Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati

Hujan turun dengan begitu deras, mencambuk bumi seolah melampiaskan amarah langit. Setiap tetesnya adalah penanda kepergianku dari rumah itu-rumah yang sejak awal tak pernah bisa kusebut "rumah." Bangunan megah yang seharusnya menjadi tempatku bernaung, kini terasa seperti penjara yang baru saja kubebaskan diriku darinya. Kupeluk erat koper kecil di tanganku, isinya hanyalah beberapa helai pakaian dan dompet berisi uang tunai yang tak seberapa. Langkahku gemetar, bukan karena dinginnya angin malam yang menusuk tulang, melainkan karena dada ini terlalu penuh oleh luka yang belum sempat mengering, namun terus-menerus ditambah sayatan baru.

Aku tak tahu harus ke mana. Otakku terasa kosong, hanya ada gema dari kata-kata Dito yang menghantamku: "Pergi saja. Aku tak akan menahanmu. Lagipula, hatiku bukan untukmu. Tidak akan pernah." Kata-kata itu berputar-putar, menghujam, mengoyak sisa-sisa harga diriku. Tidak ada tujuan yang jelas, tidak ada rencana cadangan. Aku hanya ingin pergi, sejauh mungkin dari bayang-bayang pernikahan yang menyakitkan ini.

Aku mencoba menghubungi teman-teman lamaku, namun teleponku hanya berdering hampa atau langsung dialihkan ke kotak suara. Sejak aku menikah dengan Dito, mereka menjauh. Mungkin karena enggan terlibat dengan drama keluarga Mahendra yang terkenal angkuh, atau mungkin karena mereka tahu aku sudah tidak sama lagi. Keluargaku sendiri? Ah, mereka. Bagi mereka, aku adalah kegagalan. Kegagalan dalam menjaga pernikahan "prestisius" ini, pernikahan yang seharusnya menjadi simbol kesuksesan dan gengsi. Mereka tidak peduli pada batinku yang hancur, pada jiwaku yang terkoyak. Bagiku, yang mereka jaga hanya satu: nama baik dan gengsi keluarga. Sebuah topeng yang tebal, menutupi kehampaan di baliknya.

Dengan tangan gemetar, kupesan taksi online ke sebuah hotel murah di pinggiran kota. Aku tak peduli seberapa sederhana tempat itu, asalkan aku bisa tidur tanpa ancaman, tanpa tatapan menghina, tanpa rasa sakit yang mencekik. Namun takdir, rupanya, punya cara yang lebih kejam-atau mungkin, lebih tepat, untuk mempertemukan aku dengan sesuatu yang tak pernah kuduga.

Belum sampai lima belas menit perjalanan, mobil yang kutumpangi tiba-tiba tersentak dan berhenti di tengah guyuran hujan lebat. Kami berada di sebuah jalan yang sepi, di depan sebuah gedung perkantoran megah yang tampak kosong dan gelap, hanya beberapa lampu di lantai atas yang masih menyala.

"Maaf, Nona," suara sopir taksi terdengar cemas. "Mobilnya mogok. Sepertinya mesinnya bermasalah. Saya tidak bisa melanjutkan."

Jantungku mencelos. Mogok? Sekarang? Di tengah malam yang dingin dan hujan yang tak berkesudahan ini? Aku mencoba menahan kepanikan yang merayap. "Lalu... bagaimana?"

"Nona turun dulu saja, saya coba cari bantuan," ujarnya, tanpa menatapku. Ia terlihat sibuk mencoba menyalakan kembali mesin yang tak kunyung berhasil.

Tak ada pilihan lain. Aku pun turun dari mobil, koper kecilku terasa berat di tangan. Dinginnya air hujan langsung menerpa wajah dan pakaianku, membuatku menggigil hebat. Mataku menyapu sekitar, mencari tempat berteduh. Satu-satunya tempat yang tampak adalah teras gedung perkantoran di depanku. Dengan sisa-sisa tenaga, aku berlari ke arah teras itu, berharap menemukan sedikit perlindungan. Air hujan membasahi seluruh tubuhku, rambutku lepek menempel di wajah, dan pandanganku sedikit buram oleh tetesan air.

Saat itulah aku melihatnya.

Di balik pintu kaca besar gedung itu, di dalam lobi yang temaram, berdiri sesosok pria. Ia tidak bergerak, hanya memandangku tanpa ekspresi. Siluetnya terlihat jelas di balik kaca. Aku terpaku sejenak, tatapannya begitu intens, namun sekaligus begitu dingin. Wajahnya tajam, bersih, dan sangat kaku. Matanya nyaris tanpa emosi, seolah melihat dunia dari balik dinding es yang tak bisa ditembus. Dia seperti patung sempurna yang terukir dari pualam.

Aku mengangkat tanganku sedikit, mencoba meminta izin. "Maaf... bisa saya numpang berteduh sebentar?" Suaraku nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menderu, dan getaran di tubuhku membuat setiap kata yang keluar terasa begitu lemah.

Dia tidak menjawab. Tidak ada anggukan, tidak ada senyuman, bahkan tidak ada kerutan di dahinya. Hanya kebisuan yang dingin. Lalu, perlahan, pintu kaca itu terbuka. Bukan dengan suara gemerincing kunci atau putaran engsel, melainkan dengan mekanisme otomatis yang halus. Dia melangkah mundur beberapa langkah, memberi isyarat padaku untuk masuk, lalu berjalan menjauh tanpa berkata sepatah kata pun. Aku pun mengikutinya masuk, menutup pintu kaca itu di belakangku, seolah masuk ke dalam dunia lain yang sunyi.

Ruangan itu adalah lobi sebuah kantor pribadi, yang terasa asing sekaligus mencengangkan. Mewah, itu pasti. Dinding-dinding marmer mengilap, lampu-lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya lembut, dan sebuah meja resepsionis yang kosong, terbuat dari onyx hitam yang memantulkan bayangan. Namun, kemewahan itu terasa sepi. Tidak ada suara musik, tidak ada obrolan karyawan, hanya detak jam dinding yang terdengar jelas dan suara deru hujan di luar jendela-jendela besar yang membentang dari lantai ke langit-langit. Udara di dalam lobi terasa hangat, sebuah kontras yang mencolok dengan dinginnya di luar, namun keheningan itu justru membuatku merasa semakin kecil dan kikuk.

Aku berdiri di sana, di tengah ruangan yang sunyi, dengan pakaian basah dan tubuh yang masih menggigil. Rasa malu menyelimutiku. Aku, istri dari Dito Mahendra, kini berdiri tak berdaya di lobi kantor orang asing, dalam keadaan yang begitu menyedihkan.

"Tunggu di sini."

Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari pria itu, memecah keheningan yang mencekam. Suaranya dalam dan tenang, namun terdengar seperti perintah mutlak, bukan sebuah ajakan. Ia tidak melihat ke arahku, hanya menunjuk ke arah sofa kulit besar di sudut ruangan, lalu berbalik dan berjalan menuju salah satu pintu di ujung lobi. Aku hanya bisa mengangguk pelan, terlalu lelah untuk memprotes, terlalu malu untuk bertanya.

Beberapa menit berlalu. Setiap detik terasa begitu panjang dalam kesunyian itu. Aku mulai merasakan hawa dingin menusuk kulit, menyadari betapa basah kuyupnya diriku. Tepat ketika aku berpikir untuk menyerah dan duduk di sofa, pria itu kembali. Di tangannya, ia membawa handuk kering yang tebal dan secangkir teh hangat. Aroma teh melati langsung menyapa hidungku, sebuah kehangatan yang mendadak terasa begitu memikat.

Aku menerima handuk itu, jemariku gemetar saat bersentuhan dengan kain lembut. Sebuah rasa malu yang tak tertahankan menjalari diriku. "Aku tidak minta simpati," ucapku, suaraku nyaris berbisik, berusaha menutupi betapa putus asanya aku saat ini.

"Bagus," balasnya datar. "Karena aku tidak memberikannya."

Aku mengangkat kepalaku, menatapnya. Baru saat itulah aku benar-benar memperhatikan detail wajahnya. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Matanya, meski dingin, memiliki intensitas yang menarik. Aku merasa seperti pernah melihatnya. Di mana? Lalu, seperti kilat, sebuah nama muncul di benakku. Arya Pratama.

Nama itu mulai berputar di kepalanku, seiring dengan fragmen-fragmen ingatan yang mulai menyatu. Arya Pratama. Ya, dia! Salah satu eksekutif muda paling ditakuti di dunia bisnis. Pemimpin dari sebuah perusahaan teknologi raksasa yang berkembang pesat. Pria yang dikenal tak pernah tersenyum, yang reputasinya dingin dan kaku sudah menjadi legenda di kalangan pebisnis. Dia juga dikenal tak pernah terlibat skandal apa pun... karena ia terlalu dingin untuk urusan personal. Dia adalah sosok yang jarang muncul di media, namun setiap kemunculannya selalu menciptakan gebrakan. Berdiri di hadapannya seperti ini, dalam keadaan yang begitu mengenaskan, membuatku merasa semakin kecil.

"Apa kau tersesat?" tanyanya, suaranya kembali memecah keheningan. Tidak ada nada menghakimi, hanya pertanyaan lugas.

Aku menarik napas dalam, membasuh wajahku dengan handuk. "Tidak," jawabku jujur, merasa tak ada gunanya berbohong pada pria setenang ini. "Aku sedang... kabur."

Alisnya sedikit terangkat, nyaris tak terlihat. "Dari siapa?"

Jantungku berdebar. Mengatakannya terasa begitu berat, namun entah mengapa, di hadapan pria asing ini, aku merasa bisa jujur. "Suamiku."

Ia tak tampak terkejut. Hanya mengangguk kecil, seolah itu adalah jawaban yang sudah sering ia dengar, seolah drama rumah tangga adalah hal yang lumrah baginya.

"Lalu kenapa kemari?" tanyanya lagi, tatapannya menyapu sekeliling ruangan, lalu kembali padaku.

Aku menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Aku bahkan tidak tahu tempat ini milik siapa. Aku hanya... ingin selamat malam ini. Aku hanya ingin tempat untuk berteduh."

Ia menatapku dalam diam, tatapan dingin itu kini terasa sedikit lebih dalam, seolah dia mencoba membaca pikiranku, atau mungkin, sekadar mengamati reaksi emosiku. Detik berikutnya ia bicara, dengan nada yang masih datar, namun entah mengapa, mengguncang jiwaku.

"Kau bisa menginap di ruang staf," ucapnya, menunjuk ke arah lorong di samping meja resepsionis. "Aman, tapi jangan berharap kasur empuk. Dan jangan coba-coba menyentuh barang di ruangan ini."

Sebuah tawaran. Sebuah uluran tangan dari orang asing yang dingin, yang tidak memberiku simpati, tapi memberiku perlindungan. Aku mengangguk, rasa lega membanjiri diriku. "Aku tak butuh kenyamanan," kataku, suaraku kembali bergetar. "Aku hanya... tak ingin pulang."

Ia menatapku lama, seolah kata "pulang" itu menyimpan makna tersendiri baginya. Lalu, dengan suara yang sedikit lebih pelan dari sebelumnya, seolah sebuah bisikan refleksi dari jiwanya sendiri, ia berkata, "Kadang yang kita sebut 'pulang' justru tempat paling berbahaya."

Kata-katanya menamparku. Aku tak tahu apa yang dia maksud, atau apa yang dia alami, namun kalimat itu beresonansi dalam hatiku. 'Pulang', bagiku, adalah neraka yang selama ini kusebut 'rumah'.

Malam itu, aku tidur di sofa panjang di ruang staf, sebuah ruangan sederhana dengan beberapa meja kerja dan rak buku. Aroma maskulin yang samar, perpaduan kopi dan kertas, menyelimutiku. Selimut tipis yang ia berikan terasa hangat, dan anehnya, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku bisa tidur tanpa takut. Tanpa suara makian yang menyayat hati, tanpa tatapan jijik dari orang yang seharusnya menjadi pelindungku. Hanya ada keheningan, dan sesekali, suara deru hujan di luar jendela yang perlahan mereda. Aku merasa aman, sebuah sensasi yang sudah lama tidak kurasakan.

Aku tidak menyadari, di balik keheningan malam itu, di balik dinding es tatapan Arya Pratama, ada sebuah jaring takdir yang sedang dirajut. Malam itu adalah awal segalanya.

Ketika aku terbangun keesokan paginya, setelah tidur yang paling nyenyak dalam enam bulan terakhir, sinar matahari pagi sudah menyelinap masuk melalui celah gorden, menerangi debu-debu yang menari di udara. Aku meregangkan tubuh, merasakan nyeri di punggung, namun jauh lebih ringan daripada beban di hatiku. Rasa tenang ini terasa begitu asing, begitu mendamba.

Aku keluar dari ruang staf, menuju lobi yang masih sepi. Meja resepsionis masih kosong. Aku bertanya-tanya, apakah Arya Pratama sudah pergi? Atau dia memang bekerja di jam-jam aneh seperti ini? Aku melangkah ke arah pintu kaca, berniat untuk mencari tahu keberadaan mobil taksi yang mogok kemarin, atau setidaknya mencari tumpangan baru.

Namun, saat aku baru saja akan membuka pintu, seseorang menghadangku. Bukan Arya Pratama. Melainkan seorang wanita muda berambut cepak, mengenakan setelan blazer rapi, dengan raut wajah yang serius. Dia memegang sebuah amplop berwarna krem di tangannya.

"Selamat pagi, Nona," sapanya dengan suara tenang dan profesional. "Saya Clara, asisten Tuan Arya Pratama."

Aku mengerutkan kening. "Selamat pagi. Maaf, saya ingin..."

"Tuan Arya Pratama berpesan," potongnya, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk menyelesaikan kalimat. Ia menyerahkan amplop itu padaku. "Beliau meminta Anda untuk tetap di sini selama tiga hari ke depan."

Aku terdiam. Tiga hari? Kenapa?

"Dan," lanjutnya, matanya menatapku lurus, "beliau tertarik... dengan masalah Anda."

Jantungku berdebar kencang. Arya Pratama tertarik dengan masalahku? Seorang pria yang terkenal dingin dan acuh tak acuh pada urusan personal, tiba-tiba menunjukkan ketertarikan pada hidupku yang berantakan? Apa artinya ini?

Belum sempat aku bertanya, ponsel Clara berdering. Dia meminta izin sebentar, lalu menjawab telepon dengan nada bicara yang rendah. Samar-samar kudengar beberapa kata: "Tuan Mahendra... skandal perselingkuhan... berita nasional."

Otakku langsung teringat pada Dito. Skandal? Perselingkuhan? Dengan Luna? Perasaanku campur aduk. Di satu sisi, ada rasa puas yang samar, seperti karma yang bekerja. Di sisi lain, ada kecemasan. Apa artinya ini bagiku? Apakah ini akan mempermudah jalanku untuk pergi, atau justru memperumitnya?

Aku membuka amplop di tanganku. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas. Sebuah kunci kartu, dan sebuah catatan singkat dengan tulisan tangan yang rapi, namun terasa dingin: "Ruangan 703. Akses penuh. Jangan bicara jika tidak ditanya. Jangan buat masalah. Arya Pratama."

Dan di balik catatan itu, sebuah halaman koran yang sudah dicetak. Judul besar berwarna merah mencolok, seolah berteriak ke seluruh penjuru negeri:

CEO MUDA DITO MAHENDRA TERSANDUNG SKANDAL PERSELINGKUHAN, FOTO MESRA DENGAN LUNA SIREGAR BOCOR KE PUBLIK

Di bawahnya, ada foto-foto yang jelas, tidak ada yang bisa membantah. Dito dan Luna, berpelukan mesra di tempat-tempat umum, di restoran, bahkan di depan pintu apartemen. Tanggal dan waktu jelas tertera. Bukti tak terbantahkan.

Aku menatap berita itu, lalu menatap Clara yang masih sibuk dengan teleponnya. Sebuah pertanyaan muncul di benakku: apakah Arya Pratama tahu ini akan terjadi? Apakah ini semua adalah bagian dari rencana seseorang? Dan yang terpenting, kenapa dia membantuku? Apa maunya?

Keheningan di lobi itu terasa semakin berat, diisi oleh gemuruh pertanyaan dalam benakku. Aku tahu, hidupku baru saja berubah haluan. Dan pria dingin bernama Arya Pratama, yang bahkan tak memberiku simpati, kini menawariku perlindungan, dan entah apa lagi, di tengah badai yang baru saja menerpa mantan suamiku.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.