Bangkit Dari Kematian

Hari itu Maya mengajak Risa ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Walaupun rumah itu kecil tetapi sangat bersih dan terawat dengan baik.

"Assalamualaikum!" keduanya mengucapkan salam ketika sudah berada diambang pintu

"Waalaikumsalam!' balasan dari dalam rumah. Seorang wanita paruh baya menuju pintu menyambut tamunya.

Ketika wanita itu melihat Risa, dia kaget karena salah satu tamu ternyata gadis yang bersamanya di atas angkot kemarin.

"Bunga!" ucap wanita itu yang menyangka tamu itu adalah anaknya yang sudah meninggal 10 tahun lalu. Dia kemudian memeluk Risa yang terheran - heran

"Bunga, ibu sangat rindu sama kamu nak, jangan tinggalkan ibu lagi!" wanita itu menangis sambil terus memeluk erat kuat Risa.

Seakan - akan ibu yang baru bertemu dengan putri kesayangannya yang sekian lama hilang.

Risa hanya membalas pelukan wanita itu. Entah mengapa tiba - tiba dari dalam hatinya merasakan kehangatan seorang ibu yang berbeda dengan ibunya sendiri yang selama ini membesarkannya.

Ada rasa ikatan batin yang begitu kuatnya.

" Ibu, aku Risa bukan Bunga!" lirih Risa

Seperti tersadar, wanita itu melepaskan pelukannya pada Risa.

"Maafkan saya nak. Sungguh sangat mirip dengan Almarhum anak saya!"

"Bahkan bagaikan pinang dibelah dua, tidak ada yang berbeda!" lanjut wanita itu yang tak lain ibu bunga.

"Oh, iya maaf, mari masuk!" ibu Bunga mempersilahkan kedua tamunya.

"Maaf rumahnya kecil, tunggu sebentar saya masuk dulu!" kata ibu Bunga yang menuju ke dapur

"Tidak perlu repot - repot bu!" ujar Risa.

Risa memperhatikan seluruh ruangan. Sehingga matanya tertuju pada sebuah foto yang terpajang di dinding. Foto seorang gadis. Berparas cantik dengan rambut sebahu.

"Hmm inikah Bunga" gumamnya dalam hati.

"Aku bagaikan melihat diriku sendiri didalam foto itu, tiada berbeda dengan diriku!" kata batin Risa yang semakin bergejolak untuk mencari tahu siapa sebenarnya Bunga.

Tidak lama ibu Bunga keluar dengan membawa tiga cangkir teh.

" Silahkan diminum air panasnya, maaf ya cuma ini bisa tante siapkanbuat kalian!" kata ibu Bunga yang terus memperhatikan gadis yang ada di hadapannya.

"Dialah Bunga, anakku yang 10 tahun lalu meninggal dunia akibat sakit tidak jelas!"

" Dokter yang memeriksanya tidak menemukan penyakitnya, hingga dia meninggal"

"Entah penyakit apa yang telah merenggut nyawanya, bahkan sampai sekarangpun tidak diketahui!" kisah Ibu Bunga pada Risa sambil memandangi foto anaknya itu.

" Namun ada yang aneh. Setelah 7 hari setelah kematian Bunga. Tempat Pemakaman Umum dimana dia dimakamkan akan dialih fungsikan"

" Bagi keluarga yang ingin memindahkan makam keluarga diizinkan untuk membongkar makam kerabatnya untuk dipindah ke tempat pemakaman yang disediakan".

" Ketika makam Bunga dibongkar, ternyata yang ada di dalam liang hanya kain kafan saja, jazad Bunga tidak ada!" Ibu kembali melanjutkan kisahnya.

" Hingga saat ini jazad Bunga belum ditemukan!" ungkap ibu Bunga itu sambil menghela nafas panjang.

" Lalu selanjutnya usaha apa yang ibu lakukan untuk mencari tahu hilangnya jasad Bunga?" tanya Maya pada ibu Bunga yang matanya mulai berkaca - kaca. Menceritakan kisah yang begitu dirasakan sangat memilukan baginya dan kedua adik - adik Bunga yang kini telah duduk di bangku SMA.

" Pada saat itu, tante tidak tahu kemana, mau melaporkan kejadian ke pihak berwajib. Tapi tante takiut nanti dikatakan mengada - ada dan membuat laporan yang tidak masuk akal!" lanjut ibu Bunga.

"Akhirnya, aku ikhlas saja. Mungkin inilah nasib Bunga!" Mengidap penyakit yang tidak diketahui sampai sekarang bahkan jasad pun hilang tanpa diketahui kemana hilangnya!"

" Apakah dicuri orang atau bagaimana!" tutur Ibu Bunga.

Hik hik hik hik

Ibu Bunga pun tak mampu membendung tangisnya.

Risa yang tak tega akhirnya menghampirinya dan memeluk Ibu Bunga.

"Tante, yang tabah ya!"

Semua pasti akan hikmahnya!" hibur Risa. Saat Risa memeluk Ibu Bunga ada sesuatu yang aneh mengalir dalam tubuhnya.

Entah kenapa Risa merasakan jika saat itu dia tengah memeluk ibunya sendiri. Bahkan tak disangka - sangkanya dua butir air bening menetes membasahi pipinya.

Rasa rindu tercipta, seakan rasa rindu yang sekian lama dipendamnya dan baru hari ini dia luahkan kerinduan itu

Maya yang menyaksikan adegan itu, tak mampu menahan air matanya. Mata beningnya turut berkaca - kaca.

" Terima kasih nak, kehadiranmu membuat tante terhibur dan rasa rindu ini pada Bunga terobati!" ujar Ibu Bunga. Dipandanginya wajah Risa itu.

" Maaf ya. Sampai lupa mempersilahkan minum!" lanjutnya pada Risa dan Maya.

"Diminum nak, nanti keburu dingin tehnya!" Ibu Bunga mempersilahkan.

" Terima kasih tante!' kata kedua gadis itu hampir bersamaan.

Saat ketiganya tengah asyik ngobrol tiba - tiba dari arah luar terdengar suara mengucapkan salam.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam" ketiganya membalas salam

Ternyata yang datang Bayu yang baru pulang sekolah bersama adiknya Putra

"Kak Bunga!" keduanya hampir bersamaan ketika melihat Risa.

Keduanya pun berhamburan dan langsung memeluk Risa dan menangis.

Hik   hik    hik

" Kakak kemana aja sih selama ini. Kami selalu mencari kakak kesana kemari!" kedua adik Bunga memeluk Risa dan menangis.

"Kakak jangan tinggalin kami, kami akan selalu nurut pada kakak!" Bayu menangis sambil memeluk Rusa yang heran .

"Hei Bayu, Putra lepasin pelukan kalian. Dia bukan Bunga, kakak kalian!" kata ibu mereka

Kedua sontak melepaskan pelukannya dan menoleh ke ibunya dan kembali memandang wajah Risa.

"Lalu siapa dia bu, kenapa dia sangat mirip dengan kakak!" tanya Bayu pada ibunya.

"Dia, nak Risa!" jawab ibunya

Risa yang melihat tingkah kedua adik Bunga hanya termenung. Begitu sayangnya kah mereka pada kakaknya.

"Maaf, kak Risa. Tapi kakak mirip sekali dengan Kak Bunga" tutur Bayu yang merasa malu karena telah salah orang.

Kerinduan pada sosok Bunga memang sangat lama dia pendam, walaupun dia tahu kakaknya itu telah lama meninggal dunia. Tapi mengapa tiba - tiba ada sosok begitu mirip dengan kakaknya hadir di rumah mereka

Bahkan setelah 10 tahun kepergian Bunga, kedua adiknya masih mengingati dan mengharapkan jika kakaknya itu masih hidup.

" Sudah, kalian ganti baju dulu setelah itu makan siang!"

" Ibu sudah menyiapkan makanannya di meja makan. Ingat jangan disentuh piring kakak kalian!" pesan ibu.

" Maaf, tante. Maksudnya piring Bunga?" tanya Risa.

"Ah, mungkin sudah kebiasaan tante, setiap kali menyiapkan makan, tante selalu memasang 4 piring!" jelas Ibu Bunga.

" Diminum nak tehnya!" ibu Bu kembali mempersilahkan tamunya untuk minum.

" Maaf bu, sayang bisa melihat foto Bunga" pinta Risa pada ibu Bunga.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.