Bella langsung menarik tangannta dan menyembunyikannya di balik badannya sendiri. "Maaf Pak," hanya itu kata yang di keluarkan Bella. Sedangkan Nindy hanya diam dengan kepala menunduk.
Mata Devien terpaku pada sosok Nindy, sosok yang membuatnya menggila hari ini. Matanya menatap lekat ke arah Nindy yang menundukkan kepalanya. Merasa di tatap demikian, Nindy perlahan mengangkat kepalanya, dan Devien pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Saya tidak suka ada keributan di perusahaan saya, jika masih ingin rebut silahkan keluar dari perusahaan ini!" ucap Devien lalu melenggang pergi meninggalkan Nindy dan juga Bella yang masih menundukkan kepalanya hormat.
Setelah Devien pergi barulah, Nindy beranjak pergi. "Permisi Mbak," pamitnya pada Bella, dia masih menghargai Bella, itu sebabnya dia masih berpamitan, meskipun hatinya tengah kesal pada wanita itu.
Saat tiba di hadapan ruangan rapat, Devien berhenti di mana ada Layla yang sudah menunggu di sana. "Apa Kakek sudah datang?" tanyanya pada Layla.
"Belum Pak, masih di perjalanan." Jawab Layla.
"Lalu , Deren?" tanya Devien lagi.
"Pak Deren sudah datang Pak." Sahut Layla lagi.
Devien pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Deren merupakan Adik sepupunya yang menjabat sebagai wakil Ceo di perusahaan. Dia dan Deren sedikit bertolak belakang. Deren dan Ibunya sangat berambisi menjadi penerus EJ Group yang saat ini mereka kelola. EJ Group merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri, perusahaan itu di dirkan oleh Emile Jayandara, lelaki tu yang sekarang memiliki dua cucu yaitu Devienchent Jayandra dan Deren Jayandra.
"Ayo, kita masuk." Ajak Devien yang di angguki kepala oleh Layla, saat mereka masuk, para orang yang berada di dalam pun langsung bangkit dari kursinya dan menunduk hormat pada Devien.
"Duduklah kembali, kita akan tunggu Kakek terlebih dahulu, beliau masih di perjalanan." Ucap Devien sembari duduk di kursinya.
Deren diam menatap Devien, merasa di tatap, Devien pun langsung mengalihkan pandangannya hingga tatapan dua lelaki tampan yang masih memiliki hubungan darah itu bersitubruk.Devien mengangkat satu alisnya, melihat itu Deren langsung memutuskan kotak mata mereka.
Tak lama pintu terbuka, dan masuklah Emile Jayandra dengan tongkatnya, di belakangnya ada dua orang anak buahnya yang selalu ikut kemanapun dia pergi. Mereka semua pun langsung bangkit dari duduk masig-masing, lalu membungkukkan badan memberikan hormat pada Emile si pendiri perusahaann. "Duduklah-dudukah."Pesilahkan Emile dengan kekehannya.
***
"Ambil ini!" Daniel memberikan segepok uang pada Jesi.Mata Jesi berbinar melihat uang dua gepok di tangannya. Rasa lelah yang tadi mendera tubuhnnya seketika menghilang melihat banyaknya uang di tangannya. Senyumnya bahkan merekah. "Uh aku sennag kalau begini, katakan saja jika membutuhkanku lagi," ujar Jesi mengedipkan matanya pada Daniel.
Daniel terkekeh lalu berdecih pelan. "Kau tahu? Tuanku tidak memakai boneka bekas sampai dua kali. Jadi jangan berharap."Ucap Daniel penuh penekanan.
Jesi hanya diam, dan mengangkat bahunya acuh. "Oke baiklah jika Tuamu tidak mau, kamu bisa menghubngiku jika kamu berminat padaku?' ujar Jesi menggoda.
Daniel berdecih lagi, meski dia sering mencarikan boneka untuk mainan sang majikan,tapi Daniel bukanlah lelaki yang seperti itu. "Aku tidak tertarik pada barang bekas." Ujar Daniel dingin.
Ck! "Majikan sama anak buah sama-sama balagu!" kesal Jesi kesal. Daniel tak memperdulikan perkataan Jesi.
"Ingat jangan sampai ada yang tahu soal ini, atau nyawamu taruhannya." Ucap Daneil lagi mengingatkan.
Jesi memutar bola matanya malas. "Oh ayolah aku masih ingat semua pesanmu. Lagipula aku sudah mendapat bayaran ku yang sangat setimpal, jadi kamu selow saja." Sahut Jesi.
"Oke, baguslah kalau begitu, sekaramg turun dari mobilku."
Jesi mencibir Daniel, lalu keluar dari mobil lelaki tu, dan Daniel lagsung melajukan mobilnya kembali menuju perusahaan.
***
Usai rapat, Devien dan Deren bertahan di ruangan, itu atas perintah sang Kakek. Jadilah kini hanya ada mereka bertiga saja di ruangan rapat. "Apa kabar Kek?" tanya Devien.
"Seperti yang kamu lihat, Kakek sehat, dan Kakek masih menunggu kedatanganmu ke rumah." Sahut Emile.
Devien hanya diam tak menjawab, selama ini Devien memang tinggal sendiri, semua itu karena dia tidak cocok dengan sang Tante, Ibu dari Deren yang tinggal di sana.
"Minggu depan ulang tahun Ayahmu, datanglah ke rumah Devien." Suruh Emile.
"Ck! Merayakan ulang tahunnya? Tidak akan, Kakek tahu bagaimana aku membencinya 'kan?" sahut Devien. Devein sangat membencu sang Ayah, semua itu karena permasalahan beberapa waktu tahun silam, saat dirinya yang masih kecil. Ibunya di tinggalkan oleh Ayahnya karena memilih wanita lain kala itu, karena sakit hati, Ibu Devien sakit-sakitan hingga meninggal. Semua itu melekat di ingatan Devien, itu sebabnya dia sangat membenci lelaki berstatus Ayahnya itu.
Deren hanya diam saja sedari tadi, toh di tidak memiliki topic untuk ikut menyambung ucapan keduanya. Deren sendri sebenarnya tidak begitu tertarik dengan duani bsinis, jiwa sebenarnya ada di seni, hanya saja sang Ibu yang selalu memaksanya ikut andil di perusahaan.
Emile menatap Deren yang sedang memainkan ponselnya."Mau sampai kapan kamu menjadi berandal tidak beretika Deren?" Ucapan sang Kakek sontak membuat Deren langsung meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Maaf Kek." Hanya itu yang di ucapkan Deren dengan kepala menunduk.
"Kamu ini tidak pernah berubah. Jika hanya untuk mengacau Kakakmu di sini sebaiknya kamu keluar saja dari perusahaan ini." Perkataan Emile cukup menyinggung Deren, namun lelaki itu hanya diam saja.
"Kakek pulang dulu, pertimbangan lagi keputusan mu Devien." Ucap Emile sebelum beranjak pergi. Devien dan Deren pun bergegas bangkit hendak mengantar lelaki tua bertongkat itu.
Namun tiba-tiba Emile berbalik. "Tidak perlu mengantarku, aku masih tahu jalan keluar dari perusahaan ini." Ucapnya menghentikan langkah Devien dan Deren. Hingga lelaki tua itu menghilang di balik pintu barulah Devien dan Deren mengankat pandangan mereka yang sebelumnya menunduk.Mata keduanya pun bersitubruk, hanya bersitatap saja, tanpa berkata sepatah kata. Deren pun langsung saja melenggang pergi meninggalkan Devien.
Lima menit berlalu, barulah Devien beranjak meninggalkan ruangan rapat. Namun baru saja ia membuka pintu ruangan rapat, bersamaan dengan itu Nindy ingin masuk ke dalam. "Emm maaf Pak," ucap Nindy dan langsung menyingkir memberikan Devien jalan.
Devien menatap Nindy dari atas sampai bawah, di lihatnya bagian dada wanita itu yang cukup berukuran besar, Devien bahkan bisa menebak ukurannya meski tapa melihat.
'Ck! sial! Kenapa wanita ini bisa membuatku menggila seperti ini. ' Gairahnya bangkit lagi.
**
"Akhhh enakk Tuann terus tusuk akhhh! emphhh!"
"apa ini enak emommhhhh? akan ku sodok kau samapi puas jalanghh"
"akhhh sodok terushhhhh enakkk!!"
plok plok!
"Akjhh!"
"Pak? Bapak? Bapak tidak apa-apa?" suara itu menyadarkan Devien dari khayalan liarnya.





