Cinta Terlarang & Rahasia

Setelah keluar dari kafe, Karina berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Udara sore yang biasanya menenangkan terasa mencekiknya. Dia ingin melupakan percakapan barusan, tetapi kata-kata Evan terus terngiang di telinganya.

"Aku ingin menjadi bagian dari hidup Renzo."

Karina berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu menghapus air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. Tidak, dia tidak boleh goyah. Ini semua demi Renzo.

---

Di Rumah Karina

Renzo sudah tertidur di sofa kecil di ruang tamu ketika Karina tiba di apartemennya. Wajah polos anaknya seolah menjadi pengingat mengapa ia harus bertahan, mengapa ia tidak boleh membiarkan Evan masuk ke dalam kehidupan mereka lagi.

"Maaf, nak," bisik Karina sambil membelai kepala Renzo. "Mama tahu kau berhak mengenal ayahmu, tapi... Mama tidak ingin kau terluka seperti Mama dulu."

Karina membawa Renzo ke kamar dan menyelimutinya dengan hati-hati. Namun, malam itu Karina tidak bisa tidur. Kenangan masa lalu bersama Evan kembali menghantui pikirannya.

---

Flashback: Lima Tahun Lalu

Karina masih berusia 22 tahun ketika ia pertama kali mengenal Evan, kakak dari sahabatnya, Siska. Evan adalah pria yang selalu tampak sempurna di matanya-dewasa, perhatian, dan penuh wibawa. Meskipun sudah menikah, Karina tidak bisa menahan perasaannya yang tumbuh setiap kali mereka bertemu.

Malam itu, Karina sedang membantu Siska mempersiapkan pesta ulang tahun kejutan untuk Evan. Ketika semua tamu sudah pulang, Evan yang terlihat lelah mengajak Karina berbicara di balkon rumahnya.

"Kau berbeda dari adik-adik Siska yang lain," kata Evan sambil tersenyum. "Kau selalu punya cara membuat orang merasa nyaman."

Karina hanya tersenyum malu. "Saya hanya melakukan apa yang saya bisa, Kak."

Namun, momen sederhana itu berubah menjadi awal dari hubungan terlarang mereka. Tanpa sadar, kedekatan mereka semakin dalam. Dan malam itu, ketika Evan dengan lembut menggenggam tangan Karina, semuanya berubah.

"Aku tahu ini salah," bisik Evan dengan suara serak. "Tapi aku tidak bisa mengabaikan perasaanku."

Karina seharusnya pergi saat itu. Namun, ia tetap tinggal, membiarkan dirinya terjatuh lebih dalam ke pelukan pria yang seharusnya tidak ia miliki.

---

Kembali ke Masa Kini

Ponsel Karina bergetar di atas meja, menariknya kembali ke kenyataan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama seperti tadi malam.

"Aku sudah memutuskan. Aku ingin bertemu Renzo. Jangan menghalangiku, Karina."

Karina menghela napas berat. Ia tahu Evan tidak akan menyerah begitu saja. Tetapi, bagaimana ia bisa menghadapi situasi ini tanpa menghancurkan semuanya?

---

Keesokan Harinya

Karina memutuskan untuk menemui Siska. Ia tahu ini mungkin keputusan bodoh, tetapi ia tidak bisa terus menghindar. Ia ingin memberi penjelasan, meskipun kecil kemungkinan Siska akan mau mendengarkannya.

Siska membuka pintu dengan ekspresi terkejut. "Karina? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dingin.

"Aku ingin bicara," jawab Karina, mencoba menenangkan suaranya.

Siska melipat tangan di depan dada. "Bicara? Setelah apa yang kau lakukan padaku dan keluargaku? Kau masih punya nyali untuk datang ke sini?"

"Siska, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam kebencian ini," ucap Karina, air mata mulai mengalir di pipinya.

Siska tertawa sinis. "Kebencian? Kau yang menghancurkan hidupku, Karina. Kau mencuri kakakku, kau membuat keluargaku berantakan. Dan sekarang kau ingin aku memaafkanmu?"

"Siska, aku tidak berniat menyakiti siapa pun. Aku hanya..." Karina terdiam, merasa kata-katanya tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan.

"Cukup, Karina!" potong Siska dengan suara bergetar. "Kau hanya peduli pada dirimu sendiri. Kau tidak pernah memikirkan apa yang kau tinggalkan di belakang."

Pintu ditutup keras di depan wajah Karina, meninggalkannya berdiri di sana dengan hati yang hancur.

---

Pertemuan Tak Terduga

Saat Karina berjalan pulang dengan langkah lunglai, ia tidak menyadari bahwa seseorang mengikutinya. Ketika ia akhirnya tiba di depan apartemennya, suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat.

"Karina."

Karina berbalik, dan menemukan Evan berdiri di sana, wajahnya penuh tekad.

"Apa yang kau lakukan di sini, Evan? Kau tidak boleh datang ke tempatku," kata Karina panik, melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka.

"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku," jawab Evan dengan suara tegas.

"Evan, ini tidak semudah itu! Jika orang lain tahu, semuanya akan hancur," balas Karina dengan nada memohon.

"Semua sudah hancur sejak lima tahun lalu, Karina. Aku hanya ingin melakukan hal yang benar untuk anakku sekarang," kata Evan, mendekati Karina.

Karina mundur selangkah, mencoba menjaga jarak. "Hal yang benar? Bagaimana dengan Rhea? Bagaimana dengan pernikahanmu? Kau ingin menghancurkan hidup lebih banyak orang lagi?"

Evan terdiam, tetapi matanya menunjukkan tekad yang tidak bisa digoyahkan. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu, Karina. Aku tidak akan pergi sampai aku bisa bertemu dengan Renzo."

Karina menggenggam gagang pintu apartemennya erat, merasa dipojokkan. "Tolong, Evan. Jangan paksa aku memilih antara melindungi anakku dan menjaga rahasia ini."

Namun, Evan tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Karina dengan tatapan penuh emosi, lalu berkata dengan suara pelan, "Aku tidak akan berhenti, Karina. Kau tahu itu."

Evan akhirnya pergi, meninggalkan Karina berdiri dengan tubuh gemetar. Ia tahu ini hanyalah awal dari konflik yang lebih besar, dan ia tidak yakin apakah ia bisa bertahan.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.