“Silahkan bu !” mempersilahkan Ibu Yuda masuk kedalam sekolah kami
“ Inilah sekolahku, sebuah sekolah kecil !” merendah padanya yang memperhatikan isi ruangan.
Kebetulan saat itu, jika memasuki pintu pagar langsung akan menuju ruangan KTU.
“ “Kenalkan ini Ibu Ikra dan Ibu Resky !” aku memperkenalkan kedua rekan kerja pada Bu Yuda yang langsung bersalaman
“ Bu Resky ini KTU di smp dan sma !”
“ Ibu Ikra guru Ekonomi, tapi kadang membantu urusan administrasi sekolah !” terangku pada Bu Yuda.
“ Santai saja, disini kita semua sama. tidak ada perbedaan. Sudah seperti keluarga !” lanjutku pada Bu Yuda yang senyum - senyum.
“ Ibu bisa tentukan hari apa dan jam kosong ibu di sekolah induknya “
“ Biar kami bisa menyusun jam mengajar ibu !” lanjut ku padanya.
Yuda sebuah nama yang singkat. Sederhana seperti orangnya. Penampilannya yang sederhana tanpa ada polesan make up. Menurutku wanita yang menonjolkan keaslian seorang wanita.
Kehadiran Bu Yuda di sekolah, entah mengapa menambah semangat kerjaku. Dan selalu mencari waktu untuk dapat bersamanya. Mungkin inilah cinta pada pandangan pertama.
Untuk mengungkapkan perasaan, mungkin terlalu dini.
Apalagi aku juga masih punya seorang kekasih yang selama 4 tahun bersamaku.Walaupun untuk ke pelaminan belum jelas.
Arumi ya kekasih yang ku kenal lewat media sosial, hingga akhirnya kami memutuskan menjalin ikatan cinta. Tetapi semuanya untuk menuju ke jenjang pernikahan semakin tak menentu, ketika Arumi divonis mengidap kanker rahim.
Arumi telah 2 kali menjalani operasi tetapi tidak ada kemajuan. Bahkan kesehatannya semakin mengalami kemunduran.
“ Rizal, ada sesuatu yang akan aku katakan padamu !” kata Arumi ketika kami telah berdua di kamar tempat dia dirawat inap
“ Katakanlah, sayang. Aku akan mendengarkan !” kataku sambil mengusap rambutnya yang agak awutan. Tubuhnya semakin kurus dengan wajah pucat pasi.
“ Rizal, jika suatu hari nanti aku sudah tiada. Lalu datang seorang wanita !”
“ Jika kamu menyukainya dan dia menyukaimu juga, terima dialah !”
“ Sayangi dirinya seperti kamu menyayangi aku selama 4 tahun bersama “
“ Dialah pengganti diriku, yang dikirimkan oleh Allah untuk menjadi pendamping hidupmu!” Arumi melanjutkan kata - katanya.
Kulihat kedua kelopak matanya berhias air bening. Pertanda dia tengah menahan tangis.
“ Kamu bicara apa sih, Rum “
“ Kamu pasti sembuh, teruslah berjuang sayang “ memberikan semangat padanya.
“Ah, sudahlah Rizal, aku tahu kapan ajal akan datang menjemput !”
“Ingatlah pesanku ini”
“ Aku ingin kamu bahagia walaupun bukan denganku !” Arumi mengusap air matanya dengan telapak tangannya.
Ada rasa sakit yang luar biasa menghantam hatiku. rasa sakit yang tak mampu aku ungkapkan.
Apakah ini pertanda jika Arumi akan meninggalkan kami semua. Meninggal seluruh kenangan telah kami ciptakan ?
“ Istirahatlah, Rum !”
Semuanya pasti dapat kamu lalui “ Dan kita akan kembali seperti dulu lagi “ ujarku sambil mengecup keningnya.
“ Aku tahu kamu sangat menyayangiku.”
“ Dengan semua pengorbanan dan bukti yang kau berikan padaku “
“ Kau sangat tulus mencintaiku.”
“ Itu telah kau buktikan pada keluargaku dengan menanggung seluruh biaya pengobatan selama 4 tahun ini !” lunjutnya dengan nada pelan.
Tak terasa sudah 2 bulan Bu Yuda mengajar di sekolah. Aku pun semakin akrab. Mungkin karena profesi kami yang sama. Pendidik dan sama - sama pengelola data sekolah.
Ibu Yuda di sekolahnya bukan saja sebagai guru tapi juga Kepala Tata Usaha dan sesekali membantu Bu Misra menjadi operator data.
Dan Ibu Yuda maupun bu Misra selalu meminta bantuanku jika mengalami kendala dalam hal soal data siswa dan gurunya. Ibu Misra sering tentang diri Bu Yuda yang sampai usianya menginjak kepala 40-an belum menikah.
“Bu Yuda itu, wanita yang baik, penyabar dan penyayang !” tutur Bu Misra padaku.
“Dia juga orangnya sederhana, seperti kriteria yang kau impikan !” lanjutnya lagi.
“ Tapi aku belum berani Mis !” ucapku pada Bu Misra yang duduk di depanku sambil menikmati makan siang.
“ Apalagi sampai saat ini, aku masih punya kekasih, walaupun Arumi saat ini terbalik lemah di rumah sakit !” menerangkan padanya.
“ Sungguh akan melukai hatinya jika disaat dia berjuang melawan penyakitnya lalu dia tahu aku selingkuh diluar !” imbuhku pada Bu Misra.
Aku pun bercerita tentang Arumi dan keadaannya pada Bu Misra. Saat itu kulihat mata Bu Misra berkaca - kaca.
“ Hei kamu menangis ya !” godaku pada Bu Misra yang membuang wajahnya.
“ Kamu sungguh laki - laki yang baik Pak Riz “
Sungguh sulit ditemukan seorang laki - laki di zaman ini, mencintai seorang wanita dengan pengorbanan yang begitu besar !” memuji perbuatanku pada Arumi.
“Aku hanya ingin membahagiakan Arumi.”
“ Walaupun kami akhirnya tidak bersama, itu kembali kepada takdir !”
“ Kita bisa berencana tetapi semuanya kembali kepada Allah SWT !” tuturku pada Bu Misra.
“Dan jika kehadiran Bu Yuda sebagai pengganti Arumi, biarlah waktu yang menjawabnya!” lanjutku sambil meneguk kopiku.
“ Bu Yuda bukan hanya sahabatku, tetapi dia sudah kuanggap seperti kakakku “
“ Dia banyak membantu aku !”
“ Itulah sebabnya aku ingin melihat Bu Yuda mendapat pendamping hidup yang baik dan betul - betul dapat memberikan kebahagiaan !” Bu Misra seperti punya niat untuk mempersatukan aku dan Bu Yuda.
Bukan hanya Bu Misra. Rekan - rekan guru di sekolah tempatku mengabdi juga begitu.
Aku dan Bu Yuda selalu menjadi bahan guyonan mereka.
Memang aku selalu mengantar Bu Yuda ke sekolahnya jika selesai mengajar di sekolah kami.
Bahkan bukan hanya itu. Pernah aku kedapatan teman komunitasnya ketika aku menjemput Bu Yuda yang saat itu mengikuti pelatihan PKP di salah satu sekolah negeri.
Walaupun aku menyangkal, jika tidak ada hubungan istimewa diantara kami. dan aku menjemput Bu Yuda sebagai tanda terima kasih ku karena mau mengajar di sekolah kami.
Dan saya tahu Bu Yuda juga tidak ada rasa padaku sampai saat ini. Mungkin.
Hubungan kami tak lebih dari seorang rekan kerja. Walaupun jauh dalam hatiku, punya keinginan untuk mengenal Bu Yuda dan terikat sebuah hubungan serius dengannya.
Tapi batinku ini selalu berperang. Disatu sisi ada seorang Arumi yang selama ini telah aku tunggu agar dia dapat pulih dan akan ke jenjang pernikahan. Walaupun harapan itu sangat tipis. Disatu sisi aku menaruh hati pada Bu Yuda. Karena kesederhanaannya itu





