Ibuku dijadikan pengasuh anak anak kakakku

IBUKU di JADIKAN PENGASUH ANAK ANAK KAKAKKU[3]

"kak Sarah! Kak, ibu pingsan!" aku berteriak sekeras mungkin meminta bantuan kak Sarah. Ibu harus segera dibawa ke rumah sakit.

"Kak!" pekikku lantang.

Dum!

Seperti benturan benda keras ke dinding. Suara itu berasal dari kamar kak Sarah, disusul dengan suara tangisan anak kecil. Itu pasti anak-anak kak Sarah yang menangis.

Tidak lama kak Sarah muncul di hadapanku.

"Ada apa sih Iren teriak-teriak! Kau membuat mas Toni marah karna terganggu dengan suara cemprengmu itu!"

"Ibu pingsan, kak! Ayo kita bawa kerumah sakit! Di depan tadi kulihat ada mobil terparkir, ayo kita bawa ibu menggunakan mobil itu!"

"Hais, aku pikir ada apa? k

Kau jangan berlebihan, Iren, ibu itu sudah tua, wajar kalau hanya pingsan, sebentar juga sadar." ungkap kak Sarah acuh.

"Kak Sarah tidak khawatir dengan kondisi ibu? lihat badannya panas!"

"Halah! Itu bukan urusanku. Lagian apa kau tidak dengar anak-anakku menangis. Aku sibuk, lebih baik biarkan saja dikasih minyak angin juga nanti bangun. Tapi kalau tidak bangun pun justru bagus, sekalian saja m@ti!"

Duar!

Bagai disambar petir, ucapan kak Sarah benar-benar di luar nalar, setega itu dia mendoakan ibunya agar cepat m@ti. Apakah hatinya sudah beku?

"Bi@dab!"

Kudorong tubuh kak Sarah hingga terjerembab ke lantai, aku sudah hilang kesabaran.

"Agh! s

Sial kau, Iren!" kak Sarah mengaduh kesakitan sambil memegangi pinggangnya, lantas berusaha berdiri.

"Dasar anak durhaka! k

Kau bukan lagi manusia, Sarah! Otakmu sudah tidak waras!" makiku penuh emosi.

Kak Sarah hanya menyunggingkan senyum sinisnya. Setelah itu tak ku hiraukan lagi dirinya, aku berbalik hendak menggotong tubuh ibu, tapi tiba-tiba kepalaku ditarik ke belakang oleh kak Sarah.

Rasa panas menjalar di kulit kepalaku. Sakit dan juga nyeri. Cekalan tangan kak Sarah di rambutku begitu kuat.

"Sudah ku katakan bukan? Jangan melampaui batasanmu, Iren! Jangan sampai kubuat nyawa ibumu melayang!" bisiknya tepat di telingaku.

"Kalau aku tak takut, kau mau apa ha?" tantangku tetap tenang, tak lupa kusunggingkan senyum meremehkan untuknya.

"Kau hanya belum tau siapa aku, Iren! Hahaha!" kak Sarah tiba-tiba tertawa seperti orang gila. Kemudian dia mendorong tubuhku ke depan hingga aku nyaris saja membentur dinding, untungnya aku lebih sigap.

Kak Sarah kembali tertawa, kemudian dia melirik meja samping ranjang ibu, ternyata ada gunting yang tergeletak. Lalu diambilnya dengan seringai tipis. Kali ini dia semakin mendekat ke arahku sambil tersenyum penuh arti.

"Sepertinya kita perlu bermain, Iren!" T

tekan-nya, kini kak Sarah sudah di hadapanku.

Ya Tuhan aku seperti tidak melihat kakakku yang dulu. Yang di hadapanku saat ini seperti bukan dirinya. Apakah kak Sarah kesurupan? Ah, tapi tidak, dia bahkan sadar sepenuhnya.

"Jangan mengancamku, Kak! j

Jika kau berani berbuat macam-macam denganku, akanku balas lebih kejam!" tandasku penuh penekanan. Aku harus terlihat tenang di depannya, agar dia tak berani berbuat aneh.

"Ha ha ha ha! Waw luar biasa! Kau tahu jika ini mengenai kulitmu yang mulus itu, bisa kupastikan kau akan cacat seumur hidupmu! dan tentunya tidak akan ada laki-laki yang mau denganmu, Iren." ancam kak Sarah dengan seringainya, matanya pun melotot tajam.

Dia semakin mendekat hingga tidak adak jarak di antara kita. Terpaan hembusan nafasnya begitu terasa di hidungku.

"Kau butuh bukti adikku sayang?" kali ini guntingnya sudah menempel di kulit pipiku. Gerakanku seolah terkunci olehnya. Tapi aku tetap berusaha tenang.

"Kau sebenarnya manis, aku dulu begitu menyayangimu, tapi itu dulu, Iren! Dulu! Sekarang hanya ada rasa benci, dan ini adalah bukti rasa sayangku kepadamu."

"Aawh!" jeritku ketika guting yang dipegang kak Sarah mulai menggores pipi.

"Sarah! Sarah! c

Cepat kemari! Ini anak-anakmu tidak mau diam!" tiba-tiba suara Toni mengagetkan kak Sarah, seketika guntingnya terjatuh.

"Argh!" kak Sarah berteriak kesal.

Matanya melirik ke arahku sebelum pergi, "Urusan kita belum selesai, Iren!" peringatnya, lalu dia berbalik dan keluar dari kamar ibu.

Aku bernafas lega, setidaknya pipiku hanya tergores kecil. Tidak masalah, yang penting aku harus segera membawa ibu pergi dari sini. Setelah itu aku mengambil ponselku yang ada di tas kecil, kemudian menghubungi taxy untuk membawa ibu kerumah sakit.

****

Setibanya di rumah sakit aku langsung meminta para perawat untuk memeriksa kondisi ibu.

Sekitar sepuluh menit, keluarlah seorang pria yang mengenakan seragam dokter, kuperkirakan umumnya tak jauh dariku.

"Permisi? Keluarga pasien?"

"Saya, Dok!"

"Bisa ikut keruangan saya? Ada hal yang perlu kita bicarakan."

"Baik, Dok." aku mengangguk setuju dan mengikuti langkah dokter itu menuju ke ruangan.

Setelah sampai di ruangan, dokter mempersilakan aku untuk duduk.

"Perkenalkan nama saya Rafli, Bu, eh maksud saya mbak, karna saya lihat kita seumuran ya." ungkap dokter mengawali pembicaraan.

Aku hanya menanggapinya dengan senyuman, karna aku merasa tidak perlu berbasa basi, hanya ingin segera tahu kondisi ibu.

"Begini, Mba-?"

"Iren."

"Oh ya, Mbak Iren, ibu anda mengalami dehidrasi yang cukup berat, membuat kondisi tubuhnya lemah dan kata suster yang mengganti pakaian ibu anda tadi, sepertinya terdapat luka biru di bagian tubuhnya." papar dokter tersebut dengan jelas.

Aku pun kaget, ternyata ibu mendapat penyiksaan yang cukup berat dari kak Sarah, hingga tubuhnya biru-biru.

"Dan maaf sebelumnya, ibu anda sepertinya belum makan sama sekali yang hari ini, karna tadi dia sempat mengigau lapar." lanjut dokter lagi.

Aku sampai lupa menanyai ibu makan, saking sibuknya memikirkan masalah ini. Kasihan ibu, kak Sarah benar-benar tega.

"Maaf dokter saya juga kaget sebenarnya dengan yang di alami beliau, sebetulnya saya juga baru tau kalau ibu belum makan, sebab pagi tadi saya baru sampai di rumah setelah 3 tahun merantau." ucapku pelan, merasa sangat kalut.

"Apakah ibu anda tinggal seorang diri, di rumah selama ini?"

Aku menggeleng. "Tidak, Dok, ibu tinggal bersama kakak saya dan suaminya." jawabku menanggapi pertanyaan dokter.

"Apakah selama ini ibu anda mengalami kekerasan?"

"Sepertinya iya, Dok." jawabku singkat.

"Baiklah saya paham. Ibu anda sepertinya harus dirawat beberapa hari di sini agar kondisinya membaik dan untuk luka biru-birunya saya bisa bantu untuk melakukan visum."

Oh ya aku baru ingat, ini bisa dijadikan bukti kalau suatu saat dibutuhkan. Aku pun mengangguk setuju, setelah semua selesai aku pamit ijin keluar ruangan hendak mengurus administrasi ibu.

****

Ceklek! Kubuka pintu ruang rawat ibu, kudekati tubuh beliau masih terbaring lemah di ranjang.

"Ibu maafkan, Iren, ternyata selama ini ibu begitu menderita." kuciumi tangan keriput yang selama ini telah merawatkau dengan tulus. Aku tak bisa untuk tidak menangis, rasanya masih tak percaya, ternyata aku selama ini sudah menitipkan ibu pada orang yang salah.

Aku tertunduk lesu, membayangkan setiap hari ibu harus mengalami penyiksaan. Terbukti dengan luka lebam yang dimiliki ibu menandakan betapa sadisnya mereka semua. Saat aku larut dengan pikiran yang berkecamuk di otakku, tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh kepala ini.

"Iren, kamu kenapa, Nduk? Dan ibu di mana ini?" Ibu akhirnya sadar, alhmdulilah aku senang sekali.

"Iren sedih melihat ibu seperti ini, tapi sekarang ibu tenang saja ya, kita sudah berada di rumah sakit, ibu akan segera sembuh dan nanti kita akan memulai kehidupan kita yang baru." ucapku kepada ibu penuh semangat.

Ibu menggelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca.

"Ibu ndak ingin kemana-mana, Nduk , ibu ingin tetap tinggal di rumah peninggalan bapakmu, hanya itu kenangan yang ibu miliki bersama bapakmu." bahu ibu terguncang, matanya sudah menganak sungai, terlihat begitu rapuh.

Ah, andai ibu tahu aku pun tidak ingin pergi dari sana. Tapi tempat itu berbahaya untuk keselamatannya saat ini.

"Ibu tenang ya, jangan terlalu berfikir macam-macam. Soal rumah itu akan tetap menjadi milik ibu" ungkapnya berusaha menenangkan ibu.

Setelah kusuapi makan dengan lahap, akhirnya ibu mau beristirahat kembali.

"Bu, Iren pamit sebentar ya mau mencari keperluan yang tidak Iren bawa dari rumah" pamitku beralasan kepada ibu.

"Ibu takut, Nduk, sendirian di sini" ibu mungkin trauma dengan kejadian yang menimpanya di rumah.

"Ada suster di sini yang akan menemani ibu selama Iren di luar

." aku berusaha membujuk ibu agar beliau mau di tinggal.

Kemudian beliau menganggukkan kepala tanda setuju.

"Assalamualaikum, Bu." kusalami tangan ibu dengan takzim.

" Walaikumsalam. Hati-hati ya, Nduk"

Aku mengangguk dan melangkah keluar dari kamar inap ibu.

Sebenarnya aku berbohong kepada ibu perihal ingin membeli keperluan di luar. Tujuan utamaku adalah rumah. Aku harus segera mencari tahu rahasia besar ibu dan kak Sarah.

Taxy yang kutumpangi membelah jalanan. Tampak lenggang karna ini adalah jam kerja, jadi tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang.

Setelah menempuh perjalan kurang lebih 20 menit akhirnya aku sampai juga. Sengaja menyuruh pak sopir untuk berhenti agak jauh dari rumah, supaya baik kak Sarah maupun Toni tak mengetahui kepulanganku.

Aku juga sengaja lewat pintu belakang, karna ada sesuatu yang harus aku selidiki. Mataku celingukan menatap sekeliling dapur, kosong, tidak ada siapa pun di sini. Kemudian aku melangkah hendak menuju kamar yang di tempati ibu, namun tiba-tiba saat melewati kamar kak Sarah, aku mendengar seperti orang sedang berbincang.

"Sarah, kenapa bisa tiba-tiba Iren kembali? Kalau begini caranya kita tidak akan mendapat transferan lagi dong!"

"Mana aku tahu mas, lagian dia juga tidak ada mengabariku perihal kepulangannya ke rumah."

"Pokoknya aku tidak mau tau, semua kebutuhanku harus tetap kau penuhi!"

"Tapi mas aku sudah tidak bisa berkerja lagi, kamu tahu'kan kalau selama ini yang mengasuh anak-anak itu ibu, dan sekarang tidak mungkin lagi, sebab Iren pasti akan menghalangi ibu untuk mengurus mereka."

"Bodoh! Kau bisa gunakan kelemahan ibu sebagai senjata untuk mengancamnya!"

"Tapi, Mas, kalau ibu Sampai tahu kita sudah membohonginya perihal rumah ini, bisa gawat!"

"Heh! Sudah kubilang jangan bahas masalah ini sembarangan, kalau ada yang mendengar akan kacau!"

Aku yang penasaran dengan obrolan mereka akhirnya berhenti menguping tepat di depan pintu kamar kak Sarah. Tidak lupa kurekam semuanya, siapa tahu nanti bisa kujadikan bukti juga.

"Tidak akan ada yang mendengar, kamu tenang saja, mas, si Iren sedang di rumah sakit bersama ibu, jadi kita aman

"

"Bagus! Sepertinya Ibu dan adikmu sama-sama bodoh, apalagi ibu tirimu itu begitu mudah di perdaya, tinggal bilang kalau rumah ini di jadikan jaminan pinjaman kepada rentenir saja sudah percaya, padahal'kan selama ini uang yang dikirim oleh Iren lebih dari cukup bahkan aku bisa mengumpulkan untuk membeli mobil." ucap Toni panjang lebar.

Tanganku mengepal, dadaku bergemuruh dengan hebat mendengar penuturannya. Bisanya-bisanya mereka memanfaatkan kebaikanku dan ibu, dasar manusia tidak tahu diri!

Klik! Rekaman berhasil kudapatkan, akanku simpan ini sebagai bukti kejahatan mereka.

Sebelum aku ketahuan karena telah menguping, lebih baik segera pergi dari tempat ini. Saat aku hendak melangkah pergi sialnya menyenggol vas bunga yang terletak di pinggir samping pintu kamar kak Sarah.

Prak! Pyar!

"Siapa di luar?" teriak kak Sarah.

Terdengar juga suara kaki melangkah, aku bingung harus bagaimana, mana tidak ada tempat bersembunyi lagi. Aku menoleh kesana kemari.

Ceklek! Pintu kamar kak Sarah dibuka, dia menyebulkan tubuhnya keluar.

Aku bernafas lega, tadi saat pintu kamar sudah mau dibuka, aku secepat kilat berlari ke arah dinding pembatas yang menghubungkan kamar kak Sarah dan ruang keluarga.

"Huft selamat." lirihku nyaris tak terdengar.

"Nadin apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?" bentak kak Sarah ke anak pertamanya yang bernama Nadin, usianya kini 6 tahun selisih 2 tahun dengan anak keduanya yang berusia 4 tahun, namanya Danu, ketika bocah itu lahir disitulah Toni berulah dan mereka bercerai.

Kebetulan saat tadi aku bersembunyi, kulihat Nadin berjalan kevarah kamar ibunya. Jadi waktu kak Sarah buka pintu sudah ada Nadin di depan sana.

"Nadin lapar, Bu, dari tadi belum makan." bocah kecil itu justru mengeluh lapar saat dimarahi ibunya. Kasihan pastilah kak Sarah tidak mengurusnya.

"Ayo Bu ambilin Nadin makan." Nadin menarik narik baju ibunya.

"Argh! Tunggu di kamar, ibu pesankan dulu makanan."

"Hore!" teriak Nadin kegirangan.

"Gara-gara nenek tua itu aku harus repot mengurus anak! Sial!"

Aku tersenyum sinis mendengar kekesalan kak Sarah. Kalau dia tidak mau di repotkan urusan anak, kenapa juga dulu mau di kekepin Toni. Sampai anaknya dua lagi, eh giliran mengasuhnya saja dia menyuruh ibu. Dasar manusia aneh!

Aku berjingkat pelan menuju pintu belakang. Sebelum pergi aku memastikan terlebih dahulu tidak ada orang.

"Aman." aku lalu melangkahkan kaki cepat ke:arah taxy yang sudah menunggu tidak jauh dari rumah.

"Huft akhirnya." ucapku lega

****

Sebelum kembali ke rumah sakit aku mampir dulu membelikan makanan kesukaan ibu. Soto babat menjadi incaranku.

Selama di perjalanan pikiranku berkecamuk, aku ingat kata-kata Toni tadi, yang menyebutkan kata 'ibu tirimu' siapa yang dia maksud?. Apakah ibu? Tapi setauku kak Sarah adalah anak pertama ibu dan ayah. Lalu siapa yang di maksud ibu tiri oleh Toni?

Bersambung,,,,,

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.