucap Mawar dengan panik.

"Siapa dia? Kenapa malam-malam mengganggu ketenangan orang?" tanya Galih ketus, lelaki berusia tiga puluh tahun itu membalikkan badannya tanpa memperdulikan Mawar kerepotan mengangkat tubuh Kirani.

"Alhamdulilah, akhirnya kamu sadar juga," ucap Mawar dengan perasaan lega. Dengan cepat diambilnya gelas berisi air yang sudah disiapkan dari tadi.

"War ...,"

"Sudah, jangan ngomong dulu, tenangkan pikiran dan pulihkan tenagamu dulu," kata Mawar sambil menyodorkan mie rebus telur.

Kirani tak segera menyambutnya, dia justru menatap Mawar dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu kenapa Ran? Aku tahu kamu pasti lapar kan?" ucap Mawar dengan penuh perhatian.

"Maafkan aku War, aku selalu merepotkanmu," ucap Kirani dengan lirih, tangis yang dari tadi ditahannya akhirnya meledak.

"Nggak, aku nggak merasa repot, cepat dimakan nanti keburu dingin!" ucap Mawar cepat dan memaksa Kirani untuk segera makan.

"Terima kasih War," ucap Kirani sambil meraih mangkok yang berada di meja kecil.

Kirani menyantap mie itu dengan lahap, rasa perih di bibirnya bekas tamparan mertuanya tadi tak setara dengan rasa perih hatinya.

"Ran... boleh aku tanya?" tanya Mawar dengan hati-hati.

"Nggak usah kamu tanya, aku pasti cerita War, tapi nggak sekarang," sahut Kirani cepat.

"Baiklah, kamu mungkin capek, kamu istirahatlah, tapi maaf hanya beralaskan karpet lusuh."

"Nggak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup, sekali lagi terim...,"

"Siapa yang mengizinkannya untuk tinggal di sini? Ini rumahku, bukan yayasan untuk menampung orang yang nggak jelas asal usulnya!"

Kirani tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Galih tiba-tiba datang, dengan wajah yang sangar.

"Abang! Kirani ini sahabatku!" sahut Mawar dengan mata melotot ke arah suaminya.

Kirani yang baru saja mau merebahkan tubuhnya, bergegas bangun dan berdiri, dia tak mau sahabatnya ribut dengan suaminya karena dirinya.

"Mau dia sahabatmu, atau siapa kek, yang jelas aku nggak suka ada orang asing numpang di rumahku!" sahut Galih dengan ketus.

"Ini rumahku! Rumah peninggalan orang tuaku, jadi aku juga berhak untuk mengizinkan sahabatku tinggal di sini!" sahut Mawar dengan suara keras.

"Kamu lupa? Berapa banyak hutang bapakmu yang belum dibayar?" Galih berkata dengan senyum sinis tersungging di bibir hitamnya.

"Kasihan dia Bang! Tolonglah untuk malam ini saja dia tidur di sini!" pinta Mawar dengan lirih, ditahannya tangan Kirani yang hendak keluar dari kamarnya, dia merasa kalah kalau suaminya menyinggung soal hutang-hutang bapaknya.

"Baik, dia boleh tidur di sini malam ini, atau selamanya, tapi ada syaratnya!" ucap Galih tegas, ditatapnya wajah Kirani dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Syarat?" tanya Mawar sambil menatap wajah suaminya, kemudian beralih menatap Kirani yang kebetulan juga sedang menatapnya dengan tatapan sayu.

"Tanya temanmu itu, sanggup nggak?" ucap Galih kasar.

"Sya-syaratnya ap-apa Bang?" Kirani memberanikan diri bertanya kepada Galih.

"Kamu harus mau melayaniku!" jawab Galih dengan enteng, tanpa memikirkan perasaan Mawar, istrinya yang sontak melotot ke arahnya.

Plak!

"Gila kamu Bang!" seru Mawar keras, setelah menampar pipi kanan suaminya dengan keras.

"Aku nggak setuju!" seru Mawar lagi, dengan emosi yang meluap, lalu pandangannya beralih ke arah Kirani yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk, jari-jemarinya sibuk memilin ujung pakaian yang dipakainya.

"Aku nggak butuh persetujuanmu!" bentak Galih keras.

"Ran, kamu mau?" tanya Mawar kepada Kirani dengan suara keras.

Kirani tak menjawab pertanyaan  Mawar, hujan lebat dan gelapnya malam, tak ada tempat tujuan dan kondisi badan yang sakit membuatnya bingung.

"Diam itu tandanya setuju, iya kan cantik?" Galih bertanya sambil tersenyum sinis, kemudian beranjak pergi ke kamar mandi.

Sejak pertama melihat wajah Kirani tadi, Galih terpesona, walau pun penuh luka dan lebam, baginya tak mengurangi kecantikan wajah sahabat istrinya itu.

"Ran ... jawab! Kamu mau menerima tawaran suamiku?" tanya Mawar sambil mengguncang tubuh Kirani, hatinya mulai kesal, perasaan cemburunya mulai hadir melihat sahabatnya yang hanya diam membisu.

"A ... aku ... aku .... "

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.