Diary Naya

"Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Awalnya, kita tidak saling mengenal bukan? Namun, semesta mengenalkan kita tanpa sengaja."           - Anaya Anantara Sabila

Aku tiba di kostan dengan nafas terengah-engah. Hampir saja dia berhasil mengejar ku.

"Ya Tuhan, ternyata orang itu mengerikan juga. Atau, jangan-jangan, dia adalah seorang psikopat yang menyamar jadi mahasiswa? Hihhh membayangkan nya saja aku sudah bergidik ngeri."

Ketika sedang asyik melamun, aku di kejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar.

"Nay! Lagi apa si di dalem? Dari tadi aku panggil gak nyaut-nyaut. Hayoo lho! Lagi mikirin Bang Eza ya? Selidik Amel.

"Diihhh... Apaan sih, Mel. Bang Eza siapa? Aku balik bertanya.

"Ya ampun. Naya! Abis kejedot pintu lu? Atau, salah minum obat? Kenapa tiba-tiba jadi amnesia?" Tanya Amel khawatir.

"Gini ya, gue jelasin sama lo. Yang gue maksud itu, bang Eza senior kita di Kampus. Mahasiswa Semester 6, Jurusan Ilmu Komunikasi. Yang naksir berat sama cewek dingin dan jutek, seperti Anaya Anantara Sabila." Jelas Amel panjang lebar.

"Iya, udah tau kali." Ucapku tak mau kalah.

"Lagian, aku itu bukan lagi mikirin bang Eza. Tapi, lagi jatuh cinta." Aku balik menggoda Amel.

"Hah! Lo serius? Jatuh cinta sama siapa?" Tanya Amel antusias.

"Kepo banget sih neng! Mau tahu aja, atau, mau tahu banget?" Tanyaku membuat Amel semakin penasaran.

"Mau tahu banget lah." Ucapnya antusias.

***

Saat sedang asyik mengobrol dengan Amel, tiba-tiba, HP ku berbunyi.

Tiiing...

Sebuah pesan WA masuk ke HP ku.

Dari nomor tidak di kenal.

[Kamu, Naya, kan? Naya, si cewek penggaris, yang datar dan kaku kaya kanebo kering.]

Diiihhh! Siapa sih ni orang? Kenal juga enggak, udah ngajak perang aja.

Tapi, karena penasaran. Akhirnya, aku membalas pesannya.

[Maaf, sepertinya anda salah orang. Saya bukan cewek penggaris. Nama saya Naya. Nama lengkap saya, Anaya Anantara Sabila.]

[Anaya Anantara Sabila? Nama yang bagus. Tapi, sayang. Orang nya dingin banget kaya kulkas. Udah gitu galak lagi. Kayanya, nama itu gak cocok buat lo.]

[Enak aja! Kalau ngomong itu jangan sembarangan. Aku laporin sama bapak aku, baru tahu rasa kamu.]

[Jutek amat sih neng! Jadi cewek jangan jutek-jutek, nanti susah dapat jodoh.]

[Bodo amat.]

[Yeehhh! Di bilangin gak percayaan]

[Ngapain juga harus percaya sama kamu? Kenal juga enggak.]

[Ya udah, kenalin, nama gue Arsa Nata Prawira. Boleh di panggil sayang.]

[Dasar buaya darat]

[Haha, tapi gue pastiin, lo bakal jatuh cinta sama gue.]

[Gak bakalan]

[Kita lihat aja nanti!]

[Oke! Siapa takut]

[Ya udah, gue lagi ada tugas nih. Kita lanjut lagi besok ya. Dadah sayang.]

***

Apaan sih tu orang, gak jelas banget. Baru juga kenal udah manggil sayang, dasar cowok aneh.

Aku terus saja mengomel. Sampai gak sadar, kalau Amel ternyata masih ada di sampingku dengan wajah keheranan.

"Woy! Kenapa lu? Dari tadi ngomel-ngomel gak jelas. Lagi chattingan sama siapa sih?"

"Apaan sih? Kepo banget! Lagian bukan siapa-siapa."

"Jangan bohong! Dari tadi gue perhatiin lu kali."

"By the way, kamu tahu yang namanya Arsa?"

"Arsa yang mana?"

"Itu, lho, Arsa Nata Prawira, tahu gak?"

"Arsa Nata Prawira?" Tanya Amel dengan wajah yang kaget.

"Iya, katanya sih gitu. Kamu tahu?

"Ya, tau lah. Siapa si yang gak kenal sama Kak Arsa. Udah baik, cool, pinter, anak motor lagi. Pokoknya dia itu idaman semua cewek di kampus. Tapi sayangnya, dia itu dingin banget orangnya. Cocok sama lo."

"Cocok apaan! Yang ada, kita itu udah kaya Tom and Jerry. Gak bakal bisa akur."

"Jadi, tadi lo chattingan sama Kak Arsa?

"Yaa, gitu deh."

"Kok bisa?"

" Jadi gini, tadi itu, pas aku pergi ke ATM buat ngambil uang kiriman dari ibu, aku ketemu sama dia dan teman-temannya juga. Tapi, yang bikin aku kesel, masa dia ngatain aku cewek penggaris sih! Katanya, aku itu datar, lurus, kaku, gak jauh beda sama penggaris. Nyebelin banget gak si?

"Hahaha... Emang bener sih! Lo itu emang gak jauh beda sama penggaris. Buktinya nih ya, kalau lo jalan, lo tu gak pernah liat kanan kiri tahu, gak? Luruuus aja, terus yang bikin gue kesel kalo lagi jalan sama lo, lo tu dataaar aja, gak pernah gue lihat lo senyum." Cibir Amel.

Tuk!

Aku memukul kepala Amel, enak aja dia ngatain aku cewek penggaris. Temen apaan coba yang berani ngatain temennya sendiri?

"Awww... sakit tahu!"

"Syukurin! Siapa suruh tadi ngata-ngatain, hah?"

"Iya-iya Maaf! Gue kan cuma bercanda." Ujarnya.

"Ngomong-ngomong nih ya! Kayanya, kalian jodoh deh. Soalnya, sama-sama jutek, dingin, kuliah di jurusan yang sama pula."

"Jangan ngaco deh Mel!"

"Gue serius Nay! Pertemuan kalian itu udah di takdirin sama Tuhan. Buktinya, lo sama dia punya banyak kesamaan. Dan itu bukan sebuah kebetulan kan?"

"Ya bisa aja itu cuma  sebuah kebetulan. Atau, bisa jadi dia salah satu kembaran aku. kata orang, kita itu punya tujuh kembaran di dunia. Berarti aku tinggal nyari yang sisanya aja. Bener gak?" Ucapku terkekeh.

"Sumpah ya! Lo itu makin ngaco. Kebanyakan nonton film tahu gak? Lama-lama gue bisa ketularan gak jelas kaya lo."

"Pokoknya menurut gue nih, ya, di dunia ini gak ada yang namanya kebetulan, semua yang terjadi di dunia ini, itu semua udah takdir dari Tuhan. Termasuk pertemuan lo sama kak Arsa."

"Iya benar juga sih!" Ujar ku sambil tersenyum.

"Udah ah! Gue mau balik ke kamar gue dulu. Kalau kelamaan di sini, gue takut lo kerasukan sama kembaran lo yang lainnya." Ucap Amel sambil berlalu.

"Haha... Apa katanya? Kerasukan sama kembaran yang lain? Ada-ada aja tu anak." Aku hanya bisa tertawa mendengar ucapannya.

***

Aku memang setuju dengan semua perkataan yang Amel katakan. Kalau setiap kejadian di dunia ini, semua itu adalah takdir dari Tuhan. Tapi, apakah pertemuanku dengan kak Arsa juga sebuah takdir?

Entahlah. Yang pasti saat ini, aku menjadi penasaran dengan seorang ARSA NATA PRAWIRA.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.