Tiga mobil sedan berwarna hitam melaju perlahan menuju lokasi tabrak lari. Dari salah satu mobil sedan yang berada di tengah, turun seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam dengan tegas.
Pria paruh baya ini adalah Andra, seorang CEO kaya dari industri mobil terkenal di seluruh dunia. Ditemani oleh beberapa pria lain yang mengenakan pakaian serba hitam dan putih, mereka bergerak perlahan menuju bangkai motor dan para korban tabrak lari.
Andra memberikan instruksi dengan suara yang tegas dan memerintah. "Temukan para korban! Lacak identitas mereka dan hilangkan semua bukti yang ada!"
"Baik!" jawab semua anggota pasukan dengan patuh, sementara mereka bergerak cepat menuju lokasi para korban.
Andra melanjutkan dengan otoritas yang kuat. "Pastikan tidak ada satupun bukti yang tertinggal! Putriku tidak boleh terlibat dalam masalah ini!" Dengan ketegasan yang mendominasi, ia bergerak menuju mobilnya untuk mengawasi proses ini.
Andra adalah seorang pria yang memerintahkan dengan kebijakan dan tidak mentolerir kesalahan dalam operasinya.
👻👻👻👻👻👻👻
Di sebuah kamar dengan warna dominan merah muda, terlihat dua orang pria dan wanita yang sedang berpelukan di atas ranjang.
"Kakak! Aku takut! Hiks..." ucap Aurel dengan terisak. Ia memeluk tubuh seorang pria yang duduk di sisinya dengan sangat erat.
"Tidak perlu takut, adikku! Ada kakak disini," jawab seorang pria yang duduk di sisi Aurel seraya menepuk punggungnya dengan lembut.
Pria tersebut bernama Audrey, kakak laki-laki pertama dari Aurel. Ia adalah seorang mahasiswa semester akhir di Universitas Indonesia.
Brak!
Terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Terlihat sesosok pria berlari ke arah Aurel dan Audrey.
Pria tersebut bernama Aron. Kakak kedua Aurel. Sama seperti adiknya, Aron masih berada di bangku Sekolah Menengah Atas.
"Kakak! Adik! Apa berita itu benar? Aurel baru saja membunuh tiga or-" Belum selesai Aron melanjutkan kata-katanya, Audrey langsung memotongnya.
"Ya! Dan itu semua karena dirimu!" bentak Audrey seraya menatap adiknya dengan tatapan membunuh.
"Apa salahku kakak? Aku baru saja pulang da-" Lagi-lagi perkataan Aron dipotong oleh Audrey.
"Dari merayu teman-teman wanitamu? Bagus!" ujar Audrey seraya memutar bola matanya dengan malas.
"Kak-" Seolah tidak diizinkan untuk menyampaikan isi pikirannya, lagi-lagi perkataan Aron dipotong oleh Audrey.
"Merayu para gadis dengan kata-kata manis, berjanji setia seraya mengucap sumpah, namun nyatanya... Kau hanya menganggap mereka semua sebagai mainan," ucap Audrey dengan tegas.
"Tidak kakak! Itu tidak benar! Aku hanya..." Audrey menghentikan perkataannya sesaat.
"Hanya menganggap mereka semua sebagai karakter di game gacha! Setelah dapat, akan dimainkan sebentar lalu dibuang ketika bosan!" seru Audrey sedikit berteriak. Ia terlihat sudah sangat muak dengan sifat dan kelakuan adiknya tersebut.
"Kak-" Aron memanggil kakaknya dengan suara lirih, terlihat matanya berkaca-kaca mendengar semua perkataan sang kakak.
"Kau memang seperti itu Aron! Tidak perlu mengelak!" tegas Audrey seraya memalingkan wajahnya kepada gadis malang yang sedang memeluknya erat.
"Huft..." Audrey menghela napas panjang seraya membenamkan wajahnya di balik rambut sang adik. "Sekarang, adikmu yang menuai semua yang telah kau tanam."
"Aurel..." Aron memanggil nama adiknya dengan sangat lembut. Ketika sang adik menoleh kepadanya, ia bertanya, "Apakah..."
"Itu benar, kak!" Seolah mengetahui isi pertanyaan sang kakak, Aurel langsung menjawabnya. "Kak Rain adalah kakaknya kak Rani. Mantan kekasih kakak. Sekarang, dia memutuskan hubungan denganku agar aku merasakan apa yang adiknya rasakan."
"Kau sudah mengerti sekarang?" tanya Audrey seraya menatap ke arah Aron, tanpa mengubah posisi kepalanya.
"Ma- maafkan aku..." ucap Aron seraya menundukkan kepalanya.
"Keluar! Jangan membuat adikmu semakin trauma." suruh Audrey dengan suara lantang.
Aron merasa sangat bersalah. Ia ingin sekali memperbaiki kesalahannya. Dengan lirih, ia berkata, "Aku tahu itu. Tapi..."
"Apa kau tidak mendengar perintahku barusan?" tanya Audrey dengan tatapan sinis.
"Ba- baiklah kak..." Akhirnya dengan sangat terpaksa, Aron pergi meninggalkan kamar Aurel.
"Kakak, apa kakak tidak terlalu kasar padanya?" tanya Aurel yang merasa sedikit khawatir pada kesehatan mental kakaknya.
"Tentu tidak. Dia harus merenungi semua perbuatannya," balas Audrey seraya semakin memeluk adiknya dengan erat.
"Dan kau juga sama!" Audrey melepas pelukannya. Ia kini menatap Aurel dengan tajam seraya berkata, "Bukan berarti karena kau adalah adik perempuan yang aku miliki satu-satunya, aku akan memanjakan dirimu secara berlebihan."
"Setelah kau sembuh dari trauma, aku juga akan mulai memarahi dirimu! Karena kau sudah terlalu sering melanggar peraturan!" ujar Audrey. Setelahnya, ia bangkit berdiri dan hendak meninggalkan Aurel.
"Kakak, tunggu!" Aurel meraih tangan Audrey. Dengan lirih, ia bertanya, "Bisakah kakak tetap menemaniku di sini?"
"Ada apa adikku, kau sudah terlalu besar untuk aku temani tidur. Tidurlah sendiri, ya! Jika ada apa-apa, aku akan kembali lagi kesini," jawab Audrey seraya mengusap rambut kepala Aurel dengan lembut.
"Ba- baik kak..." ujar Aurel seraya melepaskan genggaman tangannya dari sang kakak.
"Adik pintar!" seru Audrey ketika sang adik sudah melepaskan tangannya. Sebelahnya, ia berjalan perlahan menuju pintu dan mulai pergi meninggalkan kamar Aurel.
Aurel dengan cepat berbaring di atas ranjangnya seraya menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Dengan masih sangat ketakutan, ia bergumam, "Sepertinya masih belum aman jika aku tidur dalam keadaan gelap. Aku tidak akan mematikan lampunya!"
Aurel menutup seluruh tubuh dan wajahnya menggunakan selimut. Ia sedikit menggigil karena masih terbayang-bayang para makhluk tak kasat mata yang menghantuinya beberapa waktu lalu.
"Panas!" Aurel menarik selimutnya dan membiarkan tubuhnya tidak terbalut selimut.
Aurel menatap langit-langit kamar sesaat tanpa berkedip. Setelah beberapa saat, matanya terasa pedih dan meneteskan air.
"Baiklah, saatnya tidur!" ujar Aurel seraya menutup kedua matanya dan bersiap untuk tidur nyenyak. Namun...
Tes... Tes... Tes...
Aurel merasa ada tetesan demi tetesan benda cair yang membasahi wajahnya, menyebabkan sensasi dingin yang menusuk tulang. Sontak Aurel langsung membuka kedua matanya dengan cepat. Ia terbelalak ketika menatap langit-langit kamar yang terasa semakin mendekat, seolah-olah mengerut dan mengancam.
"Kyaaaa!" Aurel berteriak dengan suara terputus-putus, getaran ketakutan merayap di setiap serat tubuhnya. Di atas langit-langit kamar, ada sesosok pria yang merayap dengan gerakan aneh, seperti cicak yang melintasi dinding. Wajahnya hancur, penuh dengan luka-luka yang berlumuran darah segar. Bekas-bekas luka itu tampak mengerikan, seolah-olah terulang tanpa henti.
Darah segar mengalir deras di setiap inci tubuh pria itu, menetes ke bawah dan membasahi ranjang Aurel, menciptakan coretan merah yang mengerikan di linen putih.
Dengan suaranya yang sangat berat dan mengerikan, sesosok manusia merayap itu berkata dengan nada yang sangat mencekam. "Kau harus hidup menderita!" Suaranya terdengar seperti gemuruh kematian yang mendekati, menghantui ruangan dengan ketakutan yang tak terbayangkan.





