Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa

Ketua preman itu menatap Lula dengan seringai menjijikan sambil melepaskan celananya.

Kejadian itu membuat amarah Olan berkobar dan terus berontak berharap bisa lepas dan menghajar pria kurang ajar itu.

Kemudian laki-laki itu berjalan dalam keadaan yang sudah tidak menggunakan celana mendekati Lula.

Dan menggunting semua pakaian Lula.

Pakaian itupun lepas hingga seluruh tubuh Lula dapat dilihat oleh lima laki-laki berbadan besar itu, sambil menelan air liurnya sendiri.

Olan menutup mata sambil menahan amarah dan terus berontak.

Lula pun menutup matanya yang tak henti mengeluarkan air matanya sambil berontak dan berharap sebuah pertolongan.

"Wah, sangat ranum sekali!" kata laki-laki itu dan mulai mendekati inti Lula.

Menghirup aroma segar inti seorang gadis yang masih suci.

Dan laki-laki itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menjilat bibir bawah Lula, dan itu membuat Lula terus meronta.

Namun, kekuatannya tak bisa dibandingkan dengan keempat preman lainnya yang memegang tangan dan mengangkangkan kakinya.

Hingga preman itu mulai naik dan menghabisi dada Lula yang bulat, padat, sintal dan menantang.

"Lepaskan aku! Aaaaaa!" rintih Lula pilu.

Namun, rintihan itu semakin membuat preman itu bergairah dan diarahkannya senjatanya di antara paha Lula.

"T—tidak! Jangan! Aaaaaaaa!" pekik Lula bersama meronta dan melawan.

Bles!

Hemppppp! Aaaaaaaa!

"Arghhhhh!" erang preman itu membobol pertahanan Lula.

Bersamaan dengan preman itu mulai memacu tubuh Lula, teriakan kesakitan Lula menggema di kamar kos kecil itu.

Sakit!

Jijik!

"Ahhh ... Uhh, Nikmat sekali! Sempitnya liang perawan!" racau preman itu, "Buka lebar pahanya!" lanjutnya memberi perintah para anak buahnya.

Dan kedua orang itu semakin membuka lebar paha Lula sambil menciumi paha Lula.

Kedua anak buah preman itu tentu tidak tahan melihat bos mereka keenakan.

"Ahhh, shttt ... Ahhh!" racaunya sambil membungkam mulut Lula.

"Bos boleh pegang dadanya?" tanya dua anak buah yang memegang tangan Lula.

"Remas dan jilatlah, kamu akan ketagihan ... Ahh!" jawab ketua preman itu.

Dan benar saja, kedua laki-laki itu langsung menyusu pada Lula bak anak bayi.

"Ahhhh, sempit! Ahhhh!" racaunya terus.

Hingga preman itu merasakan lonjakan gairah yang menerbangkannya, "Arghhhhh!" erangnya.

Lula hanya bisa terus menangis.

Olan? Tentu saja masih terus berusaha lepas dari ikatan tangannya.

Hatinya hancur melihat wanita yang dicintainya dinikmati empat laki-laki itu.

Hingga kejadian demi kejadian selanjutnya pun tak terelakkan bersama dengan ribuan air mata Lula yang jatuh.

Kelima orang itu dengan bejadnya menuntaskan hasrat satu per satu naik bergantian di tubuh Lula.

Lula hancur, tubuh Lula remuk redam, kesuciannya ternoda dan direnggut paksa, harga dirinya diinjak-injak.

Ruangan sempit 6 x 6 itu menjadi saksi bisu sebuah ketidakberdayaan seorang gadis tanpa ayah dan ibu.

Tanpa tau alasannya, tanpa tau penyebabnya, Lula harus menanggung kesakitan yang luar biasa ditubuhnya juga kehancuran yang begitu besar dihidupnya.

Di ambang kesadarannya Lula menoleh pada Olan dan melihat ekspresi marah, sedih, hancur pada mata Olan.

Dan berakhir Lula menutup matanya.

Bugh!

Lula pingsan karena sakit yang teramat sangat mendera tubuhnya.

Olan yang melihat tatapan hancur Lula yang dilayangkan padanya membuatnya seperti berada direruntuhan bagunan tinggi yang menghujaminya dengan batuan besar.

Terlebih kala melihat Lula menutup matanya.

Sekuat tenaga, Olan terus berontak walaupun tangan kaki dan tubuhnya sudah banyak mengeluarkan darah akibat gesekan berjam-jam.

Sayangnya, Olan merasakan pukulan yang teramat keras ditengkuk lehernya dan semuanya menjadi gelap.

******

Begitu sadar, pria itu sudah berada di ruangan putih dengan pergelangan tangannya sudah diperban.

Selang infus kini menancap dipunggung tangannya.

Olan langsung melepas infus itu secara paksa dan turun dari ranjang rumah sakit.

Kebetulan saat Olan turun dari ranjangnya seorang suster masuk ke dalam kamarnya dan terkejut melihat ulah Olan.

"Tuan, Anda tidak boleh seperti ini," kata suster itu.

"Dimana gadis yang datang bersama saya!" jawab Olan dingin.

"Tenang saja tuan, sedang diperiksa oleh dokter di sebelah." jawab suster itu.

Olan langsung berlari keluar ruangannya dan menuju ke ruang sebelah yang dikatakan oleh suster.

Saat Olan masuk ke ruangan Lula, dokter tengah membereskan alat setelah berusaha menyelamatkan nyawa Lula yang baru saja melakukan percobaan bunuh diri.

Darah bercecer dimana-mana dan jas putih dokter itupun juga banyak darah pun dengan baju Lula.

"Dok, ada apa ini?" kata Olan mendekat.

"Maaf, Tuan, apa anda ini—?" tanya dokter itu terputus.

Dokter bingung bagaimana menanyakan apakah Olan pelaku pelecehan.

"Bukan, saya pacarnya. Dan kekasih saya di perkosa, Dok." jawab Olan.

"Hanya itu saja? Apa Anda di lokasi kejadian?" kata dokter itu.

"Iya, saya diikat dan mereka merudapaksa kekasih saya sampai pingsan lalu saya dipukul sampai pingsan!" jawab Olan pada dokter itu dan mendekat.

"Pasien mengalami depresi, Pak. Dia melakukan percobaan bunuh diri yang sangat mengerikan," kata dokter kemudian menjelaskan.

Jarum Infus yang panjang itu Lula gunakan untuk memutus urat nadinya dipergelangan jangan hingga darah muncrat-muncrat.

Namun tidak berhasil karena dokter lebih dulu masuk dan menghalangi Lula melanjutkan aksinya.

Olan hanya diam mendengar penuturan dokter itu.

"Lalu, Dok?" tanya Olan.

"Kekasih anda ini tidak hanya trauma akan kejadian itu, akan tetapi tekanan batin dalam hatinya karena kejadian itu dilihat langsung oleh kekasihnya mungkin, mengakibatkan dia mengalami depresi." jawab dokter itu.

Jedar!

Kata-kata dokter membuat Olan lemas seketika.

Kenyataan bahwa para bajingan itu tidak hanya merenggut kesucian kekasihnya, harga diri kekasihnya, juga merenggut kewarasan kekasihnya membuat Olan begitu merasa tidak berguna sebagai kekasih.

"Lebih baik segera bawa ke rumah sakit jiwa saja, Pak. Di sana banyak psikolog atau psikiater untuk membantu penyembuhan kekasih anda!" kata dokter itu.

Jelas Olan sangat terpukul.

Dan Olan terdiam, kemudian menyetujui perintah dokter karena saat ini Lula sebatang kara.

Olan tidak memiliki pilihan lain.

Olan mencari rumah sakit jiwa yang tidak bisa dijangkau oleh Kakeknya.

karena Olan tau, jika tidak ada yang bisa melakukan hal sejahat ini kecuali Kakeknya itu, hingga api amarah itu berkobar dalam mata Olan.

Bagaimanapun, Olan sangat marah dengan Kakeknya.

Lula selalu histeris dan selalu ketakutan melihat laki-laki tanpa terkecuali Olan.

Dan hari itu, Olan mengirim Lula untuk menghuni bangkar rumah sakit jiwa di salah satu rumah sakit ternama di kota itu.

Dia tak tahu apakah Lula akan sembuh? Yang jelas, dia harus segera menemui kakeknya segera!

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.