Bel pulang sekolah sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Mengakhiri penderitaan Adela yang sampai saat ini masih merasa terpaksa karena sebelumnya harus berlama-lama dengan Alesio di lapangan sekolah, menuntaskan hukuman yang diberikan Pak Azzam untuk keduanya.
Kini tetesan keringat mengalir deras di dahinya. Sepulang sekolah, Adela dan semua anggota Muay Thai kembali mengadakan perkumpulan. Baginya, ekstrakulikuler beladiri adalah media belajar untuk para perempuan agar bisa melindungi dirinya sendiri. Apalagi perempuan seringkali menjadi incaran kejahatan, karena kerap dianggap sebagai makhluk yang memiliki kemampuan fisik lebih lemah dibanding laki-laki. Padahala tidak juga, justru menurut Adela, perempuan adalah makhluk yang luar biasa kuatnya. Ketika sudah tiba pada waktunya, semua perempuan akan menjadi seorang Ibu yang dengan begitu hebatnya rela mengorbakan nyawanya untuk melahirkan seorang manusia.
Adela punya alasan, kenapa dia menyukai seni beladiri. Bukan karena hanya ingin melindungi diri tapi juga agar ia dipandang kuat oleh banyak cowok, sekaligus caranya sendiri. Mengobati luka yang jika orang-orang melihatnya dari luar, tampak baik-baik saja.
Seorang guru pembimbing berdiri di hadapan Adela. Sembari masing-masing telapak tangannya memakai sarung tangan yang memiliki bantalan busa. Benda itu akan menjadi sasaran untuk Adela pukul dan tendang. Sedangkan Adela memakai sarung tinju berwarna biru dikedua tangannya.
Sekelebat, bayangan wajah Alesio terbayang. Membuat semua amarah di hati Adela bergejolak. Tentang Alesio yang dengan teganya menyakiti perasaan Ceysa, sahabat yang sangat Adela sayangi layaknya seperti seorang saudara. Apalagi, sesama perempuan, Adela tidak terima jika Ceysa diperlakukan semena-mena oleh laki-laki. Terutama Alesio.
Pelan-pelan, Adela tak mampu menahan emosinya. Ia memukul sarung tangan dengan bantalan busa itu sekuat tenaga. Untungnya, sarung tangan yang dipakai Pak Edy bisa menyerap pukulan yang Adela lancarkan, membuatnya tidak mengalami cedera. Namun Pak Edy justru menepuk kedua bahunya. Sembari bilang. "Nice and cool. Adela! Sebelumnya kemampuan kamu sudah sangat baik dan kali ini semakin baik lagi." Pak Edy menepuk-nepuk bahu Adela. Ia merasa bangga memiliki Adela sebagai ketua ekstrakulikuler yang ia bina. Terlebih, karena Adela selalu mengharumkan nama eskul Muay Thai dengan prestasinya memenangkan setiap lomba beladiri mewakili Sma Cendaka Karya ini. "Baik, sudah pukul lima sore. Latihan kita tutup." Adela mengangguk menanggapi ucapannya. Suara bariton Pak Edy mengumpulkan semua anggota.
"Tetap semangat semuanya, dan jangan lupa jaga kesehatan," ucap Pak Edy. Sebelum pertemuan eskul ini diakhiri. Mereka semua berdoa terlebih dahulu. Lalu merapat membentuk sebuah lingkaran untuk saling menumpukkan telapak tangan ke punggung tangan satu sama lain dan mengangkatnya secara bersamaan.
Seragam olahraga yang Adela kenakan bermandikan keringat, wajahnya kusam dan ikatan rambutnya semakin dibuat asal-asalan. Sangat tidak menggambarkan cewek idaman kebanyakan cowok. Meski begitu, Adela tidak seburuk itu. Ia memiliki tinggi badan sedang dengan tubuh ideal berkulit kuning langsat. Juga wajah yang cukup menarik. Hanya saja, Adela lebih suka menjadi apa adanya daripada menuruti standar kecantikan.
Adela berjalan keluar dari ruangan eskul Muay Thai. Dengan santai melewati lapangan yang biasanya jika sore begini dijadikan tempat bermain basket. Mengingat kejadian sebelumnya, membuat Adela rasanya ingin kembali memukuli Alesio.
○●○





