Hubungan Penuh Gairah

Seketika Yuna merasa ragu, tapi Zink sudah telanjur melihatnya sehingga Yuna mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Zinx..

"Bolehkah aku masuk?" tanya Yuna.

Zinx langsung menarik tangan Yuna, tanpa basa-basi ia memeluk Yuna dan perlahan terdengar suara Isak tangis Zinx.

"Kenapa kamu memilih mengakhiri hidupmu, bukankah aku berkali-kali menawarkan diri. Manfaatkan aku gunakan aku untuk membalaskan penghianatan, karena aku sama sekali tidak keberatan," ucap Zinx suara beratnya terdengar sendu dan menyedihkan.

Mereka sama-sama mabuk tapi ucapan Zinx menyentuh hati Yuna, meski Yuna tidak mengerti maksud dari ucapan Zinx tapi  kata-kata Zinx seolah-olah di tunjukan kepadanya.

Yuna melepaskan pelukan Zinx lalu menatap mata Zinx yang basah telihat jelas bola mata itu memancarkan kepedihan yang mendalam.

"Siapa yang membuat senior menangis?" tanya Yuna sembari menyeka air mata Zinx.

Tatapan bola mata yang kendur membuat Yuna merasa sedih, seorang yang di idolakannya sekaligus penyelamat hidupnya terlihat begitu terluka.

Belaian lembut dari tangan Yuna, memberikan kenyamanan untuk Zinx. Yuna menyeka airmata Zinx tapi Zinx meraih tangan Yuna lalu menciuminya.

"Aku ingin bersamamu, tolong jangan pergi," ucap Zinx memelas.

Lelaki yang selalu terlihat karismatik di manapun ia berada, kini menunjukkan sikap lemahnya kepada Yuna. Ia benar-benar tidak berdaya.

Seketika tatapan berubah, seperti anak anjing yang meminta majikanya untuk di sayang.Tapi saat Yuna melepaskannya Zinx kembali menraih tangan Yuna lalu mengecupnya dengan penuh kasih, bahkan Zinx terus menatap Yuna dengan memelas.

"Aku mohon, jangan tinggalkan aku," ucap Zinx.

Wajah Zinx yang sangat merah mendadakan bahwa ia sedang di bawah pengaruh alkohol sehingga menunjukkan sisi lemahnya kepada Yuna.

"Kenapa kamu begitu sedih? Kamu adalah idolaku selama bertahun-tahun saat melihat kamu seperti ini hatiku terasa pilu," ujar Yuna.

Yuna sangat mengagumi Zinx bahkan setelah tahu Zinx penyelamatnya, rasa kagum itu semakin besar.

Zinx mengarahkan tangan Yuna dan menempelkan keadaannya, karena hanya terhalang oleh daging dan kulit detak jantung Zinx begitu terasa.

"Disini sakit, apa kamu bisa menyembuhkannya?" tanya Zinx dengan tatapan penuh luka.

"Bagaimana caranya?" tanya Yuna menatap Zinx.

"Bantu aku melupakan rasa sakit ini, meski hanya sementara. Biarkan aku bernafas lega, lakukan apapun aku akan menerimanya asalkan aku bisa tertidur pulas," pinta Zinx dengan memelas.

Perlahan Yuna menempelkan bibirnya ke bibir Zinx, terasa lembut dan manis dan tercium aroma alkohol dari nafasnya.

"Apa seperti ini?" tanya Yuna.

Saat Yuna mengecup bibir Zinx, butiran bening mengalir membasahi pipi. Entah seberapa besar luka yang di rasakan Zinx, sehingga membuatnya begitu tersiksa.

"Hanya untuk malam ini, akan aku terima apapun yang akan senior lakukan untukku," ucap lirih Yuna.

Cup

Tanpa di duga Zinx memegang belakang kepala Yuna lalu melumat bibir Yuna dengan penuh gairah.

'Benar seperti dia, aku juga ingin melupakan rasa sakit itu meski hanya sementara ataupun semeni. Meski hanya beberapa detik aku akan melakukan apa saja agar bisa bernafas untuk hidup,' batin Yuna.

Perlahan Zinx menuntun langkah Yuna ke kasur karena terpojok Yuna akhirnya terduduk di atas kasur.

Brugh

Yuna mendongak dan menatap Zinx yang saat itu wajahnya sudah sangat merah, tatapan Zinx membuat Yuna hanyut dalam gairah.

Yuna memegang celana yang tercangking di pinggang Zinx dan perlahan ia melepaskan kancing tersebut sehingga meluncur ke lantai.

Ia begitu berani tidak sadar bahwa perbuatan Yuna seolah-olah menyatakan bahwa ia tidak akan menolak apapun yang Zinx lakukan kepadanya.

Zinx menarik ujung dagu Yuna kemudian melumat bibir tipis yuna dengan penuh gairah Yuna mengalungkan tangannya di leher Zinx.

'Aku tahu setelah ini selesai kami akan kembali kepada sedia kala, tapi aku untuk saat ini tidak akan perduli,' batin Yuna.

Zinx merebahkan tubuh Yuna lalu melepaskan retseleting gaun Yuna . Kini tubuh Yuna hanya tertutup kain transparan yang menutupi daerah sensitifnya, terlihat kaki mulus yang jenjang di balik setokin berwarna hitam tipis memberikan kesan sensual. Zinx yang sudah bergairah tidak bisa berhenti ia membelai tubuh Yuna sejenkal demi sejengkal dengan lidah nakalnya.

"Enggg ..."

"Disana kotor ..." ucap lirih Yuna dengan menutup wajahnya karena malu.

"Aku tidak perduli, jadi biarkan aku membasahinya sebelum kita melakukan," ucap Zinx, menatap tajam Yuna dari bawah sana.

Zinx melepaskan setokin dan pakaian dalam Yunna, kini tubuh putih mulus itu terpampang jelas di hadapan Zinx, wajah Yuna yang tersipu malu membuat Zinx semakin tertantang.

"Ah ..."

"Hentikan, langsung saja kita lakukan," ajak Yuna yang tidak tahan saat lidah Zinx mengacak-acak bagian dalam sensitif milik Yuna.

Zinx menunjukan miliknya yang sudah berdiri tegak, seketika Yuna menelan ludahnya ia tertohok melihat milik Zinx.

"Aku akan berhenti, jika kamu tidak menginginkannya," ucap lirih Zink, menatap Yuna dengan dalam.

'Jahat, mana mungkin sudah seperti ini aku akan menolaknya,' batin Yuna.

Perlahan ia menodongkannya ke milik Yuna lalu mendorongnya menerobos masuk, membuat Yuna merasa sakit di awal.

"Engggh ..."

Suara yang erangan yang nakal lolos begitu saja dari bibir tipis Yuna, milik Zinx yang besar membuat Yuna meremas seprai dengan kuat-kuat untuk menahan rasa sakit yang di rasakannya di antara kedua s3langk4ngannya.

Zink mengecup kening Yuna, membuat Yuna membuka mata karena terkejut. Ia melihat Zinx di atas tubuhnya dengan mengigit bibir bawahnya.

"Lakukanlah perlahan ..." ucap lirih Yuna.

Mereka telah menjadi satu, larut di di atas ranjang panas. Yuna yang terus mendesah dengan penuh kenikmatan membuat Zinx semakin tertantang.

"Ah ..."

"Ah ..."

Zinx terus membelai setiap jengkal tubuh Yuna dengan lidah dan bibirnya, jelas membuat Yuna semakin menggila mengerang di bawah tubuhnya.

"Ah, tolong pelan-pelan," pinta Yuna memelas.

Laki-laki bertubuh kekar itu terus memeluk Yuna, sembari menggerakkan pinggulnya dengan cepat.

Kini pikiran Yuna benar-benar kosong hanya ada wajah Zinx yang terbesit di dalam pikirannya dan debaran jantung yang membuatnya semakin liar.

Ah ...

Yuna tidak bisa bohong bahwa ia juga menikmatinya, sentuhan tangan Zinx membuat Yuna merasa gila di bawah kekungan Zinx.

Nafas yang memburu seolah-olah membelai daun telinga Yuna, membuatnya kehilangan akal untuk berpikir.

Mereka saling terpaut satu sama lain, seolah-olah mereka adalah pasangan yang sedang kasmaran.

Mereka benar-benar larut dalam gairah ranjang yang panas, malam itu begitu nikmat membuat keduanya melupakan perasaan yang menyiksa meski hanya sementara.

Yuna tidak perduli apa yang akan terjadi esok, yang pasti untuk saat ini ia tidak ingin mengingat seseorang yan telah memberinya luka selama beberapa tahun ini.

_____&&&&____

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.