Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya
Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya

Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya

9.6
/ 10
Dalam Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya, Alika bertekad mengakhiri rumah tangga yang membelenggu. Daffa harus memilih antara melepaskan atau bertahan. Baca romance novel ini di platform webnovel yang menyediakan fiction books berkualitas untuk kisah modern yang emosional.

Ringkasan Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya

Hampir setahun Alika mencoba bertahan dalam pernikahan yang hampa, namun kini tekadnya sudah bulat untuk berpisah. Rasa sakit yang terpendam akhirnya ia utarakan langsung di hadapan Daffa Ardhana. Pernyataan tegas Alika seketika membuat sang suami terdiam kaku, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Akankah Daffa bersedia melepaskan ikatan yang membelenggu ini, atau justru ia akan berupaya keras mempertahankan hubungan meski hati Alika telah lelah?
Selengkapnya

Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya Bab 1

Alika duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat selimut tipis yang sudah lusuh warnanya. Suasana kamar itu sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang tak beraturan dan sesekali suara mobil melintas di jalan depan rumah. Tapi bagi Alika, keheningan itu lebih berat daripada ribuan kata yang bisa diucapkan. Ia menatap pintu kamar yang tertutup rapat, seolah menunggu sesuatu-atau seseorang.

Hatinya terasa sesak, dan pikirannya berputar tanpa henti. Sudah hampir setahun ia menjalani rumah tangga dengan Daffa Ardhana, pria yang dulu selalu membuatnya tertawa lepas, kini menjadi sumber luka yang tak terlihat. Ia ingat hari-hari awal mereka menikah, ketika setiap senyum Daffa seolah menyinari seluruh dunianya. Tapi sekarang? Senyum itu nyaris tak pernah muncul, digantikan oleh keheningan yang menusuk dan tatapan dingin yang membuat Alika merasa asing di rumahnya sendiri.

"Alika..." suara itu akhirnya terdengar dari ruang tamu, pelan tapi tegas.

Alika menahan napas. Suara itu begitu familiar, begitu menggetarkan hati sekaligus menakutkan. Ia menutup matanya sejenak, mengumpulkan keberanian. "Aku di sini," jawabnya dengan suara pelan, tapi ada nada tegas yang tak bisa disembunyikan.

Pintu kamar terbuka perlahan. Daffa muncul dengan langkah lambat, matanya menatap Alika tanpa berkedip. Ada kerutan di dahinya, tapi bukan marah. Lebih pada kebingungan, atau mungkin rasa sakit yang sama seperti yang Alika rasakan.

"Kau... ingin bicara?" tanyanya akhirnya, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan.

Alika mengangguk, menelan ludah. "Iya... kita perlu bicara, Daffa. Tentang kita. Tentang rumah tangga kita."

Daffa menghela napas panjang, lalu duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar seolah mencari jawaban dari langit malam yang gelap. "Apa yang ingin kau katakan, Alika?"

Alika menunduk, menatap tangannya sendiri. "Aku... aku lelah, Daffa. Lelah menjalani semuanya sendirian. Aku merasa kita... kita sudah terlalu jauh berbeda. Aku sudah mencoba bertahan, mencoba mengerti, tapi sepertinya aku... aku tak mampu lagi." Suaranya mulai bergetar, tapi ia menahan tangis yang hampir tumpah.

Daffa menoleh, matanya menyipit. Ada sesuatu yang berubah di Alika, sesuatu yang membuat hatinya tersentak. "Alika, apa maksudmu?"

Alika menarik napas dalam-dalam, menegakkan tubuhnya. "Aku ingin mengakhiri ini... pernikahan kita, Daffa. Aku ingin kita berpisah."

Daffa terdiam, tatapannya kosong. Kata-kata itu seperti lemparan batu yang menghantam jendela hatinya, pecah menjadi ribuan kepingan kecil. "Berpisah... maksudmu... benar-benar berpisah?" suaranya gemetar, meski ia berusaha terdengar tenang.

Alika mengangguk, air matanya menetes tanpa bisa ia bendung. "Iya. Aku sudah memikirkannya panjang. Aku tidak bisa lagi terus hidup dalam kesunyian yang menyiksa, dalam perasaan yang hanya menimbulkan luka."

Daffa menunduk, wajahnya menutupi rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan. Ia ingin menenangkan Alika, ingin membujuknya untuk tetap tinggal, tapi hatinya sendiri juga sedang bergelut. Mereka menikah dengan cinta, bukan karena keterpaksaan. Dan cinta itu... dulu terasa nyata, kini nyaris memudar di antara kesalahpahaman, jarak emosional, dan harapan yang tak pernah sejalan.

"Alika... aku... aku tidak ingin kau pergi," katanya akhirnya, suaranya serak. "Tapi... aku juga merasa... aku gagal membuatmu bahagia."

Alika menatapnya, hatinya remuk mendengar pengakuan itu. "Daffa, bukan soal siapa yang gagal. Kita hanya... tidak cocok, itulah kenyataannya. Kita terlalu berbeda, dan aku merasa... aku tidak bisa lagi bertahan dalam hubungan ini."

Daffa menutup wajahnya dengan tangan, napasnya tersengal. "Aku... aku tidak menyangka kau akan berkata seperti ini. Aku selalu berharap kita bisa memperbaiki semuanya. Aku selalu berharap kau bisa memberiku kesempatan lagi."

Alika bangkit dari tempat tidur, mendekati Daffa. Ia meletakkan tangannya di bahunya, mencoba menyampaikan rasa hormat dan sayang yang tersisa, meski hatinya remuk. "Daffa... aku tetap menghargaimu. Aku tetap peduli padamu. Tapi ini... ini jalan terbaik untuk kita. Agar kita tidak saling menyakiti lebih dalam lagi."

Daffa menatap Alika lama, matanya memerah, suaranya serak. "Kau... kau benar-benar yakin dengan ini?"

Alika menunduk, menelan air mata. "Aku yakin, Daffa. Aku sudah mencoba bertahan... tapi aku lelah. Aku ingin hidup dengan tenang, tanpa terus merasa tersiksa. Aku ingin kita berpisah... dengan baik, tanpa ada kebencian."

Daffa menghela napas panjang, lalu menunduk. Hatinya hancur, tapi ada sesuatu dalam kata-kata Alika yang membuatnya sadar bahwa memaksa hubungan ini tetap bertahan hanya akan menambah luka. "Baiklah... jika itu yang kau mau... kita akan akhiri ini dengan baik."

Alika menatapnya, perasaan campur aduk-lega, sedih, dan hampa sekaligus. "Terima kasih, Daffa. Terima kasih sudah mengerti."

Keheningan menyelimuti mereka kembali. Tapi kali ini, bukan lagi keheningan yang penuh tekanan, melainkan keheningan yang berat, penuh penerimaan. Keduanya tahu, perjalanan rumah tangga mereka telah sampai di ujung jalan, dan keputusan ini adalah langkah pertama menuju kebebasan-atau mungkin luka baru yang harus diterima.

Daffa menoleh ke Alika, matanya basah. "Aku... aku akan tetap peduli padamu, Alika. Selalu. Meskipun kita berpisah."

Alika tersenyum tipis, meski hatinya sakit. "Aku juga, Daffa. Aku juga akan tetap peduli... tapi kita harus belajar melepaskan."

Mereka duduk diam bersama, dua hati yang terikat oleh kenangan, harapan yang gagal, dan keputusan pahit yang harus diterima. Dan di luar jendela, malam menyelimuti rumah itu dengan dingin, seakan menegaskan perjalanan baru yang akan mereka hadapi-terpisah tapi tetap menyimpan rasa yang pernah indah.

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan persiapan untuk perpisahan. Alika mulai mengemas barang-barangnya, merapikan kenangan yang tersisa, dan menghadapi kenyataan bahwa ia tidak akan lagi melihat Daffa setiap hari. Setiap langkah terasa berat, tapi ada rasa lega yang mulai tumbuh. Ia bisa bernapas lebih lega, meski jantungnya masih sesak oleh rasa kehilangan.

Daffa juga menjalani hari-hari itu dengan hampa. Ia mencoba tersenyum, mencoba menyesuaikan diri dengan kenyataan baru. Tapi setiap kali melihat Alika, hatinya terasa tersayat. Ia sadar bahwa perpisahan ini adalah hal terbaik, tapi itu tidak membuat rasa sakitnya hilang. Ia menatap rumah mereka yang dulu penuh tawa, kini sunyi dan dingin, dan bertanya-tanya apakah keputusan itu benar.

Alika dan Daffa tidak banyak bicara. Mereka berusaha menjaga ketenangan, meski dalam hati masing-masing bergolak. Kadang Alika menangis diam-diam di kamarnya, merindukan kebahagiaan yang dulu mereka miliki. Kadang Daffa menatap foto pernikahan mereka, tersenyum pahit, mengenang janji-janji yang pernah diucapkan.

Tetapi perlahan, mereka mulai memahami satu hal: perpisahan ini bukanlah akhir dari hidup mereka, melainkan awal baru. Mereka harus belajar hidup tanpa saling menyakiti, menghargai waktu yang tersisa, dan menerima bahwa cinta terkadang harus dilepaskan agar kedua hati bisa sembuh.

Dan di balik semua luka itu, ada satu harapan yang samar: bahwa suatu hari nanti, mereka akan mampu memandang satu sama lain dengan damai, tanpa dendam, tanpa penyesalan. Hanya rasa hormat dan kenangan yang tetap abadi, meski jalan mereka kini terpisah.

Malam itu, Alika menatap langit dari jendela kamarnya. Bintang-bintang berkelip pelan, seolah memberikan ketenangan yang ia butuhkan. Ia menarik napas dalam, menutup mata, dan berbisik, "Aku siap melangkah. Aku siap hidup lagi."

Di sisi lain rumah, Daffa duduk di ruang tamu, memegang secangkir teh yang sudah dingin. Ia menatap ke luar jendela, menatap langit yang sama, dan dalam hatinya berbisik, "Aku juga harus belajar melepaskan... walaupun sakit, aku harus kuat."

Begitulah awal dari babak baru hidup mereka-penuh kepedihan, tapi juga harapan. Sebuah perjalanan panjang yang akan menguji keteguhan hati, kesabaran, dan kemampuan mereka untuk melepaskan, demi kebahagiaan yang sebenarnya.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Dari Saingan Menjadi Ipar
Dari Saingan Menjadi Ipar
Dalam novel romance Dari Saingan Menjadi Ipar, Josie Watson bertekad menceraikan Laurence Andrews yang terus menghinanya demi Rosalie Harris. Di tengah konflik modern novel ini, Josie tidak menyadari bahwa kakak Rosalie diam-diam mendesaknya pergi. Temukan kisah lengkapnya di web novel ini.
KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
Dalam romance modern KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU, Randika harus memilih antara cintanya pada Andini atau ambisi Lily Wijaya yang ingin memanfaatkannya demi pengakuan keluarga. Kehadiran Junot menguji loyalitas mereka dalam web novel penuh intrik keluarga dan pengkhianatan ini.
KhaRisma
KhaRisma
Dalam novel romance KhaRisma, seorang pria terjebak penyesalan mendalam setelah kehilangan sosok yang mengajarinya pengorbanan. Melalui modern novel ini, ia berjuang menghadapi konsekuensi perpisahan sambil berharap bisa memutar waktu demi memperbaiki kesetiaan yang terlambat ia sadari.
Kurang dari tiga
Kurang dari tiga
Dalam novel Kurang dari tiga, Raka berjuang mempertahankan posisinya sebagai kekasih Cherry yang lebih memprioritaskan Nadia. Hubungan modern ini penuh konflik kecemburuan yang membawa mereka pada situasi tak terduga. Baca romance novel ini untuk melihat pilihan sulit dalam kisah lgbt book ini.
Light Of Love
Light Of Love
Dalam Light Of Love, Kayla Pratama terjebak sebagai istri kedua miliarder Raga Dirgantara demi membalas budi. Menjadi alat keturunan di tengah konflik modern novel ini, ia harus menghadapi risiko besar. Baca kisah billionaire romance books ini selengkapnya di platform web novel kami.
Menyusui Bayi Mafia
Menyusui Bayi Mafia
Dalam Menyusui Bayi Mafia, Lea terjebak tuntutan El Zibrano yang memaksanya merawat sang putra demi imbalan besar. Novel romance ini mengisahkan perjuangan Lea menghadapi obsesi sang mafia. Simak kisah seru mereka dalam mafia romance books ini hanya di platform web novel terpopuler.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.