Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Beautiful Hurt
Beautiful Hurt

Beautiful Hurt

9.1
/ 10
Dalam Beautiful Hurt, Marilyn terjebak fitnah sebagai pelakor hingga Christian, sang miliarder, memaksanya menikah demi balas dendam. Temukan kisah pengkhianatan dan perjuangan dalam romance novel ini. Baca web novel modern ini untuk melihat bagaimana Marilyn menghadapi tuduhan Christian.

Beautiful Hurt Bab 1

Namaku Marilyn. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, yang kesemuanya adalah perempuan. Madeline adalah kakak sulungku. Orang-orang menjulukinya Miss Perfect. Karena menurut orang-orang, kakakku itu sempurna dan maha segala. Maddie, begitu biasanya kakakku disapa, sangat cerdas, teliti dan cekatan dalam segala hal. Ditambah dengan kecantikannya yang bersinar terang bagai cahaya mercusuar, tidak ada satu laki-laki pun yang sanggup menolak pesonanya. Dalam keluarga kami, Maddie adalah seorang ratu. Segala titahnya adalah mutlak dan wajib untuk dilaksanakan.

Maureen adalah adik bungsuku. Kami sekeluarga sepakat menjulukinya Miss Glow In The Dark. Reen, biasanya adikku ini disapa, memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Dengan IQ yang nyaris mendekati sempurna, Reen menonjol di antara gadis-gadis lainnya. Jika para wanita kebanyakan menonjol karena kecantikan ataupun keseksian mereka, Reen berbeda. Adikku ini mempesona dengan kecerdasan dan kepercayaan dirinya. Kelebihannya ini sangat mendukung karirnya sebagai seorang pengacara muda yang bertalenta. Dengan tatapan khasnya yang sangat intimidatif, Reen sukses setiap kali membantai musuh-musuhnya di pengadilan.

Dan di antara bersinarnya mereka berdua, aku bagaikan sebatang korek api basah nan redup. Aku tidak memiliki kelebihan apapun di antara kedua saudariku, selain kecantikanku yang di atas rata-rata.

Tetapi menurut kedua saudariku, kecantikanku itu bukanlah suatu hal yang perlu dibanggakan. Karena kecantikanku itu kebetulan diturunkan secara genetika oleh kedua orang tuaku. Bukan karena kerja keras apalagi prestasi. Aku tidak perlu melakukan apapun untuk meraihnya. Jadi apa hebatnya? Kecantikan hibahan tanpa perlu kerja keras adalah istilah favorit mereka berdua.

Sedari kecil, ibuku sangat bangga dengan semua talenta yang dimiliki oleh kakak dan adikku. Sampai-sampai ibuku lupa bahwa dia juga memiliki aku sebagai anak kandungnya.

Masih begitu terpatri dalam ingatkanku, kejadian-kejadian sewaktu kami semua masih di Sekolah Dasar. Saat itu kami menghadari acara ulang tahun salah seorang rekan kerja ayahku, di salah satu hotel megah dan mewah. Karena ayahku saat itu mempunyai keperluan lain, ayah berangkat ke acara terlebih dahulu.

Ayah berpesan pada ibu, agar kami semua menyusul saja ke tempat acara. Ayah akan menunggu kami di sana. Dan sepanjang hari itu, aku dan kedua saudariku sangat gembira. Jarang-jarang kami mendapat undangan di tempat mewah seperti acara ini. Dalam benak kami, akan ada kue-kue cantik yang lezat, namun sayang untuk dimakan. Kami bertiga memang cenderung tidak tega memakan kue yang bentuknya indah-indah. Kasihan kuenya bukan?

Waktu yang dinanti akhirnya tiba juga. Dengan memakai pakaian-pakaian terbaik yang kami miliki, ibu membawa kami bertiga ke tempat acara. Maddie memakai gaun princess berwarna merah muda yang cantik. Rok tulenya yang mengembang sempurna, membuat kakakku itu bagaikan seorang putri. Begitu juga dengan Reen. Gaun biru muda melambainya, membuat adikku itu seperti Cinderella. Gaun Cinderella berwarna biru bukan?

Sementara aku menggunakan gaun yang entah apa sebutan warnanya. Kalau disebut putih, tidak juga karena ada kuning-kuningnya. Tapi kalau disebut kuning, ya tidak bisa juga. Karena dasarnya gaun ini berwarna putih. Namun karena kelamaan disimpan di lemari gaun ini berubah warna menjadi kekuningan. Ya, gaunku adalah gaun bekas Maddie yang sudah tidak muat lagi. Sudah menggantung sebetis jika dikenakan olehnya. Makanya gaun ini diberikan kepadaku. Sebenarnya aku sedikit sesak napas juga mengenakan gaun ini karena kesempitan. Tetapi karena hanya tersisa satu gaun itu yang layak pakai, makanya aku memaksakan diri memakainya. Karena aku sangat ingin ikut ke acara.

Ketika kami tiba di lokasi acara, ibu menggandeng tangan Maddie dan Reen di sepanjang koridor hotel, menuju aula tempat acara diadakan. Dan seperti biasa, aku tetap berjalan dalam diam, di belakang mereka bertiga. Sebenarnya aku merasa iri dan ingin digandeng juga. Tetapi tangan ibu hanya dua. Jadi pasti tidak cukup untuk menggandengku juga.

Di sepanjang koridor hotel aku mendengar celotehan riang kakak dan adikku. Mereka menanyakan hal ini dan itu, sembari menunjuk segala dekorasi di sepanjang koridor hotel. Ibuku dengan sabar menjawab pertanyaan mereka satu persatu. Sesekali ibuku tertawa bila pertanyaan kakak dan adikku terasa lucu olehnya. Pemandangan ini sudah biasa aku saksikan setiap hari. Ibuku sangat menyayangi kakak dan adikku.

Ketika aku ikut menanyakan mengapa karpet yang lalui sepanjang jalan berwarna merah, ibu mengabaikannya. Ibu seolah-olah tidak mendengar pertanyaanku. Padahal suaraku sudah cukup keras. Tidak puas, aku menarik tangan ibuku. Mencoba meraih perhatiannya. Ibu malah menepis tanganku dan memarahiku. Ibu mengatakan agar aku jangan banyak bertanya dan jangan nakal. Padahal aku hanya bertanya satu kali. Sementara kakak dan adikku memborong semua pertanyaan. Dengan apa boleh buat, aku kembali diam dan mengikuti langkah mereka bertiga dari belakang.

Sembari berjalan, aku memperhatikan gerak-gerik anggun ibuku. Ibuku, adalah ibu yang paling sempurna di dunia. Ibu itu cantik, lembut, pintar sekaligus sangat cekatan. Untuk kategori seorang ibu idaman, mungkin ibuku adalah juaranya. Ibuku adalah ibu impian bagi semua anak, kecuali bagiku. Untukku, ibu rasanya begitu sulit untuk kugapai. Aku sendiri bingung. Mengapa rasa-rasanya ibu sangat tidak mencintaiku.

Sesampai di aula, ruangan telah ramai oleh tamu-tamu yang sebagian besar pernah kulihat. Mereka adalah rekan-rekan kerja ayah. Beberapa di antara bapak-bapak dan ibu-ibu berpakaian bagus itu, sebagian besar pernah datang ke rumah menjumpai ayah. Makanya aku mengenali beberapa di antaranya.

Di saat kami semua sedang mengagumi meriahnya acara, seorang ibu-ibu cantik berkebaya merah muda menghampiri kami bertiga.

"Lho, istri Pak Teddy ini ya?" tanya ibu-ibu cantik itu pada ibu. Sepertinya ibu itu mengenal ayahku. Ibu segera menyalami ibu-ibu cantik itu sembari tersenyum ramah.

"Benar, Bu. Kenalkan, saya Marissa. Seperti yang Ibu katakan tadi, saya adalah istri Pak Teddy," tukas ibuku ramah.

"Saya, Hera. Rekan kerja Pak Teddy," Bu Hera menyambut uluran tangan ibuku.

"Oh iya, ngomong-ngomong dari mana Bu Hera tahu kalau saya adalah istri Pak Teddy?" tanya ibuku.

"Oh, saya pernah melihat photo Bu Rissa dan anak-anak Ibu di ruangan Pak Teddy. Ngomong-ngomong panggil saja saya Hera. Dipanggil Ibu, kok saya jadi mendadak merasa tua," imbuh Bu Hera sembari tertawa.

"Oh begitu toh. Baiklah, kita saling memanggil nama saja ya, biar kita sama-sama merasa muda?" Ibuku tertawa. Dengarlah tawa renyah ibuku. Sangat enak didengar bukan? Renyah dan lembut.

"Oh ya, Hera. Kenalkan ini anak-anakku. Madeline, Marilyn dan Maureen. Ayo anak-anak, salim dulu pada Bu Hera," ucap ibuku ramah.

Dengan patuh kami bertiga menyalami Bu Hera. Saat kakak dan adikku berbisik dan mengatakan kalau Bu Hera cantik seperti artis, aku menggeleng keras. Aku tidak setuju dengan pendapat mereka berdua. Bagiku, ibu tetap yang paling cantik. Titik.

"Anak-anakmu cantik-cantik semua ya, Riss? Kamu ngidam apa sih pas hamilnya? Ngemilin photo artis-artis cantik ya? Hehehe."

Ibu cantik yang bernama Hera itu menjawil pipi Maddie dan Reen dengan gemas. Aku tidak kebagian dijawil, karena aku sudah berdiri di samping ibu. Jarang-jarang aku bisa berdekatan seperti ini pada ibu. Karena biasanya, sisi kanan dan kiri ibu selalu dihuni oleh kakak dan adikku.

"Ah, biasa sajalah, Ra. Kamu terlalu berlebihan," bantah ibu. Namun aku melihat ibu memandang kakak dan adikku dengan tatapan bangga. Sesungguhnya ibuku setuju dengan kalimat Bu Hera.

"Ngomong-ngomong anak-anakmu sekolah di mana, Riss? Mereka berani dan cerdas. Khas anak-anak yang diedukasi dengan baik," puji Bu Hera lagi. Senyum ibu kembali mengembang mendengar pujian dari Bu Hera.

"Di Sutomo, Her. Biar dekat dari rumah."

"Duh, sekolah di sana mahal banget ya, Riss? Mana tempat anak-anak orang kaya semua lagi. Banyak anak-anak pejabat yang bersekolah di sana ya?" imbuh Bu Hera.

"Mahal banget, Ra. Kalau harus membayar penuh juga kayaknya kami tidak mampu. Untungnya Maddie dan Reen bea siswa," tukas ibu bangga.

"Maddie juga aktif ikut olimpiade matematika dan Maureen rajin ikut pentas seni siswa. Piala dan trophy-trophy mereka berjejer di rumah."

Ibu tampak sangat antusias saat menceritakan tentang prestasi Maddie dan Reen. Sedari tadi ibu sedikitpun tidak menyinggung, apalagi menyertakan tentang kegiatanku di sekolah. Selalu begitu. Di mata ibu, aku ini hanyalah seorang anak yang tidak kasat mata. Mungkin karena aku adalah anak yang biasa-biasa saja. Tidak ada satu hal pun didiriku, yang pantas untuk ibuku banggakan.

Pembicaraan selanjutnya tentu saja tentang segudang prestasi-prestasi kakak dan adikku yang lain. Yang ditimpali oleh Bu Hera dengan menceritakan tentang prestasi anak-anaknya juga.

Perlahan aku menyingkir ke sudut ruangan. Aku duduk diam dan memperhatikan kakak dan adikku yang berlarian ke sana ke mari dengan anak-anak yang lain. Kedua saudariku itu memang pandai sekali bersosialisasi. Tidak minderan sepertiku. Sejurus kemudian, ibuku memanggil kami bertiga. Obrolan ibu dengan Bu Hera telah usai.

Ibu menghela lengan kakak dan adikku kembali menuju meja prasmanan. Sementara aku dengan setia mengekor di belakang. Dengan perasaan cemburu aku memandangi langkah kakak dan adikku yang digandeng oleh ibu. Aku sedih. Entah kapan aku bisa menggantikan posisi kakak atau adikku, agar bisa digandeng oleh ibu.

Dulu, aku pernah protes pada ibu. Aku mengatakan bahwa aku juga ingin di gandeng saat berjalan, seperti ibu yang selalu menggandeng tangan kakak dan adikku. Dan ibu menjawab kalau tangan ibu itu cuma dua. Satu dipakai untuk menggandeng kakakku dan yang satu lagi untuk menggandeng adikku. Jadi bagaimana ibu bisa menggandengku juga? Setelah mengatakan hal itu, ibuku berlalu begitu saja sembari menggandeng kakak dan adikku.

Aku yang bersedih, biasanya akan langsung berlari mencari ayah. Karena ayah selalu bilang, kalau ibu sedang sibuk mengurus kedua saudaramu, datanglah pada ayah. Ayah akan mengajakmu bermain seharian, bahkan sampai mataharinya tidur.

Seperti biasa juga, aku pasti akan mengangguk dan menyembunyikan tangis di dada ayah. Karena walau bagaimanapun, sesungguhnya aku juga ingin disayang oleh ibu. Aku ingin bermanja-manja pada ibu seperti kedua saudariku. Terlepas dari semua itu, aku ingin dicintai oleh Ibu seperti halnya dengan dua saudariku yang lain. Aku bukan iri pada saudara sendiri. Aku hanya ingin diperlakukan sama. 'Kan aku juga anak kandungnya?

Walaupun waktu itu usiaku masih delapan tahun, tapi aku bisa melihat tatapan kesedihan dan rasa bersalah di mata ayah, setiap kali ia menatapku. Hanya saja aku tidak tahu, apa penyebab ayah selalu terlihat begitu sedih setiap kali aku mengadu.

Tapi satu yang pasti, ayahku adalah segalanya bagiku. Walaupun ibu tidak begitu mengganggap keberadaanku, tetapi ayahku selalu menjadikanku sebagai pusat dunianya. Kata ayah, aku adalah mataharinya dan sumber segala kebahagiannya. Ayahku bilang, apapun yang membuatku bahagia, maka ayah sepuluh kali lebih bahagia. Sepuluh kali! Sepuluh kali itu banyak sekali bukan? Itulah hal yang menjadikanku kuat dari hari ke hari. Ayahku mencintaiku. Titik.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Dari Saingan Menjadi Ipar
Dari Saingan Menjadi Ipar
Dalam novel romance Dari Saingan Menjadi Ipar, Josie Watson bertekad menceraikan Laurence Andrews yang terus menghinanya demi Rosalie Harris. Di tengah konflik modern novel ini, Josie tidak menyadari bahwa kakak Rosalie diam-diam mendesaknya pergi. Temukan kisah lengkapnya di web novel ini.
Direndahkan Oleh Keluarga Suami
Direndahkan Oleh Keluarga Suami
Dalam novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami, Jasmine berjuang di tengah hinaan keluarga elit dan pengkhianatan Ardan. Saat cinta pertama suaminya kembali, Jasmine memilih pergi demi kebahagiaan. Baca kisah romance novel ini di antara deretan billionaire romance books yang penuh konflik.
DOSEN ITU SUAMIKU
DOSEN ITU SUAMIKU
Dalam novel modern DOSEN ITU SUAMIKU, Bunga harus menghadapi realita saat Ezza, suaminya, tiba-tiba mengajar di kampusnya. Temukan rahasia di balik kehadirannya dalam romance novel ini. Baca kisah lengkapnya di platform web novel kami sekarang.
Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
Dalam Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali, seorang wanita dikhianati tunangannya setelah berkorban nyawa. Romance novel penuh intrik modern dan action ini mengikuti misinya meninggalkan masa lalu yang hancur demi martabat baru. Baca kisah seru ini di platform web novel kami.
I Fall Endlessly
I Fall Endlessly
Dalam novel I Fall Endlessly, Neva Zetrix berjuang mempertahankan bayinya di hadapan Brian Anderson. Kisah romance novel ini mengikuti pengorbanan Neva menghadapi sang konglomerat dalam balutan billionaire romance books yang penuh tekanan hidup dan pilihan sulit di dunia modern.
Jangan bermain-main dengan saya
Jangan bermain-main dengan saya
Dalam novel Jangan bermain-main dengan saya, seorang gadis dijual oleh ayahnya dan terpaksa menghadapi takdir sebagai istri pengedar narkoba. Ikuti kisah mafia penuh risiko ini melalui web novel yang menyajikan pilihan sulit antara kesetiaan dan pelarian dalam dunia romance stories.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.