Bab 3
Sesampai mereka di apartemen, Samuel membuka pintu dengan sedikit bersusah payah karena harus menggendong wanita yang sudah mabuk berat ini. “Apa besok pagi dia akan mengamuk kalau sampai mereka bercinta malam ini?” tanya Samuel saat menurunkan tubuh wanita itu di atas ranjangnya dengan perasaan ragu.
Hesti membuka mata kemudian tersenyum seraya mengamati pria asing yang sedang berdiri sambil memandanginya dengan tatapan ragu. Ia lega pria muda yang ia temui di klub barusan bukanlah khayalannya semata. Ia merasa senang karena mendapati rupa pria itu jauh lebih tampan dari yang terlihat di keremangan klub.
Ia menemukan pria tampan itu tampak sedang asyik memandanginya dengan tatapan ragu. Ia mengerti dan tidak segan untuk menarik pria asing itu kemudian menciumnya tanpa keraguan sedikitpun. Hasratnya bergejolak liar untuk merasakan bagaimana bercinta dengan pria lain selain suaminya dan segera menuntaskan misinya untuk mengandung seorang bayi.
“Bercintalah denganku,” desahnya di telinga pria itu tanpa merasa malu-malu. Untuk apa dia malu! Mereka hanya akan bertemu sekali ini karena itu ia harus menikmati semua prosesnya. Proses kehadiran bayinya ke dunia ini karena suaminya tidak bersedia memberinya bayi!
Samuel tidak bisa menolak ataupun membuat wanita itu sadar karena ia takut setelah wanita itu sadar, wanita cantik ini tidak akan lagi menginginkannya. “Aku akan membuatmu menginginkan aku terus seumur hidupmu, Sayangku,” bisik Samuel di telinga wanita yang sangat menggiurkan ini.
Hesti tertawa mendengar ucapan pria muda di pelukannya ini. “Yah, yah, yah, buat aku menjerit dan mencapai klimaks yang tidak akan pernah aku lupakan!” seru Hesti menjadi lebih bergairah mendengar ucapan pria muda yang sangat gagah ini.
Samuel tertawa senang mendengar tanggapan wanita cantik dalam pelukannya ini. “Siapa namamu, Cantik?” tanya Samuel sambil membuka pakaian wanita yang akan menghangatkan ranjangnya malam ini.
“Namaku? Apa itu penting?” sahut Hesti seraya terkekeh sambil bekerja sama membiarkan pakaiannya dilucuti satu persatu tanpa meninggalkan tatapan penuh hasrat ke arah pria gagah ini.
Samuel tidak bisa mengalihkan tatapan matanya saat semua pakaian sudah dilepaskan dari tubuh wanita cantik ini. Dia benar-benar tidak menyangka, tubuhnya sangat halus dan mulus! Ia seperti mendapatkan harta karun malam ini! “Sangat penting, agar aku bisa menyerukan namamu di tengah klimaksku, apa kau suka?” tanya Samuel lagi seraya terkekeh dan menyentuh perlahan tubuh wanita cantik ini.
Hesti mengerang, menikmati kehangatan tangan pria muda yang sedang menggerayangi tubuhnya dengan penuh gairah. Ia juga sudah tidak sabaran dan merasakan lebih! “Suka, sangat suka! Namaku Hesti. Kalau begitu aku juga perlu tahu siapa namamu, bukan?” tanya Hesti merasa penasaran seraya tersenyum memandangi pria di atasnya ini.
“Namaku Samuel,” jawab Samuel sambil mencumbu tubuh Hesti untuk membuatnya bertambah gairah.
“Samuel, itu nama yang sangat indah,” sahut Hesti seraya memejamkan mata menikmati sentuhan Samuel pada tubuhnya.
“Terima kasih,” sahut Samuel seraya tersenyum memandangi Hesti yang sedang menikmati sentuhannya.
“Buatlah aku melupakan segalanya Samuel,” pinta Hesti mengerang tertahan karena hisapan Samuel di payudaranya begitu membuatnya melambung ke awan-awan.
Samuel tersenyum sambil menjauh sebentar dari Hesti untuk membebaskan tubuhnya dari pakaian yang menyiksanya. Ia membuka seluruh pakaiannya dengan tangan gemetaran sambil menatap tubuh telanjang Hesti yang sangat indah dan berlekuk sempurna. Kulitnya sangat putih dan mulus. Payudaranya ranum dan manis. Tubuh Hesti benar-benar indah dan tidak bercacat noda sedikitpun. Ia sudah bisa menebak kalau Hesti berasal dari keluarga berada tapi kenapa ia menginginkan bayi darinya? Ia merasa kecewa saat melihat jari Hesti yang sudah mengenakan cincin kawin di jarinya! Meski merasa kecewa tapi tidak menyurutkan hasrat dan gairah yang dirasakan Samuel saat ini. Kalau begitu mereka hanya punya malam ini karena itu ia harus membuat malam ini berkesan untuk Hesti dan memastikan kalau dia akan selalu mencarinya di lain waktu.
Ia sudah banyak bercinta dengan gadis-gadis muda tapi tubuh mereka tidak seperti tubuh Hesti, tubuh Hesti dan ukurannya terlihat sangat sempurna di matanya. Samuel menelan air ludahnya dengan susah payah tanpa bisa mengalihkan tatapan matanya dari tubuh Hesti yang sedang menggodanya untuk cepat menggaulinya!
Payudara Hesti yang ranum, lehernya yang jenjang, bibirnya yang merekah, semua itu membuat Samuel bertambah gairah untuk bergegas menyongsong hadiah pemberian dewa pada malam ini untuknya dan dengan hasrat yang menggebu, ia langsung menghampiri Hesti dan mencumbunya dengan bibirnya.
Hesti mengerang menyukai kehangatan mulut dan bibir Samuel yang mencumbu semua bagian tubuhnya dengan penuh gairah. Tubuhnya memanas dan menginginkan lebih. Ia meremas-remas rambut Samuel yang lebat dan membuatnya semakin bergairah.
Samuel tersenyum seraya menatap ekspresi Hesti yang menyukai kecupan dan lumatannya. Satu tangan perlahan turun ke area intim kewanitaannya dan memberikan belaian penuh kasih hasrat melalui jari-jarinya yang terkenal mampu memberi kepuasan kepada lawan jenisnya.
Hesti mengerang sambil meremas sprei karena sangat menyukai kehangatan jari-jari Samuel yang memenuhi dirinya saat ini. Tangannya bergerak maju dan mundur dengan tempo yang sengaja dipercepat, membuat Hesti seakan jadi gila dan tidak mau Samuel berhenti melakukannya.
“Jangan berhenti, kumohon!” pinta Hesti sambil mendesah dan meremas sprei dengan kuat.
“Apa kau menyukainya?” tanya Samuel dengan penuh percaya diri.
“Sangat!” jawab Hesti sambil menyambut ciuman Samuel dan menambah panas gairah yang ia rasakan saat ini.
Ciuman Samuel turun dan mengulum kedua payudara Hesti secara bergantian. Ia menikmati saat mata Hesti yang tanpa segan menatapnya seraya tersenyum.
Tangan Hesti membelai lembut rambut Samuel dan meremasnya sambil menekankannya agar Samuel tidak menghentikan kulumannya yang membuatnya terus menjerit merasakan betapa gelombang kenikmatan menderanya saat kehangatan lidah dan mulut Samuel mencumbu payudaranya. Ia merasa sangat siap untuk menyatukan diri dengan Samuel tapi tampaknya Samuel ingin terus menyiksanya dengan kenikmatan saat ini. “Please, Sam, please!” pintanya setengah memohon.
Samuel tersenyum bahagia mendengar rintihan Hesti. Semuanya itu membuatnya tambah bergairah. Dia sangat menyukai erangan dan juga rintihan Hest yang memohoni agar ia bisa segera memberikan apa yang ia inginkan.
Dengan satu tangannya, ia segera menenangkan Hesti lagi di bawah sana dan hal itu membuat Hesti memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya dengan menyerukan erangan kenikmatan. Apalagi saat Samuel menggerak-gerakkan jari-jarinya dengan gerakan cepat. Ia melihat sendiri kalau Hesti benar-benar menyukai keterampilan jari-jarinya menari di dalam inti sari kewanitaannya yang sangat hangat dan basah saat ini.
Samuel berusaha untuk berlama-lama menggoda Hesti tapi pada akhirnya ia tidak tahan lagi dan segera menggantikan posisi.
“Ini!” kata Hesti langsung tersentak kaget saat Samuel memutar posisi tubuhnya dan menghadapkannya langsung dengan kejantanannya yang sudah mengeras dan berukuran sangat besar dibanding kejantanan mas Haris. Wajahnya langsung memerah karena berada dalam posisi yang canggung.


![[BUKAN] PELAKOR](https://v.pinedrama.com/b1265344voduse1318177724/e81475025001834806826634364/X7VQzWmqJ0YA.webp!15491.webp)


