Pesta ulang tahun perusahaan Derson Group di Jakarta sangat ramai di hadiri oleh para kolega bisnis, karyawan perusahaan, maupun artis-artis dan politisi. Banyak orang terkenal bahkan pejabat tinggi yang ada di acara itu, acara itu juga menjadi ajang bagi Zyan memperkenalkan Harlein dengan pria-pria tampan dengan segudang kelebihan mereka. Baik dari artis, politisi muda, anak mentri, bahkan CEO muda, tapi Harlein tidak tertarik. Pikirannya hanya tertuju di satu tempat yaitu , kamar. Dia sungguh lelah dan merasa harus beristirahat.
"Ayah aku lapar," kata Harlein membuat Axcel adiknya tertawa.
"Ya sudah kalian pergilah makan, ayah akan menyapa beberapa tamu lainnya."
Harlein dan Axcel tersenyum lebar lalu segera mengisi perut mereka lalu setelahnya berniat langsung kembali ke rumah besar Derson. Tempat seluruh keluarga menginap jika sudah berada di Jakarta.
Saat mengambil makanan Harlein bersiap untuk mencari tempat duduk namun sialnya dia menabrak tubuh seseorang mengakibatkan isi piringnya mengenai kemeja yang dikenakan pria itu.
"Ups sorry," katanya lalu Axcel segera memberikan tisu yang sedang dia pegang. Harlein ingin membantu membersihkan noda di pakaian pria itu namun pria itu tidak mengijinkan dirinya menyentuh sama sekali.
"Tidak apa-apa. Saya bisa membersihkannya," ujar pria itu menatap Harlein dan pandangan teduh dengan mata tajam Angga berhasil membuat Harlein terpaku.
"Permisi," katanya lagi membuat Harlein tersadar. Dia terus mengamati punggung tubuh tegap yang menghilang dari pandangannya itu.
"Kak kau jadi makan atau tidak ?"
"Hah !"
"Ck, makanan mu sudah tumpah. Jadi makan atau tidak ?" tanya Axcel kesal.
"Axcel apa kau kenal pria itu ?" pertanyaan Harlein membuat Axcel menghela napas, bagaimana mungkin dia tahu siapa pemuda itu jelas-jelas dia selalu bersama Harlein sedari tadi.
Harlein mengambil posisi duduk di meja bundar tempat dimana beberapa sepupunya duduk, lalu dia memperhatikan sosok pria yang tadi. Harlein tersenyum begitu saja saat melihat wajah pria itu, kemejanya masih terlihat terkena noda membuat Harlein merasa bersalah.
Memainkan gitar dan terkadang ikut mengisi suara untuk bernyanyi benar-benar pemandangan yang sangat indah dan membuat Harlein betah terus menatapnya. Axcel terus mengamati arah pandang Harlein dan dia menggelengkan kepalanya. Tidak ingin saudara mereka yang lain curiga, Axcel mengirimkan pesan ke ponsel Harlein lalu menyenggol lengan Harlein.
Dia menunjuk ke arah ponsel Harlein yang ada di atas meja dengan pandangan mata. Harlein membaca pesan itu.
Jaga pandangan mu, dia tidak masuk dalam kategori yang di inginkan menjadi pendamping seorang Ratu. Jangan sampai kau tidak bisa berpaling kak.
Harlein berdecak lalu tersenyum ke arah Axcel, dia tahu jika apa yang di sampaikan adiknya itu benar. Lalu Harlein berhenti mengamati pria yang pertama kali membuatnya terpesona itu. Menurut Harlein pria itu sangat keren, seorang anak band yang tampan. Harlein geli sendiri dengan pemikirannya.
*****
Job untuk mengisi acara di kalangan orang kaya itu pun usai, Angga merasa lega karena setidaknya satu tugas yang uangnya lumayan itu sudah selesai dia kerjakan. Tapi sepertinya harus mengeluarkan uang lebih untuk mencuci kemeja yang dia kenakan.
Angga ingin pergi ke club tempat dia menjadi seorang Dj, dia menggunakan toilet hotel untuk mengganti pakaian dan saat keluar dari toilet itu dia lagi bertemu dengan wanita yang tadi menabraknya atau mungkin dia yang menabrak.
"Oh hai," sapa wanita itu terlihat sangat ramah dan Angga hanya memberikan senyuman.
"Bagaimana dengan kemeja mu ? apa kau ingin aku yang membersihkannya, ehm..maksud ku untuk membawanya ke tempat laundry ?" tanya wanita cantik di hadapannya itu.
"Tidak apa-apa, aku bisa mengurusnya sendiri." Angga menunduk sopan untuk pamit dari hadapan Harlein membuat sedikit kecewa di hati wanita itu karena sikap dinging Angga.
****
Club malam adalah salah satu tempat yang paling tidak di sukai Angga sebenarnya, namun mau bagaimana lagi hanya disana dia bisa mendapatkan uang. Asap rokok, wanita yang menggunakan pakaian minim juga menjadi hal yang tidak dia sukai. Namun Angga harus berpura-pura enjoy dengan pekerjaannya itu. Tugasnya adalah untuk menghibur para tamu disana, jadi dia harus terlihat menikmati semuanya.
Tepukan tangan dan suara orang berteriak menikmati musik yang dia mainkan setidaknya menjadi pemicu Angga untuk bertahan berjuang mengikis waktu demi waktu lalu pulang membawa uang.
Tiba dia melihat satu orang wanita duduk sendirian dan dia tadi baru saja bertemu wanita itu. Wanita yang memiliki sorot mata yang begitu berbinar saat bicara, senyuman manis dan wajah yang cantik. Angga langsung menghapus pikirannya akan wanita yang duduk seorang diri di salah satu bangku tamu. Tapi sedetik kemudian dia melihat wanita itu di tarik seorang pria untuk ikut menari bersama membuat wajah wanita itu masam dan sangat menggemaskan.
Tanpa di sadari Angga tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Seseorang menepuk pundaknya, "Namanya kalau tidak salah Harlein. Dia jauh dari jangkauan kita bro. Dia salah satu pewaris dari Derson Group tempat kita mengisi acara tadi, dan ini loe liat manusia yang pesan private party ini adalah sepupunya Afrain Derson." Angga mendengar semua fakta tentang wanita itu dari Musa membuat dia berpikir kenapa harus dia tahu semua itu, dia juga tidak berniat mendekati wanita bernama Harlein itu.
Jika ditanya apakah Angga ingin memiliki pasangan, tentu dia ingin memiliki kekasih. Tapi tidak untuk saat ini, dia percaya akan bertemu dengan orang yang tepat dan dia akan membahagiakan wanita itu seumur hidupnya. Wanita yang bisa menerima semua cerita pahit di hidupnya.
Terkadang Angga juga berpikir wanita seperti apa kira-kira yang akan menjadi kekasihnya ?
****
Subuh menjelang dan Angga baru tiba dirumah, dia melihat Dita juga sepertinya baru pulang bekerja. Ruangan yang sempit yang mereka sebut rumah itu terasa semakin sesak ketika mendengar suara Handoko.
Kali ini entah karena apa lagi pria itu marah-marah di dapur, dan segera saja Angga menyusul kesana. Namun saat Angga tiba sebuah pukulan sudah dilayangkan Handoko kepada Lisa, membuat wanita itu terjatuh ke lantai dan langsung tidak sadarkan diri.
"Bu," teriak Angga membuat Dita yang tadinya tidak ingin perduli dengan keributan yang terjadi langsung keluar kamar dan melihat Angga sudah menggendong tubuh Lisa.
"Bawa jaket ibu Dit," kata Angga langsung kepada adiknya. Dita langsung masuk kedalam kamar dan ingin menyusul keluar bersama Angga namun suara Handoko membuatnya geram.
"BIAR AJA ITU WANITA GAK BERGUNA MAMPUS SEKALIAN !"
Dita mengarahkan pisau ke mata Handoko dan dia sudah sangat geram. "Loe keluar dari rumah ini dan jangan pernah balik, kalau loe sampai balik gue bakal langsung bunuh loe !" kata Dita dengan mata yang sangat menantang ayahnya sendiri.
Tapi Handoko tidak takut, dia malah tertawa membuat Dita langsung ingin menancapkan pisau ke perut pria tua tidak tahu diri itu. Namun untungnya Adit yang mendengar keributan dari rumah Angga langsung keluar dan melihat. Di menepis tangan Dita dan langsung berteriak.
"LOE UDAH GILA YA ! LOE BISA MASUK PENJARA TAHU GAK !"
Dita tidak memperdulikannya lagi, dia lalu keluar memilih segera mengikuti Angga. "Dit titip rumah, usir aja itu orang gila."
*****
Angga turun dari dalam taksi langsung membawa tubuh Lisa ke ruangan gawat darurat, beberapa perawat ikut langsung membantu Angga dan seorang dokter langsung mendekati Lisa yang sudah tidak sadarkan diri.
"Maaf anda bisa tunggu diluar dulu ya," kata salah satu perawat yang tadi sempat bertanya-tanya tentang identitas juga tentang apa yang terjadi kepada Lisa.
Dokter tak lama langsung keluar dari ruangan UGD dan menghampiri Angga dan Dita yang terlihat sangat gelisah. "Bagaimana dok ?" tanya Angga dan dokter itu dengan berat hati mengatakan jika Lisa sudah tidak dapat di selamatkan lagi. Dita langsung berteriak histeris dan Angga hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya.
Baru Angga akan mengatakan jika mereka akan pindah dan meninggalkan Jakarta karena uang tabungan Angga sudah cukup, kini ibu yang dia cintai sudah meninggalkan mereka lebih dulu. Dita memeluk tubuh Lisa yang dibawa keluar oleh perawat untuk di bersihkan, dan Angga diminta untuk mengurus semua dokumen dan pembayaran.
Dengan langkah kaki yang berat Angga berjalan pelan untuk mengurus semuanya, dia tidak menyadari ada seorang wanita yang menatapnya dengan senyuman dan ingin melambaikan tangan, tapi ternyata Angga tidak melihatnya.
Harlein kesana dengan Via tantenya, dia menemani Via untuk kontrol kesehatan. Harlein mengatakan kepada Via jika dia ingin ke toilet sebentar, namun yang dia lakukan adalah mengikuti Angga. Harlein tidak berani terlalu dekat dengan Angga saat pria itu sedang berbicara dengan petugas rumah sakit, hingga setelah semua selesai barulah Harlein mengikuti lagi Angga yang berjalan ke ruang jenazah. Harlein melihat seorang wanita yang berlari memeluk Angga, wanita itu meraung kesakitan dan tubuh Lisa pun di bawa keluar oleh perawat, mereka akan langsung membawa jenazah Lisa ke sebuah masjid di dekat rusun untuk di shalat kan. Angga tampak menelpon seseorang sambil masih menenangkan adiknya.
Harlein pun menyadari apa yang terjadi, dia mendekati Angga begitu saja ingin menyentuh bahu pria itu namun urung dilakukan karena Angga berbalik menghadapnya. Pria itu terkejut karena kehadiran Harlein disana namun dia mengabaikannya, ada hal penting yang harus dia urus termasuk melapor kepada polisi tentang apa yang terjadi. Handoko harus di tangkap, dokter yang memeriksa Lisa pertama kali pun sudah memberikan laporan hasil pemeriksaan.
Terdapat luka di bagian perut Lisa dan juga dua memar di wajahnya, semua itu dengan jelas menggambarkan jika Lisa mendapatkan kekerasan dari suaminya sendiri.
****
Masjid di dekat rusun di daerah Jakarta Utara itu ramai dengan orang-orang yang sudah selesai melakukan shalat jenazah lalu mereka akan pergi ke pemakaman umum. Harlein ada disana seorang diri, dia sedih melihat keluarga yang ditinggalkan salah satu anggota keluarga mereka. Tentu Harlein dapat merasakan kesedihan itu, dia pernah mengalaminya.Hari kehilangan Meera adalah hari terburuk didalam hidup Harlein. Harlein memakai kacamata yang dia bawa didalam tasnya, dan juga menutup kepalanya dengan syal. Dia ikut mengantar jenazah Lisa menggunakan taksi yang dia sewa.
Wanita yang dilihat Harlein memeluk Angga tadi tidak henti-hentinya menangis, ada juga beberapa petugas polisi yang hadir disana dan berdiri disebelah Angga. Setelah semua prosesi pemakaman selesai Angga masih disana meski adiknya sudah dibawa tetangga untuk pulang. Polisi masih menunggu Angga untuk keluar dari pemakaman itu, dan saat itulah Harlein mendekat. Dia menaburi kelopak bunga mawar untuk kuburan Lisa.
"Kau harus kuat, disana ibu mu pasti sudah bahagia." Harlein berbicara mengundang perhatian Angga.
"Kau sedang apa disini ?" tanya Angga tanpa basa-basi.
"Maaf jika kau keberatan aku disini, aku hanya melihat mu dan wanita tadi sangat bersedih sehingga aku mengikuti kalian," kata Harlein namun Angga kembali diam dan menatap kuburan ibunya.
"Aku juga kehilangan ibu ku saat usia ku lima belas tahun, dan itu menjadi hari terburuk bagi ku." Harlein terasa sesak saat kembali mengingat hari dimana dia harus rela melepaskan kepergian ibundanya. Tanpa dia duga Angga menatapnya lalu mengusap bahunya.
"Terima kasih sudah ikut mengantarkan ibu ku sampai kesini, aku pergi dulu." Angga lalu bangkit dari posisinya dan pergi dari tempat itu. Dia sempat menoleh kebelakang melihat Harlein yang masih setia memandangi makam ibunya.
Angga kemudian langsung bergegas menemui polisi yang sudah menunggunya sedari tadi.
Ponsel Harlein berbunyi dan itu dari Zyan, dia menepuk jidatnya lalu segera pergi dari makam sambil mengangkat telpon.
"Harlein kau dimana ? kita harus segera kembali ke Fortania apa kau lupa ?"
Bersambung...





