Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya

Ella masih berbaring malas-malasan di kasurnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit. Hari Minggu, satu-satunya hari yang bisa membebaskannya dari kerja rodi suruhan senior-senior laknat di kantor.

Sebetulnya hari Sabtu pun libur, tapi hari itu akan ia gunakan untuk menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan kantor yang menumpuk. Jadi ia tak akan merasa bersalah jika bangun siang di Minggunya.

Pagi itu ia ada janji dengan William, bukan untuk pergi kemana-mana, hanya sekedar menghabiskan waktu bersama bersantai dirumah Ella. Sarapan bersama, menonton film, olahraga pagi bersama, atau sekedar rebahan dikasur Ella sambil sibuk dengan ponsel masing-masing.

Hari Minggu Ella hanya untuk William. Vice Versa.

Biasanya lelaki itu sudah mendusel Ella yang masih tertidur, atau tiba-tiba sudah ikutan tidur lagi di kasur Ella. Tapi meskipun matahari sudah beranjak naik, William tak muncul juga.

Ella akhirnya beranjak, segera memesan beberapa makanan yang sudah William request beberapa hari lalu.

Dua porsi tonkatsu dan tiga porsi mie udon favorit William dari restoran Jepang dekat rumahnya, serta satu bucket besar chicken drumsticks saus keju dari restoran ayam goreng favorit Ella. Persetan dengan dietnya, ia hanya ingin makan puas bersama William dan melupakan keluh kesahnya belakangan ini.

Namun bahkan hingga semua orderan sudah datang pun, William belum juga menampakkan batang hidungnya.

Dihubunginya nomor William, tak dijawab. Dikiriminya pesan berkali-kali, tak dibalas. Ella kesal, waktu sudah mulai masuk tengah hari, mie udon yang ia pesan bahkan sudah sangat mengembang.

"William, kamu kemana sih?"

---

"Will, nanti kalo pulang aku mau boneka yang itu," kata perempuan berperawakan tinggi dengan nada suara dibuat-buat supaya terdengar imut, Camelia.

Ia menunjuk ke arah boneka super besar berukuran satu meter yang didisplay di salah satu toko.

"Oke. Oiya, kamu mau makan apa, sayang?"

Ya, William dan Camelia akhirnya resmi berpacaran. Untuk merayakannya, Camelia pun mengajak William menonton film di bioskop sekaligus berbelanja.

Lelaki bodoh itu tak keberatan menghabiskan uangnya untuk Camelia, padahal jelas-jelas perempuan itu tengah memanfaatkannya terang-terangan.

"Pengen makan di restoran Jepang nih, nanti abis nonton kita ke Maragame yuk? Aku pengen banget udon, Will."

"Oke kalo gitu nanti ki-" Ucapan William terhenti saat otaknya me-recall sesuatu yang nampaknya familiar-Udon. Ya, janjinya dengan Ella.

"Oh Shit"

Lelaki itu terdiam selama lima detik, kemudian mencari-cari ponselnya dengan tergesa.

"Sayang, kamu bawa ponselku ya?" tanya William pada Camelia yang langsung disambut raut muka masam.

"Kenapa memangnya?"

"Aku lupa ngabarin Ella kalo kita mau jalan hari ini, padahal kemarin aku terlanjur janji sama Ella mau ketemuan." William panik, sedangkan Camelia dibuat cemburu oleh kalimat William barusan. Ia lantas memberikan ponsel William yang penuh dengan notifikasi panggilan dan chat dari Ella.

"Oh shit." William mengutuk dirinya sendiri lagi saat melihat riwayat pesan dari Ella. Ia langsung menelepon Ella berkali-kali, tak ada jawaban.

Wanita itu mungkin sudah murka sekarang, apalagi dia belum bercerita kalau akhirnya resmi berpacaran dengan Camelia.

"Kita bisa pulang sekarang? Nontonnya lain kali aja gimana? Hm?" tawar William pada Camelia yang jelas-jelas sedang merajuk.

"Pacar kamu itu dia atau aku?"

"Ya kamu, tapi aku lupa ngabarin Ella, sayang. Aku nggak mau dia nunggu."

William memohon pada pacar satu harinya itu, perempuan itu lantas menatap William dengan raut muka menyedihkan. Tangannya meraih lengan William dan mengusapnya lembut, tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar.

"Tapi ini date pertama kita, William sayang."

Ah sial, pertahanan William runtuh juga. Lelaki itu akhirnya mengiyakan tawaran Camelia dengan syarat untuk langsung pulang begitu film selesai, perempuan itu pun setuju.

William tak sadar jika sejak awal Camelia memang sengaja membawa ponselnya, sengaja tak memberitahu William bahwa Ella berkali-kali menghubunginya.

Bahkan Camelia sengaja memilih hari Minggu untuk mengajak William berkencan, karena ia tahu hari Minggu ini William ada janji dengan Ella.

Melihat cara William memperlakukan Ella, membuat Camelia semakin yakin untuk menghancurkan hubungan keduanya.

William pun kalah, ia mengecup lembut bibir wanita itu, Camelia pun tersenyum puas.

"Maafin aku ya, sayang," ucap William.

---

"Ella...?" teriak William yang sudah menyelonong masuk begitu saja ke rumah Ella usai pulang dari berkencan.

Tapi tak dijumpainya sosok perempuan itu, padahal jelas-jelas mobilnya masih terparkir di garasi, tanda si empunya memang berada di rumah.

Meja ruang tamu penuh dengan makanan pesanan Ella yang sudah terlihat berantakan. Dua mangkok kosong bekas wadah mie udon, dua kaleng americano canned yang sudah diremukkan, satu gelas besar pepsi yang tinggal separuh, dan lain-lain.

William pun segera berlari ke kamar mandi di dalam kamar Ella, seakan tahu apa yang tengah terjadi.

Dilihatnya perempuan itu terduduk lemas di lantai yang basah, bersandar pada kloset duduk dan menengadahkan kepalanya.

"Ella, oh God... Ella..." William langsung berlutut mengguncang Ella yang matanya terpejam, paniknya tak tertahan. Dilihatnya wajah dan urat leher Ella yang memerah, tanda perempuan itu baru saja memuntahkan isi perutnya.

Ella membuka mata, senyum mengembang di bibirnya, miris sekali.

"Oh, William. Sorry, nggak denger," ucapnya pelan.

"Aku bersih-bersih dulu, boleh minta tolong ambilin baju ganti?" lanjutnya, disambut tatapan tak tega dari William yang geming untuk meninggalkannya.

"Aku nggak papa, beneran." William pun mengangguk dan segera keluar dari kamar mandi, membiarkan perempuan itu membersihkan diri selagi ia duduk di ujung kasur milik Ella.

Sepuluh menit berselang, pintu kamar mandi akhirnya sedikit terbuka. Ella menyodorkan tangan kanannya keluar, bermaksud meminta baju ganti yang diambilkan William.

"Ganti di sini aja nggak papa," ucap William, bodoh.

"We're not child anymore, Will. Just pass it to me." William akhirnya bangun dan menyodorkan baju yang ia pilih, satu set kaos santai lengan pendek lengkap dengan shortnya berwarna hitam.

"Wait, where's the underwear?" teriak Ella dari dalam kamar mandi.

"Huh? I... I can't, Ella, aku kan malu." William membalas teriakan Ella yang mempertanyakan underwearnya.

"Ngambil undies aku aja malu, kenapa sosoan nyuruh aku ganti baju di depan dia?" batin perempuan itu.

Senyum Ella melebar, gemas dengan ucapan William barusan.

Lelaki itu langsung menghambur memeluk Ella yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rasa bersalah benar-benar menyeruak di dadanya.

"Maafin aku..." ucap William yang ketiga kali.

Ella melepaskan pelukan itu dengan pelan, dan melewati lelaki itu begitu saja. Ia merebahkan diri di kasur, perutnya rasanya lega meskipun masih sedikit terasa perih. Tapi energinya benar-benar terkuras habis usai memuntahkan dua porsi udon dari lambungnya.

"Siapa suruh kamu makan udon dua mangkok, Ella? Kamu bahkan nggak suka mie." Kini lelaki itu mengomel, sambil memposisikan diri duduk di pinggir ranjang.

"Jangan bilang dua kaleng kopi itu kamu juga yang habisin!?"

"Terus kalau bukan aku siapa? hantu?"

"Beneran? Astaga, perut kamu kan nggak kuat, Ella. Udah tau harus jaga makan, kenapa malah minum kopi sembarangan gini sih? Pesen pepsi juga kan? Kalo ka-"

"William, peluk" Ucapan Ella sontak membungkam mulut William. Lelaki itu seketika sadar bahwa apa yang terjadi tak lepas dari kesalahannya.

William menghela nafas kasar, ia rebahkan dirinya di sandaran kasur Ella, yang langsung disambut pelukan hangat perempuan itu.

Untuk sesaat Ella sadar bahwa ini salah, tak seharusnya ia nyaman di sisi lelaki itu. Tapi ia sudah terlanjur memberikan ruang terbesar di hatinya untuk William.

Ella ingin sekali menjelaskan perasaan anehnya pada William, tapi ia bahkan masih berstatus sebagai pacar Jian. Ella ingin sekali memberanikan diri satu kali saja, sebelum semuanya semakin rumit.

"Maafin aku, ya. Kamu nggak nanya aku kemana aja?" tanya William sambil mengusap rambut Ella pelan, Ella pun hanya menggeleng dalam peluknya.

"Aku, mmm.. jalan sama Camelia." Hati Ella mencelos mendengar kalimat William.

"Are you two already official?" tanya Ella dengan sedikit tercekat.

"Iya, kemarin."

"Fuck" Ella memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia bersumpah, ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Lidahnya kelu, tapi tak mau mengakui kalau ia tengah cemburu. Tak tahu pula sampai kapan ia bisa memendam perasaan anehnya itu.

Peluknya merenggang, sampai akhirnya ia lepaskan, Ella berpaling dan tidur membelakangi William.

"Ah, so sleepy. Aku mau tidur siang, Will. Don't disturb me," dustanya.

----

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.