Sigit menghela napas lega, meski ekspresinya masih sedikit tegang. "Jika kamu menikah dengan Verdi, kamu tidak bisa memanggilku kakek lagi. Panggil aku ayah."
Verdi, yang masih berlutut, tersenyum tipis. Kemudian lukanya tertarik karena sedikit bergerak, membuat wajahnya memucat.
Sang kepala pelayan menyadari hal ini, dan langsung menoleh ke Sonia. "Nyonya Sonia, bisakah Anda membantu saya mendudukkan Tuan Verdi di kursi roda?"
Sonia, yang belum terbiasa dengan peran barunya, merasa sedikit canggung tetapi bertekad membantu kepala pelayan itu mengangkat Verdi ke kursi roda.
Setelah duduk, Verdi menyapa Vicky dengan lemah. "Vicky, apa kamu puas dengan hasilnya?"
"Sangat puas. Verdi, jangan marah padaku. Sebagai seorang ibu, aku tahu betul bagaimana situasi antara Sonia dan Tonny. Sonia kehilangan kesuciannya karenamu. Sudah sewajarnya kamu bertanggung jawab atas dirinya."
Vicky menghampiri Sonia sambil meraih tangannya dengan lembut.
"Sonia, walaupun aku tidak akan menjadi ibu mertuamu, kita tetap keluarga. Datanglah padaku jika kamu membutuhkan sesuatu."
Setelah mengetahui keseluruhan ceritanya, Sonia merasa asing. Dia menarik tangannya perlahan. "Tante Vicky, kalau aku menikah dengan Tuan Verdi hari ini, aku akan menjadi adik iparmu."
Wajah Vicky sempat menegang, lalu dia memaksakan senyuman, dan berkata, "Tentu saja."
Dia tampak tenang, tidak merasa kesal sama sekali meski kehilangan menantunya.
Sonia teringat pada ucapan Tonny bahwa ibunya akan menjaganya, lalu mencibir dalam hati.
Mungkin pria itu tidak menyangka bahwa ibunya sendiri yang menyerahkannya ke pelukan omnya!
Melihat hal ini, Verdi tersenyum licik. "Kamu tampak bahagia, Vicky. Kamu sudah membuat kesepakatan dengan Keluarga Naswan, bukan? Tidak lama lagi kamu akan meminang putri kedua mereka untuk menjadi menantu di rumahmu. Selamat sebelumnya."
Senyum Vicky langsung lenyap begitu mendengar kata-katanya.
Sonia dan Sigit sama-sama menoleh padanya.
Ekspresi wajah Vicky tampak sedikit gelisah, tetapi dia langsung memberikan penjelasan yang masuk akal pada Sigit. "Ayah, Verdi benar. Keluarga Naswan, yang punya banyak lapangan golf, terus menghubungiku. Mereka sangat tertarik untuk menikahkan putri mereka ke keluarga kita. Mereka terus berbicara tentang betapa luar biasanya Tonny, dia sopan, setia, dan berambisi, yang jarang dimiliki oleh anak-anak muda kelas atas. Tapi aku selalu menolak mereka. Bagaimanapun, Tonny bertunangan dengan Sonia pada saat itu. Tapi sekarang Sonia akan menikah dengan Verdi, jadi aku berpikir akan memberi kesempatan pada Keluarga Naswan."
Sigit, yang cukup tajam, tahu apa yang disembunyikannya. Dia menunduk, dan tetap bungkam.
Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Sigit, Vicky melanjutkan, "Keluarga Naswan mempunyai reputasi yang sangat baik. Bekerja sama dengan mereka akan membuka berbagai peluang bagi keluarga kita."
"Vicky ada benarnya." Verdi langsung sepakat dengannya, yang membuat Sonia menggeliat gelisah.
Vicky tampak makin bersemangat, dia menoleh pada Sigit, dan mendesak, "Ayah, apa Ayah dengar itu? Bahkan Verdi juga setuju. Ini ide yang bagus, bukan?"
Sigit berdiri, bersandar pada tongkatnya, tetapi tidak mengucapkan apa-apa.
Verdi tertawa, dan berkata, "Putri kedua Keluarga Naswan sedang mengandung anak kembar. Jika dia menikah dengan Tonny, ini seperti mendapatkan tiga dengan satu harga. Vicky pasti senang."
Vicky langsung tercengang. "Kamu ... kamu bilang apa barusan?"
Sigit membenturkan tongkatnya ke lantai dengan marah dan bergegas keluar.
"Aku mendengar kabar ini dari mitra bisnisku. Mereka bilang putri kedua Keluarga Naswan hamil karena sering keluar malam. Dia tidak bisa menggugurkan kandungan karena kondisi kesehatannya. Anak-anak itu membutuhkan seorang ayah. Tapi kamu harus memastikan sendiri apakah informasi itu benar."
Setelah menyampaikan hal ini, Verdi memberi isyarat pada Sonia untuk mendorong kursi rodanya ke garasi.
Selama berjalan Sonia tetap bungkam, perasaannya campur aduk antara pahit dan malu.
Dia menyadari apa yang sedang terjadi. Jelas sekali.
Vicky tidak pernah mempertimbangkan pernikahannya dengan Tonny.
Ketika Tonny pergi, wanita itu menyerahkannya pada Verdi yang lumpuh.
Bagi Vicky, ini adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah.
Sungguh wanita yang kejam!
Vicky pasti merasa puas dengan keadaan saat ini. Verdi, yang lumpuh akibat kecelakaan, kini menikahi seorang wanita yang tidak dihargai oleh keluarganya sendiri. Peluangnya untuk menaikkan status tampak kecil.
Merasa kasihan, Sonia memperhatikan darah di punggung Verdi, dan menyarankan, "Ayo, kita ke rumah sakit dulu."
"Tidak perlu, kita harus pergi ke Kantor Catatan Sipil. Aku perlu meyakinkanmu," desak Verdi.
"Bagaimana dengan lukamu?"
"Jangan khawatir. Aku akan memakai jas hitam. Darahnya tidak akan kelihatan."
Kemudian Verdi menelepon asistennya, meminta dibawakan jas dan semua dokumen yang diperlukan. Dia tampak cemas ketika berkata, "Ayo, ambil akta nikah kita dulu!"
Segera setelah itu, asisten Verdi, Ramli Dahlan, tiba dengan membawakan semua yang diminta Verdi.
Tentu saja dia tidak lupa membawa sebuah kotak P3K.
Ramli merawat luka di punggung Verdi dengan cekatan sebelum membantunya berpakaian.
Efisiensinya menunjukkan bahwa dia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
Kemudian, Ramli mengambil mobil, dan membantu Verdi naik.
Sonia, yang masih merasa seperti sedang bermimpi, juga ikut masuk ke dalam mobil.
Dia memperhatikan pemandangan yang mereka lewati, pikirannya dipenuhi berbagai hal tentang pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk memperoleh akta nikah mereka.
Suasana di dalam mobil tersebut hening cukup lama hingga Verdi memecah kesunyian dengan suara datar tanpa emosi ketika dia berkata, "Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Sonia menarik napas dalam-dalam, dan menoleh dengan tenang. "Bisakah kita bicara?"
Wajah Verdi menjadi suram, dia tampak sedikit ragu-ragu dan khawatir. "Apa kamu berubah pikiran?"
Dia memalingkan wajah dan terbatuk pelan, penampilannya yang lemah membuatnya terlihat seperti dia akan pingsan kapan saja.
Ramli, yang duduk di depan, mau tidak mau berpikir bahwa bosnya adalah seorang aktor yang luar biasa hingga pantas memenangkan piala Oscar.
Sonia langsung menggelengkan kepala, dan berkata dengan suara rendah, "Tidak, hanya saja ... menikah adalah hal yang besar. Ada sesuatu yang harus kupahami lebih dulu."
Verdi terus terbatuk tetapi memberi isyarat dengan sopan agar Sonia melanjutkan.
Setelah berpikir sejenak, Sonia bertanya, "Verdi, apa kamu pernah membunuh seseorang?"
Secara naluriah, dia langsung menyentuh lehernya, merasa seolah-olah kepalanya bisa terlepas dari lehernya sewaktu-waktu.
"Belum pernah," jawab Verdi, tidak melewatkan ekspresi Sonia yang menggemaskan. Dia mendekat, dan menyentuh leher Sonia dengan lembut.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan pernah menyakiti istriku. Aku tidak akan menyakitimu."
Sonia merasa geli, seperti ada ulat yang menari lehernya, jadi dia menghindari sentuhannya dengan malu-malu. Sambil berdeham, dia bertanya lagi, "Bagaimana dengan barang-barang ilegal?"
"Tidak pernah!" Verdi menarik kembali tangannya, menikmati sensasi setelah menyentuh lehernya.
Kulit wanita ini terasa luar biasa, selembut sutra.
Dia mendorong kacamatanya ke atas, berupaya menjaga sikap, dan menjelaskan dengan tenang, "Ketika masih muda, aku sering melakukan hal-hal yang tidak berguna. Tapi aku tidak pernah melanggar hukum."
Ramli, yang sedang menyetir, tidak bisa memercayai telinganya.
Dia tidak pernah membayangkan bahwa bosnya menyebut insiden-insiden itu sebagai hal-hal yang tidak berguna.
Insiden-insiden tersebut lebih seperti Verdi yang menghajar orang lain!
"Klub malam yang kujalankan bersih, tidak terjadi aktivitas yang mencurigakan, dan tidak ada narkoba. Itu aturanku."
Sonia tampak lebih santai setelah mendengar hal ini. Tetap saja, dia tidak bisa tidak menasihati pria itu seperti seorang guru, "Mulai sekarang, kamu tidak boleh berkelahi lagi. Perkelahian tidak baik bagi kondisi tubuhmu."
"Aku akan mengingatnya." Verdi memegang tangan Sonia dengan lembut, berupaya menenangkannya.
Pipi Sonia langsung memerah.
Ramli merasa berada di tempat yang salah.
Mungkin seharusnya dia tidak menyetir, atau bahkan berada di dalam mobil ini.
Verdi membelai tangan Sonia dengan lembut, tidak membiarkannya menarik diri.
Menyadari keengganan wanita di sampingnya, dia bertanya, "Apa masih ada lagi yang ingin kamu tanyakan atau katakan?"
Sonia berkedip dua kali, lalu berkata dengan malu-malu, "Aku punya ... dua syarat."





