Beautiful Nerd

Sekolah belum selesai dan Alena sudah mendapatkan telepon dari Tamara. Ia segera pergi ke toilet untuk mengangkat telepon. Menghindari seseorang yang mungkin saja mendengar percakapan mereka.

“Leanne, datanglah ke studio setelah sekolahmu berakhir.”

“Apa? Bukankah kau bilang aku libur dua minggu setelah wawancara terakhir kemarin?” sungut Alena kesal.

“Iya, itu benar. Tapi, semalam aku baru saja mendapatkan kabar kalau ada pemotretan dengan model baru,” jelas Tamara.

“Model baru? Kau bilang pemotretan itu dibatalkan,”

“Beberapa waktu lalu, model itu menolak tawaran Susan. Dan entah dapat angin apa, model baru itu menghubungi Susan lagi dan menerima tawarannya. Mereka sudah bertemu dan menandatangi kontrak kemarin siang.”

Alena mendengus kesal. “Aku punya firasat buruk kalau model baru itu menjengkelkan,” gumamnya pada diri sendiri.

“Leanne. Bagaimana?”

“Mau bagaiaman lagi. Aku harus tetap ke sana, meskipun tidak mau kan,”

Terdengar helaan napas panjang Tamara dari seberang telepon. “Oh, Syukurlah. Aku sudah menyuruh supir untuk menjemputmu di tempat biasa.”

“Ya, baiklah. Sampai ketemu di sana, Tara.”

Alena mendesah. Ia keluar dari toilet dengan wajah ditekuk. Saat menuruni tangga, ia melihat Keane yang meniki tangga. Menatapnya seolah-olah baru saja menemukan barang yang hilang. Keane menaiki dua anak tangga sekaligus dan menghadang langkahnya.

“Ada apa?” tanyanya ketus, “bukannya tidak mau terlihat saling menyapa di sekolahan?”

“Diam. Aku ingin bicara.”

“Bicara saja,”

“Hari ini aku ada acara dengan teman sekelasku. Keene juga ikut.”

Alis Alena saling bertautan. “Lalu?”

“Jangan pura-pura bodoh! Tentu saja aku ingin kau mengijinkan kami keluar!” Tersulut rasa kesal dan malu. Keane berteriak tepat di depan Alena hingga membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh bingung.

Alena tersenyum kecil. Selalu begitu. Ia menuruni satu anak tangga dan berdiri tepat di depan Keane. Mencubit kedua pipi adiknya itu gemas. Keane menepis tangan Alena jengkel. “Tidak perlu berteriak-teriak seperti itu aku sudah bisa mendengarnya, Keane. Hari ini aku juga ada jadwal pemotretan. Tara baru saja memberitahuku kalau ada model baru yang masuk agensi.”

“Jadi, kesimpulannya?”

“Kalian boleh pergi. Tapi ingat, tidak boleh minum tidak boleh pulang malam. Aku akan tahu kalau kalian melanggarnya.” Alena menjelaskan dengan gaya kakak yang berwibawa.

“Aku bukan anak kecil lagi,” ketus Keane.

“Aku juga tahu itu.” Alena tersenyum kecil. “Bawakan sesuatu saat kalian pulang.” Ia berjalan melewati Keane.

Ketika Alena sampai di tangga terakhir. Keane berbalik dan memanggil namanya. “Al,”

Alena menoleh ke belakang dan mendongak ke atas untuk melihat Keane. “Ya?”

“Lakukan yang terbaik,” ucapnya memberi semangat. Wajah Keane memerah saat mengucapkannya.

“Ya. Terima kasih, Keane” Alena tersenyum lembut. Ia bisa melihat wajah Keane semakin memerah.

Selalu begitu. Menjengkelkan, menyebalkan, tapi di balik semua itu. Keane punya kepedulian yang besar terhadap kakaknya.

Di balik sikap juteknya. Keane selalu saja menjadi pelindung bagi dirinya. Selalu membelanya dan juga bersikap layaknya kakak jika ada yang mengganggu dirinya. Bahkan Keane pernah berkelahi dengan teman sekelasnya saat Alena diejek gadis aneh oleh temannya. Berbeda dengan Keane. Keene cenderung membela Alena dengan kata-kata pedas yang bisa dia lontarkan pada siapa saja yang menyakitinya.

“Bagaimana?” tanya Keene, saat melihat saudara kembarnya itu kembali ke kelas.

“Sudah. Dia memperbolehkan kita pergi. Hari ini, dia juga ada pemotretan.” Keane mengecilkan suaranya saat mengatakan ‘pemotretan’.

“Benarkah? Tadi aku sempat melihat majalahnya. Dia sangat manis,” kata Keene. Ia sengaja menggodanya, menyadari wajah Keane yang memerah sejak kembalinya Keane ke kelas.

“Aku tahu itu,” ucap Keane ketus. Ia menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Mengalihkan wajahnya ke arah lain, selaian menatap Keene. Ia benci terlihat malu, ketahuan jika ia sebenarnya juga menyukai sosok Leanne sebagai model yang digandrungi banyak laki-laki.

***

Setelah pelajaran terakhir selesai, Alena segera meninggalkan sekolahan. Berjalan beberapa meter dari sekolahan, ia meihat satu mobil mewah berwarna abu-abu. Supir berdiri di samping mobil menunggui Alena. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil sebelum ada seseorang yang melihatnya.

Setengah jam kemudian, Alena sampai di studio pemotretan. Di dalam mobil, sebelumnya ia sudah melepas kaca mata dan memakai jaket. Tak lupa melepas karet yang mengikat rambutnya. Ia pergi ke ruang rias khusus wanita dan mendapati Tamara sudah siap di sana.

“Leanne!” panggil Tamara, menghampiri Leanne dan membawa gadis cantik itu ke meja rias.

“Apa aku terlambat?” tanya Leanne, melepas jaket yang dipakainya.

“Dia juga baru datang beberapa menit yang lalu. Sedang di rias di ruangan sebelah,” jelas Tamara. “Tolong ambilkan wig yang di sebelah tas itu. Nanti buat rambutnya bergelombang,” suruhnya pada petugas perias, sambil sibuk dengan ponsel di tangannya.

“Laki-laki atau perempuan?” tanya Leanne.

“Laki-laki. Dan yang lebih bagus, dia tampan, muda dan seumuran denganmu. Aku sempat ke ruangannya dan dia benar-benar seksi.” Tamara berujar penuh girang. Membayangkan wajah tampan model baru yang akan dipasangkan dengan Leanne.

“Oh, benarkah? Jadi dia juga masih sekolah,” gumam Leanne,“memangnya tema apa yang sedang kita pakai?”

“Sepasang kekasih yang tengah merajut cinta.” Tamara berujar sambil mengedipkan kedua matanya. “Terdengar romantis, bukan?”

“Jadi, aku akan berpose seperti kekasih yang sedang jatuh cinta begitu? Dengan model baru ini?”

“Ya, seperti itulah. Mungkin kita akan pulang malam.”

Pintu ruangan diketuk. Seorang petugas masuk ke dalam ruang rias Leanne dan mengatakan pada gadis itu, bahwa ia harus berfoto sendiri dulu sebelum berpasangan dengan model baru.

Setelah Leanne selesai dirias dan berubah menjadi Leanne. Ia keluar dari ruang rias, melirik ruang sebelahnya. Penasaran siapa model baru yang dibilang tampan oleh Tara.

“Hay, Leanne. Aku akan mengambil fotomu dulu sebelum sesi pemotretan yang selanjutnya,” kata Derek mulai bersiap-siap.

“Baiklah, Derek. Hay, Daniel,” sapa Leanne.

Daniel berdiri di samping Derek, tersenyum pada Leanne. “Kau tampak cantik seperti biasanya,”

Leanne tersipu malu. “Terima kasih, Daniel.”

Leanne mulai berjalan ke satu ruang yang terpisah. Ruangan yang sudah didesain seperti sebuah kafe. Terdapat kursi dan meja yang kosong. Leanne duduk di bagian tengah. Gaun selutut motis bunga yang dibalut jaket, rambut bergelombang, dan beanie. Ia duduk sambil bertopang dagu, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

Tamara muncul bersama dengan model baru yang sudah siap. Memperhatikan Leanne yang sedang berpose dari jauh.

“Kau pasti sudah diberi tahu kalau kau akan berpasangan dengan Leanne, kan?” kata Tamara pada model baru tersebut. “Bukankah dia cantik?”

Model baru tersebut diam. Hanya menatap lurus sosok Leanne yang tengah berdiri di samping jendela dengan wajah sedih, seolah-olah tengah menunggu sesuatu.

“Okey! Cukup! Kerja bagus, Leanne!” Derek berseru, tanda sesi pemotretan Leanne berakhir. Gadis itu segera menghampiri Derek untuk melihat hasil fotonya.

“Bagaimana?” tanya Leanne.

“Sempurna seperti biasanya,” derek berujar lembut, “kau memang gadis yang berbakat.” Pujinya kemudian.

“Leann!” Seru Tamara memanggil Leanne.

Leanne menoleh ke belakang. Ia terkejut saat melihat Tamara berjalan menghampirinya dengan seseorang yang sangat ia kenal. Itu Ray! Teman satu kelasnya. Bagaimana bisa ini terjadi?

“Leanne, perkenalkan model baru yang akan dipasangkan denganmu. Dia Ray Dixon. Ray, kau pasti sudah tahu siapa Leanne bukan?”Tamara memperkelkan keduanya/

Leanne terdiam, membeku di tempatnya. Ray tampak tenang, seperti tak mengenali Leanne. Laki-laki itu mengulurkan tangan sembari memperkenalkan diri. “Ray Dixon,”

Dengan wajah kebingungan, tangan Leanne terangkat begitu saja. Membalas uluran tangan Ray. “Leanne.”

“Leann. Kau baik-baik saja?” tanya Tamara.

“Apa? Y-ya, aku baik-baik saja.” Leanne gelagapan. Menoleh pada Tamara dan Ray secara bergantian. “Oh, Ray, senang berkenalan denganmu. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Katanya tersenyum tipis. Mencoba menyembunyikan rasa kagetnya.

“Tentu saja.”

Dalam hidup Leanne, ia tak pernah membayangkan jika dirinya bisa disandingkan dengan Ray Dixon sebagai model. Tidak jika melihat bagaimana sikap laki-laki yang terkesan acuh pada segala hal. Demi Tuhan, ia tak bisa melakukan apapun selain berusaha sebaik mungkin agar Ray tidak mencurigainya dan tahu kalau ia adalah Alena.

“Kau gugup,” gumam Ray. Tangannya menggenggam tangan Leanne tanpa ragu. Merasakan getaran kecil yang diakibatkan kegugupan Leanne.

“Aku tidak gugup,” kata Leanne. Ia membiarkan dirinya disentuh oleh Ray. Tangan dingin laki-laki itu merambat di wajahnya seperti sengatan listrik.

“Ya. Kau gugup,” bisik Ray.

“Bagus! Pertahankan seperti itu!” Derek berseru memberi perintah. Membiarkan pose di mana tangan kiri Ray menyentuh wajah Leanne, sedangkan tangan kanan mereka saling berpegangan.

“Kau model yang sangat buruk, Leanne.”

Leanne menepis tangan Ray, melangkah mundur menghindari laki-laki itu. Dengan gugup, ia meminta untuk memberi waktu jeda istirahat.

“Okay, istirahat 10 menit!” seru Derek.

Leanne segera menghindari Ray. Laki-laki itu menyeringai saat melihat Leanne pergi menghampiri Tamara. “Aku benci model baru itu. Sudah kuduga, kalau dia orang yang menyebalkan,” katanya menggerutu.

“Apa? Memangnya kenapa dengan dia?” Tamara melirik Ray yang duduk tak jauh darinya. Laki-laki itu menatap Leanne seperti harimau yang lapar. “Dia menatapmu terus. Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?”

“Aku tidak tahu bagaimana Susan bisa mengenal Ray dan menyuruhnya menjadi model. Tapi, yang jelas, orang menyebalkan itu adalah teman sekelasku.” Leanne membuang muka. Berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Ray.

“Apa?!” seru Tamara, kaget. “J-jadi, Ray Dixon itu teman sekelasmu? Ya Tuhan, bagaimana ini.” Tangannya membekap mulutnya sendiri. Melirik Ray dari balik bahunya. Laki-laki itu masih menatap ke arahnya. Atau lebih tepatnya ke arah Leanne.

“Aku harap dia tidak menyadarinya, kalau aku ini Alena.”

“Dilihat dari sikapnya, kurasa dia tidak menyadarinya.” Tamara menatap Ray yang sudah tak menatap ke arahnya. “Oh, aku harap ini berakhir dengan cepat.”

10 menit berlalu. Derek memberi aba-aba agar Leanne dan Ray kembali berpose.

“Aku harus kembali,” gumam Leanne. Ia menghela napas panjang sebelum kembali ke pekerjaannya.

Satu jam berlalu dengan sangat lama. Leanne kembali ke ruang rias untuk mengganti pakaian dan memperbaik make-up-nya. Kali ini ia memakai gaun warna merah muda. Rambutnya tetap bergelombang dengan penjepit rambut berbentuk kupu-kupu, lensa kontak berwarna biru membuat Leanne terlihat begitu manis.

“Okay. Ini sesi pemotretan yang terakhir untuk malam ini,” Kata Derek, memberitahu.

Ayolah, Leanne. Kau bisa melakukannya, batin Alena dalam hati.

Adegan terakhir di mana Ray dan Leanne saling berciuman. Sebelumnya, Leanne selalu bisa melakukannya tanpa masalah apapun. Tapi, dengan Ray Dixon, apakah ia bisa melakukannya seperti yang selalu ia lakukan.

Jantung Leanne berdebar-debar saat Ray memperpendek jarak di antara mereka. Kedua tangannya melingkar sempurna di pinggang Leanne. Menarik tubuh gadis itu mendekat padanya. Kedua tangan Leanne menekan dada Ray. Napasnya yang hangat menyapu wajah Leanne.

Ray memiringkan kepalanya, hendak mencium Leanne. Gadis itu langsung menutup kedua matanya gugup. “Kau gugup lagi,” ejeknya, tersenyum menyeringai.

Leanne membuka mata, kesal saat melihat Ray mengejeknya. “Aku tidak gugup,” tegasnya.

“Oh, benarkah?” Ray sengaja menarik tubuh Leanne lebih dekat hingga gadis itu memekik kaget.

“Berhentilah berbicara yang tidak—

Leanne membeku saat Ray menciumya secara tiba-tiba. Ia memejamkan matanya, reflek. Merasakan bibir hangat Ray yang menciumnya lembut. Pikiranya kosong, ia ingin mendorong Ray, tapi tubuhnya serasa kaku. Berusaha untuk berkata, tapi bibirnya kelu. Yang mampu ia rasakan hanyalah kelembutan bibir Ray yang menempel di bibirnya. Hingga ia merasa tubuhnya didorong secara paksa. Sebelum itu terjadi, ia seperti mendengar Ray membisikkan sesuatu yang tak jelas.

“Okay! Kerja bagus, untuk kalian berdua. Hari ini sudah cukup.” Seruan Derek membuat Leanne kembali sadar. Melangkah mundur, sekilas Leanne melihat Ray tersenyum menyeringai sebelum berjalan pergi.

Leanne mengangkat tangan, menyentuh bibirnya yang basah. Kepalanya menoleh ke arah Ray. Laki-laki itu baru saja menciumnya. Ray Dixon menciumnnya!

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.