Pagi itu, Stella terbangun dengan perasaan hampa. Dia membuka matanya, berharap menemukan suaminya di samping, tetapi ruangan itu kosong. Wiliam tidak pulang tadi malam, pikirnya getir. Ia menarik napas panjang, mengusir kekecewaan yang selalu menyelinap di benaknya, lalu berjalan menuju kamar mandi sebelum turun ke lantai bawah.
"Pagi, Ma," sapanya lembut saat melihat Bella, ibu mertuanya, sudah duduk di meja makan.
"Pagi, sayang. Wiliam masih tidur?" tanya Bella sambil tersenyum ramah, memperhatikan menantunya yang turun seorang diri.
Stella menahan napas sejenak, mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang. "Dia sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali, Ma. Katanya ada urusan penting yang harus diselesaikan," jawab Stella, memaksakan senyum. Kebohongan itu meluncur mulus, meskipun hatinya terasa berat.
"Oh begitu. Sudah kalian rencanakan bulan madu, kan?" tanya Bella lagi, kali ini dengan senyum penuh harapan.
Pertanyaan itu membuat Stella terdiam. Bulan madu? Bahkan di malam pengantin saja, Wiliam meninggalkannya sendiri tanpa penjelasan. "Untuk saat ini belum, Ma. Wiliam sangat sibuk. Tapi nanti, setelah semuanya lebih tenang, kami akan membicarakannya," katanya dengan senyum yang dipaksakan.
Bella mengangguk pelan. "Baiklah, yang penting Mama berharap segera punya cucu dari kalian. Mama sudah tak sabar ingin menggendong cucu," ujar wanita paruh baya itu, senyum tak lepas dari wajahnya.
"Oh iya, kamu sudah dengar kalau Prisia akan pulang hari ini?" tambah Bella tiba-tiba.
Stella langsung terkejut dan senang mendengarnya. "Benarkah, Ma? Astaga, aku kangen sekali dengan Prisia!"
Bella tersenyum melihat antusiasme Stella. "Iya, dia bilang mau buka butik di sini. Sepertinya sudah bosan terus-menerus di luar negeri. Dia sangat gembira mendengar kabar pernikahan kalian, makanya langsung pulang. Tapi cuaca kemarin membuat penerbangannya tertunda."
"Kalau begitu, biar aku yang menjemput Prisia pagi ini, Ma," kata Stella bersemangat.
"Tentu saja, sayang. Pesawatnya mendarat jam delapan. Setelah sarapan, kamu bisa langsung berangkat," ujar Bella sambil menyajikan makanan untuk mereka.
***
Di bandara, Stella menunggu dengan penuh antusiasme. Rasanya lama sekali tidak bertemu dengan Prisia, adik perempuan Wiliam yang dulu sangat dekat dengannya.
Tak lama kemudian, Stella melihat sosok gadis muda, dengan wajah imut dan ceria, muncul dari pintu kedatangan. Gadis itu tampak mungil, menarik kopernya dengan satu tangan dan memegang bingkisan di tangan lainnya. Wajah Prisia tampak bercahaya, seperti biasanya.
"Hai Stella, aku di sini!" teriak Prisia sambil melambai dengan semangat. Melihat itu, Stella langsung berlari kecil ke arahnya. Begitu sampai di depan Prisia, Stella langsung memeluknya erat.
"Astaga, akhirnya kamu pulang juga! Aku sangat merindukanmu. Lima tahun berlalu, dan kamu tidak berubah, malah tambah cantik," ucap Stella penuh kebahagiaan.
Prisia tertawa kecil, lalu menepuk bahu Stella. "Hei, lepasin, Kak! Pelukanmu terlalu erat, aku bisa sesak napas!" keluhnya dengan nada bercanda.
Mereka tertawa bersama. "Aku juga kangen, Kak. Kamu makin cantik sekarang! Aku iri, kenapa aku nggak secantik kamu?" ujar Prisia, masih dengan senyum lebar.
"Maaf ya, aku nggak bisa hadir di pernikahanmu. Aku marah banget kemarin karena penerbangan ditunda. Tapi sekarang aku di sini, dan aku benar-benar merindukanmu," kata Prisia dengan mata berbinar-binar.
Mereka berdua kembali berpelukan sejenak, lalu berjalan menuju mobil Stella yang sudah menunggu di luar.
***
Sesampainya di rumah, Prisia langsung berlari mencari ibunya. "Ma! Prisia pulang! Mama di mana?" teriaknya.
Bella, yang mendengar suara putrinya, segera keluar dari kamarnya. Senyum lebar mengembang di wajahnya saat melihat Prisia berdiri di depan pintu. "Akhirnya, putri Mama yang cantik pulang juga! Mama kira kamu sudah melupakan rumah ini," ucap Bella sambil memeluk erat putrinya.
Prisia tertawa riang. "Ma, aku juga kangen Mama! Nih, aku bawain hadiah spesial buat Mama," katanya sambil menyerahkan sebuah bingkisan kecil.
Bella menerima bingkisan itu dengan senang hati. Setelah membukanya, dia terkejut melihat sebuah kalung cantik di dalamnya. "Ini luar biasa, sayang! Kamu beli ini sendiri?"
"Ya, Ma! Ini dari hasil kerja kerasku. Aku mau buktiin kalau aku bisa berdikari, kayak Kak Wiliam. Aku buka butik di luar negeri, dan sekarang aku mau buka satu lagi di sini. Aku akan sukses besar, Ma!" ucap Prisia penuh semangat, membuat Bella tersenyum bangga.
"Papa pasti akan bangga mendengar ini, sayang. Sayangnya, dia belum bisa pulang karena pekerjaan yang semakin sibuk. Tapi Mama yakin, usahamu akan berhasil."
Sementara itu, Stella yang menyaksikan kebahagiaan keluarga itu tersenyum, merasa hangat di tengah perhatian yang diberikan oleh Prisia dan Bella.
"Kak Stella, sini deh! Aku ada hadiah juga buat kamu," ujar Prisia sambil menyerahkan sebuah bingkisan. Stella membuka kotak itu dan mendapati sebuah gaun yang sangat indah, dengan desain yang memukau.
"Astaga, ini indah sekali, Prisia! Kamu yang desain sendiri?"
Prisia tersenyum bangga. "Iya, Kak. Aku ambil jurusan desain, ingat? Aku akan membuka butik besar di sini, dan aku harap suatu hari butikku terkenal. Itu mimpi terbesarku!"
Stella tertawa kecil. "Mimpimu sangat tinggi, dan aku yakin kamu pasti bisa mencapainya. Terima kasih atas gaunnya, aku sangat menyukainya. Untuk merayakan kedatanganmu, aku akan masak sesuatu yang spesial. Ayo, kita makan bersama!" katanya sambil menuju dapur dengan senyum bahagia.
Hari itu terasa begitu cerah bagi Stella, meskipun di hatinya, ada awan mendung yang tak kunjung hilang. Namun, kebahagiaan Prisia dan Bella memberikan harapan kecil, bahwa hidupnya mungkin masih bisa dipenuhi kehangatan, meskipun cintanya untuk Wiliam tampak tak terbalas.





