Bau anyir itu datang lagi. Kali ini lebih hebat dibandingkan beberapa hari yang lalu. Halimah menutup hidungnya, tetapi bau anyir darah dan bau menyerupai bau bangkai binatang itu tetap mengendap di dalam kamar tidurnya.
Sejak kemarin dia sudah mencari sumber bau itu. Dia sudah minta tolong Mbok Nem untuk mencarikan sumber bau itu, tetapi mereka tidak menemukan binatang apapun yang mati di kamar Halimah ataupun di samping kamar Halimah. Mbok Nem juga sudah meminta tolong semua pegawai di rumah Pak Slamet, tetapi tidak ada yang menemukan sumber bau itu.
Dan Halimah yang harus menanggung semuanya. Dia harus menahan diri untuk tidak muntah ketika mencium bau yang seakan mengambang di udara itu. Dan Halimah juga harus menerima kenyataan bahwa dia harus menyuapi keluarga Pak Slamet setiap waktu makan.
Halimah menyusut air matanya. Dia begitu rindu pekerjaannya yang dulu. Pekerjaan yang sederhana dan tidak menegangkan seperti pekerjaannya sekarang. Halimah rindu menyapu halaman dan kemudian membantu membersihkan halaman depan dan halaman belakang rumah Pak Slamet. Ah, mungkin Halimah bisa menanyakan hal itu pada Mbok Nem, sehingga dia bisa mendapatkan pekerjaannya yang dulu. Tetapi mungkin sementara ini Halimah harus bersabar dulu.
****
Pagi itu gerimis turun tanpa suara. Halimah terbangun karena mendengar suara aneh di depan pintu kamarnya. Suara gesekan sesuatu dengan lantai. Jantung Halimah berdebar kencang. Apa yang menggesek lantai? Apakah kulit, kain atau ... atau sisik?
Halimah menjengit. Tentu saja sisik! Secara refleks Halimah beristighfar. Dan terdengar suara jeritan tepat di depan kamar Halimah.
"Aduuuh! Panas!" Dan terdengar suara gesekan sisik dengan lantai dengan terburu-buru, seakan siapapun di depan kamar Halimah sedang bergerak dengan cepat. Halimah tersengal, dan kemudian dia beristighfar terus tenpa henti. Dia bahkan membaca doa sebisanya dan anehnya kemudian Halimah merasa sangat mengantuk dan dia bangun kesiangan. Itu pun karena pintu kamarnya diketuk dengan keras oleh Mbok Nem.
"Limah! Halimah!" teriak Mbok Nem dari luar kamar Halimah, "ayo bangun! Kamu harus bekerja!" teriak Mbok Nem.
Halimah terlonjak saking kagetnya, dia melihat jam dinding di kamarnya, dan Halimah sangat terkejut ketika melihat jarum panjang di angka enam dan jarum pendek terletak di antara angka enam dan tujuh. Jam setengah tujuh! Halimah langsung bangun.
"Iya, Mbok. Halimah ganti baju dulu, ya," kata Halimah dan bergegas ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, Halimah sudah berada di depan pintu ruang makan, ketika mahluk-mahluk mengerikan di depannya itu, muntah satu persatu. Mereka muntah darah ketika melihat Halimah, bahkan sebelum Halimah masuk ke dalam ruang makan itu.
"Pak, sudah kubilang, Pak! Halimah salat dan mengaji lagi di rumah ini! Dan kita tidak akan kuat!" teriak Abdi, yang kemudian muntah darah banyak sekali dari mulut ularnya.
Halimah mundur, dia sangat ketakutan sekaligus jijik melihat manusia berkepala ular dan berkaki kuda itu muntah darah. Tetapi entah kenapa Halimah juga merasa lega dan berharap keluarga Pak Slamet akan segera mati. Halimah berjanji akan terus mengaji dan salat di dalam kamarnya.
Tiba-tiba Halimah merasakan embusan angis dingin di tengkuknya. Halimah merinding dan bergidik. Dia menoleh ke belakang, tetapi di belakangnya tidak ada siapa-siapa. Halimah tambah bergidik dan kemudian segera berlari ke kamarnya.
****
Jarak antara ruang makan dengan kamar Halimah hanya sepelemparan batu saja, tetapi anehnya Halimah merasakan perjalanannya kali ini sangat panjang. Halimah tidak sampai-sampai di kamarnya. Halimah merasa dia tidak bisa melangkahkan kakinya dengan leluasa, seperti ada beban yang menahan gerakan kakinya.
Halimah melihat ke bawah, ke arah kakinya dan melihat beberapa tangan penuh darah yang memegangi kakinya. Halimah berteriak tertahan. Tangan-tangan itu tidak tampak nyata, hampir seperti transparan, tetapi efek yang dirasakan Halimah nyata. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Dia menangis terisak ketakutan, karena sekarang kakinya sama sekali tidak bisa digunakan untuk melangkah sama sekali.
"Kembali ke ruang makan! Selesaikan tugasmu!" Terdengar bisikan di belakang tengkuk Halimah. Halimah menjengit, dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau! Bukankah mereka muntah ketika melihatku?" jawab Halimah dengan berani, dia tidak memedulikan sosok yang tidak dilihatnya, tetapi bisa didengar suaranya itu.
"Kurang ajar!" Pipi Halimah terasa begitu pedas ketika entah apa menampar pipinya, berulang kali. Halimah rebah ke lantai. Dia merasakan ada gelitikan-gelitikan aneh di punggungnya dan menyadari bahwa dia menjatuhi tangan-tangan kecil penuh darah yang mencengkeram tangannya tadi.
Halimah segera bangun dengan penuh ketakutan dan melihat tangan-tangan ... oh, tidak, bukan tangan, tetapi tepatnya telapak tangan - telapak tangan kecil bergerak dengan cepat, merangkak bersembunyi ke tempat yang gelap, seakan telapak tangan kecil itu ketakutan setelah tertimpa tubuh Halimah.
Halimah menciut ketakutan melihat telapak tangan - telapak tangan yang bergerak kian ke mari. Halimah semakin risau dan khawatir. Dia ingin segera pergi dari rumah menyeramkan itu.
Belum habis rasa takut dan terkejut Halimah, tiba-tiba saja Halimah merasakan tangannya ditarik oleh mahluk tak kasat mata yang menyeretnya kembali ke arah ruang makan.
"Selesaikan tugasmu, maka kamu kuperbolehkan pergi dari rumah ini!" desis sosok itu.
Halimah berteriak kesakitan dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mahluk yang entah seperti apa wujudnya itu. Tetapi sayang Halimah tidak bisa melawan kekuatan mahluk itu, dan dia menyerah pasrah dibawa kembali ke ruang makan.
Ketika memasuki ruang makan Halimah langsung muntah. Bau anyir dan pemandangan yang sangat menjijikkan menyambutnya. Halimah melihat darah yang begitu banyak, yang membuat lantai di ruang makan itu banjir darah.
"Tugasmu sangat mudah. Berikan obat yang ada di meja pada mereka semua, dan setelah itu aku akan mengantarkanmu keluar dari rumah ini," kata sosok tak kasat mata itu.
Halimah menelan ludah. Dia melihat lautan darah di depannya, dengan bau dan warna darah yang luar biasa menjijikkannya. Tetapi ketika Halimah mendengar janji bahwa dia akan keluar dari rumah itu, Halimah pun membulatkan tekadnya, dia pun berjalan perlahan melewati darah yang berwarna merah dan ... oh, bau anyir ini! Halimah sangat akrab dengan bau anyir ini! Bau ini adalah bau yang selalu menyiksanya setiap hari di kamarnya. Halimah terdiam. Dia membeku di tengah jalan dan muncullah tekad baru di dalam hatinya, tekad untuk segera melepaskan diri dari bau anyir ini dan pergi dari rumah ini, kemudian Halimah segera mengambil empat butir kapsul berwarna hitam itu dengan cepat.
Halimah segera menghampiri Pak Slamet dan menjejalkan kapsul warna hitam itu pada mulut ular Pak Slamet. Halimah bergidik ketika melihat lidah menjulur-julur dari mulut ular itu setelah obat itu masuk ke dalam mulut ular Pak Slamet. Halimah segera beranjak ke tubuh Bu Slamet, Abdi dan sang anak perempuan mereka yang tergolek tak berdaya.
Ketika Halimah selesai menjejalkan kapsul itu ke mulut sang anak perempuan yang bernama Siti Hayati, tiba-tiba saja mata Siti Hayati terbuka lebar, membuat Halimah terpekik tertahan dan kemudian melonjak ketika mendengar suara tawa di belakangnya. Halimah menoleh dan melihat Pak Slamet, Bu Slamet dan Abdi sudah berdiri tegak di belakang Halimah. Mereka bertiga sudah berwujud manusia lagi.
"Kalau kamu ingin selamat, cepat lari lewat pintu itu, sebelum tubuh Siti Hayati bangun!" seru Abdi.
Halimah membeliak tak percaya. Dia melihat ke arah Siti Hayati yang mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Halimah mulai ragu.
"Kalau kamu tidak mau pergi, ya, kamu akan di sini selamanya bersama kami ...." Bu Slamet terkikik panjang, membuat Siti Hayati menggeliatkan tubuhnya.
Halimah tersengal, dia berada di antara rasa takut dan rasa tidak percaya. Tetapi akhirnya dia memilih untuk percaya. Halimah mulai berlari ke arah pintu yang secara ajaib muncul di depannya. Halimah berlari melewati lautan darah yang terciprat ke mana-mana ketika dia berlari.
Ketika Halimah keluar dari pintu itu, Halimah mendengar teriakan frustasi Siti Hayati dan tawa histeris Abdi.
Kenapa Abdi tertawa? Apa dia menertawakan Siti Hayati yang tidak berhasil menangkapnya?
"Bukan! Bukan karena Siti Hayati tidak berhasil mendapatkanmu! Tetapi karena aku, Limah!"
****





