Cinta Kedua

Di teras rumah Anton masih menunggu Ibu Clarissa keluar dalam waktu 10 menit. Sekilas dia melihat ada bayangan yang mirip sekali dengan Clarissa. Ia merasa jika Ibu Clarissa telah berbohong kalau Clarissa sedang berada di Jogja.

Anton berusaha meyakinkan dirinya. Dia secara diam-diam menyelinap masuk ke dalam rumah kediaman Clarissa. Dia tahu jika Clarissa berada di dalam kamarnya.

TOK! TOK! TOK!

"Clarissa aku tahu kamu ada di dalam. Apa salah aku sehingga kamu tidak mau menemui aku di sini? "

Di dalam Clarissa berusaha untuk menahan air matanya. Dia sangat tidak ingin melihat wajah sedih dari Anton. Dia tidak ingin dikasihani oleh Anton. Dia mulai mendongakkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak terjatuh.

"Clarissa aku tahu kamu ada didalam. Aku sangat merindukan kamu Clarissa! Kenapa kamu tidak mau menemui aku Clarissa?”

Clarissa hanya menggelengkan kepalanya di dalam ruang kamarnya. Dia berusaha untuk bangkit dari kursi rodanya. Namun tubuhnya begitu sangat lemah sekali karena dia baru saja melaksanakan kemoterapi. Dia bahkan belum memiliki donor tulang sumsum yang tepat untuk dirinya. Apalagi dokter telah memvonis dia terkena leukimia stadium akhir.

Clarissa berusaha menahan tangisnya. Ia merasa tidak berguna sama sekali. Ia merasa Jika dia tidak pernah pantas untuk Anton karena dia akan membuat Anton patah hati dengan kondisinya saat ini. Air matanya pun terjatuh seketika. Bahkan dia tidak sanggup untuk membendungnya kembali.

Tubuh Clarissa terasa begitu sangat lemah. Bahkan dia tidak dapat untuk menggenggam sendok sekalipun ataupun gelas. Dia merasa benar-benar tidak berguna.

“ Clarissa, Kenapa kamu berbuat seperti ini kepadaku?” kata Anton sekali lagi. " Kenapa kamu menghukumku seperti ini? Aku akan selalu ada untuk kamu apapun yang akan terjadi kepadamu, " lanjutnya.

Clarissa merasa tidak kuat sama sekali. Dia merasa cintanya benar-benar diuji. Dia tidak ingin sekali Jika Anton melihat kondisinya saat ini yang begitu lemah. Dia juga tidak ingin Anton merasa sedih karena waktunya di dunia ini sudah tidak lama lagi. Dokter memvonisnya hanya memiliki waktu selama dua bulan. Dia merasa jika Tuhan tidak pernah adil untuk dia.

"Clarissa, aku mohon buka pintunya karena aku membutuhkan penjelasan dari kamu. " Anton mencoba untuk memohon kepada  Clarissa untuk segera membukakan pintu kamarnya.

Clarissa tetap keras kepala tidak membukakan pintu kamarnya. Walaupun Anton terus-menerus mengetuk pintu kamarnya dan memohon untuk dibukakan.

*

Luna merasa sangat kesal sekali dengan perilaku dari saudari tirinya yang selalu saja membandingkan dirinya. Dia memilih untuk diam saja. Dia tidak ingin memicu pertengkaran antara dirinya dengan saudari tirinya. Karena benar ataupun salah dia akan tetap disalahkan oleh ayahnya. Apalagi ibu tirinya yang selalu saja ikut campur dengan urusannya.

Luna langsung pergi tidur. Dia enggan sekali untuk memikirkan persoalan keluarganya. Dia hanya merindukan sosok ibu yang selalu ada untuk dia. Tapi semua itu tidak akan pernah mungkin kembali.

Setiap malam Luna selalu saja tidur sambil memeluk bingkai foto ibunya. Dia selalu saja merindukan ibunya. Dia berharap malam itu segera datang agar dia bisa tertidur sambil bermimpi tentang ibunya.

Luna merasa setelah kepergian ibunya semuanya terasa begitu hampa. Apalagi perilaku dari ayahnya sudah berubah seratus persen setelah menikah dengan Rebecca, ibu tirinya. Dia merasa kehidupannya benar-benar jungkir balik. Ayahnya hanya berfokus terhadap Nirina dibandingkan dengan dia. Bahkan kasih sayang ayahnya terbilang sudah mulai menipis.

"Aku sangat merindukanmu, Bu.”

Kegelapan malam menyelimuti hati Luna untuk saat ini. Dia merasa kerinduan yang cukup mendalam terhadap mendiang ibunya yang sudah lama meninggal dunia. Hal itu membuat sayatan luka di dalam hati Luna. Apalagi setelah 40 hari ibunya meninggal, ayahnya menikah kembali dengan Rebecca. Hal itu membuat dia sangat membenci ayahnya. Bahkan dia merasa jika ayahnya tidak pernah peduli lagi terhadap dia.

Sepi dan sunyi yang selalu dirasakan oleh Luna. Dia tidak dapat sama sekali untuk merasakan cinta kasih dan kehangatan keluarga. Dia menganggap keluarganya selalu saja menilai seseorang dari segi matrealistis maupun jabatan.

Luna berencana untuk segera meninggalkan rumah keluarganya. Karena dia sudah merasa tidak betah lagi dengan suasana keluarganya.

*

Terdengar suara deheman dari belakang sehingga membuat Anton mulai terkejut.

"Clarissa tidak ada di sini. Jadi, Percuma saja kamu berteriak-teriak di sana karena tidak akan pernah ada yang membukakan pintu dibalik kamar itu.” wanita paruh baya itu berusaha untuk mengingatkan Anton kalau di balik kamar milik Clarissa tidak ada orang sama sekali. "Clarissa sedang ada di Jogja di rumah pakdenya jadi tidak akan pernah ada yang membukakan pintu itu. "

Mendadak di dalam ruangan itu terdengar suara benda jatuh. Hal itu membuat Anton semakin kuat jika wanita itu telah berbohong kepada dia. Dia yakin jika di dalam kamar itu ada Clarissa yang bersembunyi. Dia hanya ingin berbincang sebentar untuk mencari sebuah jawaban atas firasat buruknya saat ini.

"Tunggu sebentar tante. Di dalam pasti ada Clarissa, kan?" Anton menatap wajah dari wanita paruh baya itu. Dia mulai mencondongkan pandangannya kearah wanita paruh baya itu yang merupakan ibu dari Carissa. Dia melihat jika ekspresi wajah dari wanita paruh baya itu sangat tegang. "Saya tahu jika tante berbohong kepada saya. Karena sebenarnya Clarissa ada di dalam kamar itu, kan?" Selidiknya sambil menatap kedua manik mata dari perempuan paruh baya itu.

“Itu hanya suara tikus mungkin yang ada di dalam. Karena Clarissa sedang ada di rumah Pakdenya Jadi tidak mungkin di dalam ruangan itu ada Clarissa. Tante tidak pernah bohong sama sekali sama kamu. "Wanita paruh baya itu berusaha untuk menegaskan kata-katanya. Dia berusaha untuk meyakinkan bahwa di dalam kamar Clarissa tidak ada orang sama sekali.

Di dalam kamar Clarissa merasa sangat tegang sekali. Dia takut jika Anton bertekad untuk ingin membuka pintu kamarnya. Dia sama sekali belum siap untuk bertemu dengan Anton. Dia tidak ingin sama sekali Jika Anton mengetahui kondisi dia sebenarnya.

"Maafkan saya tante telah mencurigai anda. Karena saya sangat khawatir sekali dengan kondisi Clarissa. Saya selalu saja mendapatkan firasat buruk mengenai dia." Anton mulai menjelaskan tentang isi hatinya.

Ibu Clarissa hanyalah tersenyum. Lalu dia mulai berkata, "Saya tahu kalau kamu sangatlah cemas mengenai kondisi Clarissa. Tapi tenang aja Kalau Clarissa itu kondisinya baik-baik saja. Dia hanya ingin menghabiskan liburannya di Jogja katanya dia merindukan sepupu-sepupunya yang ada di sana."

Anton tersenyum namun sebenarnya dia masih curiga kalau di dalam kamar itu ada Clarissa yang sedang bersembunyi.

Clarissa merasa sangat lega sekali ketika Ibunya bisa meyakinkan Anton. Sebenarnya dia merasa tidak tega sama sekali membiarkan Anton penuh dengan kecemasan.

Di dalam kamar Clarissa hanya dapat termenung sambil menatap langit dari dalam jendela kamarnya. Dia merasakan hatinya sangat hancur sekali ketika dia mendengar vonis dari dokter mengenai penyakitnya. Air matanya pun turun seketika membasahi kedua pipinya. Dia merasa tidak sanggup untuk melawan dunianya sendiri.

"Seandainya kamu tahu, ini adalah hal yang terberat bagi kehidupanku. Maafkan aku sayang. " Clarissa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menangis. Dia merasa sangat hancur sekali dengan takdir yang telah Tuhan berikan kepada dia.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.