Luna kini sudah selesai mandi dan bersiap diri. Ia menatap tubuhnya di pantulan cermin, tubuhnya terlihat sangat indah dan cantik sekali. Namun ingatan akan dirinya hanya menjadi seorang janda, langsung teringat. Luna menghela napas dengan kasar.
“Apa nanti aku benar bisa menikah dengan Dimas dan akan mempunyai keturunan?” monolog Luna penuh tanya.
Karena beberapa kali ia menikah, sama sekali tidak diberikan keturunan. Entah apa kata dunia, ia belum dizinkan untuk mempunyai anak.
Luna pun akhirnya bergegas untuk keluar, pergi dari area kamar untuk menenangkan dirinya. Tetapi langkah Luna terhenti, ketika melihat seorang wanita dan pria duduk di sofa ruang tamu miliknya. Mereka tampak tersenyum senang, melihat kehadiran Luna. Luna hanya mampu mendekati mereka, walau dalam hati mereka bertanya-tanya akan kehadirannya.
“Luna, kamu nanti diundang sama Mama buat makan malam di rumah,” ujar Anggun—ipar Luna, yang memang tinggal bersama dengan ibu kandung Luna.
“Mama sudah lama juga tidak bertemu dengan, kamu Luna,” balas Indra—kakak kandung Luna.
“Baik, nanti aku akan ke sana,” jawab Luna seadanya.
Luna memang tidak begitu dekat dengan keluarganya, terlebih lagi karena dirinya sekarang sudah janda. Namun semua anggota keluarga justru khawatir, dengan kondisi Luna. Indra dan Anggun tampak kebingungan, mereka saling tatap satu sama lain. Berbeda dengan Luna yang melihat gerak-gerik mereka menjadi semakin bingung.
“Ada apa? Apa ada yang ingin kalian sampaikan, lagi? Jika nggak ada silahkan pulang,” ujarnya. Ia paling tidak suka, jika hanya terdiam lama di rumahnya jika tidak ada tujuan apapun.
Indra tersenyum, ia menatap Luna dengan sedikit canggung. “Begini Luna. Sebelumnya, mas minta maaf dulu kalau nanti membuat Luna tersinggung.” Indra menjeda ucapannya, melirik Anggun yang hanya menganggukkan kepalanya.
“Kata mama, nanti Luna bawa calon suami Luna, ya?”
Deg!
Luna langsung terdiam, mendengar perkataan Indra. Membawa calon suami? Ah permintaan apa itu! Memang dirinya sudah mempunyai calonnya, tetapi apakah secepat ini untuk dia bawa ke hadapan orang tuanya? Ini bukan yang tepat untuk membawa Dimas ke keluarga Luna. Luna belum mengenal jelas, siapa Dimas dan apa yang akan nanti ia jawab mengenai Dimas?
“Mas Indra, apakah rasanya terlalu cepat jika aku membawa calon suamiku nanti?” ujar Luna.
“Tapi Luna, kondisi Ayah sudah semakin parah. Mereka ingin Luna cepat-cepat menemukan jodoh yang baik, dan Ayah ingin nantinya kamu bisa memiliki anak. Ayah ingin melihat kamu mempunyai pendamping dan calon pelindung kamu sebe—“
“Oke!” sela Luna dengan cepat, ia tidak mau lagi mendengar ucapan dari Anggun yang sudah mengarah kemana-mana. Luna juga tidak dapat menentang kondisi Papa Luna, yang paling Luna sayang dan Luna akan melakukan semuanya untuk sang Papa.
“Nanti akan aku bawa calon suamiku. Sekarang kalian silakan pergi, aku akan ada urusan!”
Indra dan Anggun pun segera pergi dari rumah Luna, setelah di lihat semua sudah pergi Luna langsung menjadi khawatir. Luna menatap ke depan dengan pandangan kosong, ia benar bingung tentang apa yang akan ia lakukan dengan Dimas nanti di sana.
“Luna?”
Luna terkaget, mendengar suara Dimas tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Dimas menjadi heran, melihat raut wajah Luna. Sementara Luna merubah posisi dan ekspresinya sejenak, tepatsekali jika Dimas sudah bangun dan kini di hadapannya.
“Ada apa? Tadi aku mendengar ada tamu, tapi kenapa mereka nggak ada?” tanya Dimas.
“Sudah pulang,” jawab Luna seadanya. “Oh ya Dimas, apakah dulu kamu bekerja?”
Dimas mengerutkan keningnya, mendengar ucapan dari Luna. Ia menjadi bingung, apakah ia harus jujur atau bagaimana.
“Aku dulu bekerja di salah satu restoran, hanya sebagai pelayan saja,” jawab Dimas seadanya. Melihat raut wajah Luna langsung berubah seketika, mendengar jawaban dari Dimas.
Luna langsung terdiam, mendengarnya. Bagaimana bisa Luna membawa Dimas ke keluarganya, jika sekarang perkerjaan Dimas hanya sebagai pelayan? Bahkan Dimas saja belum mengenal dirinya.
"Apa kamu malu?" Tanya Dimas hati-hati, melihat Luna yang tidak ada jawaban apapun dan hanya terdiam.
Seketika Luna tersentak, ia menggeleng dengan wajah tersenyum menatap ke arah Dimas.
"Enggak, bukan begitu maksudku."
Luna menghela nafas dengan kasar. “Dimas, mamaku mengundang kita makan malam di rumahnya. Aku belum sama sekali mengenalmu, dan kamu juga sama sekali belum mengenalku.” Tatapan Luna begitu dalam kepada Dimas, sementara Dimas hanya mampu terdiam mencerna ucapan Luna
“Bagaimana jika kita melakukan perkenalan lebih dalam lagi?” usul Dimas, yang langsung terlintas di benaknya. “Aku tahu maksudmu, Luna. Kamu nggak mungkin membawaku yang miskin ini ke rumah orang tuamu, jadi lebih baik kamu men—“
“Kamu akan tetap aku bawa ke rumah kedua orang tuaku,” sela Luna dengan tegas, menolak jika Dimas menyuruhnya untuk mencari orang baru. Bagi Luna, Dimas sangat cocok untuk dirinya. Dimas pasti memiliki hati yang baik, dan juga keluarganya pasti menerika jika menikah dengan Dimas.
“Kita susun rencana sementara ya? Kita harus membuat alur agar nanti kita tidak bodoh di sana,” ujar Luna.
“Maksudmu?”
Luna pun mulai menjelaskan, ia menyuruh Dimas untuk pura-pura menjadi CEO sama seperti dirinya. Di salah satu perusahaan, yang pastinya tidak begitu dikenal oleh keluarga mereka. Dimas hanya mampu melonggo saja, ketika Luna juga menceritakan tentang kehidupan sebenarnya dirinya. Ini jadinya jika ia sama sekali belum kenal dengan Luna, tetapi sudah mau ambil resiko untuk menikah. Bahkan tahu saja tidak.
“Jadi kamu ini CEO di perusahaan?” tanya Dimas tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya bertemu dengan wanita yang sangat kaya dan berpendidikan sepertinya? Sangat berbanding jauh dengan mantan istri yang hanya mementingkan uang dan uang.
Luna langsung tertawa pelan. “Kamu pasti mengira aku hanya pencinta wanita malam, bukan? Karena kejadian semalam, dan dua hari lalu di club tersebut,” ujar Luna dengan suara sedikit tertawa. "Mungkin bukan kamu saja yang mempunyai pikiran sempit seperti itu," imbuh Luna.
“Untuk alasan kenapa kamu menyuruhku menikah denganmu, bagaimana?” Dimas menaikkan satu alisnya.
Dimas masih penasaran, kenapa Luna yang sama sekali belum mengenalnya langsung mengajak untuk menikah. Bahkan ia bisa mencari lelaki yang lebih baik, lebih mapan, dan pastinya lebih tampan. Tetapi ia justru tetap memilih Dimas, yang tidak ada apa-apanya. Dengan hanya satu kali pertemuan, Luna bahkan berani untuk memberikan tantangan dan hadiah sebesar itu kepada Dimas.
“Nanti kamu akan tahu, anggap saja jika hadiah nanti yang kamu dapatkan itu akan menjadi alat untuk memanasi mantan istrimu,” ujar Luna membuat Dimas menjadi teringat, Dewi sang istri yang meninggalkannya karena dirinya miskin.





