Brak!!!
Lona pun menabrak sebuah mobil mewah di depannya. Untung saja laju motornya tidak terlalu kencang. Jadi, mobil yang ditabrak Lona tidak rusak parah, hanya lecet-lecet biasa.
"Oh, Tuhan. Apalagi ini?" gumamnya sambil menghentikan laju motornya di salah satu sisi jalan.
Lona pun segera turun dari motornya lalu menghampiri mobil putih yang dari bodinya saja sudah dapat diterka jika mobil itu mahal harganya. Dengan badan yang gemetaran Lona mengetuk kaca mobil buram yang masih tertutup rapat itu.
Sret....! Kaca mobil pun turun sebagian.
'Mungkin karena tidak mau air hujan sampai masuk ke dalam,' pikir Lona sekilas.
Lona melongokkan kepalanya ke dalam mobil itu. Hingga akhirnya nampaklah sosok lelaki berwajah tampan dengan kulit putih bersih dan rahang yang terlihat kokoh.
"Maaf, Mas. Maaf. Saya tidak sengaja menabrak mobil anda. Tapi, nggak parah kok cuma lecet dikit saja," cerocos Lona panjang lebar. Bukannya membalas ucapan Lona lelaki itu pun hanya tersenyum meremehkan. Sambil menoleh ke arah Lona. Untuk sepersekian detik berikutnya Lona pun terdiam. Terpesona dengan ketampanan lelaki yang ada di hadapannya.
"Loe bilang cuma lecet sedikit? Loe tau nggak berapa banyak uang yang harus gue keluarkan untuk perawatan mobil ini setiap bulannya?" tanya lelaki itu dengan dingin. Seketika rasa kagum Lona pun luntur dan terbawa air hujan masuk ke selokan.
"Aduh, Mas. Mohon maaf sekali. Saya itu hanya seorang pengantar makanan. Bukan montir mobil spesialis. Jadi, mana saya tau berapa banyak uang yang anda keluarkan untuk perawatan mobil ini," balas Lona jujur. "Tapi, dalam hal ini anda juga bersalah. Karena sudah berhenti secara tiba-tiba." Lona berusaha membela diri.
Blak! Lelaki itu pun menggebrak setir mobilnya sendiri. Sampai-sampai Lona terlonjak kaget.
"Apa? Jangan playing victim loe ya! Jelas-jelas loe yang udah menabrak mobil gue. Gue nggak mau tau. Cepat ganti rugi!" bentak lelaki itu mulai naik pitam. Tubuh Lona pun semakin bergetar. Ini adalah hal yang sedari tadi ia takutkan.
"Aduh, Mas. Saya mohon ampuni saya. Penghasilan saya tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan saya dan anak saya. Sedangkan anda tampaknya bukan orang susah. Pasti dengan mudah anda bisa memperbaiki mobil ini. Mohon ampun i saya, Mas," ujar Lona dengan tangan yang ditangkupkan di depan dada. Badannya pun sedikit membungkuk agar lelaki itu semakin iba kepadanya. Namun, usahanya gagal. Lelaki itu pun semakin terlihat emosi.
"Gue nggak peduli! Loe harus bayar ganti rugi sekarang juga!" bentak lelaki itu dengan suara yang tidak mau kalah dengan sambaran petir di atas langit.
Tangan Lona mengepal dengan badan yang bergetar karena menahan emosi. Dia sedang menahan lapar sejak tadi. Jangan sampai dia makan orang di tengah jalan seperti ini. Maksudnya melampiaskan kemarahannya pada orang ini. Untung saja, tiba-tiba ponselnya berdering. Lona pun segera mengeluarkan benda pipih itu. Lalu menggeser gambar dial yang tengah bergetar di tengah-tengah layar.
"Halo," ucap Lona pada lawan bicaranya di seberang sana.
"Pesanan saya gimana ya, Mbak? Kok belum sampai-sampai juga. Padahal, saya sudah bayar lewat aplikasi lho!" protes pelanggan Lona.
"Oh, maaf Mbak. Saya sedang di jalan. Baru saja mengalami kecelakaan sedikit. Tunggu sebentar ya. Saya akan segera datang."
"Baik. Saya tunggu. Jangan lama-lama!"
"Baik, Mbak." Tut. Sambungan pun terputus.
"Maaf, Mas. Saya harus pergi sekarang," pamit Lona sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Namun, karena ia sangat tergesa-gesa. Makanya, ponsel pintar itu belum sempat masuk ke dalam kantongnya. Dan akhirnya jatuh begitu saja di atas aspal yang sedang dibanjiri air hujan.
"Woi! Jangan kabur!" teriak lelaki itu sambil reflek keluar dari mobil mewahnya. Namun, saat menyadari hujan sedang menerjang dengan begitu deras. Ia cepat-cepat memasukkan tubuhnya lagi. Tanpa di sengaja mata si lelaki pun menangkap sebuah benda yang tergeletak tepat di bawah pintu mobilnya saat hendak menutupnya kembali. Lalu dengan seringai yang khas ia mengambil benda yang sudah basah kuyup itu dengan segera.
Sedangkan Lona dengan kecepatan yang ia bisa. Terus mengemudikan motor yang dikendarainya dengan hati-hati. Apalagi, jarak pandang diantara guyuran hujan yang sangat terbatas seperti ini. Membuatnya harus ekstra fokus menatap jalanan di depannya. Tentu saja agar kejadian beberapa menit yang lalu tidak terulang lagi. Jadi, kali ini Lona benar-benar hati-hati.
Lima belas menit kemudian. Lona pun sampai di kedai makanan yang sedari tadi ia tuju. Dengan cekatan, ia pun turun dari motornya. Lalu segera masuk ke dalam kedai. Sebelum masuk, Lona melepas helm dan jas hujan yang sedari tadi ia kenakan. Lona pun meletakkan kedua benda itu di tempat yang sudah disediakan. Sebelum ia masuk ke dalam kedai itu.
"Selamat siang, Mbak. Mau pesan apa?" tanya seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di belakang sebuah mini bar. Menatap jaket yang dikenakan Lona. Pelayan itu pun langsung mengerti niat Lona datang kemari.
"Bentar, Mbak. Saya periksa aplikasi dulu ya," balas Lona. Ia memang tidak ingat betul makanan seperti apa yang diinginkan pelanggannya. Lagian biasanya ada note khusus, seperti tambahkan atau kurangkan pedas, tambah sayur, tambah ini itu. Jadi, Lona harus benar-benar sesuai pesanan. Agar tidak mengecewakan pelanggannya. "Bentar. Bentar, Mbak. Ponsel saya kok nggak ada?" ucap Lona yang baru sadar kalau benda pipih yang sangat penting baginya itu tidak ada di dalam kantong jaket maupun celananya.
Berulang kali, Lona merogoh setiap saku di yang ada di badannya. Namun, tetap saja ia tidak menemukan gawainya itu. 'Aduh. Ponsel gue mana? Apa mungkin ada di motor? Masak sih? Kayaknya gue nggak pernah meletakkan di dashboard deh. Tapi, coba cari dulu nggak ada salahnya,' ucap Lona dalam hati.
"Bentar ya, Mbak. Saya cari ponsel saya di motor dulu," kata Lona pada si pelayan kedai.
"Baik, Mbak. Silahkan," balas si pelayan dengan ramah.
Lona pun segera lari ke arah motornya. Lalu ia mencari-cari benda pipih itu di kedua dashboard yang ada di bawah setirannya. Namun, nihil. Apa yang ia cari tetap tidak is temukan juga.
"Aduh. Gimana ini? Dimana ponsel gue? Apa jangan-jangan jatuh di jalan. Atau jatuh di tempat tadi? Aduh gimana ini? Pasti pelanggan gue udah uring-uringan sekarang," gumam Lona bingung.
Akhirnya, Lona pun memutuskan kembali dengan tangan kosong. Ia tetap tidak menemukan ponselnya. Sehingga ia tidak bisa menyelesaikan orderan terakhir untuk hari ini.
Chit. Motor Lona pun akhirnya sampai di parkiran kantor Growber. Lalu dengan langkah gontai ia pun membawa penyimpan makanan milik perusahaan yang harus ia simpan di ruangan khusus.
"Lon, tunggu!!" teriak seseorang yang langsung membuat langkah natasha berhenti. Lona pun menoleh, lalu menatap tampang rekan kerjanya yang tengah bergegas mendekat. "Loe ditunggu Pak Bos di ruangannya," tambah lelaki itu yang membuat Lona menghembuskan nafas beratnya.
'Ini pasti karena ada komplain pelanggan yang nggak gue selesaikan tadi,' pikir Lona cepat.
"Pak Bos belum pulang udah malam begini?" tanya Lona. Sebab, nggak biasanya lelaki itu masih berada di gedung berlantai tiga ini sampai sinar mentari sudah meredup seperti ini. 'Berarti, urusan gue berat nih. Sampai-sampai Pak Bos masih nungguin gue,' ujarnya masih dalam hati.
"Belum. Kayaknya dia nungguin elo deh. Emang elo kenapa hari ini? Ada pelanggan yang kecewa?" tanya lelaki itu. Lona pun tak menjawab. Ia hanya tersenyum kecut ke arah laki-laki satu profesinya itu.
"Gue ke dalam dulu ya," ucap Lona sambil berjalan dengan lemas ke dalam kantor yang sudah terlihat sangat sepi itu. Bahkan, sepanjang Lona masuk ke dalam. Ia tidak menemukan satu orang pun di sana. Tepat di depan ruangan Pak Raymond Lona menghentikan langkahnya.
Tok. Tok. Tok. Dengan sisa-sisa tenaganya ia pun mengetuk pintu itu.
"Masuk!!" titah Pak Bos dari dalam ruangannya. Lona pun segera melakukan apa yang diperintahkan atasannya itu
"Maaf, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Lona basa-basi.
"Oh, iya. Lona. Silahkan duduk!" kata Pak Raymond yang lagi-lagi memerintah anak buahnya.
"Baik, Pak." Lona pun segera duduk di kursi depan meja Pak Raymond.
"Kamu tau kenapa kamu saya panggil kesini?" tanya Pak Raymond yang membuat Lona mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk.
"Bapak ingin memecat saya?" balas Lona dengan nada bertanya.
"Hahaha. Memecat? Tentu saja saya tidak bisa memecat karyawan secantik kamu," balas Pak Raymond dengan tampang genitnya.
"Lalu? Kenapa Bapak memanggil saya?"
"Saya tau kamu baru saja mengabaikan pelanggan. Padahal, dia sudah membayar lewat aplikasi kan?" ujar Pak Raymond yang kembali membuat Lona menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya, Pak. Ponsel saya terjatuh. Makanya saya tidak bisa menyelesaikan orderan," jawab Lona jujur.
"Iya, saya percaya kamu." Pak Raymond pun beranjak dari kursinya lalu duduk di atas meja samping Lona duduk.
"Terima kasih, Pak."
"Lalu ponsel kamu hilang?"
"Iya, Pak."
"Kalau kamu mau? Saya bisa membelikan ponsel yang bagus untuk kamu," ujar Pak Raymond sambil menyentuh pundak Lona. Sontak Lona pun mengangkat wajahnya. Lalu menepis tangan lelaki yang selama ia bekerja disini selalu Lona hormati itu.
"Maaf, Pak. Maksud Bapak apa ya?" tanya Lona bingung.
"Sudahlah, Nat. Saya tau kamu ini janda. Pasti sudah lama kamu tidak merasakan belaian hangat laki-laki, kan?" ujar Pak Raymond dengan tampang yang membuat Lona ketakutan.
"Maaf, Pak. Anak saya sendirian saya harus segera pulang," kata Lona sambil berusaha berdiri. Namun, Pak Raymond yang berdiri di sampingnya langsung menahan badan Lona agar kembali duduk.
"Sudahlah, Nat. Jangan sungkan-sungkan sama saya. Saya sudah jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali bertemu," kata Pak Raymond dengan kedua tangan masih memegangi pundak Lona. Mengunci tubuh yang lebih kecil darinya itu. Lalu Pak Raymond pun mendekatkan wajahnya ke arah Lona.
"Pak, saya mohon!!! Jangan lakukan itu, Pak. Saya mohon jangan!!!" rengek Lona sambil berusaha melepaskan diri. Namun, usahanya gagal. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga Pak Raymond yang jauh lebih besar.
"Kamu milik saya malam ini," gumam Pak Raymond dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan.
"Jangan!!"





