Cinta & Pengorbanan Alya

Pagi itu, Alya duduk di beranda rumah sakit yang ramai, di antara deretan bangku logam dan pepohonan kecil yang tumbuh dengan gigih, seperti mencoba bertahan hidup di tempat yang tak pernah benar-benar mereka miliki. Udara pagi yang segar berbaur dengan bau antiseptik dan riuh rendah suara pengunjung yang hilir-mudik. Alya menatap langit yang masih kelabu, seolah mencoba mencari jawaban di antara awan yang bergerak perlahan. Semua yang baru saja terjadi masih terpatri dalam pikirannya, seperti sebuah mimpi buruk yang tak bisa diabaikan.

Sejak Niko mengunjungi rumah sakit kemarin, pikirannya dipenuhi oleh perasaan yang bercampur aduk-kekhawatiran, harapan, kebingungan, dan juga rasa bersalah. Dia mengingat setiap kata yang diucapkan Niko, yang seolah-olah mengalir dalam darahnya, membekas di dalam jiwa. "Aku bisa membantu," kata pria itu, suaranya serak namun penuh makna. Tapi bagaimana bisa Alya, yang sudah merasakan betapa sulitnya hidup dengan kekurangan, menerima tawaran yang terdengar seperti jalan keluar dari cerita yang salah?

Suara pintu kaca yang terbuka menarik perhatian Alya. Seorang pria dengan jas hitam melangkah masuk ke area tempat duduk, ekspresinya serius, dan mata yang tajam seolah bisa menembus rahasia terdalam Alya. Niko. Pria yang tampaknya memiliki segala sesuatu, kecuali mungkin kebahagiaan sejati, berdiri di hadapannya, membawa sebuah aura kekuasaan yang sulit disangkal.

Alya memandangnya dengan ragu, napasnya terputus-putus. "Kau datang lagi, Niko?" suaranya sedikit lebih tegas dari yang ia maksudkan, tapi hatinya sedang berkecamuk, mencari pegangan di tengah badai perasaannya.

"Maaf kalau aku mengganggu. Tapi aku perlu tahu keputusanmu, Alya," jawab Niko, suara lembutnya mengandung urgensi yang sulit disembunyikan. Ia duduk di kursi di hadapan Alya, dan ada jarak di antara mereka, jarak yang tak bisa diisi meskipun mereka duduk begitu dekat.

"Keputusan?" Alya mendesah, menundukkan kepala. Hatinya seperti tercekik. Seperti ada yang menekan dadanya hingga sesak. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Niko. Ibu aku... dia... dia sudah hampir kehilangan segalanya, dan aku merasa seperti satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan menerima tawaranmu ini."

Niko menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut. "Kau tak sendirian, Alya. Aku tahu ini sulit. Tapi lihatlah, ibumu sudah berjuang begitu keras. Ini bukan hanya tentang uang, ini tentang kesempatan untuk membuatnya hidup."

Alya mengangkat wajahnya, matanya basah. "Tapi apa yang akan terjadi padaku? Aku... aku bukan hanya ibu pengganti. Aku juga manusia, Niko. Aku punya rasa, punya hati. Ini tidak sesederhana yang kau pikirkan."

Mata Niko melembut, ada sedikit penyesalan di sana. "Aku tahu. Dan aku tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa apa yang aku minta darimu tidak mudah. Tapi aku... aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku tidak ingin kau merasakan kehilangan itu lagi."

Tiba-tiba, Alya merasakan getaran di ponselnya. Ia mengangkat tangan, melihat pesan singkat dari dokter. Matanya membulat saat membaca kalimat yang membuat darahnya terasa membeku: "Kondisi ibu Anda memburuk. Segera datang ke ruang perawatan."

Tanpa pikir panjang, Alya bangkit berdiri. Niko segera berdiri mengikuti langkahnya, tatapan penuh kekhawatiran. "Alya, tunggu-"

"Tidak, aku harus pergi," ucapnya dengan suara yang hampir seperti bisikan. Kakinya terasa lemas, namun dia memaksa dirinya untuk berjalan. Rasa takut yang mendalam menguasai tubuhnya, meresap ke dalam tiap urat nadi. Ibu. Dia tidak bisa membayangkan kehilangan ibunya sekarang.

Ruangan perawatan penuh dengan kesunyian yang mencekam. Kartika terbaring di ranjang, matanya terpejam, dan pernapasannya terdengar lemah, seolah setiap helaan nafas adalah usaha terakhir untuk tetap bertahan. Alya duduk di sampingnya, meremas tangan ibunya dengan lembut, seolah berharap dapat mengalirkan tenaga, kasih sayang, dan harapan melalui sentuhan itu.

"Ibu, aku di sini, aku tidak akan pergi. Aku janji. Jangan tinggalkan aku, Ma..." Alya berkata, suaranya terputus-putus, penuh dengan air mata yang mengalir tanpa bisa dikendalikan.

Tiba-tiba, mata Kartika terpejam rapat, dan seulas senyum kecil muncul di bibirnya. Seperti ingin menyampaikan pesan terakhir, ia meremas tangan Alya sekali lagi sebelum akhirnya, dalam hembusan nafas yang sangat pelan, matanya terpejam untuk terakhir kalinya.

Waktu seakan berhenti. Dunia di sekitar Alya menjadi sepi, hanya ada dirinya dan kenangan tentang ibunya yang tinggal di dalam hati. Kepergian Kartika meninggalkan kekosongan yang tak bisa diisi dengan apa pun. Dan dalam kebisuan itu, Alya merasakan sebuah kebenaran pahit-bahwa setiap pilihan yang diambilnya akan melukis takdirnya sendiri, baik itu dalam kebahagiaan atau dalam penyesalan yang tak termaafkan.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.