" Aku pulang!!" seruan Medina menghentikan pergerakan Adam yang sedang membaca buku diruang tamu.
Mata teduhnya langsung memandangi jam dinding yang menggantung di tembok rumah sederhana yang mereka tempati. Jam persis menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Medina masuk ke rumah dan duduk di kursi rotan yang mengisi ruang tamu dengan wajah lelah. Plastik hitam besar yang sejak tadi ia tenteng, ia letakkan begitu saja di atas meja. Tapi tak sedikitpun menarik perhatian Adam, ia lebih tertarik pada buku yang ia baca daripada plastik hitam besar yang sudah bisa ia tebak apa isinya.
" Sudah berapa kali kakak bilang, kalau masuk ke rumah ucapin assalammualaikum," nasehat Adam dengan nada datar.
" Iya...iya...maaf."
" Ulangi," tegas Adam tak terbantah. Tatapannya masih terfokus pada deretan tulisan di buku.
Dengan langkah berat, Medina kembali melangkah keluar rumah," Assalammualaikum!!" seru Medina dan kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrakatuh," sahut Adam sambil menutup bukunya. " Jam segini udah pulang, kuliah kamu udah kelar?"
" Kakak sendiri kenapa ngilang dari kampus?"
" Jawab dulu pertanyaan kakak," pinta Adam masih bersikap tenang.
" Gimana bisa aku tenang kuliah, kalau fans alay kakak nguber aku terus," keluh Medina karena memang selama di kampus tadi ia tidak di berikan kesempatan masuk kelas, kehadiran para penggemar Adam yang mengerumuninya menahan pergerakannya. Menyebalkan.
" Tuh liat, kakak tahukan isinya apa? Coklat dan kado buat kakak. Aku udah berkali – kali bilang kalau kita nggak ngerayain valentine, tapi mereka ngotot pengen ngasih kakak dengan alasan itu 'kado biasa'. Kalau nggak ingat itu amanah yang harus aku sampaikan, udah dari tadi aku buang ke tempat sampah."
" Gimana dengan coklat dari anak SMA yang tadi pagi nemuin kamu? Apa itu bukan amanah juga?" tanya Adam berusaha mengingatkan Medina kejadian yang tak sengaja ia lihat di kantin pagi tadi.
" Kakak liat dia nyamperin aku?" tanya Medina dengan nada terkejut yang hanya di tanggapi anggukan kecil dari Adam. " Hm...kalau itu, karena aku lagi pengen makan coklatnya." Aku Medina cengengesan.
Adam hanya bisa geleng – geleng kepala mendengar pengakuan sang adik, jika sudah urusan makan, nasehat dan penjelasan apapun tak akan ada gunanya.
" Kakak sendiri kenapa pulang? Mau belajar bolos ya?" selidik Medina dengan mata memicing.
" Lagi nggak ada kelas," jawab Adam dan kembali membaca bukunya.
" Kalau nggak ada, kenapa pagi tadi ke kampus?"
" Lagi ada urusan sedikit."
" Urusan apa? Soal beasiswa itu ya?" tanya Medina cepat. Karena memang pertanyaan itu yang ingin ia utarakan sejak tadi.
Adam sedikit kaget ditanyai hal seperti itu. Tapi...bukan Adam namanya jika tidak bisa mengontrol situasi. Ia memilih untuk tetap tenang dan bersikap sewajarnya saja.
" Urusan kampus. Kamu nggak perlu tahu."
" Kenapa kakak nolak beasiswa itu? Bukannya sekolah di Amerika itu impian kakak dari dulu? Kenapa kakak buang kesempatan emas itu?" tanya Medina runtun, ia merasa kesal kenapa kakaknya dengan begitu mudah menolak tawaran itu.
Adam kembali menutup bukunya," Kamu udah makan?" Alih – alih menjawab Adam malah mengalihkan pembicaraan dan sukses membuat Medina berdecak sebal.
" Jawab dulu pertanyaan aku apa susahnya sih?" kesal Medina dengan tangan terlipat didada.
" Nggak ada tawaran beasiswa apapun Medina," kilah Adam semakin membuat marah Medina. Sejak kapan kakaknya pandai berbohong seperti itu.
" Harusnya kakak itu bersyukur di kasih kesempatan kayak gitu. Jarang - jarang profesor nawarin beasiswa penuh sama mahasiswanya. Kenapa kakak tolak? Nggak enak sama aku yang terkenal punya nilai terjelek di kampus?" Medina terus mengoceh tanpa memberi Adam kesempatan untuk membuka suara.
" Kita cari makan dulu yuk," Adam kembali mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin memperkeruh keadaan.
" Aku nggak laper," ketus Medina dan berjalan masuk ke kamar. Bantingan pintu yang ia ciptakan sudah cukup menyadarkan Adam jika Medina sedang kesal saat ini.
Adam menghela nafas panjang memandangi adiknya yang telah menghilang di balik pintu kamar. Bagaimana mungkin ia menerima beasiswa itu? Bagaimana bisa ia pergi dan meninggalkan adiknya seorang diri di sini? Medina itu satu – satunya yang ia punya sekarang, ia tak mungkin meninggalkannya hanya untuk mengejar mimpinya sendiri. Bagi Adam, itu gila.
***
Rentetan notifikasi aplikasi terus menghiasi ponsel Medina sejak satu jam yang lalu. Jika saja ia tidak ingat kalau ponsel itu di belikan Adam dari gaji pertama kerja part time di cafe, sudah sejak tadi ia ingin melempar benda pipih berwarna hitam itu.
Bukan apa – apa, ia merasa kesal karena tak ada satupun notifikasi yang berisikan pemberitahuan tentang vote atau komentar pada cerita yang sudah satu bulan lalu ia publish di akun nya. Bahkan cerita itu hanya mempunyai satu viewers untuk 10 bab cerita. Menyedihkan.
Lama mendekam didalam kamar membuat Medina nyaris mati bosan, ia terlalu gengsi untuk menyapa kakaknya duluan setelah tadi marah – marah tidak jelas.
Medina mendongak memandangi jam dinding yang menggantung di tembok kamar, jarum jam mengarah tepat pada angka 8. Itu artinya, kakaknya masih belum pulang dari kerja part timenya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah atap kamar yang tidak di tutupi plafon atau semacamnya. Tatapannya menerawang, tubuh mungilnya masih betah terbaring di atas kasur kapuk yang tidak lagi terasa empuk. Heningnya keadaan rumah kian membawanya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
" Kok kak Adam nggak pamit ya, waktu pergi tadi?"
" Apa dia marah?"
" Gue keterlaluan ya?"
Medina bermonolog, sesal melingkupinya tanpa ampun saat ini.
Mengingat bagaimana kakaknya terus bekerja di luar jam kuliah untuk membiayai kehidupan mereka, Medina jadi malu dan merasa jadi adik yang tidak tahu diri karena selalu melawan perkataan kakaknya. Belum lagi ia sering melempar kekesalan tidak jelasnya pada Adam.
Nina benar, anak – anak kampus benar, Adam itu kakak yang baik, sangat baik, dan teramat baik. Ia rela bekerja banting tulang hanya untuk memenuhi semua kebutuhan adiknya.
Mulai dari bekerja di cafe hingga tengah malam sebagai coffee maker, hingga menjadi buruh cuci di rumah susun yang kemarin ia kunjungi.
Bahkan sewaktu kecil, Adam rela panas – panasan ngamen di perempatan lampu merah hanya untuk membelikan boneka teddybear di hari ulang tahun Medina.
Lantas apa balasan Medina? Hal baik apa yang sudah ia lakukan untuk membuat kakaknya bahagia? Tidak ada.
Dia hanya gadis bodoh, bandel, kelakuan bak preman yang selalu membuat susah kakaknya. Medina bahkan tidak tahu apa yang bisa membuat kakaknya bahagia, ia terlalu sibuk dengan kebahagiaannya sendiri.
Seketika cairan bening dan hangat yang sejak tadi bersarang di pelupuk matanya, luruh tanpa di perintah membasahi pipi mulusnya. Medina menyesal karena telah bersikap kurang ajar pada seseorang yang selalu menjaganya sejak kecil itu.
Ia tidak boleh terus – terusan seperti ini, kakaknya juga harus bahagia. Ia tidak boleh egois.
Buru – buru Medina beranjak meninggalkan kamarnya, ada hal yang harus ia lakukan sekarang. Ia tahu persis, alasan macam apa yang membuat Adam menolak tawaran beasiswa itu.
Karena dirinya, karena Medina.
***





