Sementara itu, Brian yang sudah berada di dalam pesawat terlihat begitu tidak tenang karena sejak tadi terus memikirkan Kinanti.
"Apa dia baik-baik saja, ya?"
Pertemuan singkat mereka di depan kampus tadi terus terbayang di benaknya. Menurutnya, ada yang aneh pada Kinanti, dia bukan wanita yang biasanya lari begitu saja tanpa menjelaskan apa yang sedang terjadi. Brian tahu betul bagaimana sifat Kinanti yang ceria dan mandiri. Namun, tadi dia tampak sangat berbeda. Air mata, wajahnya yang pucat, semua itu membuat Brian penasaran.
Brian coba menepis perasaan itu. Namun, rasa cemas malah semakin menggerogoti pikirannya. Saat pesawat sudah mulai lepas landas, Brian tak bisa lagi menahan diri. Dia segera menghubungi Marco–anak buahnya yang paling terpercaya.
"Marco, aku butuh bantuanmu sekarang juga," kata Brian dengan nada serius.
"Ya, Brian, apa yang bisa kulakukan?" tanya Marco di ujung telepon, suaranya selalu tenang seperti biasa.
"Tolong kamu cari tahu apa yang sudah terjadi dengan Kinanti!" Brian memerintah tegas.
"Kinanti? Maksudmu gadis yang kamu temui kemarin di pesta itu?" tanya Marco dengan sedikit heran.
"Ya, betul dia. Cepat, Marco! Aku butuh jawabannya sekarang juga!"
"Sabar dulu, Dude! Aku cari tahu dulu, nanti aku akan menghubungi," jawab Marco sebelum memutus sambungan telepon.
Brian duduk kembali di kursi pesawat, coba menenangkan pikiran yang terus bergejolak. Dia memejamkan mata sejenak. Namun, bayangan wajah Kinanti dengan air mata di pipinya terus menghantui. "Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" pikir Brian dalam hati. "Biasanya dia pasti berkata maaf, tapi tadi ... aku yakin sesuatu yang buruk sedang terjadi padanya? Tapi apa? Kinanti-Kinanti, kamu itu membuatku tidak berhenti memikirkanmu," batin Brian terlihat menghela napasnya dengan kasar.
Sejak tadi, Brian terus menatap layar ponselnya, menunggu Marco memberikan kabar tentang Kinanti. "Kenapa Marco lama sekali, ya?" Brian yang tidak sabaran pun coba menghubungi Marco, tapi pria itu sedang berada dalam panggilan lain.
Tak butuh waktu lama, panggilan yang ditunggu Brian pun akhirnya datang. Ya, Marco langsung menyampaikan hasil penyelidikannya tentang Kinanti.
Mendengar laporan itu, Brian terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar kabar tersebut. "Orang tuanya meninggal? Kinanti sekarang pasti lagi hancur," gumam Brian dengan nada yang dalam. Hatinya tidak bisa tenang dan dia tahu harus melakukan sesuatu untuk Kinanti. "Pantesan tadi dia menangis, aku pikir dia menghindar karena mengabaikanku. Sekarang aku harus cepat menemuinya."
Setelah menghabiskan beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya Brian tiba di rumah Kinanti. Brian memang tidak tahu banyak tentang keluarganya. Namun, instingnya mengatakan bahwa dia harus menemui Kinanti secepat mungkin.
Saat dia tiba di depan rumah Kinanti, pemandangan yang dilihatnya membuat darahnya mendidih. Kinanti tengah berjalan keluar rumah, membawa kantong sampah dengan wajah yang tampak lelah dan sedih. Brian langsung mengenali dan tanpa pikir panjang, dia turun dari mobil dan memanggil wanita itu.
"Kinanti!" seru Brian sambil mendekat. Namun, bukannya menyambut dengan baik, Kinanti langsung terlihat panik saat melihat Brian. Dia tahu siapa Brian dan dia tidak suka pria itu. Dengan cepat, Kinanti berbalik dan berlari menjauh.
"Kinanti, tunggu! Aku hanya ingin bicara!" Brian mengejarnya. Namun, Kinanti tidak menghiraukannya. Dia terus berlari, tapi Brian dengan cepat berhasil menyusulnya.
Tanpa pikir panjang, Brian menarik Kinanti dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kinanti coba berteriak, berusaha melawan. Namun, Brian menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar. "Aku hanya ingin bicara sebentar, Kinanti! Aku tidak akan menyakitimu. Kamu harus percaya sama aku!" kata Brian dengan nada yang lebih lembut.
Namun, Kinanti yang merasa terjebak tidak mempercayai satu pun kata dari mulut Brian. Dengan gerakan cepat, dia menggigit tangan Brian dengan keras. Brian meringis kesakitan dan refleks melepaskan tangannya dari mulut Kinanti. Ini memberi Kinanti kesempatan untuk melarikan diri. Tanpa berpikir panjang, Kinanti berlari secepat mungkin, meninggalkan Brian yang masih memegang tangannya yang terluka.
Anak buah Brian yang melihat Kinanti kabur segera ingin mengejarnya. Namun, Brian menghentikan mereka. "Biarkan saja. Setidaknya sekarang aku tahu dia baik-baik saja," katanya dengan suara pelan, coba menenangkan diri.
Saat Brian kembali ke mobil, dia melihat sesuatu yang membuat amarahnya memuncak. Dari dalam mobil, dia menyaksikan bibi dan sepupu Kinanti keluar dari rumah dan dengan kasar menarik rambut Kinanti guna memaksa wanita itu masuk kembali ke rumah.
Brian merasakan dorongan kuat untuk keluar dan menghentikan Aina. Namun, tepat saat dia akan melangkah keluar dari mobil, teleponnya berdering.
Dia menatap ponselnya dan menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan ke sana sekarang," katanya dengan nada tegas, meskipun hatinya masih tertinggal pada pemandangan Kinanti yang diperlakukan kasar oleh bibinya.
"Ampun, Bi. Sakit!" rintih kesakitan Kinanti, Aina tidak peduli sekalipun Kinanti memohon agar ia tidak dikasari, tidak ditampar dan tidak ditarik rambutnya. Tapi tetap saja Aina marah, dan kemarahannya juga karena hal sepele.
Aina yang melihat Kinanti berbicara dengan seorang tetangga saat proses pemakaman.
"Kamu berkata apa ke wanita itu Kinanti? Kamu membicarakan bibi dan pamanmu ini, kan? Ayo jawab jujur, Kinanti!" bentak Aina yang tidak bisa mengendalikan diri.
Kinanti sudah berkata berulang kali, kalau mereka yang datang saat ngelayat itu hanya bertanya. Kinanti akan tinggal dengan siapa? Apa tidak sebaiknya tinggal sendiri saja. Tapi Aina tidak percaya, dia terus-terusan berkata kalau Kinanti sudah bicara sesuatu yang jelek tentangnya. Makanya, para tetangga itu membicarakannya. "Sumpah Bi, aku tidak pernah menjelekkan Bibi, aku tidak pernah melakukan itu, Bi! Tolong percaya sama aku, Bi?"
"Terus, kamu pikir Clara yang bohong dan fitnah kamu, Kinanti?"
"Oh jadi semua ini karena ... Clara, Bi?" Tak ingin sang bibi salah paham, Kinanti coba menjelaskan meski Aina seolah tak mempedulikan ucapannya sedikit pun. "Bibi, aku sama sekali tidak pernah bicara begitu. Clara itu bohong!" Suaranya penuh keputusasaan. Namun, Aina sudah kehilangan kesabaran. Dengan cepat, tangan Aina melayang dan menampar pipi Kinanti. Suara tamparan itu terdengar keras, membuat Kinanti terhuyung ke belakang dan merasakan panas di pipinya.
Kinanti merasa sakit, bukan hanya secara fisik, tapi juga batin. Tamparan itu bukan hanya menghinanya, tapi juga mengoyak rasa hormat yang masih ia coba pertahankan pada keluarganya.
Clara yang juga ada di sana tampak memandang Kinanti yang kesakitan dengan senyuman kecil di wajahnya. Dalam hatinya, dia merasa puas. Ada rasa cemburu yang begitu besar pada Kinanti, terutama saat di acara pesta waktu itu, Brian malah mendekatinya. Clara yakin Brian adalah pria kaya, apalagi melihat pria itu ditemani oleh beberapa anak buahnya. Namun tentu saja, Clara tidak akan mengakui bahwa kecemburuan itu menjadi alasan di balik fitnahnya.
"Mama," Clara bersuara dengan nada manis. "Kenapa kita masih membiarkan Kinanti tinggal di sini? Bukankah lebih baik kalau kita menjualnya saja ke pria-pria kaya? Aku yakin banyak pria yang akan membayar mahal untuknya. Kita bisa mendapatkan uang banyak."
Kinanti terkejut mendengar usul kejam Clara. "Apa!? Tidak, aku tidak mau dijual!" Kinanti berseru, menolak mentah-mentah usulan tersebut.
Namun, bukannya membela Kinanti, Aina malah tertawa sinis. "Itu ide yang menarik, Clara. Setidaknya, kamu bisa memberi kami sesuatu, Kinanti. Kamu sudah terlalu lama menjadi beban kami di sini," kata Aina dingin.
Kinanti pun terdiam, merasa hancur dengan ucapan bibinya. Clara yang sekarang mendapat dukungan dari ibunya, melangkah mendekati Kinanti dan mulai memaksa. "Ayo, pakai baju ini!" Clara melemparkan pakaian mini ke arah Kinanti. "Pria-pria kaya tidak akan mau melirikmu kalau kamu pakai baju kampung seperti itu."
Kinanti awalnya berontak, mencoba melawan. Namun, semakin lama dia merasa tidak ada pilihan lain. Perlahan-lahan, dengan air mata yang mengalir di pipinya, Kinanti akhirnya setuju, meskipun dalam hati dia sudah menyusun rencana untuk melarikan diri.





