His Darling Debtor

Clara memperhatikan sekeliling dan terkejut melihat Tuan Blackwell berbaring di sampingnya. Keinginannya untuk tak membiarkan rasa kantuk menguasai kini berubah menjadi penyesalan. Rasa kesal menyelinap, kelengahannya sudah membawa mereka berdua ke ranjang yang sama.

Saat Clara hendak turun dari ranjang, tiba-tiba tangannya dicekal oleh Tuan Blackwell yang terbangun oleh gerakannya. Meskipun Clara berusaha melepaskan diri, pemberontakannya tak berarti apa-apa bagi Tuan Blackwell yang memegang erat tangannya.

Tuan Blackwell melempar pandangan singkat pada jam digital di nakas sampingnya, lalu berkata, "Jam tujuh pagi, dan masih terlalu dini untukmu melanjutkan permainan kekuasaan."

"Apa yang kau bicarakan? Lepaskan tanganku!" geram Clara.

Tuan Blackwell menyeringai, mengejek, "Kau kira bisa lari ke mana? Apa ingin melompat dari gedung ini lagi? Kematianmu takkan berpengaruh pada hidupku."

Dengan mata berapi-api, Clara menantang, "Aku tahu bahwa kau memiliki kekuasaan dan bisa melakukan apa saja, tapi ada satu hal yang takkan pernah kau kuasai, yaitu diriku. Lebih baik mati ketimbang berurusan dengan orang licik sepertimu!"

Melalui kata-kata tajam itu, Clara sudah membawa suasana ketegangan yang mendalam di antara mereka. Tuan Blackwell tak pernah menikmati waktu bangun di pagi hari dengan cara menjengkelkan begini.

"Air kolam tak mampu menjernihkan pikiranmu rupanya," sergah Tuan Blackwell dengan dingin.

Suasana ketegangan semakin kental, sorot mata yang saling bertentangan itu kembali menyapa. Tuan Blackwell bangkit, lalu menarik Clara hingga tubuh mereka saling bertubrukan. Cengkeraman kekuasaan semakin dirasakan oleh Clara saat Tuan Blackwell tak membiarkannya lepas dari kedekatan yang memaksa itu.

Tuan Blackwell membawa jemarinya menyentuh kancing kemeja Clara, mencoba melepaskannya. Sebelum peristiwa tersebut berlangsung, Clara lebih dulu melayangkan tangannya, hendak menampar pria kurang ajar yang berniat menyentuh tubuhnya. Namun, tamparan itu tak berhasil karena Tuan Blackwell dengan sigap menahan tangan Clara. Matanya melirik sejenak ke tangan yang berada dekat di pipinya, lalu dia mengulas senyuman jail.

Tuan Blackwell mengendus telapak tangan itu dan menciumnya dengan tiba-tiba, aksi yang memicu rasa jijik dalam diri Clara. Sentuhan Tuan Blackwell melebihi batasan fisik, psikologinya seperti dipermainkan. Clara bisa merasakan ikatan yang mengancam jika dia tak segera melarikan diri dari impitan keintiman.

"Kau terpancing hanya dengan ciuman kecil di tanganmu, tubuhmu terasa hangat." Tuan Blackwell tersenyum dengan pandangan merayu, kemudian membawa ciumannya dengan lembut meluncur ke lengan dalam Clara.

Tuan Blackwell menikmati perannya sebagai seorang predator, merasakan kepuasan saat memperkuat dominasinya. Di sisi lain, Clara tak memunculkan reaksi karena pandangannya perlahan meredup. Tuan Blackwell merasakan tubuh Clara memberat, seketika menghentikan langkah merayunya.

Dahi Tuan Blackwell mengerut saat pandangannya mengamati Clara yang terkulai di pelukannya. "Nona Whitmore," panggilnya, tapi Clara tak memberi respons, cukup untuk membuat keraguan merayap di pikirannya. "Kau tak pura-pura pingsan untuk menghindari takdirmu, bukan?"

Tuan Blackwell menghela napas panjang dan berkata kembali, "Richard, putrimu selain keras kepala, ternyata juga sangat merepotkan."

Tuan Blackwell membaringkan Clara, lalu langkah yang menyiratkan kekhawatiran serta suara berbincang di telepon memenuhi kamar tersebut. Dokter Ezra Monroe akan segera datang ke penthouse dan memeriksa kondisi Clara.

***

Dengan helaan napas terakhir yang masih bergema di ruangan, Dr. Monroe mengakhiri pemeriksaannya. Dia menyimpan stetoskop, lalu berjalan keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata. Tuan Blackwell yang mengawasi jalannya pemeriksaan pun menyusul kepergian sang dokter.

Dr. Monroe tak ingin mengganggu pasiennya, memilih untuk bicara di luar. Dia menunggu Tuan Blackwell dengan penuh kesabaran, saat teman baiknya itu sudah berdiri di depannya, baru dia mau buka suara.

"Kau membuatku bergegas kemari hanya untuk kondisi pasien yang terkena demam. Aku akan meresepkan obat untuknya agar suhu tubuhnya turun. Pastikan wanitamu tak dehidrasi dan biarkan dia istirahat yang cukup," ucap Dr. Monroe dengan penuh dedikasi.

Tuan Blackwell mengangguk. "Aku memahaminya," jawabnya, suaranya masih terdengar tak tenang.

Di tengah keheningan yang mengisi ruangan, Dr. Monroe memilih untuk membuka percakapan lain, "Apa Nona Whitmore pingsan di tengah-tengah bercinta sampai kau merasa gelisah begitu?"

"Tak sepenuhnya benar dan juga tak sepenuhnya salah. Aku memang berniat bercinta dengannya, sebelum dia akhirnya pingsan," ungkap Tuan Blackwell, campuran antara pengakuan dan ironi.

Dr. Monroe berusaha menahan tawa, tapi dia kesulitan sehingga akhirnya meledak.

"Apanya yang lucu?" Tuan Blackwell tampak tak setuju dengan reaksi itu.

Dr. Monroe masih mencoba menahan tawa, mengusap ekor mata yang basah. Dengan senyum jenaka, dia berkomentar ringan, "Tak kusangka ada wanita yang terserang demam saat berhadapan denganmu."

Tuan Blackwell berdecak, kedua tangannya berpegang pada pinggang dengan ekspresi berat. "Ini karena kejadian semalam, dia berpikir untuk meloncat dari gedung ini karena tak ingin menjadi gundikku. Aku berusaha menjernihkan pikirannya dengan melemparkannya ke kolam renang."

Dr. Monroe menyimak dengan serius, merenung sejenak sebelum berkata, "Melempar seorang wanita ke kolam renang bukan sikap yang baik, Dae. Tapi aku menyetujuinya jika kau melakukan itu untuk menghentikan percobaan bunuh diri. Kau tahu, di rumah sakit pun disediakan obat penenang seperti antipsikotik untuk mengurangi gejala perlawanan atau kegelisahan."

Ekspresi wajah Dr. Monroe berubah menjadi keheranan saat menambahkan, "Tapi ... kau ingin menjadikannya gundikmu?"

Tuan Blackwell beralih duduk di sofa, menyulut sebatang rokok dengan gerakan terampil. Dia memangku kaki dan bersandar, matanya memandangi meja kopi seperti mencari jawaban di permukaan kayu itu.

"Ayahnya mencuri dariku, tak tahu sampai saat ini bersembunyi di mana. Aku membawanya untuk membayar utang ayahnya."

Dr. Monroe merasa pembicaraan mereka akan panjang dan serius, jadi dia ikut pula duduk. "Kekejamanmu sungguh mendarah daging," ucapnya, sangat memahami karakter temannya.

Tuan Blackwell mengembuskan asap rokoknya. "Aku memiliki alasan."

"Tetap saja kejam," desis Dr. Monroe. "Ngomong-ngomong, kau tak memikirkan tingkat frustrasi seseorang saat berada dalam posisi tanpa harapan? Wanita itu bisa saja menjadi dampak bagimu, aku rasa menawannya di penthouse-mu bukanlah langkah yang bagus."

"Kau mengkhawatirkanku?"

"Ada tiga poin kenapa aku berkata begitu padamu. Pertama, karena kau adalah pasienku yang selalu datang di saat tak terduga. Kedua, karena kekayaanmu adalah fondasi bagi rumah sakit tempat di mana aku bekerja. Dan yang ketiga, karena aku tak ingin kehilangan pekerjaanku jika rumah sakit berhenti beroperasi. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri."

"Kedengarannya tak seperti itu."

Dr. Monroe menghela napas, merasakan beban moral di kedua bahunya. Dengan terpaksa, dia berkata, "Baiklah, aku mengkhawatirkanmu. Apa kau puas?" ucapnya enggan.

Tuan Blackwell menyeringai akan kejujuran Dr. Monroe. Dia mematikan api rokoknya dan dengan tenang meletakkan kedua tangan di paha. "Dia takkan berani melakukannya."

"Seperti kataku tadi, seseorang yang berada dalam posisi tanpa harapan bisa melakukan apa saja untuk keluar dari masalahnya. Kau harus memperhatikan hal itu, Dae," kata Dr. Monroe memberikan nasihat. "Aku tak ingin kehilangan teman sepertimu."

Pandangan mata Tuan Blackwell tak sengaja menemukan Clara yang berdiri dalam keraguan di anak tangga. "Dia memilih kematian daripada menjadi gundikku, itu sudah cukup membuktikan kelemahan dan ketidakmampuannya," gumamnya, kemudian dengan langkah mantap melintasi ruangan menuju posisi Clara.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.