Brakkkk.......!
Gebrakan meja yang di hentak secara kasar membuat Ana tersadar dari lamunannya. Selama mengikuti jam pelajaran terakhir, gadis itu terus melamun sepanjang jam pelajaran berlangsung.
"Apa sih Ara? Ngagetin gue ajah ...!" Gadis itu menarik tasnya dari loker. Merapikan semua bukunya dari atas meja, lalu memasukkannya satu persatu ke dalam tasnya.
"Lo gila ya Ann ...?" Ara menjambak rambut sahabatnya kesal. "Lo kecintaan sama tuh cowok, sampe kaya orang gila tau ngga sih? Asal lo tau, berita lo sama Kai jadi trending topik di sekolah kita!" terang Ara mencak-mencak. Setengah mati menasehati sahabatnya ini.
"Ikhhh Ara... Sakit, tau!" Ana mencebik manja. Menaruh kepalanya di atas meja. "Gue juga ngga tau kenapa bisa gini.... Gue nggak tahan. Semua itu keluar begitu ajah dari bibir gue!"
Gadis polos itu berbicara apa adanya. Sebenarnya ia juga malu dengan kejadian tadi. Namun sangat sulit mengendalikan perasaanya, apa lagi jika sudah melihat Kai. Hatinya reflek menggila dengan sendiri.
"Ya ampun Ana! Lo itu harus sadar! Kai itu ngga akan pernah cinta sama lo. Bahkan dia ngga pernah anggap lo ada di dunianya dia. "Ara menarik bangku di sebelah Ana. Gadis itu duduk di sebelah sahabatnya.
"Satu lagi, tampang Kai juga ngga banget! Kalau dia setampan pangeran atau boy band Korea, mungkin gue nggak masalah lo kecintaan sampai ngejar-ngejar dia kayak gini. Tapi mukanya biasa aja An, ngga ada keren apa lagi ganteng."
"Arr... Cinta gue untuk Kai itu tulus! Gue nggak pernah lihat Kai dari wajahnya, gue sayang Kai apa adanya."
Cih!
Hati Ara bergetar jijik mendengar ucapan sahabatnya.
Ara adalah sahabat dekat Ana. Salah satu cewek yang sangat benci dengan Kai. Karena Kai, sahabatnya jadi gila, ia sering menangis dan tertawa sendiri semenjak kehadiran Kai.
Tahun lalu, gadis itu mendadak berubah saat mengetahui Kai masuk di sekolah yang sama denganya. Satu tahun itu pula, Ana terus menghantui kehidupan Kai tanpa henti.
Tiada hari tanpa Kai, Ana selalu menyebut nama Kai setiap harinya, mungkin ada seribu kali perhari. Padahal Kai sama tidak pernah peduli dengan gadis itu. Ana hidup dalam cintanya sendiri. Entah terbuat dari apa hatinya, gadis itu sama sekali tidak sakit walau hidup terabaikan.
Mungkin tidak dirasakan lebih tepatnya. "Ara udah yah.... Ana mau nungguin Kai di gerbang depan. Hari ini Ana mau nebeng motor Kai."
"Hah? Lo jangan nyari penyakit, deh!" Ara menggelengkan kepalanya. Terakhir kali gadis itu melakukanya, Kai mendorong paksa gadis itu dari atas motornya. Kakinya sampai terkilir karena hal itu, dan Kai tidak peduli sama sekali.
"Gue mau jalan dulu, Ara!" Gadis itu berlari riang tanpa beban. "Doain Gue ya, Ar!" teriak Ana saat keluar dari ambang pintu kelas.
Seperti biasa, gadis itu berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Menunggu Kai keluar sepanjang waktu. Pernah, Kai sengaja keluar melalui pintu gerbang belakang karena tidak mau bertemu Ana. Dan akhirnya gadis itu terus menunggu kepulangan Kai sampai sore. Kalau satpam tidak mengusirnya, mungkin Ana akan terus berdiri didepan gerbang sampai malam.
"Neng, ini sudah sore. Sudah tidak ada anak murid lagi disekolah ini. Neng sebaiknya pulang, bahaya untuk gadis kecil kaya eneng kalau sampai kemalaman. Nanti neng diculik bagaimana? Pulang ya Neng ... Pulang." Begitulah pak satpam membujuk seorang Ana, si gadis berkepala batu.
Huhhh.
Semua itu Ana lakukan semata-mata hanya untuk melihat Kai. Cukup dengan melihat saja, hati Ana sudah berbunga-bunga.
"Stop ...!" Ana menghadang Kai dengan kedua tanganya. Kakinya sakit akibat tak sengaja ditabrak motor Kai.
"Lo gila ya! Kalo mau mati jangan di sini. Bunuh diri di mana kek yang jangan ada guenya!" Kai hendak melajukan motornya, namun Ana tidak mau menyerah dan terus memegangi kedua spion motor Kai.
"Awas!" bentak Kai jelas kesal dan emosi.
"Ana mau ikut Kai, hari ini Ana mau ketemu sama papah Kai! Ana ada janji latihan karate sama papah Kai." gadis itu berbicara lembut mendekati manja. Membuat Kai semakin muak dan ingin muntah saja.
"Apa hubunganya sama gue ?" tanya Kai tak peduli. Jangan harap Kai akan memberikan tumpangan pada gadis ini, bisa alergi nanti. "Ana mau nebeng sama Kai, sekali-kali dong Kai. Kasian jok motor kamu nggak pernah dipakai buat boncengin cewek."
"Emangnya gue peduli?" cibir Kai masa bodo.
Memang tidak pernah ada murid wanita yang pernah dibonceng motor Kai. Cowok itu memang aneh, dia tidak pernah memiliki kisah cinta apa pun dengan wanita lain. Itulah yang membuat Ana semakin penasaran dan mengejar Kai sampai berhasil mendapatkan.
Yang lebih aneh lagi, cowok itu tidak memiliki ponsel. Apa lagi sosial media, cowok itu tidak pernah menengok hal semacam itu. Sangat aneh memang, Ana juga tidak tahu mengapa cowok itu tidak mengikuti perkembangan jaman yang ada. Ana selalu bertanya, namun Kai tidak pernah menjawab.
"Kai pliiss... kali ini aja oke ..." Ana memohon dengan penekanan paksa. Namun, Kai tetap bersikap tidak peduli.
"Sekalinya engga ya, engga! Lo ngerti bahasa manusia apa engga, sih?" Kai lantas menyalakan motornya kembali berniat untuk pergi.
"Plissssss Kai ...!" Ana kekeh dan pantang menyerah. Pokoknya ia harus berhasil kali ini.
Ya tuhan... Kai mendengus kesal dengan tingkah gadis ini. Pulang sekolah nanti... fiks! Kai harus minta pindah sekolah pada orang tuanya.
"Gue ngga mau boncengin lo... Ngga mau dan ngga akan. Ngerti gak lo?" cetus Kai.
Ana menyingkir dan tidak menghalangi Kai lagi. Saat cowok itu menyalakan mesin motornya hendak melaju, dengan sigap Ana langsung duduk di jok belakang motor Kai.
"Oh Tuhan" geram Kai emosi.
Berat sekali cobaan lelaki itu pada hari ini.
Merasa kesal, akhirnya Kai melajukan motornya kencang sekali. Ia sudah sangat jenuh dengan segala sikap Ana. Cowok itu melajukan motornya dengan kecepatan 120 km / jam. Rok yang dikenakan Ana terbang-terbang dan tersingkap, membuat gadis itu tidak nyaman dibonceng Kai.
"Kai, pelan-pelan! Ana takut banget, nih."
Kai tidak peduli, cowok itu semakin menambah laju kecepatan motornya.
"Kai .......!" Ana memeluk Kai sekuatnya. Gadis itu benar-benar dibuat ketakutan setengah mati. Badanya bergetar, jantungnya hampir mencolos dari tempatnya.
Karena merasa cukup, akhirnya hati Kai luluh. Cowok itu menurunkan kecepatan laju motornya dalam batas wajar. Kai melihat Ana yang masih menunduk ketakutan, namun gadis itu sudah tidak lagi memeluk Kai. Walau sangat menyukai Kai, Ana tidak pernah kelewat batas dalam mencintai...
Lututnya berdarah....
Batin Kai saat melihat kaki Ana dari kaca sepionnya. Gadis itu ya ... Saking antusianya ingin dibonceng Kai, sampai tidak sadar bahwa kakinya terluka.
Mungkin akibat ditabrak oleh motor Kai waktu di depan gerbang. Shittt. Kai menghentikan motornya mendadak, membuat Ana tersentak menubruk punggung Kai.
"Kai kenapa berhenti...?" Ana mulai curiga. Pasti Kai akan menurunkannya di tengah jalan. Padahal jalan ke rumah Kai masih sangat jauh. Yang lebih parah lagi, tidak ada angkutan umum di kawasan itu.
"Turun!" bentak Kai dingin.
Tuh kan... Belum lepas dari kecurigaannya, Kai sudah memerintahkan gadis itu untuk segera turun dari motornya. Ana turun sesuai yang diperintahkan Kai.
"Kai, mau nurunin Ana di tengah jalan yah... Kai tega banget sama Ana, ini masih jauh tau. Kasian Ana kalau jalan kaki."
Cowok itu diam membisu, tidak menjawab celotehan yang dikatakan Ana.
"Kai... Hikssss ...." Ana menghela lemas ketika melihat Kai melajukan motornya kembali.Cowok itu meninggalkan Ana sendiri ditengah jalan yang cukup sepi.





