Direndahkan Oleh Keluarga Suami

Pagi hari setelah malam penuh air mata itu, Jasmine duduk di meja makan, menatap cangkir teh yang sudah lama dingin di hadapannya. Di luar, hujan turun dengan deras, mengguyur jendela kaca rumah mereka seperti titisan air mata dari langit. Suara gemericik hujan itu seolah menyanyikan lagu kesedihan yang sudah begitu akrab di telinganya. Dia merasa seperti setiap tetes air yang jatuh membawa sebagian dari dirinya yang sudah hilang, dan rumah yang semula penuh harapan itu kini terasa seperti penjara tanpa jeruji.

Di seberang meja, Ardan duduk dengan ekspresi kosong, tidak tahu harus berkata apa. Suara langkah kakinya yang berat di lantai hanya dipecah oleh desisan angin dan hujan di luar. Setiap kali Jasmine menatapnya, ada rasa sakit yang mengusik di dada Ardan, seakan setiap detik yang berlalu adalah siksaan karena dia tahu dia telah gagal, telah mengecewakan orang yang paling dia cintai. Namun, kata-kata yang ingin dia ucapkan terasa terjebak di tenggorokan, terlalu sulit untuk diungkapkan.

"Jasmine, aku... aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta maaf, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah bermaksud...," Ardan menghela napas berat, menatap meja dengan pandangan kosong. "Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki semuanya."

Jasmine tidak menanggapi. Dia hanya terus menatap cangkir teh di hadapannya, matanya kosong dan letih. Dulu, setiap pagi dia akan memulai hari dengan secangkir teh hangat dan senyum di wajah Ardan, yang akan memberinya semangat untuk menghadapi apapun. Tapi sekarang, aroma teh yang seharusnya menenangkan itu malah mengingatkannya pada kepahitan, pada kenyataan bahwa semua itu hanyalah ilusi. Senyum Ardan, perhatian yang dulu diberikannya, semua itu kini terasa seperti bayangan di malam gelap.

"Aku tidak butuh permintaan maafmu, Ardan," akhirnya Jasmine berbicara, suaranya lemah, tetapi tegas. "Aku hanya ingin kau pergi, pergi dari hidupku. Ini semua sudah cukup."

Kata-kata itu membuat Ardan menoleh cepat, matanya menyentuh mata Jasmine sejenak, sebelum akhirnya jatuh lagi, seakan menghindari kenyataan. "Jasmine, kau tahu aku tidak bisa melakukannya," katanya, suaranya penuh keputusasaan. "Kita sudah melewati begitu banyak hal bersama. Aku tidak bisa kehilanganmu."

Tapi Jasmine sudah kehilangan Ardan sejak lama. Dia hanya baru menyadarinya sekarang. Kebohongan yang ditutupi dengan senyuman, perhatian yang hanya diberikan saat orang lain melihat-semua itu mengalir dalam darah mereka seperti racun. Ardan tidak pernah mencintainya, setidaknya bukan dengan cara yang benar. Bagi Ardan, Jasmine adalah tanggung jawab, bukan cinta.

Jasmine berdiri dan mengangkat wajahnya, menatap Ardan dengan mata yang sudah tidak bercahaya, hanya ada sisa-sisa harapan yang kini tinggal abu. "Kau tidak pernah mencintaiku, Ardan. Cinta sejati tidak bisa dibangun di atas kebohongan."

Kata-kata itu membuat Ardan tersentak, seperti dipukul keras. Wajahnya memucat, mulutnya terbuka seakan ingin berkata sesuatu, tapi kata-kata itu hilang di udara. Hatinya terbelah, sebuah luka yang seakan tidak bisa disembuhkan. Tetapi Jasmine, dalam kebisuan yang menekan dadanya, tahu bahwa dia harus melepaskan. Mungkin ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa kembali menemukan dirinya.

Jasmine berjalan ke jendela, melihat ke luar ke jalan yang basah dan licin. Di sana, dunia bergerak seperti biasa, orang-orang berlalu-lalang, kendaraan berjalan cepat seakan tidak peduli dengan kesedihan yang melanda rumah ini. Jasmine ingin berteriak, melawan dunia yang terus bergerak tanpa menghiraukan penderitaan yang dia rasakan. Tapi dia tahu bahwa teriakan itu hanya akan melawan angin, tak ada yang mendengarnya. Hanya dia dan kesunyian, dan rasa sakit yang membeku di dalam dada.

Ardan akhirnya berdiri, langkahnya berat menuju Jasmine. "Jasmine, aku tahu aku bukan suami yang baik, tetapi aku bisa berubah," katanya dengan suara yang penuh harap, matanya bersinar dengan airmata yang nyaris jatuh. "Aku bisa berjuang untuk kita."

Jasmine menoleh, matanya bertemu dengan mata Ardan yang penuh sesal. Namun, dalam pandangan itu, Jasmine melihat lebih dari sekadar penyesalan. Dia melihat ketakutan-takut kehilangan, takut menghadapi kenyataan bahwa dia mungkin telah salah memilih. Tetapi apakah itu cukup untuk memperbaiki segalanya?

"Aku tidak ingin kau berubah untukku, Ardan," jawab Jasmine, suaranya hampir tidak terdengar. "Aku ingin kau berubah untuk dirimu sendiri. Aku tidak bisa menjadi alasan kau mencari kebahagiaan. Itu harus datang dari dalam dirimu, dan aku... aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."

Ardan terdiam, terperangkap dalam kata-kata Jasmine. Hatinya berdebar dengan cepat, namun pikirannya terasa kosong. Dia ingin menggapai tangan Jasmine, meminta dia untuk tetap di sini, untuk memberinya kesempatan satu kali lagi. Tapi dia tahu, kata-kata itu tidak akan cukup untuk menghapus semua yang telah terjadi.

Jasmine meraih tas di kursi, menatap Ardan satu kali lagi, seolah ingin mengukir wajahnya dalam memorinya, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu. Di belakangnya, Ardan masih berdiri dengan kebisuan yang memekakkan telinga, matanya memandangi punggung Jasmine hingga hilang dari pandangannya. Hujan di luar menjadi semakin deras, seperti menangis bersama Jasmine, seperti mengerti betapa sulitnya untuk melepaskan.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.