Tubuhku bergetar hebat saat aku mencoba menarik diri dari cengkeraman Pak Kades. Di ruangan yang sempit dan pengap itu, hawa dingin yang sebelumnya terasa kini berubah menjadi panas mencekik. Tangan Pak Kades semakin kuat menggenggam lenganku, membuatku kesulitan untuk melepaskan diri. Aku mencoba meronta, tapi kekuatannya terlalu besar, terlalu kuat.
"Pak, tolong... jangan..." isakku dengan suara parau, air mata mulai membanjiri wajahku.
Tapi tatapan Pak Kades berubah. Mata yang tadinya kosong kini dipenuhi oleh sesuatu yang tidak kukenal-sebuah dorongan yang tak terkendali. Tatapannya liar, tak ada lagi jejak pria ramah yang selama ini aku kenal. Seperti bukan dirinya, seperti dia telah dikuasai oleh sesuatu yang jauh lebih gelap. Sekarang, yang tersisa hanyalah kehampaan, kekerasan yang tak dapat dikontrol.
Dengan kasar, dia mulai melucuti pakaianku, menariknya dengan kekuatan yang memaksa. Aku berteriak, memanggil siapa pun yang bisa mendengar, tapi tak ada suara lain selain rintihan diriku sendiri dan desahan napasnya yang berat.
"Pak! Hentikan! Tolong!" teriakku, tapi suaraku seakan tenggelam dalam dinding ruangan yang sempit itu.
Aku berusaha melawan, tapi usahaku sia-sia. Tangannya yang besar dan kuat mendorong tubuhku ke kasur. Aku berusaha merangkak pergi, tapi setiap gerakanku dibalas dengan tarikan yang lebih kuat. Aku menendang, meronta, dan berteriak, tapi semuanya sia-sia. Tidak ada yang bisa mendengar, tidak ada yang datang untuk menolong.
Dalam sekejap, semua pakaianku telah dilucuti. Mahkotaku yang selama ini kujaga, yang selalu kubanggakan, kini lenyap dalam sekejap kebrutalan yang tidak pernah kubayangkan. Air mataku mengalir deras, menyatu dengan keringat dan rasa takut yang menyesakkan dadaku.
Waktu seakan berhenti. Suara-suara di luar ruangan itu lenyap. Hanya ada suara tubuh Pak Kades yang bergerak di atas tubuhku yang tak berdaya, dan tangisanku yang semakin lama semakin teredam oleh rasa putus asa yang mencekam. Di setiap desah napasnya, aku merasakan kehancuran diriku. Aku tidak hanya kehilangan tubuhku, tapi juga jiwaku. Aku merasa kosong, hampa, seperti diriku telah hilang selamanya di dalam ruangan sempit itu.
Setelah semuanya berakhir, Pak Kades berhenti. Nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, namun yang paling mencolok adalah tatapan di matanya. Dia terdiam, seolah baru saja tersadar dari sesuatu yang mengerikan. Matanya melebar, menatap tubuhku yang tergeletak di kasur dengan wajah penuh ketakutan.
Dia mundur, tangannya gemetar hebat. "Apa... apa yang sudah kulakukan...?" suaranya terdengar serak, hampir seperti bisikan. "Tuhan, maafkan aku..."
Aku masih terbaring di sana, tak mampu berkata apa-apa. Tubuhku kaku, rasanya seperti bukan milikku lagi. Aku hanya bisa menangis, air mataku terus mengalir, sementara Pak Kades jatuh terduduk di sudut ruangan. Dia menangis, meraung-raung dengan kepedihan yang sama seperti yang kurasakan. Tapi tangisannya tidak menyentuh hatiku. Tidak ada apa pun yang bisa menghapus rasa sakit ini.
"Maaf... maafkan aku... aku tidak tahu apa yang kulakukan..." Pak Kades terus menangis, suaranya penuh dengan penyesalan. Tapi itu semua terasa sia-sia bagiku. Kata-kata itu tidak bisa memperbaiki apa pun. Tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dariku.
Subuh mulai tiba. Sinar matahari perlahan menembus celah-celah jendela kecil di ruangan itu, tapi kehangatan yang biasanya menyertai fajar tidak kurasakan. Yang ada hanyalah kehampaan dan rasa dingin yang merasuk hingga tulang. Di dalam ruangan 3x1 meter ini, kami berdua menangis-dua jiwa yang hancur, meski dalam cara yang berbeda.
Pak Kades, beringsut mendekatiku. Tangannya gemetar ketika dia mencoba menyentuh bahuku, seolah mencari pengampunan. Tapi aku langsung menarik diri, memeluk tubuhku yang terasa asing ini, menolak sentuhannya.
"Jangan sentuh aku!" teriakku, air mataku semakin deras mengalir. "Jangan pernah... sentuh aku lagi..."
Dia terdiam, kemudian menangis lebih keras, seperti orang yang benar-benar kehilangan arah. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin keluar dari ruangan ini, menjauh darinya, menjauh dari rasa sakit ini. Tapi aku tidak tahu harus ke mana, apa yang harus kulakukan. Bagaimana aku bisa kembali ke posko, bagaimana aku bisa menatap teman-temanku lagi setelah ini? Bagaimana aku bisa hidup dengan rasa malu ini?
Aku merasa kotor. Rasa jijik menyelimuti seluruh tubuhku. Mahkotaku, yang selama ini kujaga dengan penuh kebanggaan, kini telah hancur. Hanya tersisa rasa luka yang mendalam, yang mungkin tidak akan pernah sembuh.
Setelah beberapa saat, aku memaksa diriku untuk bangkit. Kakiku lemas, tubuhku terasa berat, tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Dengan gemetar, aku mengenakan pakaian yang telah tercabik-cabik, mencoba menutupi tubuhku sebaik mungkin. Pak Kades masih terduduk di sana, wajahnya penuh dengan air mata.
"Rara... aku... aku mohon..." katanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Aku tidak bisa mendengarnya lagi. Aku harus pergi.
Dengan langkah yang goyah, aku berjalan menuju pintu. Tanganku gemetar saat meraih gagang pintu, tapi akhirnya aku berhasil membukanya. Udara pagi yang dingin menyambutku, seakan-akan mencoba menenangkan hatiku yang hancur. Tapi rasanya sia-sia. Semua telah berubah. Aku telah berubah.
Aku berjalan keluar dari Balai Desa, meninggalkan Pak Kades yang masih menangis di dalam. Setiap langkah terasa seperti membawa beban yang tidak akan pernah hilang. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Desa ini, yang dulunya terasa ramah dan hangat, kini terasa seperti penjara yang dingin dan menyesakkan.
Langit mulai memerah, menandakan pagi yang segera tiba. Tapi tidak ada kehangatan dalam cahaya itu, hanya kekosongan yang semakin dalam. Aku terus berjalan, tanpa arah, tanpa tujuan. Rasanya seperti aku tidak akan pernah bisa kembali ke diriku yang dulu.
Di balik fajar yang baru terbit, aku tahu satu hal: hidupku tidak akan pernah sama lagi.
Pak Kades bergegas bangkit dari lantai, tubuhnya masih gemetar saat dia melihat bercak darah yang mulai tampak di atas kasur. Bercak itu, yang baginya adalah bukti nyata dari kesalahan fatal yang baru saja dia lakukan, menghantam kesadarannya. Dia merasakan ketakutan yang menyesakkan. Seluruh dunia seakan runtuh di sekitarnya. Kepanikan dan rasa bersalah membanjiri dirinya.
"Raya! Raya, tunggu!" Pak Kades berteriak dengan suara parau, mencoba mengejar langkahku yang semakin menjauh dari ruangan. Dia berlari tergesa-gesa, berusaha meraihku, tapi aku tak peduli. Suaranya terdengar samar di belakang, namun kata-katanya seperti tak berarti lagi bagiku.
Aku terus berjalan cepat, tubuhku terasa berat namun langkahku dipenuhi oleh rasa takut dan jijik. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang. Aku harus keluar dari tempat ini, menjauh dari semua keburukan yang baru saja menimpaku. Aku ingin lari jauh, secepat mungkin, tapi tubuhku terasa lemas, seolah tenaga yang tersisa hanya cukup untuk menuntunku menuju pintu keluar.
"Raya, kumohon! Biarkan aku bicara!" suaranya semakin mendekat. Aku bisa merasakan napasnya yang terengah-engah di belakangku. Tanpa menoleh, aku tahu dia sedang berusaha keras untuk mengejarku.
"Raya, aku akan bertanggung jawab! Aku akan menikahimu! Tolong dengarkan aku!" ucapnya panik, suaranya semakin putus asa. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan rasa bersalah.
Kata-katanya menusuk telingaku, tapi rasanya hanya membuat perasaanku semakin hancur. Menikah? Bertanggung jawab? Itu semua terdengar begitu kosong, seperti janji yang tak mungkin bisa menutupi luka yang telah dia torehkan di tubuh dan jiwaku. Apakah sebuah pernikahan bisa menghapus rasa sakit ini? Apakah masa depanku akan kembali utuh setelah apa yang terjadi?
Aku menatapnya sekilas, air mata tak lagi bisa kutahan. "Kamu pikir semua ini bisa diselesaikan dengan pernikahan?" tanyaku dengan suara yang penuh kemarahan dan kesedihan. "Kamu telah menghancurkan hidupku! Kamu tidak hanya merenggut masa depanku, tapi juga jiwaku!"
Namun, tidak ada yang bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi. Mahkotaku yang selama ini kujaga, kehormatanku yang telah kurawat dengan begitu hati-hati, semua hilang begitu saja dalam malam yang mengerikan ini. Air mata terus mengalir tanpa bisa kuhentikan. Aku merasa kosong, hampa, seakan diriku telah lenyap dalam sekejap mata.
Pak Kades berusaha bangkit lagi, memohon dengan suara serak. "Raya, tolong! Aku akan menebus ini semua, aku akan mengurus semuanya. Aku akan bertanggung jawab! Kumohon... jangan pergi..."
Aku memutar tubuhku, menatapnya sekali lagi dengan tatapan yang penuh kekecewaan. "Kamu bisa menikahiku, kamu bisa bicara tentang tanggung jawab, tapi kamu tidak akan pernah bisa mengembalikan apa yang telah hilang dariku." Suaraku terdengar dingin, lebih tenang dari yang aku kira, tapi aku tahu kata-kata itu menusuknya lebih dalam daripada teriakanku.
Tanpa menunggu jawabannya aku meninggalkan Pak Kades yang terpuruk dalam kesalahannya sendiri. Udara pagi yang dingin menyambutku, namun tidak cukup untuk menenangkan hatiku yang hancur. Aku terus berjalan menjauh, setiap langkah terasa seperti membawa luka yang semakin dalam.
Masa depanku kini terasa kabur. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menghadapi teman-temanku, keluargaku, atau diriku sendiri setelah ini. Aku merasa seolah-olah seluruh hidupku telah berubah dalam hitungan menit.
Aku terus berjalan, langkahku perlahan tapi pasti, meninggalkan bayangan kelam dari Balai Desa di belakangku. Matahari mulai terbit di ufuk timur, tapi sinarnya tidak membawa harapan bagi diriku. Setiap sinar yang memancar seakan hanya menambah beban yang semakin berat untuk kupikul.
Di dalam hatiku, aku tahu satu hal: apa yang terjadi malam ini akan membekas selamanya. Tidak ada yang bisa menghapus rasa sakit ini, tidak ada yang bisa memperbaiki masa depan yang telah hancur.
Dengan air mata yang masih mengalir, aku terus berjalan menuju kehidupan yang kini terasa asing dan jauh dari harapan.
Langkahku semakin berat, setiap jengkal tanah yang kulalui terasa seperti membawa beban yang tak terlihat namun menghancurkan. Pandanganku kabur oleh air mata yang tak kunjung berhenti. Rasanya seperti aku ingin berlari sejauh mungkin, tapi tubuhku terlalu lemah. Perasaan hampa dan jijik menyelimuti seluruh diriku, meresap hingga ke tulang. Seolah-olah apa yang tersisa dari diriku hanyalah bayangan yang rapuh, menanti untuk runtuh kapan saja.
Aku tak tahu ke mana harus pergi. Posko KKN yang biasanya menjadi tempat berlindung kini terasa begitu jauh. Bagaimana aku bisa menghadapi mereka? Bagaimana aku bisa menatap mata teman-temanku? Mereka pasti akan tahu ada yang berubah. Aku tak akan bisa berbohong, tak akan bisa menyembunyikan luka ini. Tapi aku juga tak mungkin kembali ke Balai Desa itu, tempat di mana mimpi-mimpiku hancur begitu saja.
Langkahku akhirnya terhenti di sebuah bukit kecil yang biasanya menjadi tempat favorit kami saat menenangkan diri. Dari sini, aku bisa melihat hamparan sawah yang luas, desa yang tenang, dan langit yang perlahan berubah warna seiring matahari terbit. Pemandangan ini biasanya memberiku kedamaian, tapi sekarang yang kurasakan hanyalah kehampaan.
Aku terisak lagi. Air mata yang kuharap telah habis ternyata masih mengalir, mengiringi luka yang tak kunjung kering. Segala yang kualami beberapa jam yang lalu berputar kembali di kepalaku. Tatapan liar Pak Kades, sentuhannya yang memaksaku, dan suara-suara memuakkan yang terus menghantui telingaku. Aku menggigit bibirku, mencoba menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul. Namun, perasaan jijik itu terlalu kuat. Aku tak bisa menghilangkan bayangannya.
Aku memeluk diriku sendiri, mencoba melindungi tubuhku yang terasa begitu kotor. Mahkotaku, kehormatanku, telah hilang, dan tidak ada cara untuk mengembalikannya.
Pikiranku kacau. Di satu sisi, aku ingin lari sejauh mungkin, meninggalkan desa ini, meninggalkan semuanya. Namun di sisi lain, aku tahu aku tidak bisa lari selamanya. Cepat atau lambat, aku harus menghadapi kenyataan. Tapi kenyataan apa yang bisa kuterima? Apakah aku harus berbicara? Apakah aku harus melaporkannya? Siapa yang akan percaya? Aku takut. Takut dicap sebagai wanita yang rusak, wanita yang tidak lagi murni. Masyarakat tidak akan melihatku sebagai korban, mereka hanya akan melihatku sebagai gadis yang ternoda.
Aku duduk di atas tanah, membiarkan tubuhku jatuh ke bawah, merasa tak berdaya. Dalam kesendirian ini, aku berpikir. Pak Kades, pria yang seharusnya dihormati dan menjadi teladan bagi kami, telah menghancurkan semua itu. Dia, dengan posisinya, dengan segala hormat yang dimilikinya, telah menodai masa depanku. Dan sekarang dia berjanji akan bertanggung jawab? Menikahiku?
Aku tertawa pahit. Pernikahan? Apakah itu jawaban dari semua ini? Pernikahan hanya akan menjadi penjara baru bagiku. Tidak, aku tidak ingin pernikahan itu. Aku tidak ingin hidup bersama orang yang telah merenggut segalanya dariku. Bagaimana aku bisa melihatnya setiap hari, tidur di sebelahnya, mengetahui bahwa dia adalah orang yang menghancurkan hidupku?
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Aku tersentak dan berbalik. Di sana, di kaki bukit, Pak Kades muncul, wajahnya penuh dengan keputusasaan dan rasa bersalah. Dia mendekatiku dengan langkah tergesa-gesa, matanya memohon ampun, meski aku tahu tidak ada ampun untuk apa yang telah dia lakukan.
"Raya," suaranya serak, napasnya masih terengah-engah setelah berlari mencariku. "Aku mohon... dengarkan aku..."
Aku berdiri, menguatkan diri untuk tidak terlihat lemah di depannya. "Apa lagi yang ingin kamu katakan?" tanyaku dengan suara bergetar, penuh amarah dan rasa sakit. Sekarang tidak ada lagi kata santun yang aku ucapkan berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
Pak Kades berhenti beberapa langkah dariku, menunduk dan menyeka air matanya. "Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi padaku... Aku sudah gila... Aku... aku minta maaf... Aku benar-benar minta maaf..." Dia jatuh berlutut, memohon ampun dengan cara yang putus asa. "Aku akan bertanggung jawab, Raya... Aku akan menikahimu... Aku akan memperbaiki semuanya..."
Aku tertawa lagi, kali ini lebih sinis. "Kamu pikir menikahiku akan memperbaiki semuanya? Kamu pikir pernikahan akan menghapus semua ini? Kamu pikir aku akan baik-baik saja setelah apa yang kamu lakukan? Bukannya kamu sudah memiliki istri dan anak?"
Dia menangis lebih keras. "Aku tidak tahu... Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku... Tolong beri aku kesempatan... Aku akan melakukan apa saja, aku akan mengatakan semuanya pada istriku agar dia mengerti dan paham."
"Tidak!"
Aku menatapnya tajam, mencoba menahan emosi yang membuncah di dadaku. "Kamu sudah menghancurkan segalanya. Kamu telah mengambil sesuatu yang tak bisa dikembalikan. Tidak ada yang bisa memperbaiki itu. Dan aku tidak mau dicap pelakor!"
Pak Kades terus berlutut di tanah, seolah-olah harapannya telah benar-benar hancur. Tapi bagiku, air matanya tidak lagi berarti. Aku tahu dia menyesal, tapi penyesalannya tidak akan pernah menghapus apa yang telah terjadi. Tidak ada yang bisa menghapus rasa sakit ini. Tidak ada yang bisa mengembalikan diriku yang dulu.
"Aku akan pergi," ucapku pelan, hampir seperti bisikan. "Aku tidak akan meneruskan KKN lagi."
Pak Kades menatapku dengan mata yang memohon, namun aku tak bisa lagi peduli. Aku berbalik, melangkah menjauh darinya, meninggalkan tangisannya yang semakin lirih di belakangku. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, tapi satu hal yang kutahu pasti: aku tidak akan pernah kembali.
Setiap langkah yang kuambil terasa seperti beban yang terangkat, meskipun rasa sakitnya masih menghantuiku. Aku berjalan menuju jalan yang tak kukenal, menatap masa depan yang gelap dan tak pasti. Tapi aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan diriku dihancurkan lebih jauh. Aku akan menemukan cara untuk bangkit, meskipun jalannya panjang dan penuh luka.
Sore itu, di bawah langit mendung yang seakan mencerminkan suasana hatiku, aku membuat keputusan yang terasa berat namun perlu: aku harus pulang. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan di desa ini. Setiap sudut tempat ini kini hanya menyimpan kenangan buruk yang menghantui pikiranku. Aku sudah tidak sanggup lagi berada di sini, di antara teman-temanku yang masih tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Aku sakit," ucapku lemah pada ketua kelompok kami, berharap itu cukup untuk menjadi alasan agar mereka tidak terlalu banyak bertanya.
Dia menatapku dengan sorot mata yang penuh kekhawatiran, tapi juga kebingungan. "Lu yakin, Raya? Mending istirahat dulu di sini, besok lu bisa pulang," katanya, mencoba menahan kepergianku.
Aku menggeleng pelan. "Enggak, gue harus pulang sekarang."
Mataku bertemu dengan tatapan teman-teman lainnya yang tampak heran. Mereka mungkin merasa ada yang aneh dengan sikapku yang tiba-tiba ingin pergi. Namun, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan aku tidak punya kekuatan untuk menceritakannya. Tubuhku lelah, tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Luka yang kurasakan begitu dalam, dan satu-satunya yang ada di pikiranku sekarang adalah pergi-menjauh sejauh mungkin dari tempat ini.
"Lihat tubuhnya, dia memang kelihatan sakit," ujar salah satu teman dengan simpati, mencoba membenarkan keputusanku. Mungkin dari luar, penampilanku memang tampak lemah, tapi itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang ada di dalam hatiku. Rasa bersalah, rasa takut, dan rasa hancur yang tak bisa kulukiskan.
Akhirnya, setelah beberapa percakapan singkat yang tak lagi kuperhatikan, mereka mengangguk setuju. Sopir keluargaku sudah dalam perjalanan untuk menjemputku. Waktu yang tersisa terasa begitu lama. Aku duduk di sudut ruangan, memeluk diriku sendiri, berharap waktu bisa bergerak lebih cepat, berharap rasa sakit ini segera berakhir.
Ketika mobil keluargaku tiba, aku berdiri dengan susah payah. Teman-temanku menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca-mungkin heran, mungkin simpati. Tapi aku tidak bisa menjelaskan apapun. Aku hanya ingin pergi.
Salah satu teman kampusku, dengan sedikit ragu, bertanya, "Lu serius mau balik? Beneran nggak apa-apa?"
Aku hanya mengangguk, terlalu lelah untuk berbicara lebih banyak. Air mata yang sudah kupendam sejak tadi hampir pecah, tapi aku menahannya, berusaha agar tidak ada yang melihatku menangis. Aku tidak mau mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak sekarang, mungkin tidak pernah. Rasanya terlalu menyakitkan untuk dibagikan.
Sopir keluargaku membuka pintu mobil, dan aku masuk tanpa menoleh lagi ke belakang. Desa yang selama ini menjadi tempatku mengabdi, yang awalnya kurasa penuh dengan kebaikan dan harapan, kini menjadi tempat yang ingin kulupakan selamanya. Aku bersumpah, tak akan pernah kembali ke sini lagi.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan desa. Aku menatap keluar jendela, melihat sawah dan rumah-rumah penduduk yang mulai tampak kecil di kejauhan. Setiap kilometer yang kutinggalkan dari tempat itu, aku berharap rasa sakit di hatiku juga ikut memudar. Namun, aku tahu itu tidak akan semudah itu. Luka ini akan membekas untuk waktu yang lama.
Perjalanan pulang terasa begitu sunyi. Di dalam mobil, hanya terdengar suara mesin dan hembusan angin dari luar. Aku berusaha fokus pada pemandangan yang berlalu, tapi pikiranku terus kembali ke malam yang mengerikan itu. Air mata yang kutahan akhirnya jatuh, perlahan mengalir di pipiku. Aku mencoba menyeka dengan cepat, berharap sopirku tidak melihatnya dari kaca spion.
Namun, seberapa keras pun aku berusaha menahan, air mata itu tak bisa terbendung lagi. Perasaanku kacau. Aku merasa begitu kotor, begitu terasing dari diriku sendiri. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan Pak Kades muncul, mengingatkan pada semua yang telah hilang dari hidupku. Mahkotaku, harga diriku, semuanya hancur dalam satu malam yang penuh kebrutalan.
Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan pada keluargaku saat tiba di rumah. Mereka pasti akan bertanya mengapa aku pulang lebih awal, mengapa aku terlihat begitu lelah dan hancur. Tapi aku belum siap memberi jawaban. Aku belum tahu bagaimana caranya bercerita tentang mimpi buruk yang baru saja terjadi padaku.
Saat mobil memasuki kota, aku memutuskan untuk menelepon dosen pembimbingku. Dengan suara yang terdengar lemah dan terbata-bata, aku mengucapkan alasan yang sama: aku sakit. Aku memohon izin untuk pulang lebih awal dari masa KKN. Dosenku, yang biasanya sangat tegas, tampaknya mengerti bahwa aku tidak dalam kondisi baik, dan dia langsung mengizinkanku pulang tanpa banyak pertanyaan. Aku berterima kasih padanya dengan singkat, lalu menutup telepon.
Ketika mobil berhenti di depan rumahku, aku menarik napas panjang. Perjalanan ini hanyalah awal dari masa penyembuhan yang panjang. Aku tahu, butuh waktu lama untuk bisa bangkit dari apa yang telah menimpaku. Tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan pernah kembali ke desa itu lagi.
Aku keluar dari mobil, mencoba menegakkan tubuhku meskipun hatiku masih terasa hancur. Di balik pintu rumah, keluargaku menungguku. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, dan untuk sekarang, mungkin biarlah tetap begitu. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan diri sendiri sebelum aku bisa menceritakan semuanya.
Dengan langkah lemah, aku melangkah masuk ke dalam rumah. Aku meninggalkan desa itu, tapi bayangan malam kelam itu masih mengikutiku, menempel erat di setiap sudut pikiranku. Tapi aku tahu, suatu hari nanti, aku akan menemukan cara untuk menghadapinya, dan sampai saat itu tiba, aku hanya bisa berusaha bertahan.
"Raya! Kenapa kamu pulang Nak, apa yang terjadi?" tanya Mama saat melihatku masuk ke ruang tengah, aku berusaha setenang mungkin. Tidak mungkin aku menceritakan kejadian itu pada orang tuaku.





