Dominic menggelengkan kepalanya dan berlalu keluar dari kamar. Pria itu berjalan menuju kulkas dan meraih sebotol air dingin yang kemudian dilekatkannya ke dahinya yang panas.
Tidak mudah rupanya mengurusi anak gadis. Ketika teman lamanya meninggal dan menyerahkan hak asuh putri mereka kepada Dominic lima tahun yang lalu, Bee baru berumur 14 tahun. Sudah remaja, tapi tidak terlalu merepotkan.
Sekarang gadis itu berumur 19, barulah Dominic sadar bahwa ia tidak bisa lagi membedakan apakah dirinya sosok seorang ayah bagi gadis itu, ataukah seorang kekasih.
Benar Bee masih memanggilnya Daddy. Benar ia masih memanggil Bee sebagai Princess. Dan tentu saja ia menganggap gadis itu segalanya. Tapi semakin berjalannya waktu, posisi keduanya semakin mengabur. Apalagi ketika ia membiarkan dirinya mencintai gadis itu lebih dari seorang anak yang diadopsinya karena terpaksa.
Dominic memaksakan dirinya untuk melakukan pekerjaannya. Butuh semua konsentrasi yang dimilikinya untuk bisa menghilangkan jejak tubuh Bee dari benaknya. Pembicaraan tentang retail dan perluasan cabang departemen store yang dimilikinya, untungnya menyita perhatian Dominic dari putri angkatnya. Tapi, begitu pekerjaannya selesai, hanya ada satu hal dalam benak pria itu.
Ia bergegas keluar dari kantornya dan mencari Bee.
Pria itu menemukan Bee sedang berada di dapur, masih mengenakan pakaian yang sama dengan sebelumnya tapi sudah memakai bra walaupun Dominic ragu gadis itu mengenakan celana dalam di balik roknya yang pendek.
Bee sedang berdiri membelakangi Dominic dan tampak sedang membuat makan siang untuknya sendiri.
"Apa yang sedang kau buat, Princess?" Dominic menyandarkan bahunya ke pinggiran pintu dapur dan mengamati dengan tangan terlipat.
"Roti dengan selai kacang dan jelly."
"Oh, kesukaanku," Dominic berkomentar. "Apakah Princess akan membaginya dengan Daddy?"
"Tidak."
Dominic mengerutkan dahinya.
"Tidak? Mengapa?"
"Daddy memarahiku tadi pagi," Bee membalas sambil membungkuk mengambil sesuatu dari rak bawah lemari, menampakkan pantatnya yang putih dan... tebakan Dominic benar, masih tidak mengenakan celana dalam.
"Lagipula Daddy sendiri yang bilang kalau selai kacang rasanya seperti vag—"
"Bee!" Dominic memotong ucapan gadis itu dengan erangan.
Gadis itu langsung menegakkan punggungnya dan menoleh dengan wajah meringis.
Dengan dua langkah lebar, Dominic sampai di belakang tubuh Bee dan menaikkan gadis itu ke atas bahunya, memanggulnya layaknya membawa sekarung beras.
"Okay, waktunya Daddy menghukummu, Princess."
Dominic membawa gadis itu ke kamarnya dan menidurkannya ke atas ranjang dengan hati-hati. Ia langsung menindih tubuh Bee dan menarik kedua tangan gadis itu diatas kepalanya.
"Apa yang akan Daddy lakukan padamu hari ini, Princess," Dominic menggumam pelan sambil mengamati wajah Bee yang kini memerah.
"Entahlah, Daddy," Bee menjawab sambil mengigit bibirnya sendiri. "Mungkin Daddy mau bermain-main dengan bagian privat milik Princess?"
Bee melebarkan kedua pahanya dan mengaitkan kakinya mengelilingi pinggang Dominic.
"Ia sudah tidak sabar untuk bermain dengan Daddy," Bee berbisik dan mulai menggerakkan pinggulnya, menggesek ke kejantanan Dominic yang saat itu sudah benar-benar berdenyut.
Oh fuck... Dominic tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia melepaskan tangan Bee dan melucuti pakaian gadis itu hingga habis. Hanya tiga helai. Tank top, bra, dan rok.
Sambil mengamati tubuh Bee yang luar biasa, Dominic melepaskan pakaiannya sendiri. Perlahan. Pria itu menikmati tubuh yang tergolak di bawahnya. Wajah Bee yang putih dan memerah. Mata lebarnya yang mengamatinya dengan tidak sabar. Bibirnya yang terbuka sedikit dan menarik nafas pendek setiap ia melepaskan kancing dari kemejanya. Payudara gadis itu yang montok dan pandat. Perutnya yang lembut tapi ramping. Celah diantara kedua pahanya yang mungil.
Jangan salah. Dominic bukanlah seorang pria pedofilia mesum yang tidak laku.
Walaupun jauh lebih tua dari Bee, Dominic tampan. Kaya. Berotot. Sempurna dimata kebanyakan wanita. Ia bahkan memiliki seorang kekasih. Wanita karir dengan umur yang lebih sepadan dengannya . Tapi tidak ada wanita berumur 30 an tahun yang bisa menandingi tubuh gadis 19 tahun seperti Bee.
Begitu boxernya terlepas, Dominic kembali menundukkan wajahnya dan membenamkan mulutnya ke salah satu ujung payudara Bee.
Gadis itu menjerit kecil. Jemari Bee yang mungil meraih rambut Dominic dan meremasnya pelan. Begitu lidah Dominic mulai menjilat, jeritan Bee berubah menjadi lenguhan panjang.
"Oh.... Daddy..... Kau membuat bagian privatku berdenyut," gadis itu menggumam diantara lenguhannya.
"Dasar gadis nakal. Kau perlu di hukum," Dominic menggeram.
Pria itu mengalihkan jilatan lidahnya ke puting Bee yang lain.
Gadis itu bisa merasakan jentikan lidah Dominic ke ujungnya yang kaku sebelum kemudian menyapukan lidahnya yang kasar melintasi putingnya.
"Ohhh... God!" Bee bisa merasakan tubuhnya terbakar. Ia melilit kan kakinya lebih erat ke pinggang Dominic. Bibir pria itu tidak berhenti menghisap, mengigit, memainkan, menuntut lebih banyak.
Hingga gadis itu melenguh tidak sabar.
"Lekas, Daddy. Aku tidak bisa menunggu. Celahku sudah sangat basah dan sakit untuk dimasuki Daddy." Bee mulai merengek sambil menggesekkan tubuhnya melawan kejantanan Dominic.
Tapi, Dominic justru mengalihkan ciumannya. Ia bergerak ke leher gadis itu dan menghisap kuat hingga bekas kemerahan terlihat karena apa yang dilakukannya.
Bee kian menggeliat di bawah tubuh pria itu. Rintihan dan rengekan kini terdengar kian keras dari bibir gadis itu.
"D-d-daddy...p-p-please.... Masuki aku...."
"Tidak sebelum kau minta maaf, Princess."
Dominic benar-benar menikmati apa yang dilakukannya. Dengan perlahan dan penuh pengalaman, Dominis terus menjilati dan menyentuh tubuh Bee hingga tangisan dan jeritan penuh keinginan meluncur keluar dari bibir wanita itu.
"S-sorry, Daddy. P-p-please.... Ku-kumohon, Daddy.... Masuki diriku."
Tubuh Bee sudah dipenuhi oleh gairah yang luar biasa banyaknya hingga ia tidak sadar lagi apa yang diucapkannya. Jangankan permintaan maaf, jika Dominic memintanya untuk berkokok seperti ayam hanya agar ia mendapatkan pria itu di dalamnya, pasti Bee akan melakukannya saat itu juga.
Untunglah Dominic menuruti kemauan Bee.
Dengan sekali desak, pria itu membenamkan kemaluannya jauh hingga ke pangkal.
Tidak ada lagi permainan, tidak ada lagi kelembutan, hanya sebuah desakan yang terasa memaksa, kasar, dan memiliki. Dominic menggeram. Tubuh Bee yang mencengkeramnya dengan erat sungguh terasa luar biasa.
Dominic langsung bergerak menyelinap keluar dan masuk. Hentakannya diimbangi oleh remasan dari tangan Dominic yang mencengkeram pinggul Bee.
"Oh Princess... Sungguh nikmat tubuhmu."
Dominic meraih pergelangan kaki Bee dan mengangkatnya ke atas, menyandarkan keduanya ke bahunya yang tegap.
Bee terkesiap. Kebingungan oleh apa yang dirasakannya, gadis itu meraih paha Dominic untuk pegangan. Ia benar-benar basah sekarang. Desakan dari kejantanan pria itu, memenuhi Bee dengan kenikmatan. Tapi melihat pria yang menjaganya selama lima tahun terakhir juga menikmati apa yang terjadi, menambah kebahagiaan Bee melebihi apa yang dirasakan oleh tubuhnya.
Dominic sudah memberinya kehidupan baru. Untuk pria itu, ia rela menyerahkan segalanya.
Nafas Bee terdesak hingga ke tenggorokannya ketika Dominic tidak juga berhenti merampok kesadaran dan kewarasan. Klimaks gadis itu datang tanpa bisa ditahannya, tanpa ampun. Nama pria itu memenuhi kepala Bee dan tidak bisa ditahannya di dalam mulut.
"Oh, Daddy... oh, Daddy.... Ya. Ya. YA!"
Dominic bisa merasakan pelepasan Bee yang mencengkeram penisnya lebih erat. Tapi ia belum selesai. Pria itu masih menumbuk. Jemarinya masih mencengkeram erat pergelangan kaki Bee.
"Bertahanlah, Princess. Daddy sudah mendekati klimaks." Suara Dominic yang dalam dan rendah menggema di dalam pendengaran Bee yang gelap.
Tidak bisa berkata-kata gadis itu hanya mengangguk. Ia menggigit bibirnya sendiri dan memejamkan matanya.
Tidak pernah Bee merasakan kenikmatan seperti ini, ia ingin kembali merasakannya untuk tahu bahwa apa yang barusan terjadi bukanlah sekedar mimpi.
"Oh, yeah, Daddy. Jangan berhenti." Bee akhirnya bisa menjawab dengan suara serak.
Dominic melepaskan pergelangan kaki Bee dan menundukkan tubuhnya kebawah. Bibirnya langsung meraih salah satu payudara gadis itu dan menghisapnya kuat-kuat. Lidah Dominic menggores puting Bee yang kaku. Nafas pria itu terasa panas, membakar.
Tidak ada yang bisa dilakukan Bee kecuali bertahan. Kakinya melilit pinggang Dominic yang tidak berhenti bergerak, menggesek keluar dan masuk. Desakan kenikmatan kembali mengaliri tubuh Bee.
Ketebalan penis Dominis memenuhi celah mungil Bee, meregang tubuh Bee hingga ambang batas antara sakit dan kenikmatan. Ia tidak bisa mengontrol kecepatan Dominic menabraknya. Kekuatannya terasa bagaikan sebuah lecutan penuh kenikmatan yang menghantam tubuhnya dengan aliran listrik.
Bee mengerang sekuat tenaga sementara gelombang pelepasan keduanya mengguyur bagian bawah tubuhnya dan merangkak naik.
"Oh... Daddy!" Bee mengejang kali ini. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan membeku oleh aliran kenikmatan yang tidak berhenti meremas.
Dominic menggeram ketika merasakan remasan dari tubuh Bee. Kali ini, eratnya gadis itu mencengkeram memicu ujung dari klimaksnya sendiri.
Dominic memeluk tubuh Bee lebih erat sementara ia menggeram ke telinga gadis itu. Nafasnya terasa berat dan sesak. Kegelapan mengelilinginya dan semakin mencekik. Kemudian...
Dorongan itu terasa. Jauh dari dalam tubuhnya dan merebut seluruh kesadarannya. Dominic bisa merasakan panasnya. Bagaikan semburan lava, keluar dari kejantanannya dan membasahi rahim Bee. Terus menerus tidak berhenti hingga memenuhi celah gadis itu dengan benihnya yang kental.
Ketika remasan itu akhirnya berhenti dan ia bisa kembali menarik nafasnya, Dominic mencium kening Bee dan menggulingkan badannya terlentang, membawa gadis itu bersamanya.
Ia kemudian berbisik, "Sekarang, jadilah anak yang baik, ok Princess?"
Bee menggali tubuhnya lebih dalam ke dalam pelukan Dominic dan menjawab, "Okay, Daddy. Mungkin habis ini kita bisa makan? Aku lapar. Daddy mau kumasakkan apa?"
Dominic menyeringai, "Mendadak Daddy ingin makan roti dengan selai kacang."
Oh, Daddy....
***
***
bersambung...





