Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu
Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu

Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu

8.9
/ 10
Dalam novel modern Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu, Savi menghadapi pengkhianatan Jaka yang memalsukan pertunangan demi mengusirnya. Setelah terluka secara fisik dan mental, Savi memilih memulai hidup baru di Florence. Baca romance stories ini untuk melihat transformasinya yang kuat.

Ringkasan Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu

Savi menghabiskan bertahun-tahun demi janji manis Jaka Hardinata, sang rockstar pujaan. Namun di usia ke-22, harapannya hancur saat mendengar Jaka berencana mengusirnya dengan sandiwara pertunangan palsu. Tak hanya dikhianati, Savi pun terluka fisik karena Jaka lebih memilih menyelamatkan kekasih settingannya. Setelah dipermalukan secara kejam di depan umum, Savi memutuskan bangkit. Ia memutus semua akses komunikasi dan pergi ke Florence demi memulai hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalu.
Selengkapnya

Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu Bab 1

Duniaku berputar di sekitar Jaka Hardinata, teman kakakku yang seorang rockstar karismatik dan memabukkan.

Sejak umur enam belas, aku memujanya setengah mati; di umur delapan belas, aku berpegang teguh pada janjinya yang diucapkan sambil lalu: "Nanti kalau kamu sudah 22 tahun, mungkin aku akan serius."

Ucapan santai itu menjadi pedoman hidupku, menuntun setiap pilihanku, membuatku merencanakan ulang tahunku yang kedua puluh dua dengan cermat sebagai takdir kami.

Tapi di hari yang menentukan itu, di sebuah bar trendi di Senopati, Jakarta, sambil memeluk hadiah untuknya, mimpiku meledak berkeping-keping.

Aku mendengar suara dingin Jaka: "Nggak percaya Savi beneran datang. Dia masih saja kepikiran omongan konyolku dulu."

Lalu rencana jahat yang menghancurkan hatiku: "Kita akan bilang ke Savi kalau aku tunangan sama Chloe, mungkin sekalian bilang dia hamil. Itu pasti bikin dia takut dan menjauh."

Hadiahku, masa depanku, terlepas dari jari-jariku yang mati rasa.

Aku lari menembus hujan dingin Jakarta, hancur lebur oleh pengkhianatan.

Kemudian, Jaka memperkenalkan Chloe sebagai "tunangannya" sementara teman-teman bandnya mengejek "cinta monyetku yang menggemaskan"—dan dia tidak melakukan apa-apa.

Saat sebuah instalasi seni jatuh, dia menyelamatkan Chloe, membiarkanku terluka parah.

Di rumah sakit, dia datang untuk "menyelamatkan muka," lalu dengan tega mendorongku ke kolam air mancur, membiarkanku berdarah, dan meneriakiku "cewek gila pencemburu."

Bagaimana bisa pria yang kucintai, yang pernah menyelamatkanku, menjadi begitu kejam dan mempermalukanku di depan umum?

Mengapa pengabdianku dianggap sebagai gangguan yang harus dihancurkan dengan kejam melalui kebohongan dan penyerangan fisik?

Apakah aku hanya sebuah masalah, dan kesetiaanku dibalas dengan kebencian?

Aku tidak akan menjadi korbannya.

Terluka dan dikhianati, aku bersumpah pada diriku sendiri: Aku sudah selesai.

Aku memblokir nomornya dan semua orang yang terhubung dengannya, memutuskan semua ikatan.

Ini bukan pelarian; ini adalah kelahiran kembali diriku.

Florence menanti, sebuah kehidupan baru sesuai keinginanku, tanpa terbebani oleh janji-janji palsu.

Bab 1

Udara di Bandung selalu terasa kental dengan musik, terutama saat Serigala Malam tampil.

Saat itu aku berusia enam belas tahun, dan Jaka Hardinata dua puluh dua.

Dia adalah sahabat kakakku, Beni, sekaligus gitaris utama band mereka.

Karismatik, sedikit menjaga jarak.

Aku naksir berat padanya.

Bukan sekadar naksir; rasanya seluruh duniaku jungkir balik saat dia ada di dekatku.

Aku membuatkan kue kering untuk latihan band mereka, yang dengan ekstra choco-chip, persis seperti yang Jaka suka.

Aku menggambar poster-poster awal untuk pertunjukan mereka, setiap goresan pensilku dipenuhi kerinduan yang tak tahu kunamai apa.

Aku hafal setiap lirik dari setiap lagu yang pernah dia tulis.

Ulang tahunku yang kedelapan belas.

Aku duduk di kelas tiga SMA, formulir pendaftaran sekolah seni sudah kukirim, mimpi tentang Jakarta berdengung di kepalaku.

Tapi malam itu, hanya Bandung yang berarti, hanya Panggung Merdeka tempat Serigala Malam menggebrak panggung.

Beni memberiku seteguk sampanye di belakang panggung setelah mereka selesai.

Rasanya seperti pemberontakan dan keberanian.

Cukup berani untuk menemukan Jaka, rambut gelapnya basah oleh keringat, senyum tipis tersungging di bibirnya saat dia berbicara dengan seorang kru.

Jantungku berdebar kencang.

"Jaka?"

Dia berbalik, tatapan dinginnya mendarat padaku. "Hei, Savi. Selamat ulang tahun, ya."

Kata-kata itu keluar begitu saja, sebuah luapan perasaan yang kikuk dan tulus. "Aku sangat menyukaimu, Jaka. Sudah bertahun-tahun."

Lalu, didorong oleh sampanye dan harapan bertahun-tahun yang terpendam, aku mencondongkan tubuh dan menciumnya.

Ciuman itu cepat, mungkin canggung.

Dia tidak menghindar, tapi juga tidak membalas ciumanku.

Saat aku menarik diri, pipiku terasa panas, dia menatapku dengan ekspresi geli dan sedikit terkejut.

Dia mengacak rambutku, sebuah gestur yang terasa baik sekaligus meremehkan.

"Kamu masih anak kecil, Savi."

Hatiku mencelos.

"Tapi hei," lanjutnya, dengan nada malas, sedikit cadel karena bir yang sedang dipegangnya. "Nanti kalau kamu lulus kuliah dan umurmu, katakanlah, dua puluh dua, kalau kamu masih merasakan hal yang sama... mungkin aku akhirnya siap untuk serius dengan gadis baik-baik. Kita lihat saja nanti."

Dia mengatakannya dengan enteng, hampir seperti lelucon.

Tapi aku berpegangan pada kata-kata itu seolah itu adalah tali penyelamat.

Dua puluh dua. Terdengar seperti sebuah janji.

Empat tahun.

Aku diterima di FSRD Trisakti, jurusan desain grafis.

Jakarta menelanku bulat-bulat, pusaran perkuliahan, tugas, dan rasa rindu yang konstan pada Bandung, pada Jaka.

"Janjinya" menjadi garis waktu rahasiaku.

Aku mengikuti kesuksesan kecil Serigala Malam dari jauh, lagu-lagu mereka menjadi soundtrack sesi belajarku hingga larut malam.

Aku merencanakan ulang tahunku yang kedua puluh dua dengan sangat teliti.

Itu bukan sekadar ulang tahun; itu adalah tenggat waktu, sebuah pintu gerbang.

Aku bahkan merancang sebuah sampul album tiruan, representasi visual dari masa depan yang kubayangkan untuk kami.

Konyol, aku tahu, tapi rasanya penting. Sebuah hadiah untuknya.

Dua puluh dua.

Hari itu akhirnya tiba.

Serigala Malam sedang di Jakarta untuk sebuah pertunjukan industri kecil, sebuah kesempatan untuk mendapatkan kontrak rekaman.

Tanganku gemetar saat aku memegang hadiah "sampul album" itu, terbungkus rapi dengan kertas cokelat polos.

Mereka sedang mengadakan pertemuan pra-pertunjukan di sebuah bar trendi di Senopati.

Aku tiba lebih awal, terlalu bersemangat, terlalu gugup.

Bar itu remang-remang, berbau bir basi dan ambisi baru.

Aku melihat mereka di sebuah bilik semi-pribadi di dekat bagian belakang—Jaka, Beni, anggota band lainnya.

Dan seorang wanita yang tidak kukenali, berpenampilan tajam, duduk sangat dekat dengan Jaka.

Aku ragu-ragu, tidak ingin mengganggu.

Lalu aku mendengar suara Jaka, rendah dan mengeluh.

"Sial, aku nggak percaya Savi beneran datang. Dia masih saja kepikiran omongan konyolku bertahun-tahun yang lalu."

Darahku terasa membeku.

Anggota band lain, drummer mereka, menimpali. "Bro, lo harus hentikan itu. Chloe bisa ngamuk kalau dia pikir lo mainin perasaan anak kuliahan."

Chloe. Pasti itu wanita tadi.

Jaka mendesah. "Gue tahu, gue tahu. Itu rencananya."

Suaranya sedikit merendah, tapi aku masih bisa mendengar setiap kata beracunnya.

"Chloe Davina, dia publisis kita, atau calon publisis. Kita lagi coba buat dia terkesan. Dia bantu gue bikin sandiwara."

Sebuah tawa, dingin dan kejam.

"Kita akan bilang ke Savi kalau gue tunangan sama Chloe, mungkin sekalian bilang dia hamil. Itu pasti bikin dia takut dan menjauh selamanya. Lagipula, Chloe pikir itu bakal jadi citra PR yang bagus, 'rockstar yang sudah mapan', kalau kita beneran dapat kontrak."

Beni. Kakakku. Dia terdengar tidak nyaman, sebuah protes yang bergumam.

"Jaka, bro, itu keterlaluan."

Tapi dia tidak mendesak. Demi keutuhan band, kurasa. Atau mungkin dia hanya tidak cukup peduli.

Dunia berputar, bukan karena naksir, tapi karena mual.

Kehancuran menghantamku, sebuah pukulan fisik.

"Sampul album" itu, mimpiku yang kubangun dengan hati-hati, terlepas dari jari-jariku yang mati rasa.

Benda itu jatuh ke lantai yang lengket dengan bunyi gedebuk pelan.

Aku berbalik dan lari, keluar dari bar, ke dalam hujan dingin Jakarta yang turun tiba-tiba.

Setiap tetesnya terasa seperti serpihan es kecil di kulitku.

Hujan membuat rambutku menempel di wajah, mengaburkan lampu-lampu kota menjadi goresan-goresan tak berarti.

Pikiranku melayang kembali, sebuah refleks bodoh yang menyakitkan.

Bertahun-tahun yang lalu, sebuah festival musik lokal, versi kecil dari Java Jazz. Aku mungkin berumur lima belas tahun, jelas terlalu muda untuk berada di belakang panggung, tapi Beni menyelundupkanku masuk.

Serigala Malam baru saja mulai, masih mentah dan lapar.

Kekacauan. Kru berteriak, peralatan di mana-mana.

Sebuah lampu panggung yang berat, diletakkan dengan sembrono, mulai goyah.

Aku berada tepat di bawahnya, terpesona oleh Jaka di atas panggung saat soundcheck.

Tiba-tiba, tangan yang kuat mencengkeram lenganku, menarikku ke belakang.

Jaka.

Dia melompat dari panggung rendah itu, matanya membelalak karena khawatir.

Peralatan itu jatuh di tempat aku berdiri sedetik sebelumnya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, suaranya serak.

Aku hanya bisa mengangguk, jantungku berdebar kencang.

Dia menekan sesuatu ke telapak tanganku. Pick gitar keberuntungannya.

"Jangan cari masalah, ya."

Itu saja. Momen ketika cinta monyet konyolku mengeras menjadi sesuatu yang kupikir nyata, sesuatu yang pantas ditunggu.

Pick itu. Aku menyimpannya di dalam kotak beludru kecil.

Sekarang, kenangan itu sendiri terasa seperti sebuah pengkhianatan.

Selama bertahun-tahun.

Kue kering, poster, malam-malam mendengarkan demo mereka.

Caraku menyusun kehidupan kuliahku, kepindahanku ke Jakarta, semua dengan satu kata "mungkin" yang jauh dan ceroboh darinya sebagai Bintang Utaraku.

Setiap pengorbanan, setiap pilihan, diwarnai dengan harapan padanya.

Kata-katanya bergema, "Nggak percaya dia masih kepikiran."

Sebuah beban. Itulah aku.

Cintaku bukanlah hadiah; itu adalah gangguan, masalah yang harus ditangani dengan kebohongan kejam yang direkayasa.

Jalan baru. Aku harus menemukannya. Jauh darinya, jauh dari semua ini.

Pikiran itu adalah lilin kecil yang berkelip di tengah badai rasa sakitku.

Aku meraba-raba ponselku, jari-jariku kaku dan dingin.

Aku perlu bicara dengan Beni, untuk berteriak, untuk mengerti.

Tapi apa yang perlu dimengerti?

Beni ada di sana. Dia mendengar rencana Jaka. Keheningannya di bilik itu adalah konfirmasi yang lebih keras dari kata-kata apa pun.

Dia tahu Jaka serius dengan Chloe. Dia tahu Jaka akan menghancurkan hatiku, dan dia membiarkannya terjadi.

Mungkin dia bahkan setuju dengan Jaka. Mungkin aku hanyalah adik kecil yang menyebalkan.

Sebuah pesan masuk berbunyi.

Nomor tak dikenal, tapi perutku mulas. Aku tahu.

Itu Jaka.

"Dengar-dengar kamu tadi di bar. Maaf kalau kamu dengar yang nggak-nggak. Hubunganku sama Chloe serius. Sebaiknya kamu move on."

Bukan permintaan maaf. Sebuah penolakan.

Kehidupan fantasiku yang kubangun dengan hati-hati hancur berkeping-keping.

Move on.

Ya.

Aku menggulir kontakku, menemukan nomor Jaka, yang kuhapal di luar kepala.

Blokir.

Lalu nomor Beni.

Blokir.

Aku terhuyung-huyung masuk ke apartemen mungilku, meneteskan air ke lantai kayu yang usang.

Mataku tertuju pada kotak beludru kecil di atas meja riasku.

Pick gitar keberuntungan itu.

Aku mengambilnya. Rasanya dingin, asing di tanganku.

Simbol kebohongan.

Dengan gerakan tiba-tiba dan tajam, aku melemparkannya ke tempat sampah, menguburnya di bawah sketsa-sketsa yang dibuang dan ampas kopi.

Langkah pertama.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Dinodai keluarga suami
Dinodai keluarga suami
Dalam romance novel Dinodai keluarga suami, Anisa Rahma terjebak di rumah Seno Bagaskara. Di tengah kemewahan billionaire romance books ini, ia harus menghadapi ancaman dari ipar dan adik suaminya sendiri. Akankah Anisa mampu bertahan dari pengkhianatan ini? Baca selengkapnya di webnovel ini.
Dosa Berbalut Cinta
Dosa Berbalut Cinta
Dalam novel Dosa Berbalut Cinta, Saschya terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan oleh Adnan. Di tengah siksaan fisik dan trauma, masa lalunya kembali muncul membawa harapan. Ikuti kisah romance modern ini di platform webnovel kami dan baca romance stories terbaik lainnya secara gratis.
Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
Dalam Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu, Angela nekat mengandung anak Jeremy meski hanya diperalat. Demi bayi mereka, ia melarikan diri dari miliarder kejam itu. Temukan kisah seru ini di billionaire romance novels kami, pilihan tepat bagi pembaca romance stories yang mencari drama.
I Fall Endlessly
I Fall Endlessly
Dalam novel I Fall Endlessly, Neva Zetrix berjuang mempertahankan bayinya di hadapan Brian Anderson. Kisah romance novel ini mengikuti pengorbanan Neva menghadapi sang konglomerat dalam balutan billionaire romance books yang penuh tekanan hidup dan pilihan sulit di dunia modern.
Jangan bermain-main dengan saya
Jangan bermain-main dengan saya
Dalam novel Jangan bermain-main dengan saya, seorang gadis dijual oleh ayahnya dan terpaksa menghadapi takdir sebagai istri pengedar narkoba. Ikuti kisah mafia penuh risiko ini melalui web novel yang menyajikan pilihan sulit antara kesetiaan dan pelarian dalam dunia romance stories.
Jebakan Cinta SANG MANTAN
Jebakan Cinta SANG MANTAN
Dalam romance novel Jebakan Cinta SANG MANTAN, Nada nekat menjebak Ivander dalam pernikahan modern demi menebus dosa masa lalu. Di tengah kebencian yang mendalam, mampukah pengorbanannya meluluhkan hati sang mantan? Simak kisah penuh intrik ini di web novel kami sekarang.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.