DOSEN ITU SUAMIKU

🏵️🏵️🏵️

Saat Mas Ezza keluar dari kelas, tiba-tiba seorang mahasiswi mengekorinya dari belakang. Aku tidak ingin tetap berdiam diri di kelas. Aku pun mengikutinya.

"Maaf, Pak Ezza, saya mau ngomong sebentar." Aku mendengar suara itu memanggil nama Mas Ezza. Aku mengawasi dari balik pintu dan sesekali melihat ke arah mereka.

"Iya, mau ngomong apa?" tanya Mas Ezza, dia pun menghentikan langkahnya.

"Boleh minta nomor ponsel pribadi Bapak, nggak?" sambung mahasiswi itu.

"Saya udah kasih nomor saya di kelas. Kamu nggak catat, yah?" tanya Mas Ezza.

"Saya maunya nomor yang lain, Pak." Bibir mahasiswi itu meruncing. Dia menunjukkan tingkahnya yang sok manja.

"Maaf, nomor saya cuma satu. Yah, itu yang saya catat di papan tulis." Jawaban Mas Ezza membuatku merasa lega.

"Bapak pelit, ah." Sepertinya dia masih tetap berusaha menggoda Mas Ezza.

"Beneran cuma satu. Udah, yah ... saya buru-buru, sampai jumpa," ucap Mas Ezza, kemudian berlalu.

"Sampai jumpa, Pak." Mahasiswi itu menunjukkan gaya memuakkan. Dia melambaikan tangan kepada Mas Ezza.

Mahasiswi yang berusaha mendekati Mas Ezza adalah Cindy. Dia wanita paling genit yang pernah aku kenal. Dia berusaha mendekati Mas Ezza. Aku tidak terima dengan sikapnya yang sok manja di depan suamiku, rasanya muak dan geli melihat tingkahnya.

Mengingat semua tingkah dan gerakan genitnya, membuatku merasa mual. Aku ingin mengeluarkan nasi goreng buatan Bi Iyem tadi untuk menu sarapan. Aku kesal melihat pemandangan yang tak kuinginkan dan tidak harapkan pagi ini. Benciii!

🏵️🏵️🏵️

Walaupun pernikahanku awalnya tidak didasari cinta, tetapi terus terang ... hati ini tidak suka jika wanita lain menggoda Mas Ezza. Bagaimanapun hubungan kami, dia tetap suamiku, pendamping hidup, juga jodoh pilihan Papa dan Mama.

"Seneng banget, yah, digodain mahasiswi," celetukku saat kami menonton bersama di ruang TV.

"Emangnya siapa yang godain aku, Dek?" Aku tidak tahu apakah dia mengelak atau memang tidak ingat kejadian di kampus pagi tadi.

"Jangan pura-pura nggak tahu, deh, Mas. Senang, kan, waktu Cindy minta nomor pribadi kamu?"

"Ketahuan, nih, ngikutin aku. Hayuk ngaku."

"Nggak, kok," jawabku mengelak.

"Terus, kenapa kamu bisa tahu kalau Cindy minta nomorku?"

"Yah, tahu aja. Emang nggak boleh?"

"Yakin, dah, kamu pasti buntutin aku, nih, di kampus." Ketahuan, deh, aku mengintai dia di kampus tadi pagi.

"Kamu, nih, selalu gitu. Aku tanya apa, kamu jawabnya entah apa. Nggak nyambung banget tahu."

"Bagus, deh, kalau kamu peduli padaku. Aku suka." Dia selalu dengan kebiasaannya, memegang daguku.

"Apa, sih? Kamu selalu baperan. Malas, ah, ngomong sama kamu. Aku mau tidur." Aku menepiskan tangannya lalu berjalan menuju kamar.

"Cie, ada yang malu, nih." Aku masih mendengar suaranya sebelum masuk kamar.

Itulah Mas Ezza, selalu merasa diperhatikan dan dipedulikan. Setiap aku bertanya atau berbicara sesuatu dengannya, pasti jawabannya jauh berbeda. Aku nanya A, tetapi dia jawab B. Pokoknya paling menyebalkan kalau berbicara dengannya.

Di balik tingkahnya yang selalu bikin kesal, tetapi dia selalu menyayangiku, memperhatikan semua kebutuhan serta keinginanku, dan dirinya selalu melakukan yang terbaik. Dia pelindung, juga suamiku.

🏵️🏵️🏵️

"Hebat, yah, kamu, Mas," ucapku dalam mobil saat Mas Ezza mengantarkan aku ke kampus hari ini.

"Hebat?" Mas Ezza terlihat bingung.

"Iya, hebat. Kemarin kamu bertingkah seolah-olah tidak mengenaliku."

"Tidak mengenali? Apa maksudnya? Aku makin nggak ngerti."

"Kamu selalu aja pura-pura nggak ngerti dan tidak ingat."

"Beneran aku nggak paham maksud kamu."

"Kemarin, ngapain nanya namaku di kelas? Itu namanya apa, coba? Beneran nggak kenal?"

"Ooo, yang itu." Aku kesal melihat senyumannya.

"Kenapa kamu senyum?"

"Seneng aja lihat mulut manyun istriku pagi-pagi."

"Dasar kamu, yah, selalu nyebelin."

"Lah, bukannya kamu yang minta, jangan sampai temen-temen kamu tahu kalau aku suamimu."

"Tapi nggak harus dengan cara nanya namaku juga kali."

"Entar kalau aku langsung panggil nama kamu, bukannya mereka makin curiga?"

"Malas, ah, nyebelin. Susah ngomong sama kamu." Aku makin kesal mendengar penjelasan Mas Ezza.

"Istriku yang cantik ngambek, nih, pagi-pagi. Makin suka, deh, lihat bibirnya."

"Ih! Kamu selalu bikin aku kesel." Cubitan kuat dariku mendarat di pinggangnya.

"Auh! Sakit."

"Biarin."

"Cubit lagi, dong, Istriku." Dia mengembangkan senyuman nakalnya.

"Ogah. Oh, ya ... jangan lupa, turuninnya jangan dekat-dekat kampus. Aku nggak mau kalau sampai ada orang yang lihat."

"Okeh, Cantik. Turunnya di sini aja, yah. Selamat belajar, jangan nakal, jangan lirik sana sini. Bye."

"Itu, mah, kamu. Ngomongin diri sendiri. Bye. Wek!" Aku segera turun dari mobil sambil menjulurkan lidah, kemudian memasuki kampus.

=============

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.