DIBALIK CADAR ISTRIKU

Kesedihan mendalam ini, mungkin hanya aku yang tahu rasanya. Bak terjatuh, kemudian tertimpa tangga, dan genting pula. Sudah kehilangan dua orang wanita terhebat, ditambah harus menikah dengan gadis yang tidak kukenal sama sekali sebelumnya membuat keadaan ini semakin tak karuan. 

Dia asing dan hanya kuanggap tamu di rumahku. Meski ijab dan kobul sudah terucap, status sudah berubah, tapi hati masih tetap sama. 

Tengah malam kuterbangun di antara kesunyian, terdengar lirih sebuah suara. Kudekati perlahan sumber suara dari kamarku yang ditempati Azizah, ternyata suara isak tangis.

'Apa dia menangis, tapi tengah malam begini?' tanyaku dalam hati. 

Enggan menganggu, aku pun melangkah pergi. Mungkin saja memang ada yang membuatnya sedih atau bisa saja aku yang tak sengaja membentaknya kemarin sore. Wanita memang sangat mudah mendramatisir sesuatu. Aku hanya bersikap tegas, tapi dengan mudah dia menangis. 

Setelah malam berganti fajar, kudengar kebisingan dapur seperti biasa. Azizah memasak dengan seragam yang dipakainya setiap hari. Gamis panjang, jilbab panjang, dan cadar berwarna hitam. Aku pun harus terbiasa dengan keadaan canggung ini. 

"Mas, aku minta izin buat masuk kelas mulai hari ini," ujarnya ketika menyadari aku datang. 

"Iya, silakan," jawabku. 

"Sebenernya aku minta perpanjangan cuti karena keadaanmu kemarin, tapi sepertinya kamu sudah mulai membaik." 

'Harus menjawab apa? Aku tidak bertanya juga dia cuti berapa hari.'

"Iya." 

"Kamu nggak apa-apa kan, Mas?" 

"Tadi bukannya aku udah bilang, iya? Kamu mau aku jawab apa lagi?" 

Dia diam. Sebenarnya malas bersitegang pagi-pagi begini, tapi bukannya dia yang mulai? 

"Maaf, Mas," ujarnya lirih. Kalimat itu terdengar seperti merasa bersalah di telingaku. 

"Apa tidak ada kata lain selain, maaf?"

"Maaf, Mas," katanya kelabakan. Tatapi, ia terus berkata maaf dan semakin membuatku merasa kesal. 

Kuluapkan kemarahan dengan berjalan kembali ke dalam kamar Ibu. Menjerit sekuat tenaga setelah mengunci pintu. Azizah Azzahra. Kenapa? Kenapa harus wanita seperti itu yang aku nikahi? Wanita yang kata Ibu bisa membuatku bahagia. Nyatanya, masih belum ada satu jam aku berbicara dengannya pagi ini, aku sudah dibuat kesal. 

Harus seperti apa? Apa aku yang harus mengerti dia? Sementara dia, tidak bisa mengerti aku sama sekali? Apa kurang jelas selama ini, kalau hubungan ini tidak seperti rumah tangga pada umumnya. 

"Mas, aku berangkat dulu. Assalamualaikum." Suaranya terdengar di balik pintu kamar ini. Baguslah, setidaknya dia tidak lagi menangis. 

Aku pun keluar setelah terdengar Azizah menutup pintu utama. Mencoba menghibur diri dengan berselancar di sosial media guna menghapus kabar bahagia yang sempat aku bagikan beberapa waktu lalu. 

Kesedihan kembali menyelimuti diri kala melihat kenangan bersama dia, Kiara Putri. Gadis manis yang berhasil mencuri hatiku dengan kesabarannya. Ternyata Sang Pencipta lebih menyayanginya. 

[Halo, assalamaualikum, Mas.] 

Sebuah pesan chat tanpa nama terlihat di notifikasi. Cukup lama aku biarkan karena tidak mau melayani orang asing meski hanya lewat pesan chat. 

[Ini aku Azkia, Mas apa kabar?] 

Alisku berkerut. Merasa penasaran, aku pun mengintip foto profilnya. Benar saja, foto Azkia dengan senyum indah khas tanpa gincu terpampang jelas dengan jilbab segi empat berwarna pink. Manis sekali. 

[Baik. Kabarmu sendiri gimana?] 

Baru kemarin bertemu sudah bertanya kabar? Apa ini tidak terlalu berlebihan? Namun, setelah dipikirkan kembali, sejak kapan aku suka berbasa-basi? 

[Baik, juga, Mas. Oh, ya. Aku minta nomor HP kamu dari Mas Lana, gak papa, kan, Mas?]

[Memangnya ada perlu apa kamu minta nomer HP-ku? Apa ada hal penting?] 

Aku ingin tahu dia akan menjawab apa. Apa dia akan jujur atau kembali berbasa-basi?

[Aku mau temenan sama kamu, Mas.] 

[Apa bisa laki-laki dan perempuan temenan biasa tanpa ada rasa?] 

[Kalau Mas nggak mau temenan, nggak masalah.] 

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Kalau begitu, oke. Aku akan berkata jujur dengannya. 

[Aku sudah menikah, Azkia.] 

[Hah, kapan? Dengan siapa? Mas Lana nggak ngomong apa-apa? Bahkan kemarin waktu Mas ke sini, Mas juga nggak bawa istri Mas.] 

Sepertinya dia terkejut kalau dilihat dari retetan pertanyaan itu. Dia memang cantik, tapi aku juga tidak bisa berkata bohong kalau memang aku sudah menikah meski hal ini masih kurahasiakan dari Lana. 

[Apa buktinya kalo Mas udah nikah?] 

Dia kembali mengirimkan pesan sebelum kujawab segerombolan pertanyaan sebelumnya. 

[Tidak ada bukti,] balasku singkat. 

[Terus, apa Mas bohong kalau Mas udah nikah? Aku tertarik denganmu, Mas. Tolong jangan buat aku merasa hancur.] 

Apa? Dia tertarik denganku. Aku? Wajah yang biasa saja dan jauh dari kata tampan. Postur tinggi besar dan jarang tersenyum. Dia bisa tertarik? Apakah dia gadis lain yang hampir sama dengan Almarhumah Kiara? 

[Kamu jangan bercanda. Aku tidak suka candaan, Azkia.] 

[Aku nggak bercanda, Mas.] 

Memang, meski penilaianku mengenai Azkia awalnya sedikit menyebalkan karena suka berbasa-basi, tapi semakin ke sini, semua pesannya seperti ia berkata serius dan tidak bercanda. 

[Sebenarnya pernikahanku masih belum resmi menurut hukum, karena pernikahan itu terjadi secara mendadak di rumah sakit waktu ibuku kritis.] 

[Apa, Mas mau ceraikan istri Mas demi aku?] 

Sungguh, pertanyaan ini sama sekali tak bisa kujawab mengingat wasiat Ibu yang menyuruhku menjaga Azizah seperti aku menjaga dia selama ini. Kenapa? Kenapa nasibku seperti ini? Apa aku akan menempati janji pada Ibu? Meski ada hati yang akan terluka atau aku akan mengingkari wasiat Ibu demi dia, Azkia? 

[Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, Azkia.] 

Dia berulang kali mengirim pesan dan mencoba meyakinkan agar aku berpisah dengan Azizah, tapi aku terhalang wasiat Ibu. Wanita yang sudah melahirkanku itu mengajarkanku tentang sifat-sifat nabi. Ya, jujur, dapat dipercaya, dan menyampaikan. Sebagai dosen dari ilmu fiqih, Ibu mencoba menerapan sifat nabi pada diriku. Berkat didikannyalah aku bisa menjadi seperti sekarang. Sebab itu pula, tidak mudah bagiku mengesampingkan wasiat Ibu dan mementingkan egoku.

Seharian aku berpikir mengenai masalah ini. Andai saja hubunganku dengan Azizah terjalin baik, mungkin aku bisa membicarakan hal ini dengannya. Tak kusangka, meski aku mengagumi sosok Azkia yang sangat cantik, ternyata dia juga tertarik padaku. Kejujuran gadis manis itu, ternyata sudah mulai mengobrak-abrik dinding kuat amanah yang telah diajarkan oleh Ibuku. Apa setelah ini aku akan goyah karena Azkia?

[Kita jalani saja seperti air mengalir.] 

Tak kusangka, kalimat pendek yang baru saja kukirim berhasil membuat Azkia bahagia. Dia menganggap aku mau menjalin hubungan dengannya meski sebagai teman. Sedikit yang membuatku heran dari ini semua adalah, apakah dia betul-betul gadis baik? Karena tidak ada gadis baik yang dengan sangaja menganggu rumah tangga orang lain.  

Bersambung.....

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.