Be Your Pet

Erick kecil kini sudah menginjak remaja, usianya sudah enam belas tahun, namun kehidupannya masih sama bahkan lebih parah. Ayahnya sama sekali tidak pernah menganggap Erick ada, dan bila ia ada di rumah, ayahnya selalu memarahi ibunya. Hanya ibunya lah yang masih memperhatikan Erick walau terkadang ibunya memarahi Erick karena kelakuan nakalnya.

Untuk mengasah kemampuan berkelahinya, Erick diam-diam mengikuti kelas boxing, sehingga tubuhnya sedikit banyak telah terbentuk. Ia terbilang cukup hebat dalam bertarung, namun tak pernah terlintas di pikirannya untuk menjadi petinju profesional. Ia menggunakan tinju sebagai sarana untuk menyalurkan emosinya dan menjadi lebih hebat saat bertarung diluar.

BUGH! BUGH!

Gema suara sand bag yang dipukuli Erick menjadi satu-satunya suara di sasana yang sudah sepi itu. Hanya ada cleaning service dan beberapa orang yang sedang mengobrol sekedarnya.

"Erick, hari sudah larut, kau pulanglah," ujar coach Bryan pelatihnya selama ini. Ia tahu masalah yang dihadapi Erick namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain membantu Erick berlatih.

"Sebentar lagi," jawab Erick sambil terus memukuli sand bag. Sudah lebih dari lima jam ia berlatih namun tak sedikit pun terlihat ia ingin menyudahi latihannya. Baginya, pulang ke rumah merupakan siksaan karena harus terus melihat orang tuanya selalu bertengkar. Jika bukan untuk menjaga ibunya, saat ini pastilah Erick sudah kabur dari rumah itu.

"Kau tahu," ujar pelatih itu sambil menepuk bahu Erick, "kau sebenarnya sudah bisa untuk ikut pertandingan resmi, Erick"

Erick tak peduli, ia menepis tangan coach Bryan dan meneruskan latihannya. Dia hanya ingin terus memukuli sand bag itu untuk menyalurkan kemarahannya.

Malam itu dengan berat hati Erick harus pulang karena sasana tinju tempat Erick berlatih sudah tutup. Dengan enggan ia mengambil tasnya lalu keluar. Dengan mengenakan hoodie hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya, ia berjalan menyusuri jalanan yang masih ramai dengan kendaraan dan orang yang berlalu-lalang.

Tak sengaja ia melihat sesosok orang yang ia kenal masuk ke dalam sebuah hotel. Orang itu mirip sekali dengan ayahnya, dan orang itu masuk ke sebuah hotel bersama dengan seorang wanita cantik dan sexy. Agak lama Erick tertegun.

"Ayah? Ah ... Tidak mungkin," ujar Erick dalam hati, "tidak mungkin itu ayah".

Setelah berjalan sebentar, Erick masuk ke dalam sebuah mini market 24 jam. Ia langsung menghampiri kasir.

"Rokok itu 1 bungkus," ujar Erick sambil menunjuk salah satu rokok yang ada di counter. Erick mengeluarkan uang dari sakunya dan menaruhnya begitu saja di depan penjaga kasir yang ternyata adalah seorang wanita cantik.

Wanita itu tampaknya terpesona melihat Erick yang bisa dibilang tampan. Wanita itu hanya bisa melongo melihat ketampanan Erick.

Erick yang kesal karena tak kunjung dilayani segera menjentikkan jarinya di hadapan wanita itu. "Mbak?" tanya Erick.

"Ah ... Maaf. Sebentar saya ambilkan." Dengan gaya yang dibuat-buat seakan akan ingin menggoda Erick, wanita itu mengambil rokok yang diminta Erick.

"Ini kembaliannya" ia menyodorkan kembalian ke tangan Erick dan dengan sengaja mengelus tangan Erick yang berurat. Erick segera mengambil uang kembalian dan dengan dingin keluar dari mini market itu.

"Cih!" Erick tidak suka wanita gatal seperti itu. Ia menggosok-gosokkan tangan yang tadi disentuh oleh wanita penjaga kasir mini market ke bajunya.

Ketika Erick sampai di rumah, ia tahu orang tuanya belum pulang karena lampu garasinya masih padam. Walau sedang dihadapi permasalahan rumah tangga, ibunya yang masuk dalam keanggotaan sosialita elit masih disibukkan dengan kegiatannya berkumpul dengan para istri pejabat lain. Hal ini juga kadang membuat Erick kesepian, namun di luar itu, ibu Erick masih bisa menyempatkan waktu untuk mengurus Erick.

Dengan gaji ayahnya, ibu Erick senang memakai barang mewah dan bermerek. Hal itulah yang menyebabkan ibunya tidak bisa berpisah dengan ayahnya.

"Huft ...." Erick duduk di kursi makan sambil mengetuk ngetukan jarinya ke meja. "Sepi rasanya di rumah."

Seketika Erick teringat pada orang yang mirip dengan ayahnya yang masuk hotel bersama seorang wanita.

"Tidak ... Itu bukan ayah, ayah tidak akan melakukan itu." Erick menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menepis pikiran buruk tentang ayahnya.

*

PRANG!

Baru saja Erick pulang dari latihan, tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang pecah dari rumahnya. Lampu di garasi menyala dan kedua mobil orang tuanya terparkir di dalamnya. Segera Erick masuk ke dalam rumah.

"Apa maksudmu, Mas? Jadi selama ini kau berselingkuh?" Terdengar isak tangis ibunya di dalam. Langkah kaki Erick serta merta terhenti mendengar pertanyaan itu.

"Sejak kapan?" tanya ibu Erick di sela tangisnya.

"Sudah berjalan dua tahun," jawab ayahnya lemah.

Erick teringat kejadian selama dua tahun ini. Itulah alasannya mengapa ayahnya berubah, mengapa ayahnya seakan tidak peduli lagi pada keluarganya, itulah mengapa semua permasalahan ini terjadi.

"Kalau bukan karena wanita sialan itu yang menghubungiku, kau pasti tidak akan mengaku, kan?" tanya ibunya, "apa yang membuatmu melakukan itu?"

"Dia lebih muda, lebih cantik dan dia mengerti aku," jawab pria yang kini bertolak pinggang di hadapan istrinya.

"Kalau kau tidak bisa menerima dia, maka aku akan pergi!" hardik ayahnya.

Erick terpaku mendengar perkataan ayahnya itu, ia hanya bisa menatap ayahnya yang berjalan melewatinya tanpa mampu berkata apa-apa. Sementara ayahnya seakan tidak peduli untuk sekedar melihat ke arah Erick.

"Jangan tinggalkan kami, Mas!" teriak sang wanita dengan air mata yang berderai di pipinya sambil berlari menyongsong suaminya.

Erick segera menangkap ibunya saat tubuh wanita itu limbung dihadapannya. Sementara deru mesin mobil terdengar semakin menjauh.

Erick, usia enam belas tahun, harus mulai merasakan kepahitan hidup saat ayahnya meninggalkan dia dan ibunya demi seorang wanita simpanan. Selama ini ayahnya adalah tulang punggung keluarga. Akibatnya kini mereka kehilangan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarganya.

"Sudah jangan menangis lagi, ibu. Mulai sekarang Erick yang akan menanggung semuanya," ucap Erick sambil berusaha menenangkan hati ibunya.

*

Beberapa tahun berlalu, Erick kini sudah berusia dua puluh tahun, ia tumbuh menjadi remaja yang tangguh. Sepulang kuliah ia selalu pergi bekerja walau hanya serabutan. Terkadang ia menjadi pengantar paket atau makanan untuk mencukupi kehidupan mereka.

Dengan tubuhnya yang atletis, ia bisa mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan fisik yang kuat, dan dengan tubuh atletisnya juga ia mampu menarik perhatian para wanita di sekitarnya. Namun tak terbersit sedikitpun di otaknya untuk berkencan, karena fokusnya hanya bekerja dan berlatih. Ya, di sela sela waktu luangnya ia masih menyempatkan untuk berlatih, karena ia juga bekerja sebagai petarung ilegal, dan uangnya bisa ia gunakan untuk kebutuhan seharinya.

Tak jarang ia pulang dengan wajah yang babak belur, namun sangat jarang sekali ia kalah dalam pertarungan.

*

"Huft ...." Erick menghela napas sambil mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangannya di sela-sela pekerjaannya mengangkat barang dari gudang ke toko. "Bang, aku izin merokok dulu ya."

Ia lalu pergi ke belakang gudang. Terkadang ia berpikir, seandainya ayahnya tidak bertemu dengan wanita pelakor itu, pasti kehidupannya tidak akan seperti ini. Namun apa bisa dikata, takdir berkata lain.

*

Walaupun disibukkan oleh pekerjaan, Erick masih mampu membagi waktunya dengan berkuliah di salah satu sekolah elit. Ayahnya masih membiayai pendidikannya walau tidak dengan pengeluaran hariannya.

Di kampus, Erick tergolong anak yang tidak bagus dalam bersosialisasi. Ia tidak memiliki teman dekat. Ia pun jarang sekali mengobrol kecuali untuk urusan tugas. Apalagi untuk berkumpul dengan teman-temannya.

Walaupun begitu, tak sedikit teman wanitanya yang tertarik untuk mendekati Erick.

"Erick tunggu!" teriak seorang gadis ketika Erick sudah akan keluar dari kelasnya. "Kau ada waktu nanti malam? bagaimana kalau kita nongkrong"

"Tidak bisa, aku harus kerja di toko," jawab Erick datar.

"Kalau besok?" tanya wanita itu lagi.

"Besok aku kerja di resto," jawab Erick dengan tetap dingin.

"Lusa?" Semua pertanyaan itu dijawab tidak bisa oleh Erick karena memang setiap hari sepulang kuliah ia harus pergi bekerja.

Tanpa Erick sadari, sepasang telinga mendengar percakapan itu. Jason, salah seorang teman Erick yang berasal dari keluarga kaya raya. Ayahnya pemilik perusahaan multinasional yang memiliki banyak cabang usaha. Namun Jason juga adalah anak yang bermasalah, ia sering mem-bully orang yang lemah.

"Sudahlah." Jason berjalan mendekati Erick dan gadis itu. Dengan seenaknya ia berdiri di antara mereka dan memandangi Erick dengan pandangan menghina. "Dia mana ada waktu untuk berkencan, dia kan harus kerja karena ayahnya kabur dengan wanita lain ... Hahahaha," ejeknya.

Wajah Erick merah padam mendengar hinaan itu. Tanpa ragu, Erick segera melayangkan tinjunya ke arah wajah Jason yang menyebabkan pem-bully itu tersungkur dan menabrak salah satu meja.

"Jaga mulutmu, Anjing!!" bentak Erick sambil menudingkan telunjuknya ke arah Jason.

Bukannya marah, namun Jason malah tersenyum sambil menyeka darah di sudut bibirnya dengan ibu jarinya, dan tanpa jijik menjilatnya. Sedangkan Erick segera keluar dari ruangan kelas.

"Kita lihat saja nanti ... "bisik Jason dengan senyum liciknya.

Apa maksud Jason?

Bagaimanakah kehidupan Erick dan ibunya nanti?

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.